Back To You

Back To You
A Car


__ADS_3

Hari-hari yang dilewati Rosé di kediaman sepasang suami istri Niko dan Hana sangat menyenangkan, apalagi sekarang hari minggu yang artinya hari ini adalah hari kedatangan Saroja, orang paling tua dan dihormati oleh keluarga besar Bellamy.


Dera keluar sebentar untuk urusannya yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Sedangkan Hana dan Rosé menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan Saroja yang sudah di jemput oleh Vee dan juga Sena.


Sena?


Sena sudah tahu Rosé tinggal dengan Hana dan calon mertuanya, untuk itu Sena sering sekali dengan diam-diam mengamati tingkah Vee, dan ya, Sena sangat senang bahkan sekalipun tidak mendapati Vee menemui Rosé secara diam-diam.


Bagaimana Sena bisa tahu?


Malam dihari pertama Rosé tinggal di tempat barunya, tanpa pikir panjang ia segera menghubungi Sena karena ini memang harus dilakukan demi kelangsungan hidupnya. Rosé tetap memikirkan akan adegan jambak-jambakan yang terus terbayang apabila ada sesuatu yang mungkin bisa membuat Sena sakit hati karena hubungannya dengan Vee yang pernah menjadi sepasang kekasih.


Rosé: Sen.


Sena: Setidaknya sapalah selamat malam.


Rosé bergidik, hal seperti itu bukanlah tabiatnya "Dasar aneh," gumamnya.


Rosé: Aku tidak suka basa basi, asal kau tau!! Sebenarnya aku ingin telepon langsung, tapi aku takut mengganggu penghuni lain di rumah ini. Aku hanya ingin mengatakan, tanpa sengaja, sungguh aku bersumpah demi Tuhan, sekarang aku tinggal dengan keluarga Niko Bellamy!! Kau tau kan artinya, Sen?


Rose menjelaskan terus terang tanpa adanya kebohongan sedikitpun.


Sena is Calling.....


"Dasar bodoh, apa dia tidak bisa membaca!!" Rosé pun menggeser tanda merah yang artinya menolak panggilan Sena.


Rosé: Apa kau Bodoh?


Rose terpaksa berkata kasar.


Sena: Hei!! Kau mengatai ku bodoh?


Rosé: Aku hanya bertanya. Sekarang aku yakin kau memang bodoh.


Rosé terkikik karena berhasil membuat Sena marah, lucu sekali pikirnya. Kata-kata diluar topik pun memenuhi layar ponsel masing masing, niat hati ingin membicarakan dengan baik-baik, dasar wanita.


Sena: Apa kau sangat dekat dengan keluarga Vee?


Rosé sekarang hanya perlu menjawab seadanya, pertanyaan ini sangat sensitif menurutnya. Namun sebagai wanita, ia sangat tahu apa yang Sena rasakan, Rosé tidak akan menjadi wanita jahat disini.


Rosé: Aku hanya kenal saja, tidak terlalu dekat, aku baru tau juga ternyata Dr. Niko adalah kakak Vee, sungguh aku lupa dengan nama belakang mereka yang sama. Aku harap kau tidak salah paham, Sen.


Sena: Bagimana dengan Tante Dera? Pastinya kau tau 'kan kalau aku mengetahui beliau juga tinggal denganmu.


Rosé pun menghela nafasnya, berpikir keras untuk jawaban yang paling bagus untuk dilemparkan secara matang pada Sena yang terlewat ingin tahu.


Rosé: Tentu saja aku kenal, beliau sangat menyukaimu, waah aku jadi iri denganmu, kau calon menantu yang sangat sempurna.


Namun dalam kenyataannya, Rosé tidak pernah sekalipun mendengar Dera menyebut Sena dalam obrolan mereka.

__ADS_1


Sena: Apa kau mengejekku?


Lagi-lagi Rosé geram.


Rosé: DASAR BODOH, JANGAN MEMBALAS PESAN INI!!!!


Rosé akhirnya hanya menaruh lagi ponselnya di nakas sebelum tidur, keputusan untuk mengirim pesan pada Sena tengah berhasil membuatnya sangat sebal dengan wanita seumurannya namun dengan sifat childis yang melebihi Vee.


