
Wanita itu masih melambung tinggi dengan angan-angan egoisme yang selalu di terbang kan di udara. Tidak mau nampak kasian, hanya saja itu adalah bentuk proteksi diri. Masih berpangku pada ranjang bangsal Rumah Sakit, meyakinkan sekali lagi agar tidak goyah dan masuk lebih dalam lagi. Rosé, mencoba menepis semua rasa bahagia yang didapatinya tadi malam—direngkuh sampai pagi tiba.
Seminggu koma, menjelajah dimensi yang berbeda tanpa tahu kehidupan nyata. Membuat Rosé yakin banyak kejadian dihari-hari yang sudah dilewatkan oleh dirinya. Ponsel dibawah bantal juga sedang berdering saat ini. Untuk urusan barang plasma merah maroon itu, kemaren pagi ibunya sendiri yang memberikan.
"Halo," serunya saat ponsel itu sudah menempel di daun telinga.
Ada helaan nafas teratur saat orang di balik ponsel sedang bertutur. "Masalahnya aku sudah mengetahuinya sebelum kau memberitahuku, kak,"
Rosé mencoba untuk tersenyum, walau sangat kentara itu adalah senyuman palsu. Meski sosok dibalik ponsel tidak nampak keberadaannya, wanita itu tetap mencoba senyum sebisanya.
"Aku bisa mengatasinya kak Candra, kau tidak perlu kawatir. Aku sudah memaafkan wanita itu. Sugguh." Nada bicaranya begitu meyakinkan.
Rosé lagi-lagi hanya mendengus dengan ala nya sendiri. Meski seberat apa yang dilalui, wanita itu sungguh tidak perduli. Baginya, hidup seperti ini sudah menjadi takdir sejak dini.
"Benarkah, ada disitu?" Serunya dengan menatap lebar presensi tas merk Channel di atas nakas yang sedang berdiri di samping kiri ranjang.
Beruntungnya Rosé, keadaan yang membaik dengan mobilisasi yang rutin. Membuat tubuhnya semakin lentur untuk digerakkan. Tanpa susah payah, dirinya dengan mudah dapat meraih tas untuk dipangkunya di atas paha.
Gantungan kunci berupa kuda berwarna ungu lah yang sedang dibicarakan oleh kakak beradik itu, terbukti, kini benda kecil itu sudah ada digenggaman Rosé.
"Dunia memang sempit."
Kali ini Rosé bergumam sendiri, karena tepat lima detik yang lalu, sambungan seluler itu sudah terputus. Menatap lamat-lamat gantungan kunci yang biasa disebutnya mala petaka.
Dulu sempat tidak ingin melihat benda itu setelah dirinya tahu apa yang di alaminya sungguh fatal luar biasa. Ingin menangis saat mengingat itu lagi, namun Rosé tidak mau merugi dengan membuang sia-sia air matanya.
"Hanya saja, aku sakit total dan tak dapat bangkit."
...****************...
Ada banyak hal yang terjadi selama tujuh tahun terakir. Perasaan yang membelenggu tak menentu, hingga otak yang menjadi buntu. Sempat putus asa dan ingin mengakiri segalanya—menutup hati selama-lamanya. Vee dibuat gila hanya karena kehilangan wanitanya.
Kini, rasa itu kembali dengan warna yang berbeda, bumbunya pun sudah tak sama—lebih rumit, pun nyelekit. Boleh dikatakan senang jika saja Alyne-nya mau menerimanya kembali. Tapi angan-angan itu hanya setinggi pucuk daun teh.
Apalagi kenyataan pahit itu hadir menemani, yang bodohnya kenapa tidak sejak dulu Vee mencoba untuk lebih mengetahui. Sesal hanyalah akan menjadi sesal, tidak ada yang dapat mengubah hal itu.
Duduk di sofa diantara dua keluarga, Vee ingin menyampaikan berita. Tentangnya dan tentang Sena. Sengaja dilakukannya karena berbohong untuk perasaan akan menjadikannya seorang yang pengecut.
"Aku ingin membatalkan pertunangannku dengan Sena," ucapnya langsung tanpa ada basa-basi tidak penting.
Kata membentuk kalimat keluar kelewat menyakitkan bagi Sena yang sedang tertunduk dengan emosi di ujung tanduk. Kini wanita itu hanya bisa meremat ujung dres sebagai pelampiasan yang tak dapat teruraikan dengan kata-kata—ancamannya tempo hari benar-benar gagal total.
