Back To You

Back To You
Mr. Vante


__ADS_3

"Mama, Vee pulang dulu ke apartemen." teriak Vee seraya pula berlari sekencang-kencangnya menuju garasi mobil tanpa mengindahkan jawaban dari ibunya.


Jujur, telepon dari James membuatnya kalang kabut. Menginjak pedal gas pun tak beraturan, untung saja pria ini sudah sangat ahli mengendarai benda bermesin itu.


"Sial, lampu merah lama." gerutunya melihat bundaran yang mengeluarkan warna merah tak kunjung berubah menjadi hijau, kakinya tak kalah diam, gemetar tak terkendalikan—Vee berlebihan deh.


"Tapi tunggu 040413, sepertinya aku tidak asing dengan angka itu."


Tin…tin...tin tin...


"Ah, sial, sampai lupa." saking terpesonanya dengan angka yang sedang dia ingat, siapa sangka lampu hijau sudah menyala, daripada membuat pengendara dibelakangnya makin marah, langsung saja pria yang sedang kalut itu menancapkan gas-nya lagi.


Tak memperdulikan pejalan lainnya, pun Vee mengemudi dengan bengisnya, layaknya macan kelaparan mendapati mangsa untuk di terkam, sangat bernafsu, cepat tak terkalahkan. Begitulah Rosé bagi Vee, dapat mengalihkan Dunia-nya dalam hitungan detik.


"Awas saja kau, Jam, Sampai ada apa-apa dengan Alyne, akan ku hajar kau." Monolognya sediri dengan mata yang masih sibuk menyeleksi jalanan untuk tetap waspada agar tidak melakukan kesalahan—kecelakaan misalnya .


Berterimakasihlah kepada ibu Vee yang saat ini memilih tinggal di rumahnya Niko. Sebab Rumah Dera sangat jauh, memerlukan waktu tempuh lebih dari lima puluh menit untuk sampai ke apartemen milik Vee, itupun jika keaadaan jalanan tidak macet.


Maka tak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar tiga puluh menit untuk Vee sampai ke apartemen-nya. Memakirkan mobil asal dan berlari cepat hingga tak sadar banyak pasang mata yang melihat. Mungkin mereka semua terheran, ada apa dengan CEO-nya itu mengingat apartemen ini khusus dihuni untuk pegawai ataupun tenaga medis Rumah Sakit milik keluarga Bellamy, tak heran bukan semua dapat mengenali pria tampan itu.


Sepertinya aksi Vee untuk cepat mencapai tempat tujuan sedikit mengalami kendala, pasalnya jam ini adalah waktu pergantian sift, pantas saja banyak orang yang sedang menunggu datangnnya pintu bermesin, tak mau berlama-lama menunggu, dengan sengaja Vee melirik panel angka berjalan menunjuk angka dua belas, yang artinya lift masih berada di lantai dua belas. Baiklah, sepertinya ia akan menapakki tangga darurat saja.


Mengabaikan penampilan yang acak-acakan, Vee tersenyum lebar kala matanya memeta pintu 32 B walaupun nafasnya masih memburu karena kelelahan berlari.


Tiba-tiba Vee mematung, seolah memaksa ingatannya untuk kembali pada hari itu, hari dimana Alyne-Nya hilang tanpa kabar.


"040413."


dengan tangan gemetar, Vee menekan angka yang baru saja terucap olehnya—ya memang tepat tanggal itu adalah hari dimana Rosé terakhir menghubungi Vee


Gelap.


Hanya satu kata yang dapat menggambarkan keadaan di dalam apartemen Rosé, masih dengan gemetar, Vee segera saja menuju kamar milik tuan rumah. Semoga tidak dikunci, rapalnya dalam hati.


Tak mampu membutakan mata betapa terkejutnya Vee saat ini mendapati pemandangan yang tidak pernah terbayangkan walau sekalipun di seumur hidupnya, terlebih wanita acak-acakan inilah yang berada dihadapannya.


Botol minuman yang pasti ber alkohol berserakan di mana-mana, tak kalah juga racauan dari mulut Rosé yang sepertinya sudah kehilangan kesadarannya, Vee dibuat ber geleng-geleng melihat tingkah Rosé.


"Heeeei!! Mister Vante, jawab gue, jangan diem mulu. Atau gue lempar lo lewat jendela itu." ancam Rosé berbicara dengan boneka yang berada didepannya.


Sedangkan Vee tetap diam di tempat dan terus mengawasi tingkah laku Rosé yang sesekali meneguk minuman memabukkan itu.


