
Rafa tahu ada banyak pertanyaan yang ada dipikiran Hanna. Sejak perjalanan mereka meninggalkan pantai tadi, Hanna hanya diam saja dan memilih menatap ke arah pantai.
Setelah merasa lokasi mereka sudah cukup jauh dari tempat Amelia berada tadi, Rafa mengajak Hanna berbelok memasuki sebuah kafe yang cukup ramai sore itu.
Aroma kopi yang menyeruak masuk ke saluran pernafasannya membuat Hanna menghela nafasnya. Dia mencoba menenangkan dirinya, sekaligus mengusir perasaan jengkel yang seolah menumpuk didadanya.
Rafa memilih tempat duduk outdoor, dengan pemandangan yang langsung mengarah ke pantai. Sebentar lagi matahari akan terbenam, ini bisa jadi tempat mereka berdua untuk menikmati sunset sore ini.
Seorang pramusaji datang dengan membawa menu, dan Rafa langsung menyerahkannya kepada Hanna. Ia tahu Hanna akan memesan banyak makanan sore ini. Selain karena lelah bekerja, Rafa yakin jika Hanna sedang badmood sekarang. Dan makanan selalu menjadi tempat pelariannya.
"Aku mau hazelnut latte." Hanna mulai memesan setelah melihat ke arah menu selama beberapa detik. Sepertinya Hanna lumayan sering mengunjungi kafe ini.
"Mau pesan fish and chips seperti biasanya?"
Ah, dugaan Rafa benar. Hanna mungkin memang sering kesini. Pramusajinya saja sampai hafal makanan yang biasa dipesan oleh Hanna.
Hanna menggelengkan kepalanya, lalu mulai memindai tulisan dari menu yang dipegangnya.
"Hmm... aku mau mac and cheese, french fries dan... cronuts. Semuanya porsi large."
Rafa tersenyum lantaran dugaannya benar. Meskipun tampak seperti camilan, tapi Hanna memesannya dalam porsi besar dan tergolong camilan berat semua.
"Eeee... aku pesan...." Rafa meraih menu yang masih dipegang Hanna dengan perlahan. "Caramel macchiato dan... nankatsu."
Rafa menyerahkan buku menunya ke arah pramusaji, dan menyadari ekspresi Hanna yang memandangnya dengan aneh. Mungkin karena pilihan pesanannya.
__ADS_1
"Aku laper, Han. Dan nasi goreng katsu lebih cocok dipesan dibanding dengan roti-rotian yang sebenernya lebih cocok untuk dimakan sama kopi. Dan lagi, kamu pesen banyak makanan dengan porsi large. Aku bisa icip punyamu kalo aku mau hehehehehe...." Jelas Rafa.
Setelah mendapat penjelasan, Hanna mendudukan dirinya dengan santai. Dia menyandarkan punggungnya dikursi dan mengarahkan pandangannya ke arah pantai. Dia tampak tidak keberatan jika harus berbagi makanan dengan Rafa.
"Aku dan Amelia ketemu saat papa ngundang keluarga mereka untuk makan malam bersama." Rafa mulai menjelaskan apa yang sejak tadi membuat Hanna penasaran.
Hanna langsung menoleh ke arah Rafa, melipat kedua tangannya di depan dada dan memperhatikan Rafa dengan seksama. Hanna tidak menyangka jika Rafa akan langsung memberikan penjelasan, meskipun tanpa diminta dan ditanya terlebih dulu.
"Bukan untuk acara perjodohan, tapi murni karena urusan bisnis. Waktu itu aku baru beberapa hari balik dari Bristol, ayah Amelia bersikeras memintaku ikut acara makan malam itu, karena aku baru selesai kuliah dari luar negeri. Beliau pikir, aku bisa berbagi pengalaman belajar diluar negeri ke Amelia."
"Jadi kalian dekat? Kayaknya... Amelia keliatan seneng banget begitu ngeliat kak Rafa tadi. Wajahnya keliatan berbinar dang berbunga-bunga, senyumnya lebar, bahkan kayaknya dia udah mempersiapkan dirinya secantik mungkin sebelum kesini. Tapi ternyata dia malah langsung kecewa waktu aku yang jawab semua pertanyaannya."
