
Jika dulu Rosé menganggap hidupnya adalah hina karena ketidakmampuannya menjadi wanita sempurna, berbeda dengan sekarang, ia merasa cukup, bahkan lebih dari cukup; dikelilingi keluarga yang selalu mendukungnya, sahabat setia serta sekarang bertambah lagi, suami yang menerima ia apa adanya.
Rasanya sangat lega saat ucapan janji setia sehidup semati saat ia menjadi mempelai wanita tadi pagi mampu ia atasi. Rosé sangat ketakutan jika mengacaukan acara yang teramat sakral dengan dalih gangguan jiwanya yang sangat konyol. Nyatanya, hanya dengan memandang manik legam milik pasangan, wanita itu merasa nyaman; rasa sakit yang selalu membayanginya sirna seperti asap yang mengabur bersama angin kencang.
Rosé tersenyum ke arah James yang sedang berbincang dengan suaminya sembari meberi salam pada para tamu undangan. Tak begitu banyak, hanya beberapa karena memang persiapan hanya dalam waktu tiga hari saja. Dasar. Vee memang tidak bisa dicegah jika itu sudah menjadi tekadnya.
Rosé menghela nafas panjang mengingat tiga hari belakangan James memborbardir dirinya dengan pertanyaan yang berulang, pertanyaan yang membutuhkan jawaban benar. Rosé sangat tahu jika sepupunya itu sengaja memberikan tekanan pada dirinya. Sebenarnya tujuan James hanya satu; membuat Rosé yakin dan percaya diri jika ia adalah wanita yang lebih dari sempurna untuk Vee.
Akhirnya Rosé bertekad kuat membangun rumah tangga, membahagiakan suaminya, memperbaiki kesalahan yang ia buat karena lebih mementingkan ego. Sebenarnya bukan ego, melainkan sakit mental yang ia alami membuat semua menjadi rumit. Trauma masa lalu yang nyaris membuatnya kacau jika saja ia tak berkunjung ke dokter psikolog.
Membicarakan itu. Peran Hana sangat penting mengingat jika ia adalah dokter spesialis yang menangani krisis kepercayaan diri yang dialami oleh Rosé. Belakangan pertemuan mereka semakin rutin sebelum diadakannya acara pernikahan ini. Berkat Hana dan sikap lembutnya juga, Rosé mampu bangkit kembali menyadari jika yang ia rasakan selama ini hanyalah fatamorgana yang ia ciptakan sendiri; tanpa mendasar dan di buat-buat. Nyatanya, yang terjadi adalah lebih daripada baik. Rosé merasa bodoh dan menyia-nyiakan hidupnya selama ini.
"Lo bahagia?" Joseph memegang pundak Rosé dari samping kiri. Pria itu tersenyum, sangat teduh, bahagia sudah pasti.
Rosé tersenyum sebelum menanggapi, " Sangat bahagia, Jo. Bagaimana dengan Sena?" tanyanya.
Joseph sontak membolakan mata lucu, jika ia pikir Rosé tidak melihat saat pria itu tadi berbincang sedikit dengan Sena, maka jawabannya salah. Rosé melihat semuanya. Detail dan sedikit sedih.
"Nggak usah sok kaget. Apa gue jahat, Jo?"
"Heei, huuust. Lo nggak jahat." tanggap Joseph yang tidak mengiyakan pertanyaan asal Rosé.
__ADS_1
Rosé menunduk lalu tersenyum tipis. Menanggapi ucapan Joseph sahabat karibnya dengan hati gemuruh. Rosé masih sangat bersalah pada Sena, ia merasa seperti orang ketiga yang mendapatkan Vee dengan mudah karena statusnya sebagai mantan yang tidak dapat dilupakan, hanya merasa curang saja.
"Dia datang kesini hanya untuk mastiin lo bahagia."
Rosé lantas mendongak. "Dia ngomong gitu?" tanyanya yang diangguki Joseph dengan senyum lebar.
Rosé semakin dan semakin menjadi penjahat yang tertangkap basah. Sena mengharapkan ia bahagia? Sedikit tidak percaya namun otaknya menstimulus untuk percaya karena dasarnya Rosé bukanlah orang yang mudah berprasangka buruk kepada orang lain.