__ADS_1
"Omong kosong apa yang kau katakan, Vee!" Kini giliran Fandi Galeon Bellamy—ayah Vee yang sontak berdiri kelewat malu akan ulah putra ke duanya.
Vee tak gentar oleh sentakan, wajah paripurna kelewat sempurna itu berani terangkat untuk menatap lawan bicara—ayahnya sendiri.
"Pa, sudah aku katakan padamu tempo dulu bukan. Ini bukan kapasitasmu untuk menekanku siapa yang layak menjadi pendampingku."
Dera, hanya menatap sendu putranya. Tau betul apa yang dirasakan saat ini sungguh di atas ambang. Semakin yakin jika perasaannya masih terjebak dengan masa lalunya, kenyataan tadi malam dirinya yang melihat putranya merengkuh Rosé dalam tidurnya, memberikan keyakinan jika pria itu benar-benar tidak dapat kehilangan untuk kedua kalinya. Vee sempat kacau waktu dulu, kali ini jangan—Dera tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.
Wanita paruh baya itu berdiri, menenangkan suami dengan mengelus punggung yang berisi. "Kita bicarakan baik-baik."
Dengan begitu Fandi luluh sudah, cinta memang begitu bukan! Lalu kenapa dirinya sebegitu marah dengan putranya, padahal itu juga menyangkut perasaan dan kebahagiaan.
Mau tidak mau, Vee dengan sigap berdiri diakhiri dengan membungkuk hormat kepada kedua orang tua Sena, lalu berkata, "Maaf, apakah anda akan terima jika Sena menikah dengan saya yang tidak akan pernah bisa mampu memberikan apa itu yang dinamakan cinta?"
Sebegitu mudahnya Vee membungkam beberapa mulut di ruangan ini, cukup mebicarakan hal inti.
Persoalan tentang apa itu bahagia!
Begitupun dengan Sena yang stagnam di tempatnya yang tak mampu menimpali barang sedikitpun, lelehan air matanya sudah sangat mewakili perasaannya—kecewa yang terlewat dalam dan sakit. Dirinya merasa tidak kekurangan apa-apa sebagai wanita, dia sempurna dimatanya, namun sayang tidak bagi Vee yang sudah tau peringainya akhir-akhir ini.
Andai saja, andai Sena dapat mengontrol kebringasannya dengan tidak mengancam Rosé dengan rentetan pesannya, pun dengan Vee tempo hari juga. Maka, kejadian tidak mengenakkan ini mungkin tidak akan terjadi. Tapi setelah dipikir-pikir, masih mungkin terjadi mengingat Vee sendiri juga tidak memilikk hati untuk wanita ini.
Menancap gas membelah jalanan Jakarta, tujuan utamanya hanyalah kepada wanitanya. Sempat terburu-buru meninggalkan tadi pagi, kini rindunya tak dapat terbendung lagi. Maka, salahkan Vee bertindak nekat walaupun jawaban dari wanita itu tidak dapat terpungkiri.
Vee hanya harus berusaha, lebih keras!
Suara lirihan bisik-bisik dari beberapa orang saja mampu terekam jelas di gendang rungu milinya. Vee, tidak mau ambil pusing, tidak apa-apa gosip itu dimakan mentah-mentah oleh karyawannya sendiri. Pria yang menyandang CEO di tempat ini malah merasa senang jika berita dirinya yang sedang berkencan dengan Rosé menjadi kenyataan yang sebenarnya itu adalah harapan.
Rosé sedang memandang cakrawala dengan semburat biru muda terbentang menghipnotis indra. Hari ini begitu cerah, bolehkah ia berharap hidupnya akan sempurna tanpa celah? Rosé akan berdoa untuk itu.
Menatap presensi wanita itu, Vee yang baru saja menenggelamkan tubuhnya di dalam ruangan, sengaja untuk mengendap. Langkahnya kian mendekat, pun tertarik kuat.
"Hai," sapanya bersamaan itu merengkuh tubuh ramping Rosé dari belakang. Memasrahkan dagunya untuk menumpang di pundak, lengannya kian mengerat melingkari perut.
Rosé sudah terbiasa dengan Vee yang agresif seperti ini, bahkan ciuman pria itu yang beberapa kali saja tidak mampu dia tolak. Kepalang malu sampai lupa caranya berlalu.
