
Sesuai dengan kesepakatan keluarga Rafa dan Hanna, acara pernikahan keduanya akan diadakan bulan depan. Bukan pesta pernikahan yang mewah dan dihadiri oleh banyak orang, tapi hanya sebuah acara makan siang yang mengundang keluarga dan kerabat dekat.
Rayyan telah selesai membantu proses kepindahan Hanna. Meskipun Rafa meminta agar Hanna tidak bekerja lagi, tapi hal itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Hanna.
Semua persiapan sudah hampir selesai, semuanya berkat bantuan duo mama yang selalu sigap membantu Hanna dalam mempersiapkan acara pernikahan sederhana ini. Hanya tinggal tersisa fitting baju pernikahan dan memilih cincin pernikahan yang harus dilakukan oleh kedua mempelai itu.
Sore ini, Rafa berjanji akan langsung menyusul Hanna ke sebuah buti seusai jam pulang kerja. Karena berencana untuk mengambil cuti panjang, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Rafa. Sehingga dirinya tidak banyak berperan dalam mempersiapkan pernikahannya.
Rafa merogoh ponselnya yang berdering saat hendak berjalan menuju parkiran mobilnya. Buru-buru ia menjawab panggilan itu saat sebuah nama yang tidak diduganya tertera dilayar ponselnya.
"Halo?" Rafa kemudian mendengarkan dengan seksama penuturan dari lawan bicaranya.
"Oke... oke... gue kesana sekarang."
Rafa mengakhiri panggilan telepon itu, lalu buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan memacu laju kendaraannya untuk segera tiba di tempat tujuannya.
...****************...
Jalanan cukup macet malam itu, membuat perjalanan Rafa dan Hanna menuju tempat makan untuk makan malam menjadi tersendat. Hanna yang tampak bosan tampak beberapa kali mengganti saluran radio untuk mencari hiburan bagi mereka.
"Kayaknya waktu itu ada flashdisk lagu-lagu deh, Kak. Dimana ya? Di laci dashboard kan ya?"
__ADS_1
Hanna lalu membuka laci dashboard sebelum Rafa berhasil menghentikannya. Sebuah benda langsung menarik perhatian Hanna, lalu diambilnya dan diamatinya dengan seksama.
Sebuah pacifier dengan tali dan tulisan nama 'Aldric'. Hanna mengembalikan benda itu ke dalam laci dan langsung menutup laci dashboard-nya.
Sadar akan kesalahannya, Rafa langsung menepikan mobilnya.
"Maaf Han, aku enggak bermaksud untuk ngebohongin kamu tadi."
"Terus? Kenapa malah jadinya bohong?"
"Aku... enggak tau harus ngasih alasan apa ke kamu. Dan kondisinya bener-bener urgent banget tadi. Theo tiba-tiba telpon, dia ngasih tau kalo Aldric demam tinggi dan sempet kejang sebelum Theo nelpon aku. Theo dan keluarga besarnya juga keluarga Alita lagi perjalanan pulang dari Bandung, dan Alita enggak ada yang nemenin buat bawa Aldric ke rumah sakit."
"Kak Rafa bisa kan ngomong yang sebenernya gimana. Jadi aku enggak perlu nungguin kak Rafa selama itu di butik tadi. Aku bisa urus semuanya sendiri, toh dari awal persiapan juga kak Rafa enggak pernah ikut serta kan? Semuanya kak Rafa limpahin ke aku, kak Rafa bilang semuanya terserah sama aku, jadi sebenernya yang mau nikah ini tuh kita berdua atau aku sendirian sih?"
"Tapi ya enggak gini caranya, Kak!" Hanna menarik tangannya yang sejak tadi digenggam oleh Rafa. "Aku kan juga butuh pendapat kak Rafa gimana. Aku cuma minta hari ini aja untuk ukur baju dan pilih cincin, tapi kak Rafa malah bohong hanya karena nganter kak Alita ke rumah sakit. Jadi kak Rafa ini nganggep aku apa?! Dari kemarin aku selalu ragu kalo keputusanku buat nerima kak Rafa lagi emang terlalu cepat, dan kayaknya aku bakal tersakiti lagi kayak dulu."