Setelah perdebatan hatinya yang berisik, Rosé memutuskan untuk menggeleng. Semua sudah terjadi. Sekarang perannya adalah sebagai istri dari seorang Vee Kanesh Bellamy, pria yang sangat dicintainya semenjak dulu. Rosé sudah berjanji kepada ibunya sebelum acara sakral terjadi; membuat Vee bahagia setelah ia buat menderita.
...****************...
Rosé menyengir kuda lalu mengangguk. "Sedikit." jawabnya. "Aku mau jadi dominan malam ini." Imbuhnya.
Vee sedikit terpengarah. Iya. Baru saja Rosé lah yang mengatakan akan menjadi dominan. Di malam pertama. Sang istri akan memimpin untuk pembuahan. Lantas dada Vee bergemuruh hebat dengan bokong yang masih duduk di tepian ranjang menatap lurus Rosé yang berdiri di depannya karena barusan saja selesai beganti pakaian; lingerie corak macan dengan kain yang, ya, yang sangat tipis dan menerawang memperlihatkan bayangan gundukan dada yang menggoda. Otak Vee sudah traveling kemana-mana.
Rosé mengerutkan bibirnya melihat respon Vee yang masih melongo seperti orang bodoh, Rosé merasa dipermalukan. Mungkin pikir Vee ia tidak bisa menjadi handal dalam urusan ranjang. Meskipun belum pernah melakukan, jelas saja soal teori Rosé lulus seratus persen.
"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Rosé mengejutkan Vee.
Sungguh bukan maksud Vee seperti itu. Hanya kaget saja, karena sebelumnya Rosé tidak pernah menawarkan duluan dalam urusan yang lebih ringan daripada hal ini. Vee merasa mendapatkan kejutan.
__ADS_1
Vee tergelak lalu meraih tangan Rosé untuk ditarik lalu mendudukkan wanita itu disampingnya. "Itu sangat sexy," bisiknya tepat di daun telinga Rosé.
Rosé tersipu dalam tunduknya. "Apa kita akan berhasil?" tanyanya lirih.
Vee memundurkan kepalanya, jari telunjuknya meraih dagu Rosé untuk diangkat. Mata mereka saling menatap lekat, "Aku nggak tahu. Tapi yang pasti kita akan bekerja sama."
Dada Rosé berdesir nyeri, bukan sakit, tapi lebih merasa seperti ada sesuatu yang berbeda, menggelitik dan menyenangkan. "Aku, aku nggak tahu caranya sih, gimana kalau kamu duluan, nanti kalau aku udah paham, aku yang akan mimpin."
Vee mengulum bulibirnya. Pikirnya Rosé ini sangat lucu sekali. Ngotot banget ingin menjadi dominan. Vee senang, jujur saja, tapi ini malam pertama, sebagai seorang pria ia juga ingin memuaskan istrinya, tak apalah, nanti bisa bergantian.
Vee memajukan tubuhnya untuk melewati tahapan pertama, bibir Rosé, namun Rosé menahan dada Vee sembari berkata, "Nanti bakalan sakit nggak? Kalau aku kesakitan gimana?" tanyanya.
Vee seolah berpikir dengan kepala miring dan mata menerawang ke atas. "Katanya teori udah lulus seratus persen!! Yang namanya barang sempit dimasukin kepunyaanku yang, punyaku gede, pasti sakit, tapi nanti enak."
Rosé semakin tersipu dan sangat malu mendengar penjelasan Vee yang begitu gamblang diucapkan. Oh astaga. Punya Vee besar, membayangkan saja rasanya sangat, sangat, ah entahlah, akan menjadi rahasia dalam hati Rosé.
"Bagaimana nyonya Bellamy, apakah anda siap?" tanya Vee dengan nada menggoda, Rosé mengangguk.
Pertama Vee mencium kening Rosé, dilanjutkan dengan mengecup kedua mata istrinya, lalu beralih menyesap ranum secerah buah cherry namun berasa strawberry milik Rosé yang dilakukan dengan lembut, decapan demi decapan mereka salurkan dengan nafas yang teratur, kedua mata tertutup begitu menikmati pangutan yang semakin menggila. Keduanya terbuai menyalurkan hasrat yang sangat lama terpendam. Saling mengucapkan dengan bahasa tubuh jika kau adalah milikku dan aku milikmu, selamanya.
Maka dalam malam singkat namun terasa panjang, keduanya benar-benar merasa bahagia.
__ADS_1