Rafa tersenyum tipis dan mengamati Hanna yang duduk dihadapannya. Walaupun Hanna mengucapkannya dengan tenang, tapi sepertinya gadis itu tengah diliputi rasa cemburu dihatinya.
Hanna melirik ke arah ponsel Rafa yang berada di depannya, lalu mengurungkan niatnya. Padahal sebenarnya dia ingin sekali mengecek dengan siapa Rafa rutin bertukar pesan belakangan ini.
"Aku enggak dalam kapasitas untuk ngecekin hape kak Rafa."
Rafa mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum, lalu sedikit membungkukkan badannya ke arah Hanna. "Oh iya? Tapi tadi kamu bilang... kita akan rujuk. Kalo kita mau rujuk, berarti hubungan kita udah deket banget dan tentunya kamu berhak untuk ngecek hapeku kalo kamu mau. Kan bentar lagi, kita bakal rujuk."
Hanna terlihat gelagapan dengan jawaban Rafa barusan, dan semakin dibuat gelagapan saat Rafa malah berpindah duduk tepat di sebelahnya.
"Aku udah sering bilang ke kamu, kalo aku ingin kita nikah lagi. Nikah yang sebenernya, dan jadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Karena itu, aku enggak mau ada rahasia-rahasiaan lagi diantara kita."
Hanna terdiam. Keduanya hanya saling bertukar pandang untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Tau enggak, Han? Dulu aku pikir semuanya akan mudah. Karena kamu udah ada perasaan ke aku, jadi aku pikir akan lebih mudah aku juga membalas perasaanmu juga. Tapi ternyata, jalannya enggak segampang itu. Penuh lika-liku bahkan turunan dan tanjakan curam dan tajam. Aku harus sabar dulu, menahan rasa cemburu saat menghadapi kenyataan kamu lebih milih Arthur daripada aku."
Rafa menjeda kalimatnya sejenak saat pramusaji datang untuk menghidangkan pesanan mereka. Keduanya lalu terfokus pada makanan yang ada di depan mereka, hingga akhirnya Hanna yang mengembalikan fokus pembicaraannya.
"Lalu?"
"Ah, iya. Intinya... beberapa tahun ini semuanya enggak berjalan seperti mauku dan perkiraanku. Semuanya meleset, bahkan kejadian makan siang tadi juga enggak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Tapi...."
"Tapi?" Hanna mengulang perkataan Rafa karena tidak sabar.
"Tapi kata 'rujuk' yang keluar dari bibirmu beberapa saat lalu, tentu aja sesuai dengan apa yang aku harapkan. Rasanya lega banget!" Rafa menyandarkan kepalanya dibahu Hanna. Lelaki itu bahkan memeluk Hanna dari samping, tidak mempedulikan Hanna yang mencoba melepaskan diri karena merasa malu dilihat oleh pengunjung yang lain.
"Makasih, Han, karena udah ngasih aku kesempatan kedua. Aku janji, enggak akan ngelakuin kesalahan yang dulu pernah aku perbuat ke kamu. Kamu bisa pegang janjiku, dan lagi... kamu punya papa dan Abang yang akan selalu siap sedia buat ngehajar aku, kalo nanti aku sampai hati nyakitin kamu."
"Hm, tapi sekarang mending kita makan dulu." Hanna melepaskan tangan Rafa yang masih memeluknya.
"Bisa kali Han makan sambil pelukan gini." Rafa sengaja menggoda Hanna.
Pipi Hanna bersemu merah, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah makanan di depannya. Untuk menghindari tatapan mata Rafa yang kini menatapnya dengan menggoda.
...****************...
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga puasanya lancar, selalu diberikan kesehatan dan dimudahkan segala urusannya. Aamiin....
Back To You tinggal beberapa episode lagi ya. Diusahakan untuk segera ditamatin sesegera mungkin, tapi ya liat kondisinya nanti. Karena selain kudu nulis, daku juga disibukkan dengan pesenan kue kering yg kejar tayang. Jadi mohon pengertiannya untuk bersabar ya 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1