Back To You

Back To You
Chapter 161


__ADS_3

Rafa memesan cukup banyak menu makanan. Seharian ini ia terus merasa lapar. Mungkin karena sejak kemarin malam dirinya kurang makan, belum lagi seharian ini otaknya bekerja keras. Memikirkan segala kemungkinan soal keberadaan Hanna disini.


Tidak banyak interaksi antara Rafa dan Hanna. Sejak menu makanan itu tersaji, Rafa berkata untuk menyelesaikan makan malam mereka dulu, baru kemudian Rafa mengajukan pertanyaan.


Banyak pertanyaan. Begitu kata Rafa tadi.


Hanna masih tampak santai, dia bahkan melahap makan malamnya dengan tenang. Hanna terlihat tidak canggung meskipun kini Rafa ada di depannya. Padahal mereka sudah tidak bertemu lebih dari setahun lamanya.


Setelah makan malam mereka selesai, keduanya berjalan menyusuri pantai. Hanna tampak melepas sepatu haknya, dan menentengnya bersama dengan tas kerjanya. Begitu pula dengan Rafa yang juga melepaskan alas kakinya.


"Kamu sering makan disitu? Bahkan sampai waitress-nya pun hafal makanan kesukaan kamu."


Hanna menganggukkan kepalanya. "Makan makanan hotel setiap hari juga bikin bosen kan?"


"H-hotel? Jadi... kamu tinggal disana selama ini?"


Hanna kembali mengangguk. "Kak Rafa pikir, Abang Rayyan akan nempatin aku dimana? Cuma di hotel satu-satunya tempat dimana aku bisa tinggal dengan penjagaan dan pengawasan."


"Maksudnya?" Rafa masih belum mengerti dengan maksud perkataan Hanna.


Hanna menghentikan langkahnya, lalu mendudukkan dirinya dihamparan pasir pantai dan menatap indahnya pantai di malam hari. Hanna kemudian melepas outernya, untuk kemudian digunakannya menutupi kakinya.


"Dingin, Han." Rafa dengan refleks melepaskan jasnya, dan menyampirkannya dipundak Hanna. Lelaki itu kemudian mengikuti Hanna duduk.


"Aku udah biasa." Hanna menjawab dengan santai.


Rafa kembali mengulang pertanyaannya tadi, karena belum mendapat jawaban dari Hanna.


"Ah, soal itu " Hanna mengangguk perlahan, lalu terdiam sebentar untuk merangkai kepingan cerita yang akan diceritakannya.

__ADS_1


"Jadi... sebulan sebelum aku menyelesaikan tugas akhir, om Adit telpon. Beliau tanya soal kesibukanku dan lain sebagainya. Hingga akhirnya, om Adit bertanya bagaimana perasaanku ke kak Rafa."


Rafa melebarkan matanya, lalu mendekatkan posisi duduknya ke arah Hanna agar suara Hanna terdengar dengan jelas.


"Waktu itu, aku enggak bisa jawab. Aku sendiri juga enggak tau sebenernya perasaanku ke kak Rafa itu gimana. Om Adit bilang aku enggak harus ngasih jawaban saat itu juga. Om Adit cuma berpesan kalo aku masih memiliki perasaan untuk kak Rafa, aku harus menelpon beliau dan aku harus pulang. Om Adit juga berjanji akan memberiku pekerjaan dengan posisi yang aku inginkan."


Hanna menjeda kalimatnya, menoleh ke arah Rafa untuk mengamati ekspresi keterkejutan Rafa.


"Jadi setelah tugas akhirku selesai, aku memutuskan untuk berlibur sendiri. Tanpa ada Arthur atau Eleanor, karena aku pikir... aku harus merenungkannya sendiri. Tapi ternyata, kita malah bertemu disana." Hanna sedikit terkekeh mengingat kejadian itu.


"Dan... kamu pulang, itu berarti?" Rafa tak bisa menahan senyum lebar dibibirnya. Hatinya seolah langsung dipenuhi rasa bahagia yang tiada tara, sebelum akhirnya senyuman itu memudar, karena jawaban yang terlontar dari bibir Hanna.


"Aku pulang karena aku ingin pulang, kak." Hanna menjawab dengan tenang. Hanna bahkan menyelipkan senyuman seolah meledek Rafa yang sudah buru-buru berbahagia itu.


"Jadi setelah pertemuan kita di Robin Hood's Bay, aku menelpon om Adit dan menceritakan semuanya."