"Han... enggak gitu, sayang."
"Aku mau balik sendiri!" Hanna melepas seatbelt dan meraih tasnya, dia benar-benar menolak untuk mendengar penjelasan dari Rafa. "Misal acaranya batal juga masih ada waktu kan?"
"Hanna!" Rafa berteriak saat Hanna keluar mobilnya. Ia ingin segera menyusul Hanna yang tampak berlari ke arah taksi yang berada tak jauh dari tempatnya parkir, tapi terlambat. Kondisi lalu lintas yang cukup ramai membuatnya kesulitan untuk membuka pintu mobil lantara banyaknya kendaraan roda dua yang berada tepat disebelah mobilnya.
__ADS_1
...****************...
"Lagian salah kamu juga sih, harusnya kamu enggak perlu bohong ke Hanna. Bilang aja ke Hanna kalo kamu anter Alita ke rumah sakit sebentar, Hanna pasti juga bakal ngerti. Hanna itu marah begitu bukan cuma merasa dinomer duakan sama kamu, tapi juga kamu kayak belum percaya aja sama dia." Ucap mama Salma sambil menyusun baju-baju Rafa yang telah diseterika ke dalam lemari pakaian.
"Apalagi mitosnya kan kalo emang udah deket-deket hari H itu emang banyak ujiannya. Makanya kalo orang jaman dulu itu ada pingitan, buat ngehindarin konflik-konflik enggak penting kayak gini." Imbuh mama Salma.
Rafa masih terdiam. Dirinya masih sibuk mencoba menghubungi ponsel Hanna yang sepertinya memang sengaja dimatikan itu.
"Terus Rafa harus gimana dong, Ma? Hanna hapenya mati, apa Rafa langsung ke rumah aja ya, Ma?"
"Biarin Hanna sendiri dulu, dia kan butuh waktu makanya dia matiin hapenya. Nanti kalo udah bisa ngehubungin Hanna, baru deh kamu temuin Hanna dan selesaikan semuanya. Masih ada waktu sebelas hari sebelum pernikahan, Fa."
"Menurut mama... Rafa sama Hanna bisa nikah lagi enggak?" Tanya Rafa dengan ragu-ragu.
"Kenapa tanya mama? Harusnya kan kamu tanya sama diri kamu sendiri." Mama Salma beranjak duduk di sebelah Rafa. "Hanna itu pilihan kamu sendiri, begitu juga kamu yang juga jadi pilihannya Hanna. Kisah kalian emang drama banget, tapi seenggaknya kalian udah saling kenal dan tau karakter masing-masing. Jadi seharusnya kamu yang paling tau gimana caranya nyelesaiin masalah ini."
Rafa menganggukkan kepalanya. Matanya masih terfokus pada layar ponselnya, menampilkan fotonya dengan Hanna yang diambil belum lama ini.
"Jangan ulangi lagi kesalahan kayak gini. Setelah nikah nanti, usahakan untuk cerita semuanya ke istri kamu. Dia berhak tau langsung dari kamu, bukan dari orang lain. Karena dengan begitu, itu berarti kamu menghargai dia dan ingin dia terlibat disegala urusanmu. Ngerti kan maksud mama?"
"Iya, Ma. Makasih banyak ya, Ma." Ucap Rafa sembari memeluk mamanya.
__ADS_1
Ya, mungkin memang Rafa harus bersabar sekarang. Tidak ada salahnya memberikan Hanna waktu untuk tidak diganggu olehnya. Rafa juga telah meninggalkan pesan agar Hanna mau bertemu dengannya untuk membicarakan masalah ini.
Dalam hati Rafa terus merapalkan doa-doa, agar masalah ini dapat segera terselesaikan. Karena waktu sebelas hari itu pasti akan dengan cepat berlalu begitu saja.