Back To You

Back To You
Chapter 82


__ADS_3

Hanna meletakkan sebuah paket yang baru saja tiba disebelah Rafa. Pria itu masih tampak sibuk mengemas barang-barang yang akan ia bawa selama tinggal di Inggris. Seminggu ini, Rafa dan Hanna tinggal di rumah keluarga Rafa. Tentu saja tidur sekamar dan seranjang, tapi itu semua dilakukan untuk formalitas saja. Mereka hanya tinggal bertahan sampai beberapa hari ke depan, sebelum akhirnya hidup bebas di Inggris.


"Paket apaan, Han?" tanya Rafa setelah menoleh sekilas kearah paket di sebelahnya.


"Kado mungkin." Jawab Hanna singkat.


"Dari?" Rafa balik bertanya dan tak kalah singkat.


"Mantan."


Rafa langsung memicingkan matanya dan menoleh ke arah Hanna yang sedari sibuk di depan laptopnya. "Mantan kamu? Emang kamu punya mantan? Atau cowok bejat yang dulu itu?"


"Iiihh... bukan! Maksud aku, mungkin itu dari mantan kak Rafa."


Rafa meraih paket yang berada di sebelahnya, lalu mengamati nama pengirim paket tersebut. "Silvia Margaretha? Dia siapa, Han?"


"Lah, kok balik nanya ke aku? Ya aku mana tau nama-nama mantan kak Rafa itu siapa aja. Yang aku tau kan cuma satu doang."


Rafa masih terlihat berpikir, mencoba mengingat-ingat siapa pengirim paket tersebut. Hanna yang melihat tingkah laku Rafa pun menggelengkan kepalanya.


"Makanya sih, Kak, kalo punya pacar itu harus tau nama lengkapnya siapa. Biar enggak kelupaan gini." Hanna mendekat, lalu merebut paket yang masih dipegang oleh Rafa.


"Ini bisa jadi nama panggilannya itu Silvi, Via, atau bisa jadi Retha. Ada enggak mantan kak Rafa yang nama panggilannya itu?"

__ADS_1


"Hmm... kalo Vivi sih ada, Han."


"Yaudah, berarti dia!" Hanna kembali menyerahkan paket itu kepada Rafa. "Lagian aneh banget, masa nama pacarnya aja bisa enggak hafal."


"Itu berarti dia enggak berkesan buat gue, Han. Kalo berkesan, pasti gue inget-inget terus. Nih lo buka aja paketnya." Rafa menyerahkan paketnya kepada Hanna "Kayak Alita noh, gue inget nama lengkap dia, tanggal lahirnya, shio-nya apa, sampai ukuran sepatunya pun gue tau."


"Ukuran dalemannya tau juga enggak?" tanya Hanna dengan nada bercanda.


"Elo anak kecil udah ngeres aja pikirannya!" Rafa dengan sengaja menyentil dahi Hanna.


"Iihhh... sakit tau!" Hanna mengusap dahinya. "Lagian kenapa sih hobi banget ngoleksi mantan?"


"Bukannya niatan ngoleksi, Han. Gue kan menyeleksi aja, nyari yang cocok sama gue."


"Bilang aja kalo lo ngiri karena enggak pernah punya mantan." Rafa dengan gemas mencubit pipi Hanna yang masih sibuk membuka paketnya itu.


"Enggak ya! Lagian ngapain harus ngiri? Enggak punya mantan itu enak tau, jadi kita enggak pernah kebayang-bayang sama cerita masa lalu."


Sindiran Hanna barusan nampaknya cukup membuat Rafa terdiam. Hanna tahu jika Rafa belum sama sekali melepaskan Alita meskipun kini mereka berdua telah menikah. Hanna pun juga tahu alasan Rafa menikahinya bukan semata karena cita-citanya. Rafa tentunya memiliki misi lain saat menemaninya selama berkuliah di Inggris.


"Kak Rafa masih inget enggak nama lengkap aku siapa?" Jangan-jangan hafalnya cuma pas ijab qabul aja." Hanna mencoba mengalihkan suasana yang terasa canggung ini.


"Masihlah! Nama pendek gitu sih kecil buat ingetnya, Han. Hanna Aulia kan? Kalo nama gue lo inget enggak?"

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan Rafa, Hanna malah heboh sendiri dengan kado pernikahan dari mantan kekasih Rafa itu. "Jangan-jangan ini tas yang kak Rafa beliin buat dia, terus sekarang dibalikin ke Rafa."


"Lo mah curigaan mulu kalo sama gue." Rafa merebut tas yang dipegang Hanna dan mengeceknya. "Ini sih baru, Han. Kalo lo enggak percaya, tanya ke mama tuh yang ngerti soal tas. Kalo tas bekas pasti ada jejak bekas pemakaiannya."


"Au ah, mana aku ngerti. Aku kan anak kecil. Tapi... kayaknya ini tas mahal ya, kak?"


"Enggak juga. Ntar gue beliin lo tas yang lebih mahal, lo koleksi. Tapi ntar, tiap nilai semesteran lo keluar." Rafa mengusak rambut Hanna dan beranjak meletakkan koper besarnya di dekat pintu kamarnya.


......................


Tibalah hari dimana Rafa dan Hanna harus berangkat ke Inggris. Mereka tidak hanya pergi berdua, Rayyan beserta Zahra dan Abby ikut terbang ke Inggris untuk mengantarkan Rafa dan Hanna, sekaligus berlibur dan menyerahkan kado rumah yang Rayyan janjikan.


Perjalanan panjang yang akan mereka tempuh hari ini sangat melelahkan. Diawali dengan total jam penerbangan selama delapan belas jam empat puluh lima menit, dan harus melewati transit disatu tempat selama dua jam. Sesampainya di London nanti, mereka masih harus menempuh perjalanan darat selama dua setengah jam.


Semalaman tadi, Hanna sampai tidak bisa tidur memikirkan bagaimana nasibnya nanti ketika harus melewatkan waktu selama seharian penuh dalam perjalanan. Disisi lain, dia merasa menyesal mengapa pula harus memiliki keinginan untuk berkuliah sampai ke Inggris. Tapi disisi lain pula, dia begitu antusias ingin segera memulai kehidupan barunya selama di Inggris nanti.


Pesawat yang mereka tumpangi telah terbang selama dua jam, dan Hanna masih sesekali terlihat menyeka air matanya. Berulang kali pula Rafa menyodorkan tisu dan mencoba menenangkan istrinya itu, tapi usahanya masih gagal juga.


"Udah sih, Han. Kan kita di Inggris enggak lama, nanti juga orangtua kita bisa sesekali berkunjung kesana." Rafa kembali menenangkan Hanna dengan mengusap lembut rambut Hanna.


Tapi Hanna tidak menjawab. Kegundahan hati Hanna kali ini bukan hanya tentang harus berjauhan denga keluarganya, tetapi ada hal lain yang sejak semalam memgusiknya. Hal lain yang terasa begitu menakutkan baginya jika terjadi nanti. Hal lain yang membuatnya menyesal telah mementingkan egonya dan terburu-buru memutuskan segala sesuatunya.


Hal itu adalah hari dimana Rafa akan kembali bersama Alita, dan kedua keluarga akan mengetahui kebenarannya. Akan bagaimanakah nasibnya nanti? Dan bagaimanakah dia harus menjelaskannya kepada orangtuanya? Bahkan bayangan ayahnya akan jatuh sakit pun begitu menyayat hatinya.

__ADS_1


__ADS_2