Back To You

Back To You
Chapter 140


__ADS_3

Sesuai dengan arahan Alita siang tadi, Rafa membeli sepasang flat shoes untuk Hanna. Sebelum menuju ke apartemen Hanna, lelaki itu menyempatkan diri untuk membeli cheese cake terlebih dulu. Kue itu dibeli berdasarkan ingatan Rafa saat dulu keduanya sering pergi bersama. Karena Hanna sering membeli kue itu, pastilah Hanna sangat menyukainya.


Setelah menunggu beberapa saat, Rafa menjadi gusar. Tidak ada jawaban dari Hanna meskipun ia telah menekan bel pintu berulang kali. Mungkinkah Hanna benar-benar tidak ingin menemuinya?


Rafa merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Mungkin ia harus mengirim pesan atau menelpon Hanna terlebih dahulu untuk menanyakan keberadaannya. Tapi belum sampai Rafa mengetik pesan untuk Hanna, Rafa mendengar samar-samar suara Hanna yang sepertinya sedang menaiki anak tangga.


Rafa menyimpan kembali ponselnya. Kemudian berbalik menghadap jendela untuk melihat bagaimana penampilannya. Bibirnya tersenyum lebar, bersiap untuk menyambut kedatangan Hanna. Namun apa yang dilihatnya bukanlah pemandangan yang ingin dilihat oleh Rafa.


Hanna berjalan berdampingan dengan Arthur, teman kuliahnya yang sudah sejak lama mendekatinya. Tak hanya berjalan bersisihan dan baru saja menghabiskan waktu bersama, Hanna dan Arthur bahkan bergandengan tangan.


...****************...


"Kak Rafa?" Gumam Hanna yang terkejut saat mendapati Rafa berdiri di depan pintu apartemennya.


Bahkan kedua tangan lelaki itu tampak membawa sesuatu yang pasti akan diserahkan padanya. Wajahnya Rafa tampak terkejut, pandangan lelaki itu kini tampak terpusat pada tangan Hanna dan Arthur yang saling bertaut.


"Aku akan langsung pulang. Kabari aku jika urusan kalian sudah selesai ya?" Ucap Arthur pada Hanna.


Hanna mengangguk. "Hati-hati di jalan."


"Ya. I love you." Arthur mengecup kening Hanna sebelum akhirnya menuruni tangga dan meninggalkan apartemen kekasih barunya itu.

__ADS_1


Rafa melengos. Mimpi apa dia semalam sehingga harus menyaksikan pemandangan seperti ini? Pemandangan yang membuatnya iri dan sakit hati.


"Kita bicara di taman bawah aja, kak." Ucap Hanna memecah keheningan.


Rafa menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti Hanna yang turun lebih dulu. Sebenarnya Rafa sudah merasa malas, ingin rasanya ia membuang kue dan sepatu itu lalu pulang ke rumah. Tapi disisi lain, ia juga ingin mendengarkan penjelasan dari Hanna.


Hanna tampak menjaga jarak dari Rafa. Gadis itu langsung bergeser saat tak sengaja posisi duduk Rafa begitu dekat dengannya.


Hening mengambil alih suasana beberapa saat. Hanna tampak kebingungan akan memulai percakapan dari mana, sedangkan Rafa menyibukkan diri memandangi langit malam itu yang bertabur banyak bintang.


"Kamu pacaran sama Arthur?" Tanya Rafa terlebih dulu, karena sudah beberapa menit dan Hanna belum mulai membuka suara.


Saat pertanyaan itu terlontarkan pun, Hanna hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala. Rafa menghela nafasnya. Bukan hanya merasa tidak puas dengan jawaban Hanna yang berupa anggukan kepala, tetapi juga tidak menyangka mereka berdua benar-benar memiliki hubungan.


Tatapan mata Rafa yang tajam, seolah mengintimidasi Hanna atas kebohongan yang Hanna ucapkan dua hari yang lalu.


"Aku berbohong. Tapi soal hubunganku dengan Arthur, itu benar adanya."


Rafa kembali menghela nafasnya. Dadanya terasa sesak sekarang, tidak menyangka jika kini harapannya untuk mendapatkan Hanna kembali sudah tidak ada jalan.


"Sejak kapan? Bunda sama Wildan tau soal hubungan kalian?"

__ADS_1


"Apa perlu aku jawab?" Hanna menjawab dengan nada bicara yang sedikit ketus. "Kak Rafa enggak perlu tau secara detail."


Rafa tersenyum sinis, menertawakan dirinya sendiri yang kini seolah tak berdaya menghadapi seorang gadis. Gadis yang dikenalnya sejak kecil, gadis yang selalu dianggapnya sebagai anak kecil.


Entah kemana perginya dewi fortuna dan cupid sekarang. Mengapa ia tak lagi bisa menaklukkan gadis yang diinginkannya dengan begitu mudah? Padahal dulu ia dengan begitu mudahnya mendapatkan gadis-gadis incarannya. Hanya Alita-lah yang membutuhkan waktu cukup lama untuk ditaklukkan, tapi Hanna? Dia malah tidak bisa ditaklukkannya saat Rafa mulai menyadari perasaannya.


"Ya, kamu benar. Aku bukan siapa-siapa kamu, dan aku enggak harus tau apapun tentang kamu."


"Aku harap... mulai sekarang kak Rafa enggak perlu ngikutin atau nyariin aku. Semuanya udah selesai, enggak ada lagi yang perlu dibahas atau diperjuangkan."


Rafa berdiri dari posisi duduknya. Entah sudah berapa kali ia mengela nafasnya, dadanya benar-benar begitu sesak seolah akan meledak sekarang juga. Ia tidak bisa memaksakan dirinya untuk berlama-lama duduk bersebelahan dengan Hanna. Ia tidak sanggup lagi, karena hatinya merasa hancur sekarang.


"Aku akan tetap disini setelah lulus, aku akan penuhi janjiku ke Om Taufik untuk jagain kamu sampai kamu lulus kuliah disini."


"Kak Rafa enggak perlu ngelakuin hal itu." Hanna ikut bangkit dari duduknya, berdiri berhadapan dengan Rafa. "Aku bisa jaga diri sendiri disini, jadi kak Rafa enggak perlu merasa terbebani dengan permintaan ayah."


Rafa tidak menghiraukan perkataan Hanna. Dirinya malah justru terfokus memandangi wajah Hanna yang berjarak tak jauh darinya, sambil berharap ini bukanlah kali terakhir ia dapat menatap Hanna sedekat ini untuk terakhir kalinya.


"Kalo ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku. Atau kamu bisa datang ke rumah, itu juga rumah kamu. Kamu bisa pulang kapan pun kamu mau, pintu rumah selalu terbuka buat kamu." Rafa merogoh saku jaketnya, lalu meraih tangan kanan Hanna untuk menyerahkan kunci rumah yang dulu ditinggalkan oleh Hanna.


"Itu juga ada kue dan hadiah buat kamu, aku pulang dulu."

__ADS_1


Dengan langkah berat, Rafa berjalan menuju tempat mobilnya diparkir. Setelah Alita, kini Rafa kembali merasakan patah hati karena Hanna. Entah bagaimana kehidupannya akan berjalan nanti, Rafa hanya bisa berdoa dalam hatinya. Doa yang dulu juga ia panjatkan, saat mengalami patah hati dari Alita.


"Aku akan menunggu sampai hari dimana aku dapat melupakanmu, atau disaat kau menyadari bahwa kau tidak bisa melupakanku."


__ADS_2