Hanna dengan gerakan refleks langsung memukul lengan Hanna. "Ya enggaklah! Aku enggak segila itu untuk cerita hal kayak gitu ke om Adit."


Rafa terkekeh melihat reaksi Hanna yang tampak malu saat ia mengingatkan kejadian yang telah lalu. Sayangnya disini hanya terdapat sinar bulan, jadi Rafa tidak bisa melihat rona merah pada pipi atau wajah Hanna saat ini.


"Ya kan kamu bilang semuanya, jadi ya aku pikir kamu cerita ke Papa bagian itu juga." Jawab Rafa masih dengan tawa yang tertahan. "Terus kata papa?"


"Ya om Adit nyuruh aku pulang, melihat kondisi bunda yang khawatir luar biasa kalau-kalau aku jadi lanjut kuliah disana. Kalo aku pulang, kak Rafa pasti juga akan pulang. Jadi om Adit bilang biar kak Rafa berusaha ngejar aku disini aja."


Bukannya merasa senang, kali ini Rafa malah merasa kesal terhadap papanya. "Jadi Papa dalang dibalik ini semua? Bisa-bisanya Papa tidur nyenyak dan makan lahap, sementara anaknya bingung nyari Hanna sampai mau gila."


Hanna tertawa, sudah menduga jika Rafa akan menyalahkan papanya seperti itu.


"Jadi, kamu diasingkan disini sama Papa dan juga Abang?"

__ADS_1


Hanna menggelengkan kepalanya. "Bukan, tapi aku yang minta. Karena aku masih pengen sendiri, dan... belum siap buat ketemu kak Rafa. Makanya aku minta ditempatkan disini."


"Lalu abang mengenalkanmu ke mereka semua sebagai apa? Mereka semua tentu tau kan kalo kamu adalah orang bawaan abang?"


"Ya, mereka semua tau. Abang mengenalkanku sebagai anggota keluarganya, Abang juga selalu pesen sama pak Juki biar segala kebutuhanku disini selalu tercukupi."


"Anggota keluarga." Gumam Rafa sambil terkekeh. Pandangannya terfokus ke arah pantai, sambil menikmati semilir angin malam dan suara deburan ombak.


"Jadi... kita bisa bersama lagi kan?"


Rafa menoleh, menatap Hanna yang juga menatapnya dengan tatapan datar. Sepertinya Hanna tengah memikirkan jawaban atas pertanyaan Rafa barusan.


"Kak Rafa tau, bagiku ada dua kesalahan seorang suami yang tidak termaafkan."


Rafa langsung menghela nafasnya, tiba-tiba saja rasa percaya dirinya menjadi ciut dengan kalimat Hanna barusan.


"Satu, saat suami itu berani memukul dan menganiaya istrinya. Yang kedua, berselingkuh. Dan kak Rafa... telah melakukan kesalahan yang kedua terhadapku. Meskipun saat itu kita menikah bukan untuk menjadi suami istri yang sesungguhnya, tapi pada saat itu aku memiliki perasaan kepada kak Rafa. Dan itu... melukaiku."


Hanna menjeda kalimatnya, sambil membenarkan posisi duduknya agar lebih santai. Kini kedua tangannya menjulur ke belakang untuk menahan tubuhnya.


"Selama ini aku mencoba untuk terus mengabaikan perasaan itu. Aku selalu berpikir bahwa itu adalah rasa sakit hati dipengalaman cinta pertama. Harusnya perlakuan Arthur terhadapku selama dua tahun lalu itu sudah cukup untuk melupakan perasaanku ke kak Rafa, tapi ternyata tidak semudah. Yang ada malah aku selalu mencari-cari sesuatu dalam diri Arthur, yang kuharap bisa seperti kak Rafa. Hampir semuanya selalu mengarah ke kak Rafa. Apalagi dengan gaya pacaran Arthur yang terlalu posesif, itu malah semakin bikin aku enggak bisa untuk move on."


Hanna tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang memang selalu lemah jika menyangkut soal Rafa. Padahal dulu lelaki itu hanya menganggapnya sebagai adik saja.


"Lalu sekarang... bagaimana?"


Rafa bertanya dengan lirih, pandangan matanya bahkan tidak berani untuk menatap mata Hanna yang duduk disebelahnya. Ia hanya sedang mempersiapkan dirinya jika harus kembali ditolak oleh Hanna.


"Sekarang? Hmm... entahlah, kak. Aku hanya lagi menikmati masa-masa menyenangkan dengan pekerjaan. Yang jelas, aku enggak mau pengalaman yang lalu terulang lagi."

__ADS_1


__ADS_2