Back To You

Back To You
Chapter 122


__ADS_3

Rafa melangkah dengan berat menuju gedung bioskop yang berada di depannya. Ia dengan terpaksa mengiyakan permintaan Jansen untuk menemani Gwen menonton film. Beberapa hari ini, Jansen terus saja mrngulang-ulang kalimatnya, membuat Rafa jengah hingga akhirnya mengiyakannya.


Gwen bilang, ini sebagai hadiah karena Rafa tidak datang dan memberi kado di hari ulang tahunnya beberapa waktu yang lalu. Bagi Rafa tentu bukan masalah karena hanya menemani Gwen menonton film, sehingga ia tidak harus pusing dan merogoh koceknya untuk membelikan Gwen sebuah kado.


"Aku kira kamu akan terlambat." Gwen menyambut Rafa yang berjalan mendekatinya.


Gadis itu langsung melingkarkan tangannya pada tangan Rafa dengan semangat, seperti bertemu dengan kekasihnya.


"Lihat, aku sudah membeli tiketnya." Gwen menunjukkan dua tiket nonton yang dipegang ditangan kirinya. "Kamu mau makan popcorn dan minum soda? Hmm... haruskah kita membelinya sekarang?"


Rafa melirik ke arah Gwen dan menganggukkan kepalanya. Dengan perginya Gwen membeli cemilan untuk nonton, setidaknya ia bisa melepaskan diri dari Gwen yang mencoba menempel padanya.


Tapi pemikiran Rafa salah. Gwen malahan semakin mengeratkan tangannya dan menuntun Rafa untuk berjalan menuju stand untuk membeli popcorn dan soda. Rafa menghela nafasnya, kepalanya benar-benar pusing jika menghadapi Gwen.


"Kau... mengantrilah, Gwen." Rafa melepaskan tangan Gwen yang melingkar padanya. Ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang serta menyerahkannya kepada Gwen.


"Aku akan menelpon mamaku sebentar, tadi aku tidak sempat membalas pesannya."

__ADS_1


Rafa langsung membalikkan badannya, berjalan menjauh dari tempat Gwen berada. Ia lebih memilih berada dikeramaian daripada harus berada di di deket Gwen. Terhindar dari Gwen, Rafa malah mendapati pemandangan yang sangat tidak diinginkannya.


Itu Hanna! Tapi dia sedang bersiap menonton bersama Arthur. Bahkan, Hanna terlihat menggandeng tangan Arthur. Dada Rafa terasa sesak, rasa cemburu itu begitu cepat menyeruak di dalam dadanya. Benarkah Hanna kini telah melupakan dirinya dan memilih Arthur?


"Film-nya akan segera dimulai, jadi aku hanya membeli satu popcorn. Tidak masalah kan?" Ucap Gwen yang tampak kerepotan dengan popcorn dan soda dikedua tangannya.


Tidak menjawab jawaban dari Rafa, gadis itu kembali mengulangi perkataannya barusan. "Kau mendengarku, Rafa?"


"Ah, iya. Tidak masalah." Jawab Rafa dengan singkat. Pandangan matanya masih mengamati Hanna dan Arthur.


"Gwen, berikan tiketnya padaku."


Rafa menghela nafasnya memandangi tubuh bagian belakang Gwen. Jika ia mengambil tiket itu, sama saja seperti ia sedang memegang ****** Gwen, dan ia tidak menginginkannya.


"Ambillah, tanganmu kosong sekarang." Ucap Rafa sesaat setelah popcorn dan minuman bersoda itu berpindah ditangannya.


Gwen nampak memasang raut wajah kecewa, sebab ini bukan pertama kalinya dia merasa ditolak oleh Rafa.

__ADS_1


"Ayo, kita masuk sekarang." Kata Gwen sambil berjalan duluan di depan Rafa.


Dugaan Rafa benar, ia akan menonton film yang sama dengan yang ditonton oleh Hanna. Yang bisa lakukan kini hanya berdoa, semoga saja bangku mereka tidak bersebelahan atau berjarak dekat. Tapi hari ini seolah sedang tidak bersahabat dengan Rafa. Hanna dan Arthur berjarak dua kursi di depannya, dan kini ia benar-benar berharap Hanna atau temannya tidak melihatnya sama sekali.


Sepanjang film diputar, mata Rafa hanya terfokus ke arah kursi tempat duduk Hanna. Meskipun Rafa hanya dapat melihat sedikit bagian dari kepala Hanna, tapi tetap saja ia enggan mengalihkan pandangannya. Sejak awal memang ia tidak berniat untuk menonton, jadi sekarang lebih baik ia memperhatikan Hanna saja dari kejauhan. Meskipun tidak tahu bagaimana ekspresi Hanna sekarang saat menonton film yang bergenre fantasi ini.


Setelah perpisahan, ini memang sekian kalinya mereka berdua saling bertemu. Tapi membuat Rafa kesal karena setiap bertemu Hanna, dirinya pasti tengah bersama Gwen. Itu sebabnya Rafa sering memalingkan wajahnya, karena tidak ingin menatap Hanna.


Hanna pasti akan menghakiminya, menghujatnya sebagai lelaki tak berperasaan dan senang bergonta-ganti pacar. Rafa tidak menginginkan itu. Itulah sebabnya ia ingin segera menyelesaikan kuliahnya, kembali ke rumah, dan memperbaiki semuanya. Terutama hubungannya dengan Wildan dan juga ibu Hanna. Mereka pasti sangat membencinya sekarang, sama seperti Hanna yang membencinya.


Rafa menghela nafasnya, dan ini adalah yang kesekian kalinya. Sehingga Gwen menoleh ke arah Rafa.


"Kamu... tidak menyukai filmnya? Kita bisa keluar sekarang jika kamu tidak menyukainya." Bisik Gwen sembari mengusap lengan kanan Rafa.


"Tidak, kita nonton sampai selesai."


Tidak mungkin jika Rafa mengiyakan tawaran Gwen untuk keluar teater sekarang. Bisa jadi Hanna akan melihatnya sedang berkencan dengan seorang wanita lagi, dan Rafa tidak menginginkan itu.

__ADS_1


Hah, tidak tahu saja Rafa kalau dichapter sebelumnya Hanna sudah melihatnya lebih dulu 🤭


__ADS_2