"Mister Vante." tunjuk Rosé pada boneka itu lagi. "Gue benar-benar bakalan buang lo ya, eoh." ancam Rosé seraya berdiri meraih boneka yang telah menjadi fokusnya sedari tadi, yang terus diracaunya dengan panggilan Mr. Vante.


Vee berusaha menongak pun penasaran dengan sosok siapa Rosé sedang mengancam.


"Itu boneka alien pemberianku dulu 'kan!!" Kejut Vee yang tersadar akan sosok boneka tak bernyawa yang saat ini menjelma sebagai Mr. Vante dengan buntelan kaos baseball, siapa lagi kalau bukan ulah Rosé.

__ADS_1


Rosé berjalan mendekati jendela, Vee yang menyadarinya pun langsung lari dengan kekuatan supersonik untuk meraih perut Rosé dengan melingkarkan tangan kanannya.


Layaknya slow motion, Rosé mendongak pada sosok yang mengejutkannya secara mendadak. "Oooh," Mata wanita yang kesadarannya diambil penuh oleh cairan memabukkan itu membola lucu dan berbinar.


Tangan kiri Rosé mengangkat boneka alien "Mister Vante, kau lihat 'kan, kekasihku datang."


Rosé meracau dengan boneka itu masih dengan perutnya yang dipeluk oleh Vee dari belakang. Sedangkan Vee masih mencerna kata demi kata yang baru saja lolos dari mulut wanita yang detik ini mengakuinya sebagai kekasih—hello mereka memang tidak pernah mengatakan putus bukan?


Rosé tertawa sendiri seperti orang gila, jangan lupakan rona wajahnya yang merah memanas akibat terlalu mabuk, membalikkan badan guna melakukan aksinya, dilemparnya boneka alien itu ke lantai dengan sembarangan.


Saat ini, Rosé memeluk pria-nya, didekap sangat erat, kepalanya pun menyadar di dada bidang milik Vee. "Kau datang lagi Kanesh." lirihnya kemudian tanpa ingin beranjak atau bergerak, pria itu pun sedari tadi masih setia bungkam, pemandangan ini memang pertama kali baginya.


Rosé mendongak. "Kanesh, ini benar kamu 'kan?" Tanyanya dengan cengiran dan mata sayu yang mencoba fokus walaupun percuma.


Vee menatap Rosé dengan sendu, dipikirnya sejak kapan Alyne-nya bisa menjadi pemabuk handal seperti saat ini.


"Sayang, jawab aku." rengek Rosé merasa sebal karena sejak tadi Vee benar-benar mengabaikan, bukan apa, hanya saja perlakuan Rosé saat tidak sadar seperti ini sangat menggemaskan dan membuat jantung Vee berpacu dengan cepat, jangan salahkan pria ini jika saja mendadak mengalami serangan jantung.


Vee mencoba menetralkan semua yang tak terkendali. "Hmm," lolosnya hanya berdehem.


Sumpah demi matahari yang akan terbit besok pagi, Vee benar-benar memohon beri sedikit bonus waktu agar langit tetap menghitam seperti ini—masih ingin berlama dengan Rosé.


"Kau mau ‘kan menemani aku tidur? Aku ngantuk," pinta Rosé tiba-tiba.


Vee mendengus, untuk kedua kalinya ia akan menemani tidur. "Aku akan tenang bila tidur dipelukanmu, rasanya malamku akan sangat indah tidak seperti biasanya. Mau 'kan!" pinta Rosé lagi yang membuat hati Vee berdesir perih.


Lihat saja, belum terlalu lama membaringkan tubuhnya dengan dipeluk oleh Vee, wanita itu sudah pulas dalam tidurnya.


Tangan Vee yang semula mengelus rambut Rosé-pun berhenti sejenak dari aktifitasnya, suara dentingan itu sedikit mengganggunya, dengan mendongak sebentar terlihat layar ponsel milik Rosé menyala dari atas nakas, tidak mau melihat hal yang bersangkutan dengan privasi milik wanita yang berada didekapannya, pun Vee membiarkan ponsel itu tanpa mau mengusik.


Dentingan kedua berbunyi lagi, tentu saja tetap di ponsel milik Rosé, sedangkan Vee tetap tidak mau menilik walau sedikit.


Ok, kali ini Vee menyerah untuk mengabaikan, siapa tahu penting. Ia mencoba meraih benda plasma yang nyatanya tidak terlalu jauh dari jangkauannya, tak membutuhkan tenaga banyak ataupun gerakan ekstra, cukup menjulurkan lengannya saja.