"Rosé , apa kau tau mama pergi kemana?" Tanya Hana memecah keheningan disela menata lauk pauk yang sudah siap disajikan.


"Aku tidak tau kak, aku juga tidak melihat Seno dan Lucky sedari tadi." jawab Rosé.


Seno dan Lucky tetap memutuskan untuk mengekori keberadaan Rosé. Sedangkan Rosé sendiri tidak risih akan hal itu karena memang sudah terbiasa, Rosé juga meminta ijin kepada keluarga Niko yang ternyata setuju saja. Awalnya Seno dan Lucky ingin membeli perumahan di dekat rumah Niko, namun Dera menginginkan mereka untuk tinggal bersama.


Tiba-tiba diluar rumah terdengar suara berisik dan sekelebat suara sirine polisi mengusik ketenangan Hana dan Rosé.


"Kak, apa kau tau suara berisik apa itu?" Tanya Rosé sembari menghentikan aktifitasnya.


"Coba kita lihat saja Rosé."


Hana dan Rosé memutuskan untuk melihat keluar, suara bising itu ternyata tepat di depan rumah Hana, rumah yang mereka tempati sekarang.


"Kak, bukankah itu mommy. Astaga, kenapa ada Seno dan Lucky juga," kaget Rosé melihat segerombolan polisi dan juga Dera yang dikawal oleh Seno dan Lucky.


"Ya Tuhan, ada apa itu Rosé, ayo kita ke sana." panik Hana seketika menggeret pergelangan Rosé untuk segera berlari menghampiri kerumunan.


"Mommy ada apa ini? Kenapa banyak polisi?" Tanya Rosé tidak sabar, karena para kawanan polisi itu telah serius menangkap beberapa orang berotot yang sama sekali tidak memiliki rambut dikepala mereka—dan Rosé sangat tahu siapa para botak itu (bodyguardnya)


"Seno, Lucky apa yang kalian lakukan?" Tanya Rosé sedikit menyentak karena melihat kedua curutnya juga kebingungan seperti dirinya.


"Tenang Lyn, Mommy sedang menangkap beberapa penguntit yang beberapa hari sedang mengincar rumah ini." ucap Dera menengahi.


"Apa penguntit?" Hana bergidik ngeri memegang lengan Rosé seperti ketakutan.


"Siapa yang Mommy maksud penguntit? Apa orang-orang botak ini?" Tanya Rosé dengan telunjuk jari menyorot pada orang-orang botak yang beberapa sudah diborgol tangannya tanpa memberontak.


"Iya Lyn, sudah, kamu tenang saja, kita sudah aman sekarang." ucap Dera kelewat tenang sekali.


"Ya Tuhan, Mommy salah paham ini." Rosé merasa bersalah dan frustasi disini, meremat rambut pun terjadi dan ia merasakan pening seketika.


"Mak-sudnya?" tanya Dera keheranan.


"Tolong jangan bawa mereka dulu, aku akan telepon seseorang." pinta Rosé kepada polisi yang berpangkat tinggi yang tadi sempat terlihat sedang berbicara dengan Dera.


"Kakak, cepat kesini, ada masalah yang harus kau urus." Rosé terpaksa harus menelpon kakaknya untuk membebaskan dan menjelaskan situasi yang rumit ini, polisi disini sudah pasti sangat mengenal Candra.


“Kakak kesana sekarang.”


"Mommy, maafkan Alyne tidak pernah cerita, pasti mommy sangat kawatir akhir-akhir ini." Rosé tulus sekali minta maaf, karena menurutnya beberapa hari ini secara tidak langsung Dera merasa kawatir karena keberadaan orang asing yang selalu berada di depan Rumah mereka.

__ADS_1


"Rosé tolong katakan ada apa ini, aku benar-benar tidak tahu apa-apa." Hana pun yang penasaran menuntut penjelasan.


"Iya Lyn, ada apa ini?" Imbuh Dera.


Jujur Rosé sangat bingung saat ini, satu sisi ia takut rahasianya terbongkar, namun di sisi lain dia merasa sangat bersalah membawa orang asing yang mengusik keberadaan seisi Rumah ini.


