Back To You

Back To You
Chapter 144


__ADS_3

Rafa meletakkan ponselnya. Beberapa saat lalu ia sibuk menelpon rekan kerjanya, dan meminta ijin jika dirinya tidak bisa kembali ke kantor karena ada urusan mendadak. Ia memang tidak bisa menjelaskan secara detail soal urusan mendadaknya, yang jelas urusannya kali ini tidak bisa ditinggalkan dan diabaikan begitu saja.


Mengamati Alita yang tengah menikmati makanannya, Rafa tersenyum kecil. Tidak seperti biasanya Alita makan dengan cara seperti. Mungkin ini karena efek dari hormon kehamilan, atau memang wanita itu kelaparan setelah menempuh lebih dari dua jam perjalan itu. Rafa mengulurkan tisu ke arah Alita, yang membuat Alita menghentikan sesi makannya.


"Cewek tuh emang gini ya, Lit? Tadi bilangnya pengen ramen, sampai disini malah pesennya yakisoba, sushi, mixed fried sushi. Kamu kelaparan?"


"Ya kan aku makan buat berdua sama anakku, belum lagi aku habis perjalanan jauh dari London kesini. Kamu sih enggak ngerasain gimana rasanya jadi ibu hamil."


"Hahahaha... ya emang enggak, kan aku laki-laki. Jadi... kamu kabur kesini karena ngambek sama Theo?"


Alita menjawab pertanyaan Rafa dengan anggukkan. Dirinya terlalu lapar dan hanya ingin segera menghabiskan makanan yang dipesannya tadi.


"Lagian ngambek kenapa sih, Lit? Theo ketemu sama mantannya mungkin karena kerjaan mereka dibidang yang sama ya kan?"


"Ya tapi kan seenggaknya dia ngomong sama aku dulu kalo dia disini bakal ketemu sama mantannya. Coba kalo kemarin aku enggak mau ikut kesini, bisa leluasa banget kan mereka?"


Rafa tergelak. Banyak hal yang berubah dari Alita-nya. Dulu Alita tidak pernah ngambek dan mengomel seperti ini saat sedang marah atau cemburu. Alita akan memilih untuk diam, bahkan tidak pernah mengomel terhadapnya.


Tapi lihatlah sekarang, Alita sungguh berubah drastis sejak diperistri oleh Theo. Atau mungkin lebih tepatnya berubah sejak Alita hamil.


"Tapi mereka enggak ada kontak fisik dan hal-hal yang menjurus kan? Kalo jabat tangan atau cipika-cipiki ya wajarlah, Lit. Banyak kan sekarang kalo ketemu begitu, jadi kamu enggak perlu curiga begitu."

__ADS_1


"Pokoknya aku enggak suka! Kenapa dia enggak nyuruh yang lainnya aja buat dateng kesini? Dia pasti tau kan kalo mantannya juga pasti bakal dateng?"


Lagi-lagi Rafa tidak bisa menahan gelak tawanya.


"Lah, kamu ngambek juga malah ke Bristol nyariin aku. Tahun lalu juga sengaja banget kesini buat minta aku nemenin jalan-jalan, kamu enggak mikirin perasaan Theo gimana? Kamu kan juga ketemuan sama mantan kamu."


Alita menghentikan makannya, terdiam sambil merenungkan apa yang baru saja Rafa ucapkan.


"T-tapi... tapi kan dia sewa orang buat ngikutin aku kemana-mana."


"Hahahahaha... terserah deh, Lit."


"Dia bukan pacarku." Rafa menjawab santai dambil menikmati makanan yang dipesannya tadi.


"Hah, masih aja begini kamu tuh! Kamu udah ketemu orangtuanya, Fa. Kalo kamu emang enggak serius sejak awal, harusnya enggak usah ketemu. Kamu enggak takut apa sama wajah papanya yang garang begitu?"


"Udah aku bilang dia bukan pacarku, Lit. Dan pertemuan siang ini karena hari ini ulang tahunnya, terus dia minta aku buat nemenin dia makan siang bareng orangtuanya. Cuma itu doang."


"Tapi tetep aja kamu salah, Fa. Harusnya kamu nolak pas dia ngajak kamu buat ketemu orangtuanya. Kalo udah begini, sama aja kamu kejebak sama permainannya dia."


Rafa menggelengkan kepalanya. "Enggak akan, sejak awal papanya enggak suka sama aku."

__ADS_1


Rafa kemudian membenarkan posisi duduknya, lalu meletakkan sumpitnya untuk diganti dengan garpu yang disediakan dimeja itu.


"Kau pernah makan pasta? Kau harus menusukkan garpumu seperti ini, lalu menggulungnya dengan sempurna, barulah kau masukkan ke dalam mulutmu. Itu cara memakan pasta yang benar, tidak seperti makan mie instan dan mie lainnya." Ucap Rafa menirukan nada bicara dan aksen papa Giulia yang kental dengan logat Italia-nya itu.


Hal itu sontak saja membuat Alita tertawa terbahak-bahak. Dia tidak menyangka jika mantan kekasihnya itu tidak disukai oleh orangtua temannya hanya perkara cara memakan pasta.


"Wah, aku enggak bisa bayangin gimana jadinya kalo kamu nikah sama dia. Pasti akan ada banyak hal yang papanya komplain ke kamu tiap waktu."


"Enggak usah dibayangin, karena itu enggak pernah akan terjadi." Rafa meletakkan ponsel yang baru saja dipegangnya. "Buruan habisin makanannya, Theo udah separuh perjalanan. Habis ini aku mau ajak kamu santai-santai di taman. Kita ketemuan sama Theo disana."


"Kenapa di taman? Kenapa enggak di rumahmu aja? Aku kan pengen nyantai sambil nonton TV."


Rafa menggelengkan kepalanya. "Aku enggak bisa sembarangan ajak siapa pun masuk ke rumah itu. Apalagi kondisi kamu lagi hamil begini? Beuh, bisa-bisa papaku salah paham, Lit. Kita di taman aja ya, nanti kita cari tempat biar kamu bisa duduk santai sambil selonjoran atau tiduran disana. Oke?"


Tidak ada yang bisa dilakukan Alita selain menyetujui usulan Rafa. Tidak mungkin juga dia memaksa masuk ke rumah itu, rumah yang dia tahu sebagai rumah hadiah pernikahan Rafa dan Hanna dari abang Rayyan itu.


"Fa, ini semua kamu yang bayar kan?" Tanya Alita setelah selesai menghabiskan makanannya.


"Iyaaaa... aku yang bayar semuanya. Paling ntar aku kirimin receipt-nya ke Theo biar diganti."


"Tuh, om kamu yang katanya ganteng itu pelit, nak. Pantesan aja sampai sekarang masih jomblo ya kan?" Sindir Alita sambil mengusap perutnya yang membuncit itu.

__ADS_1


__ADS_2