
Selepas adegan ciuman tempo hari dan juga pernyataan cinta dari sang mantan kekasih, jangan kira Rosé akan terhanyut begitu saja, mungkin Vee berpikir dengan begitu Alyne-nya akan dapat kembali padanya, nyatanya itu semua hanya angin lalu bagi wanita itu.
Berbekal otak yang cerdik serta berbagai siasat untuk bersembunyi, Rosé dengan sangat sukses dapat menghindari Vee si kepala batu, sudah punya tunangan masih saja ngotot untuk mengejar Rosé, walaupun beberapa kali pria pemaksa itu mengatakan dirinya sudah mengakhiri pertunangannya.
Tanpa sautan dari penghuni ruangan, pun Rosé menyelonong masuk dengan tidak tau dirinya, sudah tiga hari tempat ini menjadi sarang baginya untuk sejenak menutup diri dari CEO tempatnya bekerja—lebih tepatnya tempat dimana alasan dapat dibuat.
"Kesini lagi, Rosé." Kalimat pertama dari pemilik ruangan yang merupakan sebuah ejekan basa-basi.
"Maafkan aku, Ko, bantu aku lagi." dengan kesal dan sedikit meringis Rosé menanggapi.
"Kau lucu sekali, Rosé."
Rosé memberengut tak terima "Kau pikir aku bayi apa," protesnya.
"Kalian berdua itu seperti anak kecil Rosé, main petak umpet segala." ejek Jaeko.
Rosé menghembuskan nafasnya pasrah, kenal dengan Jaeko beberapa minggu ini memberi efek bahagia baginya, mudah diajak kompromi dan pandai menilai situasi, tanpa bercerita pun Jaeko mampu menebak apa yang sedang terjadi di depan matanya—begitulah penilaian Rosé terhadap teman sejawatnya.
Rosé mendudukkan sejenak otot gluteus maximus-nya di sofa dimana itu terletak tepat di samping meja kerja milik Jaeko, dirasakannya pening di kepala bagian kiri, memejamkan mata sejenak guna mengistirahatkan tubuhnya karena mengingat ini adalah waktu istirahat.
"Rosé, mau aku belikan makanan?" Tawar Jaeko sembari berdiri melepas jas dokter-nya, dia tahu Rosé belum makan.
"Apa kau lapar, Ko?" Tanyanya yang masih enak bersandar pada sandaran empuk sofa tanpa membuka mata.
"Tidak, tadi istriku membawakan bekal."
Rosé membuka mata mendengar sebuah kata istri dari mulut pria bergigi kelinci itu. "Apa dia sehat? Kandungannya sangat lemah, jangan terlalu merepotkan." ucapnya menasehati terlebih memerintah.
"Aku tau Rosé, kau jangan terlalu kawatir." jawab Jaeko santai dengan seringai tipis di bibirnya.
Untuk menjalin sebuah pertemanan begitu dekat memang sangat sulit untuk beberapa orang, namun tidak dengan kedua orang ini, pemikiran yang terbuka dan tingkat konektifitas yang mumpuni begitupun saling mengimbangi mampu membuat mereka mendeklarasikan hubungan dalam kategori pertemanan.
"Baiklah, baiklah," jawab Rosé.
"Jadi bagaimana, mau aku belikan makanan?" Tawarnya Jaeko lagi.
"Jangan, apa jadinya kalau aku disini sendirian," tolak Rosé bergidik ngeri.
"Kunci saja dari dalam, jangan kawatir."
"Tidak usah, kita disini saja."
Terdengar ketukan pintu. Seperti mendapat ancaman, Rosé dengan gerak cepatnya lantas berdiri dan tak lupa dengan mata yang membola kepalanya menoleh ke arah sumber suara.
"Mati aku, Ko." pekiknya. "Jaeko, cepat buka berkas pasien yang kita tangani bersama." pintanya tergesa, kakinya pun meluncur lancar ke arah meja Jaeko.
__ADS_1
"Rosé , jangan panik!!!" protes Jaeko yang tak kalah kalang kabut dari Rosé, tangannya pun sibuk memindai berbagai kertas-kertas yang berserakan di mejanya.
