
Seminggu berlalu sejak Hanna memutuskan untuk pergi dari rumah mereka. Rafa memang mencari tahu dimana Hanna tinggal, tapi ia tidak berniat untuk menemui Hanna sekarang. Rafa hanya melihat Hanna dari kejauhan, memastikan jika gadis itu telah kembali ke apartemennya.
Rafa tidak menyangka jika keluar dari rumah menjadi keputusan yang tidak disesali oleh Hanna. Gadis itu tampak baik-baik saja, bahkan masih bisa tertawa dengan lebar bersama teman-temannya. Beberapa hari yang lalu saat Rafa membuntuti Hanna, Rafa bahkan melihat Hanna begitu ceria saat berbelanja di sebuah supermarket. Rafa merasa kesal, karena beberapa bulan ini Hanna tidak pernah tampak seceria itu saat berbelanja dengannya.
Diwaktu menjelang sore ini, Rafa masih bertahan disekitar apartemen Hanna. Bukan saja karena ia belum bertemu dengan Hanna seharian ini, tetapi juga kedatangan Alita ke apartemen Hanna. Rafa tidak tahu menahu apa yang sedang dilakukan atau dibicarakan oleh dua wanita itu. Tapi Rafa yakin, pastilah semua itu menyangkut dirinya.
Rafa menunggu keluarnya Alita dari apartemen Hanna dengan bosan. Berkali-kali ia melihat ke arah jam tangannya dan juga ke arah pintu utama apartemen, tapi Alita tak kunjung keluar. Merasa kesal, Rafa berniat untuk pergi dari sana. Namun saat mesin mobilnya telah menyala, Alita keluar gedung apartemen diantar oleh Hanna.
Setelah lambaian tangan dari keduanya, Alita berjalan sendirian menuju jalan besar di dekat sana. Dan pada kesempatan inilah Rafa melajukan mobilnya untuk mengejar dan menghadang Alita.
"Masuk, Lit. Kita harus bicara." Ucap Rafa sesaat ia menurunkan kaca jendela mobilnya.
Alita yang terkejut lantas menengok ke arah belakang, untuk memastikan keberadaan Hanna. "Udah aku bilang kalo kita enggak seharusnya ketemu, Fa."
"Hanna udah masuk ke dalam. Ayolah, Lit. Please!"
Dengan terpaksa akhirnya Alita masuk ke dalam mobil Rafa, dan pasrah akan kemana Rafa membawanya sore itu. Rafa menghentikan mobilnya di sebuah taman dekat sana.
"Kamu... ada urusan apa ketemu sama Hanna?" Tanya Rafa setelah mematikan mesin mobilnya.
__ADS_1
"Minta maaflah, menurutmu apalagi?"
"Tapi... itu bukan kesalahanmu, Lit."
"Aku tetap salah, Fa. Meskipun aku bersyukur kalo kedekatan kita kemarin tidak terjalin terlalu dalam, tapi tetap aja aku menyakiti Hanna."
"Menyakiti apanya? Hanna biasa aja." Rafa menjawab dengan kesal sambil memalingkan wajahnya.
"Bukan Hanna yang biasa aja, tapi kamunya, Fa. Kamu tuh cuma mikirin diri kamu sendiri, tapi enggak mikirin gimana perasaannya Hanna."
"Udah aku bilang kalo hubungan pernikahan ini tuh enggak seperti pernikahan pada umumnya. Hanna aja yang terlalu menghayati perannya." Rafa menaikkan nada bicaranya.
Rafa diam sejenak, mencoba kembali mengingat kejadian itu. "Ya karena... waktu itu Hanna cerita sambil nangis. Ayahnya enggak kasih ijin dia ke Inggris kalo enggak nikah sama laki-laki pilihan ayahnya. Katanya sih si cowok itu juga bakal kuliah disini, tapi Hanna enggak mau."
"Terus?" Alita mendengarkan penuturan Rafa dengan seksama, dannangis mengapa itu membuat Rafa menjadi tertekan.
"Ya aku juga bingung saat itu harus gimana. Cuma ngerasa kasian aja sama Hanna kalo harus nikah sama orang yang enggak dia kenal. Iya kalo dia baik, kalo ternyata enggak?"
