Back To You

Back To You
Chapter 96


__ADS_3

Hanna kembali menghela nafasnya. Berkumpul dengan teman-temannya membuatnya lupa jika dia tengah merasa sedih karena harus berjauhan dengan keluarganya saat berulang tahun.


Hanna memang meminta ijin kepada Rafa untuk pergi bersama teman-temannya, tetapi Hanna tidak mengatakan kemana mereka akan pergi. Karena menurut Hanna, Rafa juga pasti tidak akan peduli dengan apa yang dilakukannya.


"Kamu akan langsung pulang ke rumah, Hanna?" tanya Eleanor saat menghampiri Hanna yang sedang memasukkan hadiah dari teman-temannya ke dalam sebuah paper bag.


"Iya, ini sudah terlalu malam kan? Kalian juga pasti akan kesulitan untuk kembali ke dorm jika pulang tengah malam.


"Ya, kau benar. Kalo begitu, ayo kita pulang bersama. Arthur menawarkan kita tumpangan, lumayan kan jafi kita tidak perlu keluar ongkos untuk naik taksi hehehehe...."


Hanna mengiyakan ajakan Eleanor. Selain untuk menghemat ongkos, Hanna juga tidak pernah pulang selarut ini. Jadi jika dia pulang bersama Arthur dan El pasti akan lebih aman.


Setelah mengantar Eleanor kembali ke dorm, barulah Arthur mengantar Hanna pulang. Arthur adalah orang kedua yang tahu dimana Hanna tinggal, karena selama ini Hanna selalu bertemu dengan teman-temannya diluar.


Sepi. Itulah suasana yang menyambut Hanna saat dia telah kembali ke rumah. Sudah pukul sebelas lebih dan tidak ada tanda-tanda Rafa berada di rumah. Belum lagi hujan yang kembali mengguyur saat mereka pulang tadi, membuat Hanna berasumsi jika Rafa tidak akan kembali ke rumah malam itu.


Setelah masuk ke dalam kamarnya, Hanna bergegas untuk membersihkan diri. Mungkin membuka hadiah dari teman-temannya akan menjadi hiburan baginya disisa waktu hari ulang tahunnya itu. Belum lagi tadi dia dan teman-temannya telah sepakat untuk membuat sebuah grup untuk percakapan tidak penting mereka.


Namun entah kenapa Hanna masih mengharapkan Rafa kembali malam itu. Melirik ke arah jam dinding yang sebentar lagi akan tepat pukul dua belas, Hanna masih berharap jika Rafa akan kembali dan menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.


"Udahlah, Han. Percuma juga kamu ngarepin dia, kamu emang ditakdirkan sendiri kok disini." gumam Hanna saat beranjak untuk naik ke atas tempat tidurnya.


...****************...


Rafa benar-benar pulang malam itu, menerjang derasnya hujan di sepanjang perjalanan dari Glaesgow menuju Bristol. Tidak ada kado yang ia bawa untuk Hanna, ia hanya ingin bertemu Hanna terlebih dulu untuk meminta maaf dan mengucapkan selamat ulang tahun. Untuk kado, Rafa akan menanyakannya nanti kepada Hanna apa yang diinginkannya.


Rafa tidak berani menginjak pedal gasnya terlalu dalam, jalanan yang licin membuatnya memacu mobilnya dengan kecepatan dibawah rata-rata. Ini adalah musim dingin pertamanya, dan Rafa tidak tahu akan selicin apa jalanan di Inggris.

__ADS_1


Suasana Little Paul St kala itu sangat lengang. Waktu hampir menunjukkan pukul satu dini hari, saat Rafa baru saja selesai memarkir mobilnya. Hujan telah berhenti beberapa saat yang lalu, dan Rafa buru-buru berlari untuk masuk ke dalam rumah. Jaket yang ia kenakan hari ini tidak terlalu tebal, sehingga membuatnya sedikit kedinginan saat mencoba membuka pintu rumah yang telah terkunci itu.


Hanna pasti telah tertidur dengan lelap. Setahu Rafa, gadis itu tidak pernah begadang selama mereka tinggal bersama. Hanna termasuk tipe pelajar yang mengerjakan tugas dipagi buta daripada harus begadang hingga tengah malam.


Tapi dugaan Rafa salah, Hanna sepertinya masih terjaga. Apakah Hanna menunggunya pulang untuk meminta kado kepadanya?


