Back To You

Back To You
Chapter 123


__ADS_3

"Hanna mungkin akan pulang diliburan musim panas ini, Fa. Kamu yakin mau disana aja?" Ucap mama Salma melalui sambungan telepon.


Rafa sengaja mengaktifkan loud speaker saat menerima telepon dari mamanya, karena kini ia sedang sibuk memasak untuk makan malamnya. Ya, sejak perpisahannya dengan Hanna, Rafa mulai mencoba memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Bibi May kini hanya diminta datang seminggu sekali, guna membersihkan seluruh ruangan di rumah saja.


"Hanna... pulang?" Rafa menoleh ke arah ponselnya yang ia letakkan dimeja makan sembari mematikan kompornya.


Menu makannya selalu biasa saja. Hanya menu-menu makanan praktis yang resep dan cara membuatnya ia contek dari youtube.


"Iya. Abang bilang ada kemungkinan Hanna akan pulang, mungkin karena Wildan dan bundanya enggak jadi ke Bristol beberapa waktu yang lalu. Kamu pulang juga ya, Fa?"


Rafa menghela nafasnya. Ia masih ingat betul bagaimana sang papa melarangnya pulang sebelum kuliahnya benar-benar selesai.


"Rafa harus disini, ma. Kuliah Rafa kan belum selesai."


"Mama akan bantu untuk ngomong sama papa. Mama-"


"Ma...." Rafa menyela perkataan Mamanya. "Rafa baik-baik aja disini. Rafa akan berusaha untuk segera menyelesaikan kuliah disini jadi Rafa bisa pulang. Jangan lagi mama ngomong ke papa soal kepulangan Rafa, itu pasti bikin mama dan papa jadi berantem kan?"


"Emangnya kamu enggak kangen sama mama? Emangnya kamu enggak pengen liat anak Eowyn yang baru aja lahir? Atau main-main sama Abby?"


"Ma... tentu Rafa kangen banget sama mama dan semua orang di rumah. Tapi kan Rafa harus menyelesaikan tanggung jawab Rafa dulu disini. Rafa minta doanya sama mama ya, biar kuliah Rafa enggak banyak kendala disini."


"Pasti, Fa. Mama selalu ngedoain semua anak-anak, mama. Tapi janji sama mama, begitu kuliahmu selesai, kamu harus segera pulang ya?"


"Hm... Rafa janji sama mama."

__ADS_1


Dan obrolan telepon Rafa dengan mamanya pun berlangsung hingga beberapa menit kemudian. Setelah perpisahan itu, mamanya selalu rutin meneleponnya setiap malam. Sang mama rela mengorbankan beberapa menit jam tidurnya hanya untuk berteleponan dengan anak bungsunya itu. Alasannya apalagi kalo bukan karena tidak ingin Rafa merasa kesepian di rumah.


...****************...


Hari libur kuliah menjadi kesempatan Rafa untuk bermalas-malasan. Matahari telah beranjak naik sejak tadi tapi dirinya masih terbuai dalam alam mimpinya. Sudah biasa bagi Rafa melewatkan waktu sarapan setiap hari libur, karena raganya lebih memilih untuk tetap tidur daripada untuk bangun dan mengisi perutnya.


Suara bel pintu terdengar beberapa kali, membuat Rafa akhirnya terpaksa membuka matanya. Waktu telah menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit, dan ini bisa dibilang rekor bangun pagi tercepatnya saat libur. Karena biasanya ia akan bangun diatas jam sepuluh pagi.


Menurunkan kakinya dari ranjang, Rafa meraih kaos yang semalam ia lepas. Lalu mengenakannya sambil berjalan keluar kamarnya. Tidak biasanya bibi May datang sepagi ini, karena ia selalu meminta bibi May datang pada siang hari.


"K-kak Rafa baru bangun?" Tanya Hanna dengan canggung saat melihat penampilan Rafa yang masih acak-acakan itu. Kaos yang Rafa kenakan bahkan terbalik dan tidak disadari oleh Rafa.


Rafa menganggukkan kepalanya. Situasinya benar-benar canggung karena Hanna datang secara tiba-tiba.


"Masuklah, Han." Rafa menggeser tubuhnya dan membuka pintunya lebih lebar, tapi Hanna seolah enggan untuk kembali masuk ke dalam rumah itu.


"Gue bilang masuk, Han. Gue baru aja bangun dan... kepala gue agak pusing karena bangun secara tiba-tiba." Jawab Rafa sembari memijat pangkal hidungnya.


Rafa tidak berbohong, memang sejak kemarin kepalanya terasa pusing dibagian belakang. Ditambah lagi ia baru tidur saat jam tiga dini hari tadi karena terlalu asik dengan game-nya.


Hanna akhirnya masuk ke dalam rumah yang telah ditinggalkannya cukup lama itu. Matanya menatap ke sekeliling, tidak banyak yang berubah dan rumah itu masih tetap tampak bersih dan rapi. Hanna yakin ini semua pasti karena bibi May yang membersihkannya.


"Mau minum?" Tawar Rafa yang masih terlihat canggung itu.


Hanna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Rafa. Hanna lalu menyerahkan sebuah paper bag yang ditentengnya kepada Rafa.

__ADS_1


"Maaf baru sempat mengembalikannya sekarang."


Rafa membuka paper bag itu, karena ia penasaran apa barang yang hendak dikembalikan oleh Hanna. Ternyata isinya adalah jaket yang ia pinjamkan pada Hanna dulu saat berlibur ke London. Lalu tangan Rafa merogoh sebuah kotak beludru berwarna navy, dan membukanya.


"Kita... sudah berpisah. Jadi aku pikir, aku harus mengembalikan cincin nikah itu pada kak Rafa."


"Simpan saja." Rafa menutup kotak itu dan mengulurkannya pada Hanna, tapi Hanna menolaknya.


"Aku enggak berhak untuk menyimpannya."


"Gue kasih ini ke elo, jadi ini milik lo."


Hanna masih tidak mau menerima kotak berisi cincin pernikahan itu, sehingga membuat Rafa merasa sedikit kesal.


"Terserah mau elo jual atau lo buang, tapi jangan balikin ke gue."


"Tapi Kak..."


"Kenapa?" Rafa menyela. "Apa pacar baru lo ngelarang untuk nyimpen barang-barang pemberian gue?"


"Pacar?" Hanna mengernyitkan dahinya, merasa bingung siapa 'pacar' yang dimaksud oleh Rafa itu. Bukankah yang memiliki pacar baru adalah Rafa?


"Kayaknya... kak Rafa salah paham deh. Aku enggak ada hubungan sama sekali sama siapa pun."


Rafa kemudian mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepada Hanna. "Dulu elo pernah bilang kalo gue harus berjuang untuk dapetin elo lagi. Gue... masih punya kesempatan itu kan, Han?"

__ADS_1


...****************...


Eeeeeaaaaa.... nanggung ya? Sengaja kok, kalo diterusin nanti kepanjangan 🤭


__ADS_2