"Sebenarnya...."


Suara khas halus mobil mengganggu mereka, sepertinya Rosé sangat kenal dengan mobil ini, mobil yang sangat disukainywa karena hadiah ulang tahun ke tujuh belas dari Candra yang sayangnya dulu pernah dia pakai saat tragedi penusukan lima tahun lalu, tubuh Rosé bergetar, tangannya pun ikut mengepal.


Candra yang ternyata dibalik kemudi mobil itu. Rosé yang melihatpun sedikit marah pada kakaknya, kenapa harus pakai mobil milik Rosé yang sudah sangat lama ingin ia lenyapkan.


Semua mata tertuju pada sosok jangkung dan mempesona yang beberapa saat lalu turun dari mobilnya. Candra menghampiri kerumunan diikuti Wendie istrinya yang berada dibelakangnya.


"Tuan Candra." Inspektur Bambang, pemimpin dari segerombolan Polisi tersebut tertegun setelah mengenali siapa yang sedang berada di depannya.


"Selamat pagi Pak Bambang, bisa berbicara sebentar."


"Bi-bisa Tuan." jawabnya, lalu pun Candra dan pemimpin Polisi itu menyingkir agak jauh dari kerumunan.


"Selamat pagi bu Dera," sapa Wendie pada Dera. "Maafkan kesalahan kami," imbunya meminta maaf.


Wendy tidak bodoh untuk mengetahui bahwa ini salah paham yang diakibatkan oleh suaminya.


"Maaf, saya Wendie istri Candra kakaknya Alyne yang menugaskan para bodyguards untuk mengawasi Alyne."


Dera baru saja sadar bahwa dia yang salah pahan disini, wajar saja dia tidak tau. Dera masih tertegun mendengar penjelasan Wendie yang menceritakan bagaimana Bodyguards-nya yang memang sejak lima Tahun selalu bersama Rosé.


Rosé yang tidak bergemingpun telah mengusik ketiga wanita yang saling berbincang, pandangan Rosé tetap pada mobil miliknya dulu, ia seakan menulikan pendengarannya karena memori lamanya terulang membelai dengan kejamnya .


Wendie menyadari, telapak tangannya menutup mata Rosé perlahan, dengan tangan satunya meraih punggung Rosé untuk dipeluk. "Tenang kakak disini, tenangkan dirimu, maafkan kami tidak sengaja membawanya."


Rosé masih terdiam, Wendie yang melihat suaminya masih sibuk berbincang itu merasa geram. "Can, kau melakukan kesalahan yang lebih kali ini," teriaknya dengan lantang yang masih memeluk Rosé.


Candra melihat kearah istrinya, sedangkan Wendie mengisyaratkan dengan kepalanya yang menunjuk ke arah mobil lama milik Rosé.


"Demi Tuhan, kau bodoh Candra," geram Candra pada dirinya sendiri.


Candra segera melempar kunci mobilnya pada Lucky. "Kalian cepat singkirkan mobil itu." suruhnya pada Seno dan Lucky yang segera mereka laksanakan, dengan cepat mobil itu menghilang dari pandangan mereka.


"Bukankah itu mobil Alyne dulu." batin Dera sembari mengingat.


Wendie perlahan melepaskan pelukannya beserta telapak tangan yang menutup mata Rosé. Arah pandang Rosé tertuju pada Candra dengan tatapan marah beserta cairan yang sudah keluar dari pelupuk mata.


Candra menghampirinya memburu. "Maafkan kakak, ya." pintanya dengan ibu jari mengusap lelehan yang membasahi pipi Rosé.


Hana sangat tahu situasi seperti apa yang terjadi saat ini, Hana yang berada disamping Rosé pun diam-diam mengusap punggung milik Rosé, berusaha menenangkan. Berbeda dengan Dera yang masih diambang penasaran.


Setelah situasi yang tidak mengenakkan itu, Candra benar-benar minta maaf kepada keluarga Bellamy, Candra dan Wendy mampir sebentar karena ditawari, tak begitu lama mereka segera kembali dengan membawa Mobil milik Vee, karena Vee tadi membawa mobil Rosé untuk menjemput nenek Saroja.

__ADS_1


__ADS_2