Back To You

Back To You
Chapter 143


__ADS_3

Rafa berkeringat. Padahal restaurant tempatnya, Giulia dan orangtuanya makan siang memiliki penyejuk ruangan. Bahkan ia merasa kikuk saat orangtua Giulia tak henti-hentinya menatap dirinya.


Sejak ia dan Giulia datang tadi, tidak banyak obrolan yang terjadi diantara mereka. Rafa sendiri merasa terintimidasi dengan tampang ayah Giulia yang terlihat garang seperti seorang mafia itu. Sedangkan Giulia, selalu mengambil alih situasi untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang.


"Ah, makanannya datang!" Ucap Giulia dengan nada gembira.


Rafa memandangi makanan yang dihidangkan oleh pramusaji di depannya. Yah, tentu saja makanan Italia. Karena Giulia dan keluarganya berasal dari Italia. Tiba-tiba terbesit dipikirannya, mungkin jika ia menikah dengan Giulia, makanan seperti inilah yang akan dia nikmati setiap hari.


Pasalnya, selama beberapa bulan menyantap makan siang buatan Giulia, menunya selalu saja masakan Italia. Bahkan Rafa sampai hafal betul jenis-jenis saus yang selalu ada pada masakan Giulia. Dari bolognese, aglio e olio, pesto, carbonara, alfredo, marinara, dan mushroom cream sauce.


"Kenapa kau tidak membawa kado untuk putriku?" Pertanyaan Massimo, papa Giulia, mengudara sesaat setelah pramusaji meninggalkan meja mereka.


Rafa sontak terkejut. Tangannya yang akan memegang garpu pun terhenti begitu saja.


"Bukankah kau tau jika hari ini adalah hari ulang tahunnya?" Tanyanya lagi.


"Itu...." Rafa menjawab dengan ragu, tapi kemudian disela oleh Giulia.


"Papa, bukan seperti itu. Kado Rafa ada di kantor, tidak mungkin kan aku membawanya kemari?" Giulia tersenyum lebar ke arah Rafa dan kedua orangtuanya.


"Sudah sejauh apa kalian berhubungan? Kau tidak memperlakukan putriku dengan kasar, kan?"


"Tidak, paman Massimo. Aku... tidak akan berbuat seperti itu pada Giulia."


"Giulia! Nama putriku Giulia, bukan Julia." Massimo berucap dengan tegas.


Rafa menahan kesal. Bukankah dia mengucapkan nama temannya itu dengan benar?


"Papa, jangan seperti itu." Giulia memohon pada papanya. "Rafa bukanlah orang Italia yang dapat dengan mudah mengucapkan nama-nama kita dengan benar."


"Aku hanya memastikannya, Giulia. Papa tidak ingin kamu salah memiliki lelaki, dan dia memperlakukanmu dengan seenaknya."


"Rafa bukan lelaki yang seperti itu, papa."


Francesca, ibunda Giulia mencoba menenangkan suaminya dengan mengusap punggung suaminya itu. Dia tahu jika suaminya akan bersikap demikian. Pasalnya, Giulia merupakan anak semata wayang dan kesayangan mereka.

__ADS_1


Pilihan Giulia untuk berkuliah dan bekerja di Bristol sudah sangat membuat Massimo tersiksa. Oleh sebab itulah, dia dan istrinya rutin mengunjungi Giulia ke Bristol. Terutama untuk merayakan hari lahir Giulia.


"Sudah, ayo kita mulai makan sekarang. Kalian harus kembali ke tempat kerja, kan?" Francesca berucap dengan ramah.


Rafa tersenyum sambil mengangguk, lalu makan siang yang canggung itu pun dimulai. Rafa mulai menyantap spaghetti (lagi) untuk kesekian kalinya selama mengenal Giulia, dan pilihannya kali ini jatuh pada saus pesto. Rasanya memang tidak beda jauh dengan buatan Giulia, tapi yang ia pesan sekarang tentunya lebih enak.


Namun tiba-tiba kenikmatan Rafa menyantap makan siangnya terganggu dengan deheman dari ayah Giulia.


"Kau pernah makan spaghetti?" Tanya Massimo dan dijawab dengan anggukkan kepala oleh Rafa.


Giulia dan ibunya bahkan tidak mengerti maksud dari ucapan Massimo, apalagi Rafa?


"Lihat! Kau harus menusukkan garpumu begini, lalu memutarnya. Setelah tergulung sempurna seperti ini, baru kau masukkan ke dalam mulut. Bukan asal menyendoknya seperti kau makan mie instan dan yang lainnya. Kau paham?" Ayah Giulia mempraktikkan bagaimana cara memakan spaghetti dengan benar.


