
Dan kini tinggallah Rafa dan Alita, duduk berhadapan sambil menunggu makanan pesanan mereka disajikan. Hanna sepertinya memang sengaja meninggalkan Rafa dan Alita. Gadis itu beralasan ingin ke toilet sesaat setelah Alita duduk dikursinya.
"Jadi... kamu dekat dengan Hanna?" tanya Alita membuka percakapan mereka.
Tidak ada tatapan sedih atau cemburu dari Alita. Tampaknya memang hanya Rafa yang terpuruk sejak hubungan mereka berakhir. Tapi Rafa juga merasa lega karena akhirnya Alita kembali seperti dulu lagi.
"Enggak. Cuma emang sering ngajak dia pergi aja."
"Itu namanya kamu ngejadiin dia sebagai pelampiasan, Fa."
Rafa kembali menggelengkan kepalanya. "Gue... eh, aku... enggak ada temen lagi kalo mau jalan kayak gini. William juga sibuk sama skripsi dan Nadia. Cuma Hanna yang enggak pernah nolak kalo aku ajak kesana-sini."
Rafa merasa tidak nyaman dengan pembicaraannya dengan Alita. Bukan cuma topik pembicaraannya, tapi kembali berada didekat Alita sejak berakhirnya hubungan mereka benar-benar membuatnya tidak nyaman.
"Jangan ngomongin Hanna lagilah, enggak enak kalo pas dia kesini kita lagi ngomongin dia."
Alita tersenyum, menangkap ketidaknyamanan yang sedang dirasakan oleh mantan kekasihnya itu. Apalagi Rafa juga menghindari untuk melakukan kontak mata dengannya, karena Rafa sibuk melongok ke arah luar restoran. Seakan mencari keberadaan Hanna yang tak kunjung muncul.
"Aku... berulang kali mikir kapan waktu yang tepat untuk kita ketemu lagi."
"ketemu untuk apa?"
"Ada banyak barang yang harus aku balikin ke kamu, Fa."
Rafa diam sejenak. Entah kenapa dia merasa tersinggung karena Alita berencana untuk mengembalikan barang-barang pemberiannya dulu.
__ADS_1
"Enggak perlu, Lit. Kita bisa ketemu kapan aja, tapi untuk ngobrol, bukan untuk mengembalikan semua barang yang pernah aku kasih ke kamu."
Alita merasa keberatan. Tentu saja sepertinya bukan ide yang bagus untuk menyimpan semua barang pemberian Rafa.
"Lagian juga aku enggak pernah minta balik barang-barang yang udah aku kasih ke semua mantanku. Terserah kamu mau kasih barang itu ke siapa atau mau kamu apakan, tapi jangan balikin ke aku." imbuh Rafa.
"Tapi... cincinnya?"
"Buat kamu. Itu kan kado ulang tahunmu. Kalo kamu enggak suka, kasih aja ke mbak di rumah."
Hati Rafa terasa nyeri, membayangkan jika Alita benar-benar memberikan cincin pemberiannya itu untuk mbak Puji. Bukannya tidak ikhlas, hanya saja... dari awal membelinya kan Rafa menginginkan Alita yang memakainya, bukan mbak Puji atau orang lain.
"Kamu kelihatan bahagia sekarang. Gimana sama Theo?"
"Theo? Dia... baik-baik aja. Dan... ya, mungkin aku memang keliatan bahagia. Setidaknya aku enggak perlu lagi ngebohongin kamu, Fa."
"Maksudku... kemarin aku selalu berusaha untuk biasa aja kalo sama kamu. Aku berharap, semuanya akan berjalan kayak biasa. Aku milih kerja part time karena... aku pengen ngehindarin kamu untuk sementara waktu. Kejadian itu-"
"Aku tau, Lit." Rafa memotong perkataan Alita. "Tolong jangan dibahas lagi. Hanna udah ada disini, dan lagi... kita emang enggak seharusnya membicarakan masa lalu."
Tak berapa lama, Hanna datang berbarengan dengan pramusaji yang menyajikan makanan untuk mereka. Rafa memilih untuk tidak banyak berbicara, sedangkan Hanna dan Alita tampak asik bercerita. Mereka berdua memang selalu seheboh itu saat bertemu, dan selalu melupakan Rafa yang padahal ada diantara mereka.
Rafa cuek saja, tidak menghiraukan jika Hanna dan Alita tidak melibatkannya dalam percakapan mereka. Begitu pula dengan yang tidak ingin melibatkan dirinya, ia malah fokus untuk menikmati makanannya.
Gerakan Rafa yang memindahkan shrimp roll ke piring Hanna tidak hanya mengejutkan Hanna, tetapi juga menarik perhatian Alita. Sering mengajak Hanna makan membuat Rafa tahu jika adik Wildan itu juga menyukai udang, sama seperti Alita.
__ADS_1
"Emang kak Rafa enggak mau makan shrimp roll-nya?" tanya Hanna yang dijawab Rafa dengan gelengan kepala.
Detik itu pula, Rafa baru tersadar jika di depannya ada Alita. Dulu ia akan memindahkan makanan apapun yang berbahan dasar udang ke piring Alita, tapi kini... Rafa memindahkannya ke piring Hanna.
"Kalo enggak suka udang, besok-besok jangan pesen makanan yang ada udangnya. Kalo aku yang ngabisin mulu, bisa-bisanya ntar akunya gendut, kak." Hanna menggerutu, tapi tetap memakan shrimp roll pemberian Rafa.
"Rafa biasa kayak gitu, Han. Asal pesen makan, ntar yang ngabisin siapa." Alita menyahuti, membuat Rafa menghentikan kegiatan makannya yang tinggal separuh porsi itu.
Berpisah memang tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi jika banyak kenangan indah yang terukir diantara mereka. Buktinya, Alita masih mengingat bagaimana kebiasaan Rafa dulu saat masih menjadi kekasihnya. Padahal, Rafa tahu jika sekarang hari-hari Alita telah diisi oleh Theo, entah apa status mereka sekarang ini.
"Kak Alita mau kemana lagi setelah makan? Masih mau keliling mall?"
"Aku udah selesai, tadi cuma cari beberapa barang aja untuk keperluan kerja."
"Oh, begitu. Balik bareng kita aja? Kayak biasa, nanti kak Rafa anterin kak Alita pulang dulu, baru setelahnya nganterin Hanna." Hanna menaik turunkan alisnya ke arah Rafa, membuat Rafa hampir saja tersedak minumannya.
Entah apa yang tengah direncanakan oleh Hanna, sepertinya dari tadi ia sengaja membuatnya berada di dekat Alita.
"Eh? Enggak usah. Nanti... ada yang jemput kok." jawab Alita dengan terbata, sambil melirik sekilas ke arah Rafa.
"Theo ya?" tanya Rafa sambil meletakkan gelas minumnya.
Rasa cemburunya kembali muncul saat mendapati Alita menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan tadi. Jadi memang benar, dirinya telah tersingkir karena Theo.
Rafa begitu saja beranjak dari duduknya, lalu menyamber tasnya dan mengajak Hanna untuk segera menyelesaikan makannya dan keluar dari restoran.
__ADS_1
"Alita balik sama orang yang tepat, Han. Gue ke kasir dulu untuk bayar makanannya. Gue tunggu di luar."