Dokumen sudah duduk manis di tangannya. "Cepat duduk," pun Jaeko mengintrupsi untuk memulai perannya menjadi aktor dadakan, berharap di akhir tahun dapat meraih gelar aktor terbaik di sebuah Award tahunan—lupakan.
"Silahkan masuk," jawab halus Jaeko mempersilahkan.
Sontak kedua insan itu berdiri menyambut siapa gerangan yang baru saja membuka pintu "Selamat siang, pak." sapa Jaeko, Rose dengan tenang mengikuti alur yang diciptakan oleh temannya itu. "Ada yang bisa saya bantu?" Imbuhnya bertanya.
Tepat seperti dugaan, orang itu lagi, pria yang memang dihindari oleh Rosé sampai dirinya harus menyeret Jaeko ikut limbung dalam sandiwara konyol yang diciptakannya sendiri hingga berluang sampai detik ini.
"Maaf dokter Jaeko, bisakah saya berbicara dengan dokter Rosé?" pinta pria yang sudah bisa dipastikan adalah Vee Kanesh Bellamy, CEO utama Rumah Sakit ini.
Sama persis kejadian ini berulang semenjak tiga hari yang lalu, dengan jam yang sama dan situasi yang sama pula dan dapat dipastikan alasan penolakan akan sama juga.
Jaeko melirik wanita di depannya, Rosé terkesiap namun tetap mengendalikan ego-nya agar tak terlalu kentara bahwa sebenarnya saat ini jantungnya berdegup kencang, bukan getaran cinta melainkan getaran takut akan peran dadakan yang dilakoninya saat ini menjadi kacau.
"Maaf pak, saya masih harus membahas pasien dengan dokter Jaeko," tolak Rosé halus dengan senyum yang terlihat tulus.
"Tidak bisakah sebentar saja dokter Rosé!!" pinta Vee dengan bahasa formalnya mengingat ini masih dikawasan Rumah sakit terlebih di depan Jaeko yang notabenya adalah bawahannya.
"Kalau saya boleh tau mengenai hal apa, pak? Karena saya masih sangat sibuk apalagi ini mengenai pasien yang harus diutamakan?"
Dalam hati, Rosé bersorak gembira, menurutya bibirnya sangat mulus untuk meluncurkan alasan yang masuk akal, diam-diam pikiran liarnya berbisik suatu saat dirinya harus mengikuti casting untuk memerankan peran di sebuah film.
Vee bukan pria kecil bodoh, dirinya cukup tahu bahwa Rosé telah mem permainkannya dengan berbagai alasan hanya untuk menghidar, cih, seperti anak kecil. Awas saja, Vee sudah punya beberapa rencana untuk balas dendam, salah siapa berani-berani nya mengabaikan seorang Vee Kanesh Bellamy.
Rosé berkeringat dingin, benar-benar mati kau Rosé. "B-aik Pak," jawabnya tergagap, gelar wanita cerdik hilang sudah jika sudah berurusan dengan jabatan, tentu saja disini siapa yang punya jabatan lebih tinggi sudah pasti akan menang.
...****************...
Rosé sedang duduk di sebuak sofa dalam ruangan CEO utama Rumah Sakit dimana dirinya bekerja, apapun yang dirasakan saat ini jauh lebih baik, tidak seperti saat dia mejalankan misi untuk mengelabuhi Vee, dirinya benar-benar merasa baik untuk saat ini.
Alasannya sangat simple, pria yang sedang berkutat dengan komputer di sampingnya adalah Vee, pria yang mampu mengontrol emosi wanita ini, mau seperti apa situasinya, wanita ini akan mampu untuk beradaptasi.
"Kanesh, cepatlah, apa yang ingin kamu bicarakan?"
Vee sepertinya enggan menanggapi, apakah dia sudah menjalani misi balas dendamnya?
Sejak Rosé mendudukkan bokongnya sampai saat ini, pria itu berlagak sok sibuk sendiri.
"Kanesh, aku masih harus mengurus pasien." geramnya.
"Alesan," jawab singkat Vee.
Rosé berdecak. "Ck." memutarkan bola matanya, apasih yang pria ini inginkan.
