
Rafa harus menjemput Alita setelah makan siang nanti. Ini bahkan belum masuk jam makan siang, tapi Rafa telah bersiap. Rafa tidak ingin terlambat. Ia tidak ingin semakin membuat Alita semakin marah dan mendiamkannya.
Setelah menikmati makan siangnya lebih awal, Rafa bergegas menuju ke rumah Alita. Ada perasaan takut dalam dirinya untuk turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah keluarga Alita. Padahal biasanya ia akan sangat bersemangat jika akan menemui gadis itu.
Rafa memilih untuk meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk Alita. Pesan yang mengabarkan kepada Alita jika ia telah berada di depan rumahnya. Namun balasan dari Alita ternyata diluar dugaannya, gadis itu sepertinya telah memasang dinding kokoh untuk dirinya.
Baby ❤️
Tunggu aja. Ini belum lewat jam makan siang.
Tidak masalah bagi Rafa jika harus menunggu sampai Alita siap menemuinya. Terlebih sudah beberapa hari ini ia mampu bertahan sebab Alita tidak mau menemuinya. Kini hanya menunggu dalam hitungan menit saja, dan setelahnya ia akan dapat bertemu dengan Alita, untuk melepaskan kerinduannya.
......................
Degup jantung Rafa berdebar lebih cepat saat mendapati Alita keluar dari pintu rumahnya dan berjalan menuju mobilnya. Bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman lebar yang tak tertahankan lagi. Meskipun nyatanya Rafa harus kembali menelan pil pahit karena respon Alita yang terlampau dingin itu.
"Langsung ke pantai aja, dan parkir mobilnya di dekat anjungan." ucap Alita sambil memasang seatbelt-nya.
Rafa melongo, ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk menyapa setelah beberapa hari tidak berjumpa. Alita bahkan memberikan perintah selayaknya sedang berbicara dengan sopirnya. Meskipun kesal, Rafa tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Alita. Menjalankan mobilnya ke tempat yang dimaksud Alita.
Hening. Itulah yang terjadi sepanjang perjalanan mereka ke pantai. Rafa sengaja tidak menyalakan radio di dalam mobilnya, berharap akan ada obrolan yang tercipta. Tapi ternyata tidak, Alita malah lebih memilih berfokus pada ponselnya. Sedangkan Rafa? Tentu saja ia tidak berani bersuara lebih dulu.
__ADS_1
Sesampainya di anjungan, Rafa bergegas turun mengejar Alita yang lebih dulu turun. Gadis itu berdiri dengan tangan yang bertopang pada pagar anjungan. Suasana disana sepi, mungkin karena sinar matahari yang cukup terik siang itu.
"Panas, Yang. Kita cari tempat lain yuk biar enggak kepanasan." Rafa akhirnya memberanikan diri untuk buka suara, menoleh ke arah Alita yang tetap terlihat cantik meski rambutnya berantakan akibat terpaan angin.
"Enggak, kita bicara disini."
Rafa memilih untuk diam. Alita tak lagi memanggilnya dengan panggilan sayang. Gadis itu bahkan seperti enggan untuk menatapnya.
"Aku kira... diusia dua puluh satu tahun ini, aku akan lebih bahagia. Keyakinanku itu semakin diperkuat dengan banyaknya kejutan yang aku terima dihari ulang tahunku beberapa waktu yang lalu. Kamu bahkan menyiapkan kejutan dan hadiah yang luar biasa itu."
Alita menjeda ucapannya, mencoba kembali mengumpulkan kekuatan saat kini air matanya telah mulai berkumpul dipelupuk mata.
"Hingga akhirnya muncul sebuah email yang menghancurkan semua kebahagiaan yang aku terima sedari pagi. Aku bahkan dipaksa untuk bersedih dihari pertama bertambahnya usiaku."
"Kamu selingkuh kan?" Begitu saja pertanyaan itu keluar dari bibir Alita.
Kedipan mata itu membuat air mata Alita langsung jatuh membasahi pipinya. Bersamaan dengan betapa terkejutnya Rafa dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Alita.