"Sena?!!" Lirih Vee dengan alis yang menjadi satu, mengrenyit penasaran.


Sena: Apa kau bersama Vee?


Sena: Kenapa kau tidak membalas?


Sena: Kuharap kau tidak mengingkari janjimu Rosé!!


Ya, pesan dari Sena untuk Rosé cukup membuat Vee tercengang pun penasaran. Ia mencoba menilik ponselnya sendiri yang berada tepat di saku celananya, benar saja, Sena sudah meninggalkan jejak telepon serta pesan—namun Vee mengabaikan.


Fokus Vee saat ini hanya bagaimana cara membuka lock pada ponsel Rosé. Pria yang masih mendekap Rosé dalam pelukannya itu yakin bahwa pesan Sena yang dianggapnya mengancam ada sangkut pautnya dengan dirinya.


Vee mencoba memasukkan sandi dengan mendominasikan angka-angka yang kemungkinan menjadi kuncinya.

__ADS_1


Pertama gagal.


Kedua gagal.


Memutar otak lagi, jangan sampai percobaan ketiga gagal. Namun entah bisikan dari mana, Vee teringat sesuatu, pria itu mengarahkan benda pipih itu ke arah ibu jari milik Rosé, menempelkannya tepat di tanda home and damn berhasil.


Secepat itu Vee tanpa ragu membobol hak privasi milik Rosé, membuka pesan dari tunangannya—Sena.


........message........


Sena: Rosé, bisakah kau tidak menemui Vee lagi, aku masih memikirkan kejadian tiga hari kemaren saat kau pulang bersamanya.


Rosé: Sena, berhentilah mengawatirkan hal yang tidak-tidak, sudah tiga hari ini aku tidur di Rumah Sakit dami keinginan konyolmu itu.


Sena: Aku tidak ingin lagi melihatmu di satu area dengan Vee.


Rosé: ya, ya, ya, baiklah bayinya Vee, aku turuti.


Sena: Kalau sekali saja aku masih melihatmu bersama Vee, aku akan membongkar Rahasia memalukan dari dirimu.


Rosé: Hei!! Sena, belum cukupkah mulutmu itu berkata pedas, kau tidak memikirkan kak Hana!! Kau masih bisa berkata hal itu memalukan terlebih calon kakak iparmu mengalaminya juga?


Sena: Ups!! Maaf nggak sengaja.


Rosé: Sudahlah Sen, apa kau tidak sadar kau terlalu konyol, aku tidak akan mengganggu Vee, percayalah padaku.


Sena: Baiklah, inti dari pembicaraan kali ini, Bulan depan aku menikah dengan Vee, datanglah.


Rosé: Selamat.


Sena: Apa kau bersama Vee?


Sena: Kenapa kau tidak membalas?


Sena: Kuharap kau tidak mengingkari janjimu Rosé!!


.....………….....


Bagaimana ini terjadi, setidaknya itulah rangkaian kata yang terbesrit di kepala Vee, tidak menyangka pun terduga ternyata dua orang wanita yang diluar tampak baik-baik saja ternyata sedang menjalani misi perang dingin yang melibatkan dirinya.


Lalu, rahasia memalukan apa yang tidak diketahui dirinya yang bahkan pernah menjadi bagian dari hidup Rosé. Kenapa orang yang baru mengenal lebih dulu tahu dan menjadikan senjata untuk ancaman, dan kenapa nama kakak iparnya (Hana) disebut dalam percakapan itu.


Juga, Vee disuguhi kenyataan yang sangat membuatnya tercengang berkali-kali lipat, calon istrinya tidak hanya bermulut manis, seakan melengkapi rasa, seorang Sena juga bermulut pedas.


Emosi, tentu saja Vee merasakannya saat ini. Bodoh, tentu saja Vee merasa bodoh juga, merasa tidak tahu apa-apa. Apakah ini akibat dari tidak adanya ketegasan dari dirinya, menganggap semua baik-baik saja, menganggap semua akan berjalan mulus karena mencoba mengikuti takdir.


Pada dasarnya takdir terjadi karena adanya keinginan, seseorang akan diberikan keinginan sehingga ia akan berusaha dan hasilnya itulah yang disebut takdir.

__ADS_1


Vee pengecut, benar, pria itu membenarkan bahwa dirinya seperti itu. Tapi, setidaknya sekarang dirinya tahu apa yang harus dilakukan.


__ADS_2