Back To You

Back To You
Chapter 85


__ADS_3

Setelah pertengkaran siang tadi, Hanna lebih banyak diam. Terlebih Rafa juga tidak nampak batang hidungnya sampai sekarang, entah kemana lelaki itu pergi dari siang tadi.


Menikmati makan malam yang dimasaknya seorang diri, Hanna mencoba membiasakan diri. Agar nantinya terbiasa untuk tinggal di rumah ini sendiri, karena Rafa pasti akan menyibukkan dirinya untuk mencari keberadaan Alita.


Hanna tidak membenci Alita, karena ini semua bukan kesalahan Alita. Alita bahkan tidak menggoda suaminya agar lelaki itu mencari keberadaannya, tapi Rafalah yang sampai sekarang belum bisa melepaskan Alita. Rafa bahkan menikahi Hanna dan menemaninya di Inggris guna memuluskan jalannya mencari keberadaan Alita.


Menghembuskan nafasnya yang terasa berat, Hanna merapikan peralatan makannya dan membawanya ke bak cuci. Jika kemarin rumah ini masih begitu ramai dengan celotehan Abby, mulai siang ini rumah ini akan selalu sepi. Mungkin sampai Hanna menyelesaikan masa kuliahnya nanti, atau mungkin bisa lebih cepat dari itu. Tergantung sampai kapan rahasia mereka akan tersimpan rapat dan terendus oleh orangtua mereka.


Tepat setelah Hanna selesai mencuci piring, ponselnya berdering dan menampilkan nama ayahnya disana. Hanna langsung menyambar ponselnya dan berlari masuk ke dalam kamar, dan mulai berbicara dengan keluarganya melalui sambungan video call itu.


"Ayah... Bunda...." Hanna berseru saat sambungan panggilan video itu terhubung. Gadis itu tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya, dan air matanya langsung saja berjatuhan.


"Kenapa nangis sih, Han? Ada apa?" bundanya bertanya dengan nada khawatir.


Mendengar pertanyaan itu, otak Hanna langsung saja bekerja secara otomatis untuk mencari alasan. Tidak mungkin kan dia mengatakan jika dia dan Rafa baru saja bertengkar siang tadi? Bahkan sampai pukul delapan ini Rafa belum kembali ke rumah atau bahkan menghubunginya untuk memberitahukan keberadaannya.


"Kangeeeennnn...."rengek Hanna yang langsung ditertawakan oleh ayah dan bundanya.


Lihat kan? Satu kebohongan lagi telah terciptanya, dan pasti akan muncul kembali kebohongan-kebohongan lain setelahnya.


"Kamu ini gimana sih? Ayah pikir kamu udah tau konsekuensi kalo kuliah jauh itu pasti bakal kangen rumah. Enggak usah dirasain, Han. Nanti juga tau-tau kuliahmu udah selesai dan balik ngumpul lagi di rumah." Ayah Taufik mencoba untuk menenangkan anak bungsunya.


Hanna menganggukkan kepalanya, sembari mengusap air matanya.


"Rafa mana? Kok enggak kelihatan?"

__ADS_1


Ini adalah video call kedua sejak Hanna berada di Bristol. Pada panggilan video pertama kemarin, Rayyan dan keluarganya masih berada disini dan Rafa begitu saja nimbrung untuk berbicara dengan kedua orangtua Hanna.


"Oh, kak Rafa... lagi ke luar untuk beli... sesuatu di toko deket sini, Bun."


Sudah dua kebohongan yang tercipta. Mari kita hitung bersama ada berapa banyak kebohongan yang Hanna ciptakan dalam sekali panggilan video kali ini hehehehe....


"Sesuatu? Bukannya disana udah malem?" Ayah Taufik mengomentari.


"Emangnya enggak bisa dibeli besok, Han? Kamu enggak apa-apa ditinggal di rumah sendirian? Pintu rumah udah kamu kunci kan?" imbuh Bunda Widya layaknya emak-emak cerewet.


"Itu... beli... pembalut. Aku lupa beli kemarin, jadi... enggak mungkin kan aku ikut kak Rafa keluar hehehehe...."


Tiga. Sudah tiga kebohongan tercipta dan Hanna ingin segera mengakhiri panggilan video itu karena tidak ingin semakin banyak menabung dosa karena terus membohongi kedua orangtuanya.


"Oalah, lagian kamu juga gimana sih, Han. Itu kan kebutuhan bulanan kamu, jadi harus kamu inget-inget. Gimana kalo kamu dapetnya pas tengah malem? Atau pas ada di kampus nanti? Bisa repot sendiri kan kamu?" bunda Widya mengomel.


