
Hari pertama di Bristol, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Rafa, Hanna, maupun Rayyan dan keluarganya. Mereka memilih untuk beristirahat di rumah setelah menghabiskan waktu hampir dua puluh empat jam dalam perjalanan.
Rumah pemberian Rayyan berada di Little Paul street, Hanna hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sampai di kampusnya. Rumahnya tidak terlalu besar, hanya memiliki dua kamar tidur tapi harganya cukup merogoh kocek abang Rayyan.
Sedari tadi, Zahra dibantu oleh Rayyan sedang sibuk menyiapkan sarapan. Sedangkan Rafa menemani Abby yang bermain boneka di lantai. Sejak semalam, Hanna mengeluh tidak enak badan. Gadis muda itu sepertinya mengalami jetlag karena perjalanannya kemarin. Bahkan pagi ini, Hanna hanya terbangun untuk ke kamar mandi. Badannya benar-benar payah, dan dia hanya menginginkan berbaring di kasur sepanjang hari.
"Fa..." panggil Zahra dari arah dapur.
Rafa segera menghampiri Zahra yang telah selesai menyajikan sarapan untuk Hanna disebuah nampan kayu. "Hanna mau sarapan di kamar aja kan?" Zahra mengkonfirmasi dan dijawab anggukan oleh Rafa.
"Hanna jetlag atau hamil? Dia kayak lemes banget."
Pertanyaan Zahra barusan hampir saja membuat Rafa tersedak oleh air liurnya sendiri.
"Jetlag-lah, kak. Masa hamil?"
"Ya kan siapa tau aja dia hamil, kalian kan udah sebulan nikah. Mungkin aja Hanna langsung isi."
Rafa menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia yakin istrinya itu tidak hamil, karena tidak sekali pun ia menyentuhnya.
"Ya masa dia belum mulai kuliah udah hamil duluan. Percuma dong jauh-jauh kesini?"
"Kok bisa? Lo pake pengaman?" Rayyan menginterupsi sambil meletakkan semangkok sup ayam yang dibuatnya bersama sang istri tadi.
"Enggaklah, gue kan pinter." jawab Rafa dengan sok.
Ia segera mengangkat nampan berisi makanan untuk Hanna dan membawanya ke kamar. Alasan terbesarnya tentu saja menghindari topik percakapan menjurus yang pasti akan menyulitkannya untuk menjawab.
Tentu saja sulit, karena sejauh ini Rafa hanya tahu teorinya saja, dan belum pernah sekalipun mempraktikkannya.
__ADS_1
......................
Rafa membuka pintu kamarnya dengan susah payah. Selama Rayyan dan keluarganya berada disini, tentu saja mereka berdua harus tidur bersama selayaknya pasangan suami istri lainnya. Bahkan semalam, Rafa dengan baik hari memijat betis Hanna karena Hanna terus saja mengeluh kakinya pegal.
"Han, makan dulu gih." ucap Rafa sambil mendekat ke arah ranjang.
Hanna masih meringkuk di kasur dengan mata yang terpejam, entah tidur atau tidak. Namun kemudian muncul pergerakan dari Hanna, tepat saat Rafa mulai duduk di pinggiran ranjang.
"Mau ditaruh mana? Lo bisa bangun dan makan di meja sana enggak?" Rafa menunjuk sebuah meja belajar yang letaknya tidak jauh dari ranjang.
"Aku makan disini aja." Hanna bangun dari posisi tidurnya, mencoba mendudukkan tubuhnya dan bersandar headboard sembari mengucek matanya.
"Baunya enak banget." gumam Hanna.
"Abang sama kak Zahra udah kayak duo chef lagi beraksi tadi." Rafa memindahkan nampan itu ke pangkuan Hanna.
Hanna mengangguk, lalu mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya. "Kak Rafa enggak makan?"
"Ntar, nunggu lo kelar."
"Kenapa enggak ambil makan terus kak Rafa makan disini bareng aku?"
Rafa menggelengkan kepalanya. "Gue enggak suka makan di kamar keculi kalo lagi sakit. Yang ada kamar jadi bau makanan."
"Kan malah enak bau makanan daripada bau yang lain." Hanna masih asik menyuap makanan ke dalam mulutnya, tanpa menyadari jika sedari tadi Rafa tengah memandanginya.
"Kalo bau makanan, yang ada gue pengennya makan terus."
Masih mematrikan pandangannya pada Hanna yang terlihat makan dengan lahap, Rafa mengulas sebuah senyuman dan mengusak rambut Hanna yang berantakan pagi itu.
__ADS_1
"Jangan kelamaan jetlag-nya, kita kan udah janji sama Abby mau liat festival balon udara."
Hanna menganggukkan kepalanya. "Enggak apa-apa kan kalo kita kesananya dihari terakhir festival diadakan? Kalo hari ini, aku bener-bener enggak kuat."
Rafa hanya menganggukkan kepalanya. Setelah menimang waktu yang tepat, Rafa akhirnya bertanya kepada Hanna saat gadis itu telah menyelesaikan sarapannya.
"Setelah abang dan keluarganya pulang, kita baru bisa misah kamar. Enggak apa-apa kan kita sekamar dulu?"
"Sebulan ini juga kita sekamar, kan?" jawab Hanna dengan santai.
"Terus juga mungkin gue bakal mulai cari Alita ke Glasgow. Elo... enggak apa-apa kan gue tinggal seharian?"
"Hm. Enggak masalah, lebih cepat ketemu lebih baik kan? Aku udah biasa di rumah sendirian, jadi kak Rafa enggak perlu khawatir sama aku."
Meskipun perkataan itu keluar dengan ringannya dari bibir Hanna, tapi entah mengapa hati Hanna terasa berat melepas Rafa. Hanna merasa takut jika kebohongan ini terungkap.
"Lalu... kalo nanti kak Rafa berhasil kembali sama kak Alita, nasib aku gimana?" Hanna memberanikan diri untuk menanyakan hal itu kepada Rafa. Pertanyaan yang sedari kemarin mengganggu pikirannya.
"Tapi aku enggak masalah kalo memang harus diceraikan." imbuh Hanna.
Keheningan begitu saja mengambil alih suasana di dalam kamar itu. Hanna bahkan tidak berani mengangkat kepalanya atau menatap Rafa. Dia malah sibuk mengaduk-aduk sisa kuah sup ayam yang berada dimangkoknya.
"Kak Rafa keluar dulu aja, aku mau mandi terus main sama Abby. Bakinya biar nanti aku yang bawa keluar."
Rafa beranjak dari duduknya sekaligus mengambil nampan makanan yang masih berada dipangkuan Hanna. "Gue bawa keluar aja sekalian, udah gue bilang kalo gue enggak suka kamar jadi bau makanan kan?"
Rafa selalu begitu. Selalu menghindar dengan pertanyaan yang Hanna kemukakan tadi. Mungkin Rafa pun belum memutuskan akan bagaimana nasib pernikahannya nanti, karena kini ia berubah sebagai lelaki yang serakah. Disisi lain ia masih begitu menginginkan Alita, tapi ia juga tidak tega untuk melepas Hanna.
Rafa telah salah mengambil langkah, dan tak ada jalan untuk memutar arahnya.
__ADS_1