
Mungkin memang Rafa harus menyerah. Disaat ia masih berharap akan banyaknya kesempatan yang membuatnya kembali mendapatkan Alita, tapi sepertinya tidak bagi Alita.
Alita seolah telah melupakannya. Gadis itu bahkan hanya melihat story yang ia pasang tanpa meninggalkan komentar apapun. Bahkan pesona Abby pun seperti kehilangan daya untuk menarik perhatian Alita.
Mencoba bangkit dari keterpurukannya, Rafa memilih untuk kembali menebarkan pesonanya bagi gadis-gadis diluar sana. Rafa merasa masa kesendiriannya telah terlalu lama, ditambah lagi sekarang ia merasa tak ada lagi harapan untuk kembali mendapatkan Alita. Ia juga telah lelah menjadi sasaran bahan ejekan oleh keluarga dan teman-temannya. Rafa yang dulu terkenal bergonta-ganti pacar, kini bahkan telah hampir dua tahun tanpa gandengan.
Tapi kini rasanya telah berbeda, tak ada perasaan senang atau ingin memiliki saat ia telah berhasil menggaet gadis incarannya. Seperti sekarang ini, saat ia telah beberapa kali pergi berkencan dengan Sofi.
Sofi adalah gadis keempat yang ia dekati dalam kurun waktu satu bulan ini. Tiga gadis sebelumnya memilih menjauh begitu saja karena merasa kurang nyaman dengan sikap Rafa yang terlalu cuek.
"Kamu dengerin aku ngomong enggak sih? Aku kan nanya bagusan yang mana?" Sofi mengomel sambil menunjukkan dua gantungan dress yang sedang dipegangnya.
Rafa hanya melirik sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada layar ponselnya. "Bagus semua." jawabnya dengan singkat.
Tentu saja Sofi merasa kesal. Dia mungkin tidak menyangka jika Rafa akan semenyebalkan ini saat diajak untuk menemaninya berbelanja.
"Ayo, kita ke kasir sekarang." Sofi menyelipkan jarinya disela-sela jemari Rafa dan menggandengnya menuju kasir.
Tentu saja Rafa mengetahui apa maksud dan tujuan Sofi itu. Rafa dengan sigap menekan layar ponselnya, mengarah pada pengaturan ponselnya untuk memainkan nada dering panggilan diponselnya.
"Aku angkat telpon dulu." ucap Rafa sambil menarik tangannya yang masih digenggam erat oleh Sofi. Ia begitu saja berjalan keluar toko baju tempat Sofi berbelanja sedari tadi, mengabaikan Sofi yang tampak semakin kesal karenanya.
"Makan gue mau bayarin, tapi kalo belanja? Lo bayar aja sendiri." ucap Rafa pada ponselnya, seolah sedang berbicara dengan orang lain.
Tak berapa lama, Sofi keluar dengan tentengan paper bag ditangannya. Wajahnya masih terlihat cemberut, tapi seolah dibuat-buat untuk menunjukkan kekesalannya pada Rafa.
__ADS_1
"Udah kan? Kita balik sekarang." Rafa telah lebih dulu berbalik, sebelum akhirnya langkahnya terhenti akibat teriakan dari Sofi.
"Aku laper, mau makan dulu."
Rafa semakin kesal dengan nada bicara Sofi yang dibuat-buat itu. Sekarang ia merasa menyesal kenapa harus meladeni Sofi saat gadis itu mengiriminya sebuah pesan beberapa waktu yang lalu.
"Makan di rumah aja deh ya. Aku harus pergi sekarang, Hanna udah nungguin. Kasian dia enggak ada yang jemput."
Kekesalan Sofi semakin memuncak. Menghentakkan kakinya untuk berjalan mendekati Rafa, Sofi telah bersiap untuk membombardir Rafa dengan segala macam perkataannya.
"Kenapa sih Hanna terus? Dipertemuan pertama kamu balik cepet juga bilang mau jemput Hanna, pertemuan berikutnya dan hari ini juga alasannya sama karena harus jemput Hanna. Sebenernya Hanna itu siapa sih? Aku tau kamu itu anak terakhir yang enggak mungkin punya adik. Apa dia itu anak om kamu? Atau malah dia anak selingkuhan papa kamu?"
Kini giliran Rafa yang menjadi kesal. Ia tidak suka saat Sofi dengan seenaknya menyebut jika papanya memiliki selingkuhan dan anak.
"Jaga mulutmu kalo lo enggak tau apa-apa, keluarga gue bisa aja ngejeblosin lo ke penjara karena omong kosong lo tadi." Rafa mengancam Sofi, tak ada lagi aku-kamu dalam perkataan yang ia lontarkan. Tangannya bahkan dengan enteng mendorong bahu Sofi dengan cukup keras.
Selesai mengucapkan kata-katanya tadi, Rafa segera meninggalkan Sofi. Ia tidak peduli Sofi akan pulang naik apa. Jika ia bisa membelindua dress yang dipilihnya tadi, berarti Sofi punya uang banyak kan?
......................
Hanna menggelengkan kepalanya setelah mendengar apa yang baru saja diceritakan oleh Rafa. Keduanya kini tengah berada di sebuah kafe dekat rumah Hanna. Sepulang dari mall tadi, Rafa segera mengirimkan pesan kepada Hanna dan melajukan mobilnya menuju kafe tersebut.
"Duuuhhhh... kak Rafa apaan sih? Kenapa dari kemarin aku mulu yang selalu dijadiin alesan? Ntar kalo mereka pada ngedatengin trus ngeroyok aku gimana?"
"Enggak akan. Mereka bukan siapa-siapa gue, jadi mereka enggak akan senekat itu." Rafa menjawab dengan santai sambil menikmati spaghetti yang tadi dipesannya.
__ADS_1
"Lagian kenapa sih kak Rafa selalu ngejadiin aku sebagai alasannya? Cari alasan yang lain gitu kek."
"Susah, Han. Elo yang paling gampang. Lagian kenapa sih lo hari ini kusut banget?"
Hanna menghela nafasnya, kembali teringat dengan permasalahannya sendiri. Email yang dia dapat semalam harusnya menjadi kabar bahagia bagi dirinya dan juga keluarganya. Tapi ternyata semuanya tidak sesuai dengan rencana Hanna.
"Cerita sama gue, gue pasti bisa bantu." Rafa berucap dengan nada sok yang membuat Hanna tersenyum sinis ke arahnya.
"Semalem aku dapet email, isinya tentang program beasiswa yang aku ikutin untuk kuliah di Inggris."
"Terus lo enggak keterima? Ya udah sih jangan sedih, lo kuliah disini aja. Emang enggak cocok lo kuliah jauh-jauh, ntar ayah lo jadi kepikiran terus."
Sungguh rasanya ingin sekali Hanna memukul bibir Rafa sekarang juga. Bisa-bisanya dari tadi ia berucap seenak jidatnya sendiri.
"Emang lo daftar dimana sih, Han?"
"Bristol."
"Terus hasilnya?"
"Ya... aku keterima."
Rafa meletakkan gelas minumannya sembari menegakkan posisi duduknya. "Terus, yang bikin lo sedih itu apaan?"
Hanna kembali menghela nafasnya. Matanya bahkan berkaca-kaca karena kembali mengingat perkataan ayahnya tadi.
__ADS_1
"Tau ah, kak. Aku mau pulang aja, pusing."
Hanna memasukkan ponselnya ke dalam sling bag yang ia bawa, dan mau tidak mau Rafa juga mengikuti Hanna untuk segera keluar dan mengantarkan Hanna pulang.