"Han?" Rafa memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Hanna.


Hanna memang belum tidur, sayup-sayup Rafa mendengar suara Hanna tertawa yang entah karena hal apa. Dan tak lama pintu kamar Hanna pun terbuka.


"Elo... belum tidur?" Rafa berbasa-basi.


"Baru mau tidur."


"Tapi gue denger... elo kayak lagi ketawa gitu."


Jawaban Hanna yang singkat dan sedikit ketus membuat Rafa menjadi canggung. Hanna tentu marah kepadanya karena ia lupa akan hari ulang tahunnya.


"Sorry, gue lupa kalo hari ini elo ulang tahun. Gue udah coba untuk buru-buru balik, tapi jalanan licin dan ujan gede, Han. Jadi... gue cuma sempet beli kue pas di Glasgow tadi."


Rafa mengangkat sebuah paper bag dari sebuah toko kue yang ia datangi petang tadi. Namun respon Hanna hanya biasa saja, tidak ada raut wajah bahagia seperti yang diharapkannya.


"Taruh kulkas ajalah, Kak. Lumayan buat sarapan atau ngemil besok pagi."


"Elo... enggak mau tiup lilin gitu?"


"Udah kok tadi sama temen-temen. Lagian ini juga udah jam satu, udah lewat tanggalnya. Jadi lucu aja kalo aku tiup lilin sekarang padahal hari ulang tahunku udah kemarin."

__ADS_1


"Tapi kan... baru lewat sejam, Han." Rafa masih bersikukuh merayu Hanna untuk mau keluar kamar dan menikmati kue ulang tahun yang ia beli tadi.


"Enggak mau ah, Kak. Capek banget aku, mau tidur. Kak Rafa aja kalo mau tiup lilin sendiri."


Sesaat sebelum Hanna berhasil menutup pintu kamarnya, Rafa menahan pintu itu dan menerobos masuk ke dalam kamar Hanna. Yang tentu saja membuat Hanna mengomel tak karuan.


"Gue bilang lo duduk aja dulu, gue pasang dulu lilinnya. Telat sejam, Han. Itu juga karena ujan deres banget, kalo ga ujan juga gue bakal sampai di rumah jam sepuluh kayak biasanya."


Rafa tidak mempedulikan Hanna yang sedari tadi mengomel disebelahnya dan memaksanya untuk keluar. Sementara Rafa masih berkutat memasang lilin pada kue ulang tahun yang dibelinya.


"Nah, make a wish dulu baru lo tiup lilinnya." Rafa menyodorkan kue ulang tahun dengan beberapa lilin yang menyala diatasnya ke arah Hanna.


"Ayolah, gue tau elo marah sama gue. Tapi jangan lo tolak kuenya, kuenya kan enggak ada salah sama elo."


Hanna menghela nafasnya, dan akhirnya menuruti kemauan Rafa. Gadis itu memejamkan kedua matanya dan kembali memanjatkan doanya untuk pergantian usianya ini. Dan setelahnya, meniup lilin yang menyala di atas kue.


"Anak pinter!" Rafa mengusap rambut Hanna saat semua api diatas lilin telah tertiup. "Selamat ulang tahun, bocilku. Sorry banget ya kalo gue kelupaan terus telat ngerayainnya. Sebagai kadonya, elo mau apa deh ntar gue turutin."


Hanna masih terdiam. Usapan tangan Rafa dikepalanya tadi membuatnya ingin menangis karena biasanya ayahnya yang melakukan itu, dan itu kembali membuat Hanna semakin rindu pada keluarganya.


"Dihari terakhir ujian semester aku mau jalan-jalan ke London, dan pas liburan musim dingin nanti, kak Rafa harus ajakin aku main salju."


"Gampang itu! Gue kira lo bakal minta hadiah mahal." Rafa terkekeh sembari mencabuti lilin-lilin dari atas kue, dan membereskan kardus serta paper bag kue yang berada di meja belajar Hanna.


"Tapi perginya cuma kita berdua." Ucap Hanna saat Rafa telah melangkah untuk keluar kamarnya.


Rafa langsung menghentikan langkahnya, dan memutar badannya untuk menatap Hanna yang masih berdiri di depan meja belajarnya.

__ADS_1


"Kak Rafa enggak boleh ajak siapa pun, sekali pun itu kak Alita."


__ADS_2