
"Hai, ayo kita makan siang bareng!" Ucap Alita dengan penuh semangat sambil mengangkat dua kantong belanjaannya ke arah Theo.
Alita segera masuk ke dalam unit apartemen milik Theo. Apartemen yang juga akan mereka tempati saat keduanya telah resmi menikah nanti.
Setelah menutup pintu, Theo lantas mengikuti Alita yang sedang mengeluarkan barang belanjaannya.
"Aku mau masak capcay, udang goreng tepung, dan... mungkin sama bikin perkedel tahu. Atau kamu pengen menu yang lain?"
Theo menggelengkan kepalanya seraya meraih sebuah botol minuman dingin dari kulkas, dan meneguknya.
"Kamu bertemu dengan Rafa kan kemarin?" Tanya Theo tanpa basa-basi.
Alita segera meletakkan sayuran yang hendak dicucinya, lalu berjalan mendekati Theo. "Kamu... tau?"
Theo mengangguk. "Taulah. Aku enggak sengaja liat mobil kamu di jalan, iseng aja buat ngikutin. Aku pikir kamu bakal ketemu temen atau sekedar liat pemandangan di pantai, enggak taunya malah ketemu Rafa."
"I-itu enggak sengaja. Aku dan Rafa ketemu bukan karena kami janjian, aku juga enggak tau kalo Rafa bakal ada disana juga."
"Tempat itu tempat favorit kalian dulu? Jadi ketika kalian lagi sedih atau ingat kenangan kalian, maka kalian akan pergi ke tempat itu."
"Theo... kamu salah paham. Kamu tau sendiri kan kalo aku suka pergi ke pantai? Jadi bukan karena aku inget Rafa terus aku pergi kesana."
"Lalu karena apa?" Nada bicara Theo menjadi semakin serius. "Untuk apa kamu tiba-tiba pergi kesana? Padahal seharusnya kamu bisa pergi ke butik atau ngecek segala persiapan pernikahan kita."
"Aku ngerasa penat aja, jadi aku pergi kesana untuk menenangkan diri sebentar."
"Dan akhirnya kamu udah tenang setelah ketemu dan dipeluk sama Rafa?"
"Theo... aku-"
__ADS_1
"Aku bersedia mengundur hari pernikahan kita karena aku ingin kamu siap untuk nikah sama aku." Theo sengaja memotong perkataan Alita. "Aku pikir karena kamu memang belum siap. Tapi ternyata bukan karena kamu belum siap, tapi karena kamu masih berharap banyak pada Rafa."
"Dengerin aku dulu, please." Alita meraih kedua tangan Theo, berusaha untuk menenangkan calon suaminya yang sedang marah besar itu.
"Aku berani bersumpah kalo aku pergi kesana bukan untuk ketemu dengan Rafa. Kami memang berpelukan, tapi itu semua enggak seperti yang kamu bayangkan. Aku dan Rafa cuma pengen mengakhiri kami hubungan dengan baik, bukan karena aku masih ada rasa sama Rafa dan ngarepin dia."
"Tapi apa harus dengan berpelukan seerat itu?" Theo menarik kedua tangannya yang digenggam oleh Alita. "Kamu bisa aja nolak untuk berpelukan dengan Rafa, harusnya jabat tangan doang cukup kan? Apa kamu enggak berpikir kalo misalnya anggota keluargaku yang melihat kejadian itu?"
"Theo, aku minta maaf. Aku mungkin udah kelewatan kemarin."
Theo menghela nafasnya, lalu berbalik badan menghadap ke jendela dapurnya. "Kalo kamu nikah sama aku karena terpaksa, lebih baik kita akhiri sekarang."
"Theo...."
"Masih ada waktu enam belas hari, jadi enggak terlalu mepet untuk membatalkan semuanya. Aku minta maaf karena waktu itu aku terlalu memaksa kamu untuk menikah denganku. Itu semua salahku, harusnya aku yang tau diri kalo enggak akan mudah untuk menggantikan posisi Rafa semudah itu."
Theo berbalik menatap Alita yang sudah mulai berkaca-kaca itu. "Itu lebih baik daripada nanti kita harus berpisah saat udah berumah tangga, Lit."
"Wah, kamu bahkan udah berpikiran kalo kita bisa aja pisah saat cerai nanti ya? Aku pikir kita akan jadi pasangan yang bahagia selamanya, membesarkan anak-anak bersama dan menghabiskan waktu bersama, tapi ternyata semua dugaanku salah. Kamu bahkan enggak mau dengerin semua penjelasan aku, hanya karena cemburu aku meluk cowok yang selama ini kamu anggap sebagai saingan terberatmu! Kamu urus semuanya, aku akan ganti rugi berapa uang kamu yang keluar untuk persiapa pernikahan kita yang enggak jadi terlaksana ini."
Alita langsung meraih tasnya dan keluar meninggalkan apartemen Theo, tidak peduli Theo mencoba mencegahnya untuk pergi. Ia memang bingung harus pergi kemana dan menemui siapa, hingga akhirnya pikirannya tertuju pada Rafa, si biang kerok segala masalahnya selama ini.
...****************...
"Jadi Theo tau?" Tanya Rafa setelah mendengarkan cerita dari mantan kekasihnya itu.
Beberapa saat yang lalu, Rafa dikejutkan dengan panggilam telepon dari Alita. Setelah sekian lama Alita menutup akses komunikasi dengannya, kini Alita malah menelponnya dan memintanya untuk bertemu di sebuah kafe.
"Iya, dia tau karena diem-diem ngikutin mobil aku."
__ADS_1
"Emang Theo tau nomer Hanna juga ya?"
"Hah? Kenapa jadi merembet ke Hanna?"
"Semalem Hanna enggak mau angkat telponku, dia bilang enggak mau berhubungan sama cowok yang masih berhubungan sama mantan pacarnya."
Alita hampir saja tersedak saat mendengar penjelasan dari Rafa. Dengan sigap, Rafa langsung mengambil tisu dan mengulurkannya kepada Alita.
"Masa iya Theo tau nomer Hanna dan ngasih tau soal kemarin? Kamu enggak coba jelasin ke Hanna dulu?"
"Gimana mau jelasin? Nomerku diblok sama dia."
"Datanglah ke rumahnya."
"Mana bisa sih, Lit. Itu si Wildan stand by mulu di rumah ngalah-ngalahin satpam. Enggak ada celah buat aku ketemu Hanna di luar, Wildan selalu nganterin Hanna kemana pun Hanna pergi."
"Masalahmu lebih susah, Fa. Aku enggak ada ide untuk bantuin kamu."
"Masalahmu tuh yang susah. Udah batal nikah, pake bilang mau ganti rugi uangnya Theo. Ngapain ganti rugi, uangnya dia banyak ini. Enggak bakal langsung habis kalo cuma buat biaya nikah doang."
Alita menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Itu cuma gertakan. Aku cuma ngerjain Theo aja."
"Hah, maskudnya?"
"Ya aku emang sebel karena dia enggak percaya sama aku dan minta pisah gitu aja. Tapi aku yakin Theo bukan orang yang begitu, dia pasti akan datang ke rumah dan bujukin aku."
"Ya kalo gitu ngapain kamu ngajakin aku ketemuan. Bisa runyam lagi ntar masalahnya."
"Hahahaha... enggak akan, aku cuma mau minta tolong aja sama kamu. Anggap aja ini sebagai permintaan maafmu karena udah nyelingkuhin aku dulu, jadi kamu harus setuju sama permintaanku kali ini."
__ADS_1