
"Aku belum menggunakan hak kemenanganku saat main bowling tadi, boleh aku ajukan sekarang."
Hanna mengangguk sambil tersenyum. "Tapi jangan sesuatu yang mahal, dan jangan nyuruh aku-"
"Aku pengen cium kamu."
Keduanya terdiam. Hanna malah tidak tahu harus berkata apa. Padahal seharusnya dia sudah dapat menduga jika permintaan seperti ini akan diajukan oleh Rafa.
Tanpa menunggu jawaban dari Hanna, Rafa semakin mempersempit jarak tubuhnya dengan Hanna. Lelaki itu mulai membungkukkan tubuhnya, mendaratkan kedua tangannya dipinggang Hanna, yang kemudian membuat jantung Hanna berdegup semakin cepat.
Rafa tidak ingin mengubah permintaannya. Ia langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Hanna, dan mengecup bibir Hanna. Rafa sengaja melakukannya cukup lama, hanya mengecup tanpa ada gerakan lainnya.
Merasa tidak ada perlawanan dari Hanna, Rafa memutuskan untuk melanjutkannya. Tangannya bergerak untuk mendekap tubuh Hanna dengan erat, sedangkan bibirnya bergerak untuk semakin memperdalam ciumannya.
Rafa merasa kesempatan seperti ini tidak akan mudah datang lagi dikemudian hari, jadi ia tidak mau melewatkannya.
...****************...
Ciuman itu berlangsung selama beberapa saat. Cukup lama, karena pada akhirnya Hanna pun membalas. Dengan tangan yang masih mendekap erat tubuh Hanna, Rafa menyudahi ciuman itu, lalu menempelkan keningnya pada kening Hanna.
"Aku benar-benar jadi orang yang jahat sekarang." Gumam Hanna.
Rafa terkekeh, lalu melonggarkan pelukannya dan memandangi wajah Hanna.
"Setiap orang punya kesalahan. Kalo kamu diam, Arthur enggak akan pernah tau."
"Itu karena kak Rafa sering banget kan begitu!"
Hanna mencubit pinggang Rafa, dan membuat Rafa mengaduh kesakitan.
"Itu kan dulu, sekarang udah enggak."
"Yakin?" Hanna menelisik, dan Rafa menjawabnya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Aku single, jadi aku mau membohongi siapa kalo aku habis ciuman sama seseorang?"
Hanna mengendikkan bahunya. "Tapi bukannya kak Rafa lagi deket sama seseorang. El sering bilang kalo kak Rafa lagi jalan sama cewek berambut coklat sebahu, tinggi, cantik. Dan... aku pernah liat beberapa kali."
"Oh, Giulia?"
"Mana aku tau namanya."
"Hahahaha... iya, namanya Giulia. kami temenan sejak awal kuliah di Bristol, dan kebetulan kerja bareng di kampus lagi. Dia emang ada perasaan ke aku, tapi aku enggak."
"Why?" Tanya Hanna dengan cepat.
Rafa menggelengkan kepalanya. "Enggak tau, karena aku pengennya cuma kamu."
Hanna tersenyum, lalu memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Mau main bowling lagi? Aku rasa bowling jadi olahraga favoritku sekarang."
Hanna menggelengkan kepalanya. "Setelah kita pulang dari sini, semuanya akan kembali ke tempat semula. Meskipun kita bisa main bowling di Bristol, tapi aku enggak akan mau kalo mainnya dengan kak Rafa."
Rafa melepaskan pelukannya pada Hanna, lalu kembali memandangi pemandangan teluk di malam hari.
"Jadi bener kata Wildan kalo kamu bakal tetep stay di Bristol untuk lanjut kuliah?"
"Eeee... aku belum tau. Sebenernya, ada tawaran kerja. Posisi yang ditawarkan juga bagus, tapi... aku masih ragu untuk mengambilnya."
"Kenapa? Gajinya enggak sesuai?"
Hanna menggelengkan kepalanya. "Bukan masalah gaji. Malah gaji dan fasilitas yang dikasih itu lebih dari cukup, padahal aku baru aja lulus. Cuma... akan ada konseskuensinya kalo aku ambil kerjaan itu. Jadi aku harus bener-bener mikirin hal itu."
"Konsekuensi?"
"Hm. Konsekuensi yang akan mengikat seumur hidupku."
__ADS_1
"Kerjaannya kayak berat banget."
Hanna menganggukkan kepala. "Ya, emang berat. Makanya aku pergi kesini, berniat untuk refreshing biar bisa ngambil keputusan dengan tepat. Dan... ternyata diluar rencana."
"Aku juga enggak nyangka kita bakal ketemu disini. Aku kesini karena penasaran, sekalian liburan juga. Tapi ternyata malah dapat jackpot."
"Jackpot ya?"
Rafa mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Hanna. Rasanya ia tidak perlu menjelaskan apa maksud dari perkataannya barusan.
"Kak Rafa akan tetap di Bristol?"
"Belum tau. Mama pengen aku pulang, tapi aku baru aja nikmatin kerja disini. Dan lagi, alasanku bertahan disini kan karena kamu. Jadi kalo kamu masih di Bristol, ya aku akan tetep ada di Bristol juga."
Diam mengambil alih sejenak. Hanna melirik ke arah jam tangan yang dikenakannya, dan mungkin sudah saatnya dia harus kembali ke kamarnya.
"Tidur disini aja." Rafa menyela sebelum perkataan Hanna terucap dari bibirnya.
"Aku janji enggak akan ngapa-apain kamu. Kita cuma akan tidur."
"Jadi mubadzir dong aku bayar kamar hotelnya?"
"Nanti aku ganti."
Hanna tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Aku bercanda, kak. Aku cuma-"
"Takut?" Rafa kembali menyela. "Dulu kita pernah tidur sebelahan dan enggak ngapa-apain, kamu masih enggak percaya sama aku?"
"Tapi-"
"Dan lagi kamarku lebih luas, kasurnya juga. Kita bisa berbagi kasur dengan leluasa. Begitu bangun pagi, matahari akan langsung menyambut kita dari sama." Rafa menunjuk ke arah teluk di depannya.
Hanna seperti goyah. Seperti biasanya, gadis itu selalu seperti ini saat berada di dekat Rafa.
__ADS_1
"Cuma tidur, Han. Paginya kamu bisa balik ke kamarmu, untuk siap-siap dan aku akan anter kamu pulang."
Hanna akhirnya mengangguk, menyetejui tawaran Rafa untuk berbagi tempat tidur bersama. Sudah terlanjur berbuat salah, jadi diteruskan saja. Begitu pikirnya.