"Aku jatuh total kepadmu, Alyne. Tidak adakah kesempatan?"
"Kamu tau keadaanku kan, Nesh! Tidak perlu aku jelaskan lagi. Bukan kapasitasku untuk menjadi pendamping dirimu yang sempurna dengan mimpi-mimpimu yang tidak dapat aku berikan. Jadi apa yang kamu harapkan dariku?"
Vee tidak memprediksi akan jawaban sepanjang itu. Dia hanya tau Alyne-nya yang mendesak terus menolak.
__ADS_1
"Aku mencintaimu."
"Cinta tidak begitu cukup. Keluarga pasti butuh-,"
Kalimatnya menggantung saja di ujung bibir, kelu menyerang dengan tiba-tiba. Inilah yang selalu dihindari oleh Rosé. Pembicaraan ini terlewat sensitif untuk pertahanan dirinya yang amat sangat lemah.
"Aku mencintaimu, dan itu sudah cukup. Jadi biarkan aku memaksamu, Lyn!"
Vee tidak akan membiarkan wanita ini terus menimpali dengan alasan yang sama, sungguh Vee ingin menjadi egois sekali saja.
"Aku sungguh ingin mengambil bagianku kali ini. Aku ingin egois seperti kamu yang sudah egois meninggalkanku. Aku kacau. Mengertilah." imbuh Vee.
Nada permohonan tengah nyaring mengimbangi kalimat menyedihkan itu. Sedangkan Rosé menghangat, sekali lagi hatinya menghangat merasakah rengkuhannya sampai menembus jantung. Aliran darahnya berdesir teratur. Rosé sangat tau, Vee kacau pun dirinya juga begitu kan!
Maka, tidak membutuhkan waktu lama, bukan berarti juga termakan permohonannya. Rosé memutar balik untuk melihat betapa kacaunya Vee dengan mata yang memanas kemerahan.
Bebar-benar kacau ya!
Apakah pria juga bisa menangis karena cinta? Itu masuk sebagai kategori pria lemah bukan?
Rosé abai, tidak peduli dan ambil pusing tentang presepsi pria yang menagis karena wanita adalah pria yang lemah. Emosi bisa dalam bentuk apapun, bahkan dalam tangis sekalipun.
Sedangkan Vee hanya menatap lemah dengan menunduk karena wanita itu lebih pendek darinya, bukan karena menyerah, hanya saja kini Alyne-nya terlihat sangat cantik, cantik sekali.
Vee tengah kehilangan waktunya selama tujuh tahun untuk tidak menatap manik indah, hidung mungil, serta bibir cherry milik Rosé. Hal yang sangat disayangkan seumur hidupnya. Memandang komponen indah yang berkumpul menjadi satu di wajah, mengingatkan Vee akan perkataan Joan tempo hari.
Kenyataan yang telampau menyedihkan itu terkuak begitu saja tanpa paksaan dari Vee, hilang ingatan, luka tusukan, tak terlewat sedikitpun, peristiwa itu terurai tanpa Vee tau sebelumnya. Kini, hanya penyesalan yang dapat ia rasakan—menyesal tidak berada disisi wanitanya sedari dulu. Keluarga Everleight juga ikut andil untuk menyembunyikan fakta itu dari Vee. Jika seperti itu jadinya, maka Vee juga tidak bisa apa-apa.
Degan tatapan yang saling beradu itu sudah sangat jelas dari masing-masing merasakan hal yang sama. Tidak perlu kata-kata, seakan punya ikatan tanpa teruraikan. Keduanya begitu merasakan sakit yang kentara, sakit yang hanya mereka sendiri yang dapat mengobatinya.
Sejenak, Vee menghembuskan nafas, memejam dan membuka mata untuk melihat Rosé lebih dalam.
"Tunggulah sampai sembuh, aku akan menikahimu detik itu juga."
Saat ini! Rosé total membeku. Tahu apa yang dirasakannya. Perasaan membuncah, kini jantungnya amburadul tidak karuan. Vee datang membawa kejutan diluar dugaan. Bukan secepat itu juga membawanya ke pelaminan, bahkan jawaban saja tidak ada untuk jaminan.
Vee pemaksa. Rosé tahu itu, sungguh sangat tau sampai-sampai diluar kepala mengetahui apapun tentangnya.
"Kanesh."
"Aku memaksa, kamu hanya harus menurut dan berhenti untuk menolak."
__ADS_1