__ADS_1
"Kalau kamu masih diam, aku keluar." Rosé sudah akan beranjak dari duduk santainya sebelum Vee dengan cepat berdiri, sepertinya ancaman Rosé lebih mematikan dari pada acara balas dendamnya.
"Ok, ok, jangan gerak." pinta Vee seranya telunjuknya menuding Rosé memerintah agar tak beranjak dari tempatnya.
Netra Rosé terus menatap mengikuti gerak tubuh Vee, dengan raut kecutnya ia mencoba sabar.
Tanpa diduga, tiba-tiba Vee mengangkat tubuh Rosé dengan kilat lalu mendudukkan tubuh langsing itu tepat dipangkuannya, tangan Vee pun tak lupa melingkari pinggul ramping Rosé. Wanita itu kualahan, ingin memberontak, namun apa daya, tubuh kurusnya tak mampu mengimbangi kekuatan super besar milik pria posesif ini.
"Kanesh, lepas ah."
"Jangan mendesah kalau kamu nggak mau ada adegan plus plus disini."
"Kanesh mesum." Rosé dengan sengaja memukul bibir Vee dengan telapak tangannya. "Kenapa coba kamu nglakuin kayak ini?"
"Biar gini dulu, please," Vee menyandarkan kepalanya dibahu Rosé, dengan otomatis pula Rosé dapat mengendus rambut Vee yang dirasa sangat wangi menelusuk indra ciumnya.
Rosé seperti pasrah saja. "Nanti ada yang lihat, Nesh." protesnya lirih, "Aku nggak mau kalau nama kamu jadi taruhannya."
Selalu saja Rosé tetap kawatir pada Vee, tanpa disadari pria itu tersenyum karena merasa diperhatikan.
"Kanesh,"
"Hm." Vee melonggarkan pelukannya, menatap lekat hazel wanita dipangkuannya. "Tolong jangan katakan hal yang mungkin bisa menyakitiku, Alyne." pintanya lirih yang masih setia menatap sendu wanitanya.
Rosé meloloskan gusaran nafasnya. "Kamu tau Nesh, aku seperti wanita jahat saja."
Kedua alis Vee menyatu, menandakan banyak pertanyaan di benaknya. "Bagaimana bisa?"
"Kamu dan Sena sudah berakhir pasti karena aku 'kan?"
Vee diam, seperti enggan menanggapi jika itu berurusan dengan Sena mantan tunangannya. Memang benar Vee sudah mengakhiri waktu itu, toh Sena juga terima saja dengan keputusan Vee, jadi tidak masalah baginya.
Tanpa di duga, Rosé memeluk erah tubuh Vee yang masih setia memangkunya, pelukan itu terasa sangat hangat dan tulus tanpa sedikit paksaan seperti yang sudah berlalu akhir-akhir ini.
"Ok, aku akui, aku masih sayang kamu, cinta kamu, dari dulu sampai sekarang. Tapi kamu harus hargai keputusan aku, Nesh. Aku punya alasan kenapa aku nggak bisa kembali lagi sama kamu."
Vee menggeleng kuat seakan tetap tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh Rosé, merasa tidak rela wanitanya tidak bisa lagi berada disisinya.
Rosé semakin merekatkan pelukaannya, seakan hari ini adalah kesempatan terakhir untuk dapat merengkuh tubuh pria yang sangat dicintainya.
"Aku nggak mau, Lyn, sampai aku benar-benar tau alasan kamu, aku nggak akan berhenti."
Rosé tak mampu menimpali, sangat berat bibirnya hanya untuk mengatup merentetkan bebagai kondisi tubuhnya yang tak mampu memberikan hal-hal baik untuk masa depannya bersama pria ini. Rosé tetap pada pendiriannya—bungkam.
Rosé memiliki alasan kenapa sampai saat ini dirinya memutuskan untuk bungkam. Wanita yang masih menggunakan jas ala dokternya ini sangat tahu betul bagaimana kebaikan yang luar bisa dari Vee, dengan pria itu tahu bahwa dirinya tidak bisa hamil, pun Rosé sangat yakin pria itu akan tetap memilih untuk bersama dirinya walau keinginan terbesarnya untuk memiliki malaikat-malaikat kecil harus terkubur dalam-dalam.
__ADS_1