Rafa mengerjap, tidak menyangka jika ayah Giulia seperfeksionis ini. Lagi-lagi ia hanya bisa tersenyum kaku dan menganggukkan kepalanya.


"Papa, itu berlebihan!" Giulia berucap lirih kepada sang ayah, tapi tidak dihiraukan oleh ayahnya.


Lelaki paruh baya itu malah asik menikmati makan siangnya. Tidak peduli bagaimana perasaan anaknya atau Rafa karena ulahnya barusan. Entah bagaimana caranya Rafa bisa menikmati makan siangnya lagi dengan situasi yang seperti ini.


"Maaf tuan dan nyonya, saya harus menganggu acara makan siang kalian. Tapi saya benar-benar membutuhkan pertolongan adik saya saat ini. Ini keadaan darurat." Ucap wanita itu dengan sopan.


Massimo mendengus kesal sambil melirik tajam ke arah Rafa. Setelah minum dan berpamitan, Rafa buru-buru ditarik pergi oleh wanita itu.


"Kau harus meninggalkannya, Giulia. Lelaki itu tidak baik. Lihat saja, seorang perempuan yang sedang hamil datang dan menyeretnya keluar seperti itu. Dia pasti sedang berselingkuh dan bermain-main denganmu."


"Papa...."


Air mata Giulia tak terbendung lagi. Bukankah hari ini menjadi hari bahagia untuk merayakan hari lahirnya?


...****************...


Rafa tidak berdaya saat tangannya terus ditarik untuk keluar dari restoran tempatnya makan siang.


"Dimana mobil kamu?"

__ADS_1


"Lepasin dulu, Lit. Kamu kenapa sih? Ngagetin aja tiba-tiba muncul disini." Rafa mengusap pergelangan tangannya yang berasa sakit.


"Aku laper, dan aku makan ramen di tempat yang dulu aku nungguin kamu pas aku kesini."


"Hah?"


Tentu saja Rafa kebingungan. Karena otaknya dipaksa untuk mengingat tempat mereka bertemu setahun yang lalu.


"Jadi kamu jauh-jauh kesini cuma mau makan itu?"


Alita menggelengkan kepalanya. "Tepatnya aku kabur dari London."


"Hah? Kok bisa?" Rafa masih belum paham dengan perkataan Alita.


Sebelum jam makan siang tadi, Alita memang mengirimkan beberapa pesan untuknya. Alita bahkan menanyakan dimana Rafa akan makan siang, tapi tidak menyangka jika Alita menyusulnya kesana.


"Theo lagi ada urusan di London, jadi kami pergi bersama karena niatannya sekalian babymoon. Tapi ternyata, urusannya itu dengan mantan pacarnya."


Alita berucap dengan nada kesal. Air mata wanita itu bahkan sudah terlihat menggenang disudut matanya. Karena tahu ini masalah keluarga Alita yang tidak bisa ia campuri seenaknya, Rafa pun mencoba memikirkan caranya.


"Oke-oke, kita ke tempat ramen yang waktu itu. Tapi aku pinjem hape kamu sebentar."


"Buat apa?" Alita memeluk erat sling bag-nya.


"Sebentar aja." Rafa memaksa membuka tas mantan kekasihnya itu dan mengambil ponsel Alita.


"Demi keselamatanmu dan anak kalian." Ucap Rafa setelah berhasil menemukan kontak Theo.


Tak perlu waktu lama bagi Rafa menunggu panggilan telepon itu dijawab oleh Theo. Sudah pasti Theo kebingungan sejak tadi mencari tahu keberadaan istri tercintanya, yang ngambek hingga melakukan perjalanan dari London ke Bristol seorang diri.


"Istrimu kabur ke Bristol. Aku akan kirim titik lokasinya, aku juga akan nemenin dia sampai kamu sampai disini. Jadi buruan ke Bristol!" Ucap Rafa tanpa mau mendengar jawaban dari Theo.


Setelah memutuskan panggilan telepon itu, Rafa mengirimkan lokasi tempat mereka akan makan ramen. Rafa juga memasukkan ponsel Alita ke dalam sakunya, tidak peduli jika sejak tadi Alita mengomelinya tanpa henti.


"Kita makan dulu ya, bayi kecil." Ucap Rafa menunduk sembari mengusap lembut perut Alita yang mulai membesar itu. Lalu menegakkan punggungnya dan melirik ke arah Alita.

__ADS_1


"Sambil nunggu papamu datang kesini, dan menjemput mamamu yang ngambekan ini."


__ADS_2