"Sayang...." Rafa mendekat, mencoba menyentuh lengan Alita tapi ditolak.
"Jawab aja pertanyaanku tadi. Aku enggak asal menuduhmu, aku punya bukti. Apa perlu aku menunjukkanya kepadamu?"
__ADS_1
Rafa langsung tahu apa yang dimaksud oleh Alita. Mungkin kekhilafannya beberapa waktu lalulah yang membuat Alita mendiamkannya, dan kini ia bahkan tidak tahu harus berkata apa. Dadanya terasa sesak, ia merasa marah. Marah kepada dirinya sendiri karena telah mengecewakan Alita, dan juga marah kepada Jihan yang mungkin saja berada dibelakang kejadian ini.
"Kamu enggak mau jawab?" Alita bertanya kembali saat kini Rafa hanya menundukkan kepalanya. "Jadi apa yang aku lihat divideo itu benar adanya?"
Alita tak mampu lagi untuk menahan laju air matanya yang semakin deras. Semua ini telah ditahannya sendiri beberapa hari kemarin, dan sekarang dia telah siap untuk meledakkannya.
"Sayang, aku bisa-"
"Udah berapa lama?" dengan bibir yang bergetar, Alita menyela perkataan Rafa. "Apa kamu tidak bahagia selama bersamaku?"
"Aku bahagia, sayang. Bahagia banget." Rafa memangkas jaraknya dengan Alita, memegang kedua lengan Alita meskipun gadis itu berusaha menolak sentuhannya.
"Aku enggak berselingkuh. Aku bersumpah selama kita menjalin hubungan, tidak pernah sekali pun aku berniat untuk berselingkuh. Aku enggak tahu sebenarnya video apa yang kamu maksud itu. Tapi kalo karena video itu kamu begitu saja kecewa dan menuduhku berselingkuh, mungkin aku bisa membenarkannya. Aku memang mendatangi mantanku beberapa waktu yang lalu, bukan karena aku berselingkuh, sayang. Aku cuma mau nolongin dia, tapi... hal itu terjadi begitu saja. Dan aku benar-benar menyesalinya. Maaf."
Bukan hanya Alita yang berurai air mata, Rafa pun ikut menitikkan air matanya. Mungkin ini adalah kali pertama Rafa menangis karena cinta. Mungkin Rafa akan menjadi bahan tertawaan William dan teman-temannya karena menangis. Tapi Rafa tidak peduli, ia begitu merasa bersalah karena telah mengkhianati Alita.
Alita langsung menyentak kedua tangan Rafa yang memegangi lengannya. Penjelasan Rafa barusan bukan hanya menjawab segala pertanyaan Alita, tapi sekaligus semakin menyakiti hatinya. Seakan memiliki kekuatan super, tangan kanan Alita bahkan dengan begitu cepatnya langsung mendarat dengan kerasnya dipipi kiri Rafa.
Rafa terkejut saat tamparan keras itu mendarat dipipinya. Rafa bahkan tidak menduga jika Alita akan berbuat demikian. Tapi jika menilik kesalahan apa yang telah ia perbuat pada Alita, Rafa paham jika satu tamparan saja tidak akan cukup untuk mengobati luka dihati kekasihnya ini.
"Tega kamu, Fa!"
__ADS_1
Alita tak dapat lagi menahan luapan emosinya. Kedua tangannya begitu saja membabi buta memukuli dada Rafa. Sekenanya. Alita tidak menarget bagian tubuh Rafa sebelah mana yang harus dia pukul. Alita menjadikan tubuh Rafa seolah samsak yang digunakannya untuk menyalurkan amarahnya. Rafa tidak menghindar, tidak pula berusaha untuk menghentikan Alita.
Ia biarkan Alita meluapkan emosinya. Mungkin dengan menangis, memaki dan memukulnya, amarah Alita kepadanya akan segera teredam. Walaupun Rafa juga tidak begitu yakin, jika setelah ini ia akan mendapat pengampunan dari Alita. Bahkan kini nasib hubungannya dengan Alita pun tengah diujung tanduk, karena Alitalah yang akan memutuskannya nanti.