Back To You

Back To You
Chapter 125


__ADS_3

Rafa telah berubah, mungkin itu yang bisa digambarkan sekarang. Lelaki yang dulu gampang bergonta-ganti pacar ini sepertinya benar-benar telah bertaubat. Meskipun banyak gadis cantik yang mencoba untuk dekat dengannya, tapi kali ini Rafa tidak meladeninya.


Bahkan Gwen, gadis yang beberapa bulan ini selalu menempel padanya pun dilewatkan begitu saja. Apalagi sejak pertemuannya dengan Hanna beberapa hari yang lalu, Rafa seolah semakin memantapkan dirinya jika hatinya hanya untuk Hanna seorang.


"Kamu berubah sekarang. Aku merasa kamu sama sekali tidak mau bicara padaku. Apa aku berbuat salah padamu?" Gwen memanyunkan bibirnya karena sejak tadi dia terus saja diabaikan oleh Rafa.


"Kita sedang di perpustakaan, Gwen. Seharusnya memang kita tidak banyak bicara karena akan mengganggu yang lain." Jawab Rafa tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya. Ia juga menarik lengannya yang kini tengah dijadikan Gwen untuk bergelayut manja padanya.


"Tapi ini sungguh membosankan. Kita telah berada disini selama dua jam, dan kau tidak mau beranjak untuk mengajakku jalan-jalan." Gwen masih menggerutu. Gadis itu bahkan kembali mencoba untuk menyandarkan kepalanya pada lengan Rafa, dan kembali ditolak oleh Rafa.


"Kau bisa pergi sekarang dan jalan-jalan sendiri. Aku sedang banyak tugas."


"Kau bisa menyelesaikannya nanti. Kamu pintar, tugas itu pasti akan selesai dalam sekejap."


Rafa tidak menggubris. Pandangannya malah kini sibuk mencari ponselnya yang tadi tergeletak diantara tumpukan buku-buku.


"Jadi benar apa yang Jansen bilang, ternyata kau masih memasang foto mantan istrimu." Ucap Gwen sambil memegangi dan memandangi layar ponsel Rafa.


Rafa menyambar ponselnya dengan cepat, lalu membuka sebuah pesan yang berasal dari Eowyn itu.


"Kau masih mengharapkannya? Dia telah berpaling darimu, jangan terlalu mengharapkannya." imbuh Gwen dengan nada mengejek.


"Itu bukan urusanmu."

__ADS_1


"Aku telah memperingatkanmu, Rafa. Kau harus ingat, jika nanti kau benar-benar ditolak oleh dia, jangan harap aku akan menerimamu meskipun kamu memohon."


Rafa tersenyum sinis. Ia bukanlah termasuk golongan orang sabar, dan kini sepertinya batas kesabarannya telah mulai habis.


"Dan kau pun juga harus ingat, Gwen. Sampai kapan pun aku tidak akan memilihmu meskipun hanya tinggal kau perempuan di dunia ini."


Merasa kesal dengan ucapan Rafa, Gwen segera meraih tasnya dan pergi meninggalkan Rafa. Bisa dibilang ini adalah kali pertama dirinya ditolak oleh laki-laki. Bahkan dirinya sampai harus bekerja keras menarik perhatian Rafa beberapa bulan ini, tapi nyatanya usahanya benar-benar gagal.


...****************...


"Berhenti menggoda lelaki yang sudah kamu buang!" Gwen menggebrak meja tempat Hanna dan teman-temannya sedang makan siang sekarang.


Tentu saja itu langsung menarik perhatian pengunjung restoran cepat saji siang itu. Tapi Hanna segera tahu apa yang dimaksud oleh wanita yang datang dengan amarah yang menggebu-gebu ini.


"Aku tidak menggodanya, jadi jangan asal menuduh." Hanna menjawab dengan santai.


"Perkataan yang mana? Aku sama sekali enggak mengerti apa yang membuatmu marah-marah seperti ini."


"Jangan pura-pura bodoh! Aku tau kau masih mengharapkan Rafa, itu sebabnya kalian bertukar pesan dengan intens akhir-akhir ini dan bahkan berencana untuk pulang bersama. Apa kau berniat merebut Rafa dariku?"


"Rafa tidak memiliki hubungan apapun denganmu, jadi aku tidak merebutnya dari siapapun."


"Kau!"

__ADS_1


Eleanor dan Noah langsung menghalangi Gwen yang saat itu mungkin hendak menjambak atau memukul Hanna. Sementara Hanna menundukkan kepalanya untuk menghindar, Arthur yang duduk dihadapan Hanna pun langsung memasang badan untuk melindungi Hanna.


"Tolong bawa dia keluar, Noah. Jangan buat dia mengacau disini." Ucap Arthur pada Noah yang kemudian diangguki oleh Noah.


Dengan dibantu oleh Eleanor, Noah bersusah payah membawa Gwen keluar restoran. Merasa tidak malu karena telah menjadi tontonan banyak orang, Gwen terus mengumpat kepada Hanna.


"Wanita itu benar-benar gila." Kata Arthur sembari merapikan rambut Hanna yang sedikit berantakan.


"Kau tidak apa-apa, Hanna?" Tanya Arthur dan dijawab Hanna dengan anggukkan kepala.


"Ini pasti membuatmu terkejut dan ketakutan, tapi kamu tidak perlu khawatir. Kami akan selalu menolongmu."


"Hm, terima kasih banyak."


"Jangan sungkan." Jawab Arthur dengan senyum lebarnya.


Raut wajahnya berubah begitu cepat saat melemparkan pertanyaannya pada Hanna.


"Jadi, kau dan Rafa memutuskan untuk kembali?"


Hanna menghela nafasnya, lalu menganggukkan kepalanya. "Aku tidak bisa bohong pada diriku sendiri kalau aku menyimpan perasaan untuknya. Dia memintaku untuk memberikannya kesempatan, jadi aku memberikannya. Mungkin... apa yang terjadi nanti bisa membuat aku yakin untuk kembali menerimanya atau meninggalkannya."


"Kau memberikannya kesempatan berkali-kali sedangkan aku tidak kamu beri sama sekali?"

__ADS_1


"Maaf."


Hanya itu kata yang bisa keluar dari bibir Hanna. Ia memang merasa tidak enak hati kepada Arthur, tetapi apapun caranya ia juga tidak bisa menerima Arthur untuk masuk ke dalam kehidupannya, untuk menjadi lebih dari teman.


__ADS_2