Beruntungnya percakapan selanjutnya tidak membuat Hanna menciptakan kebohongan lagi. Dia sibuk mendengarkan nasihat dari ayah dan bundanya untuk menjalani kehidupannya selama berada di Inggris. Dan juga, menjalani perannya sebagai seorang istri dan seorang mahasiswa.


Hanna menghembuskan nafasnya beberapa kali sesaat setelah panggilan video itu terputus. Sungguh dia merasa ingin pulang dan meminta maaf kepada kedua orangtuanya. Meskipun kini semuanya sudah terlambat, tapi bagi Hanna ini jauh lebih baik ketimbang menunggu kebohongan mereka terbongkar nanti.


Tok... tok...


Sebuah ketukan di pintu kamarnya membuat Hanna terlonjak. Hanna langsung saja menduga jika yang mengetuk pintu itu adalah Rafa. Siapa lagi yang bisa masuk ke rumah ini selain Rafa? Kalau maling, tidak mungkin kan dia mengetuk pintu?


Beranjak dari ranjangnya, Hanna berjalan menuju pintu dan membukanya. Rafa berdiri di depan itu dengan wajah yang terlihat kikuk saat mereka kembali bertatapan.

__ADS_1


"Gue... udah balik dari tadi. Tapi... karena kayaknya tadi ayah sama bunda telpon, jadi gue nunggu selesai." ucap Rafa dengan terbata-bata.


Hanna mengernyitkan dahinya, tidak mengerti dengan apa maksud dan tujuan Rafa melapor padanya. Status mereka memang suami istri, tapi itu semuanya kan hanya status. Dan bagi Hanna tidak perlu juga Rafa melapor padanya sejak kapan lelaki itu telah pulang ke rumah.


Karena sejak makan malam tadi Hanna telah memantapkan hati dan dirinya, jika kehidupannya dan Rafa di rumah ini hanya sebagai Hanna dan Rafa yang sama-sama sedang melanjutkan kuliahnya dan tinggal serumah. Tidak ada embel-embel suami istri disana.


"G-gue enggak tau kalo lo masak, tadi gue beli fast food. Lo udah makan?"


Hanna menganggukkan kepalanya. Bukan sebagai tanda menyetujui untuk makan bersama Rafa, tapi sebagai penolakan.


"Aku udah makan, kak Rafa aja yang makan. Aku capek banget dan mau tidur sekarang."


Rafa langsung menahan pintu kamar yang akan ditutup oleh Hanna. Kedua mata mereka kembali beradu dan membuat hati Rafa mencelos lantaran teringat bagaimana Hanna menangis siang tadi.


"Soal tadi siang... gue minta maaf, Han. Gue juga enggak bermaksud untuk ninggalin elo sendirian di rumah, tapi gue... juga belum tau bagaimana cara menyikapi ini semua, Han."


"It's okay, kak. Aku enggak masalah kok. Mungkin tadi siang aku aja yang terlalu berlebihan. Aku tidur dulu ya, kak. Good night." Hanna langsung saja menutup dan mengunci pintu kamarnya.


Meskipun dadanya terasa bergemuruh, tapi dia merasa bangga terhadap dirinya sendiri yang mampu bersikap sok tegar dihadapan Rafa. Inilah yang dia butuhkan kedepannya, bersikap tegar seolah semuanya baik-baik saja, meski dia tahu jika nanti dirinya pasti akan tersisihkan.


......................


Halo gaaaeeeesssss... maapkeun seminggu kemarin daku menghilang hahahahaha.... Jadi minggu lalu bener-bener mager banget, males banget untuk ngedit dan nerusin cerita karena kalah sama hasrat untuk rebahan. Apalagi cuacanya mendukung banget kan minggu lalu, ujan tiap hari dan disini udaranya jadi makin dingin. Alhasil lebih milih rebahan plus selimutan sambil ngedrakor hehehehehe....


Oiya, mau info aja nih. Kan ini ceritanya Rafa sama Hanna udah di Inggris, jadi pasti mereka akan banyak interaksi dengan orang-orang sana ya kan? Nah disini aku nulisnya tetep bahasa Indonesia ya. Disamping karena aku enggak jago-jago amat berbahasa Inggris, takut salah juga, jadi mending pakai bahasa Indonesia aja ya. Kalo bisa sih pengen pakai bahasa Jawa, tapi nanti banyak yang roaming hahahahaha...

__ADS_1


Ya pokoknya gitu deh ya, kalo ada part dimana Rafa atau Hanna ngomong sama temennyalah atau siapa pun kecuali antar tiga tokoh inti (Rafa, Hanna, Alita), anggap saja itu pakai bahasa Inggris ya hahahahaha....


Sekian sekilas infonya dari daku. Selamat membaca dan menebak-nebak ini Rafa bakal 'back to' siapa 🤭🤭


__ADS_2