Back To You

Back To You
Chapter 100


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Hanna dan Rafa diantar pulang ke rumah orangtua Rafa. Karena Wildan menemani ibunya di rumah sakit, jadi rumah orangtua Hanna menjadi sepi. Sehingga mama Salma memaksa Hanna agar menginap di rumah mereka agar tidak merasa kesepian.


Ibu Hanna dan Wildan belum memberitahukan kepada Hanna tentang kondisi ayahnya yang sebenarnya. Hanna butuh waktu untuk beristirahat dan menenangkan diri. Terlebih dengan tampilan Hanna saat tiba di rumah sakit tadi siang, membuat ibu dan kakaknya tidak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya.


Sebenarnya, Hanna merasa canggung berada di rumah keluarga Rafa. Dia tidak ingin harus kembali melakukan sandiwara pernikahannya dengan Rafa. Apalagi setelah beberapa bulan ini, dia telah tidur secara terpisah dengan Rafa. Tapi sekarang, mau tidak mau dia harus kembali sekamar dengan lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu.


"Mama nyuruh gue bawa buah potong ini. Lo harus makan banyak, Han. Tadi makan lo dikit banget."


Hanna yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk di depan cermin hanya menganggukkan kepalanya.


"Mau gue pinjemin hair dryer mama?" Tanya Rafa yang dijawab gelengan kepala oleh Hanna.


"Kalo lo enggak nyaman sekamar sama gue, gue bisa tidur di depan TV. Ntar gue bisa alasan ketiduran."


Hanna langsung memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Rafa.

__ADS_1


"Mau alasan ketiduran sampai kapan? Sampai kita balik ke Bristol?" Ucap Hanna dengan ketus.


"Besok aku mau balik ke rumah, kak. Kak Rafa disini aja enggak apa-apa, aku biasa kok di rumah sendiri."


Tentu saja Hanna terbiasa di rumah sendiri. Apalagi sejak di Bristol Rafa terbilang jarang berada di rumah. Lelaki itu akan lebih memilih berkumpul dengan teman-teman atau cewek-cewek yang didekatinya, atau bahkan pergi ke Glasgow untuk menemui Alita.


"Enggak bisa, Han. Elo harus tetap disini sampai semuanya pulang ke rumah."


Hanna menggelengkan kepalanya. "Aku enggak mau, kak. Aku tetep mau pulang. Aku enggak masalah kalo kak Rafa tetap disini, karena aku juga enggak akan minta kak Rafa ikut aku pulang ke rumah ayah."


"Ya enggak bisa seenaknya gitulah, Han. Ntar kalo pada nanyain elo gimana? Ya kali lo di rumah sendiri, sedangkan gue santai-santai disini? Ntar gue bisa kena gampar sama papa." Rafa mulai sebal. Ia bahkan menarik kursi di meja belajarnya dengan serampangan.


"Ya enggak harus sekaranglah, Han. Yang ada malah nambahin beban pikiran keluarga kita. Mana bunda juga lagi sedih karena kondisi ayah, malah lo tambahin pikiran kayak gini."


"Mau sekarang atau kapan pun, konsekuensinya akan tetap sama, Kak. Enggak akan ada yang berubah, semuanya hanya masalah waktu. Aku pikir, mumpung kita lagi balik, jadi kita bisa menyelesaikan semuanya sekarang. Karna-"

__ADS_1


"Han! Semuanya enggak segampang yang elo omongin. Pikirin juga nasib kuliah lo ntar bakal gimana? Kalo kita pisah sekarang, keluarga lo enggak bakal ngasih ijin lo buat ke Inggris lagi dan nerusin kuliah karena ada gue disana."


Hanna terdiam. Perkataan Rafa barusan memang benar, tapi melanjutkan sandiwaranya hanya akan melukai dirinya.


"Tapi aku enggak mau kayak begini lagi."


Kini Hanna mulai menangis. Dia menangkupkan kedua tangannya diwajah dan mulai menangis dengan kencang. Rafa pun bergegas bangkit dari kursi dan menghampiri Hanna, dan berjongkok di depan Hanna yang duduk di depan meja riasnya.


"Gue janji akan selesaikan semuanya setelah kuliah lo selesai, Han. Sekarang lo cukup mempersiapkan diri aja dengan segala kemungkinan yang terjadi. Semoga aja mukjizat itu ada untuk nyembuhin ayah."


Tangis Hanna terdengar semakin kencang. Dia memang tidak tahu persis bagaimana kondisi ayahnya yang sebenarnya, tapi dengan banyaknya alat yang terpasang ditubuh ayahnya, pastilah kondisinya memang sedang sangat buruk dan berada dipersimpangan jalan. Bisa kembali melanjutkan hidup dan kematian, dan Hanna tidak bisa membayangkan hidup tanpa ayahnya.


Rafa yang posisinya kini setengah berdiri bertumpu pada lututnya langsung menarik Hanna dalam pelukannya. Hanna membutuhkan sandaran setelah seminggu kemarin memendam kesedihannya sendirian. Mama Salma dan Rayyan yang sengaja membuka pintu kamar Rafa karena suara tangisan Hanna tadi pun, langsung mengurungkan niatan mereka untuk masuk. Mereka membiarkan pasangan muda itu untuk saling menguatkan satu sama lain, padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan Rafa dan Hanna.


...****************...

__ADS_1


Wiiihhhh... udah chapter 100, gaeeessss! Udah lama juga ternyata ya 😂 Yah, mungkin mulai chapter ini hingga tamat alurnya bakal jadi serius. Kayak Rafa yang sekarang udah enggak bisa haha-hihi kayak dulu-dulu hehehehehe.... Semoga enggak bosen deh ya sama ceritanya yang panjang ini dan alur yang ngebosenin. Maapkeun kalo daku suka males up, tapi kalo pas lagi rajin ya diusahakan untuk selalu up. Kayak hari ini aja bisa setor sampai dua chapter, rajin banget kan? Hahahahahaha...


Terima kasih banyak atas segala dukungannya ya, semoga kekesalannya pada novel ini enggak terbawa di dunia nyata 🤭 Sekali lagi, terima kasih banyak 🤗😘


__ADS_2