"Terus apa menurutmu kamu lebih baik dari calon suami Hanna yang dulu? Yang ada malah kamu tuh jahat, Fa. Bahkan mungkin calon suami Hanna yang dulu itu baik banget, dan Hanna mungkin akan bahagia kalo nikah sama dia."
__ADS_1
Perkataan Alita barusan langsung membuat Rafa terdiam. Bukan hanya merasa tertohok, tetapi juga tidak terima dengan perkataan Alita yang mengatakan jika dirinya jahat.
"Sekian lama kamu perhatian sama Hanna, kamu rela anter jemput bahkan nganterin kemana pun dia pergi, bahkan rela nikahin dia karena kamu enggak mau dia nikah sama orang yang enggak dia kenal, tapi pernah enggak kamu tanya ke Hanna gimana perasaannya ke kamu? Aku tau kalian kenal sejak kecil, hubungan keluarga kalian udah deket banget, tapi tetap aja kamu dan Hanna itu orang lain, Fa. Hanna... jatuh cinta sama kamu. Dia cerita semuanya ke aku tadi. Dan ternyata kamu emang enggak berubah."
"Maksudnya?"
"Ternyata bukan aku aja, cewek yang menyakiti Hanna secara tidak langsung. Tetapi ada beberapa cewek yang deket sama kamu beberapa bulan disini. Lauren, Gemma, Alicia, Cheryl, Martina, apa perlu aku sebutin semua?" Tantang Alita, sedangkan Rafa masih diam karena keterjutannya.
"Ternyata kamu enggak berubah, Fa. Mungkin emang benar selama ini aku salah dalam menilaimu. Aku pikir, setelah kejadian video mesummu dengan Jihan itu jadi pembelajaran buat kamu. Tapi ternyata enggak. Kini bahkan Hanna yang harus jadi korbannya, bahkan disaat statusnya telah menjadi istri sah kamu."
"Tapi dari awal Hanna tau gimana pernikahan ini akan berlangsung. Salah dia sendiri terlalu bermain dengan perasaannya." Rafa membela diri.
"Oh, begitu? Maaf kalo aku terlalu ikut campur dalam urusan pribadimu, mungkin aku udah ngomong terlalu kasar. Aku rasa... enggak ada lagi yang harus kita bahas. Dan aku sarankan, kamu harus segera berhenti bermain-main dengan cewek-cewek lain, Fa. Kalo kamu memang enggak berniat untuk menjadikan Hanna sebagai istri yang sesungguhnya, lebih baik kamu lepasin aja Hanna. Dia pantas untuk bahagia, bukan dengan lelaki sepertimu."
"Maksudmu apa sih, Lit?" Rafa menggertak sambil mencekal tangan Alita yang hendak menarik handle pintu mobil.
Alita segera mengibaskan tangan Rafa, dan menatap tajam ke arah Rafa. "Aku bisa saja ngebuat keluarga kalian tau soal sandiwara ini, tapi aku enggak akan lakuin hal itu. Hanna melarangku untuk melakukannya, karena Hanna enggak mau kamu jadi bulan-bulanan om Adit ataupun abang. Belum lagi dengan keluarga Hanna atau Wildan yang pastinya akan lebih siap untuk ngehajar kamu. Sesayang itu dia sama kamu, Fa. Tapi kamunya terlalu menganggap Hanna sebagai anak kecil, yang sama sekali enggak menarik dimatamu."
Alita segera keluar dari mobil Rafa, lalu berlari kecil dan kemudian mencegat sebuah taksi yang lewat disana. Setidaknya kemarahannya sudah sedikit tersalurkan dengan mencaci-maki Rafa. Sakit hati karena Rafa masih bermain dengan banyak perempuan lain saat mendekatinya beberapa bulan lalu. Tentu Alita percaya dengan apa yang Hanna katakan di apartemen tadi, karena Hanna menunjukkan foto-foto kedekatan Rafa dengan perempuan lain yang berjumlah selusin itu.
__ADS_1
Kini bukan saatnya Alita yang berhak marah, tetapi Hanna. Terlebih kini Alita telah semakin mantap dengan keputusannya untuk menutup semua lembaran cerita tentang dirinya dan Rafa. Dan berharap, hubungan Rafa dan Hanna akan berjalan sebagaimana mestinya.