Back To You

Back To You
Chapter 126


__ADS_3

Setelah makan siang tadi, Hanna kembali ke apartemennya ditemani oleh Eleanor. Sementara Arthur dan Noah pergi untuk berkumpul dengan teman-teman mereka.


Sejak menaiki tangga apartemen Hanna tadi, Eleanor sudah mengomel panjang lebar. Dialah yang paling tidak setuju jika Hanna memutuskan untuk kembali pada Rafa.


"Sudah kubilang aku belum memutuskan untuk kembali, El. Aku hanya memberikannya kesempatan untuk dekat denganku." Jawab Hanna dengan santai sambil memakai kaosnya.


"Itu sama saja, Hanna. Kalau kau memberinya kesempatan untuk dekat denganmu, itu sama saja kau memberinya jalan untuk kalian kembali bersama." El beranjak dari ranjang Hanna dan mendekati Hanna yang sedang mengambil minuman di kulkas itu.


"Dia pandai merayu, Hanna. Kau tidak lupa akan kemampuannya yang satu itu kan? Dengan satu kali cium, dia pasti akan membuatmu terbang melayang. Aku takut kau akan menyerahkan dirimu begitu saja padanya, hanya karena janji manisnya." Imbuh El dengan nada tidak suka.


"Hahahaha... itu tidak akan terjadi, El."


"Siapa tau. Bagaimana pun kalian pernah hampir tidur bersama, hal-hal seperti pasti akan terjadi jika kamu lengah karena masuk perangkapnya."


Hanna terdiam. Tiba-tiba saja ingatannya me-replay kejadian saat Rafa lepas kendali.


"Sebelum semuanya terjadi, kumohon batalkan keputusanmu itu, Hanna. Aku begini karena aku tidak ingin kamu terluka lagi gara-gara dia."


Hanna tersenyum. "Aku akan baik-baik saja, El."


"Arthur pasti akan berjuang untukmu jika keluarganya keberatan dengan statusmu. Arthur jauh lebih baik dibandingkan dengan mantan suamimu itu. Yah, meskipun dari segi tampang dan kekayaan, Arthur memang kalah jauh."


Hanna kembali tersenyum dan tidak menimpali perkataan El barusan. Bukan soal tampang dan kekayaan yang membuat Hanna bertahan pada Rafa, tapi karena perkara hati tidak bisa dipaksakan.


...****************...


Hanna baru saja menyelesaikan makan malamnya. Suara bel pintu berbunyi, tepat saat Hanna baru saja membuka laptopnya untuk mengerjakan tugas yang cukup menumpuk.


"K-kak Rafa?" Ucap Hanna dengan terbata saat baru saja membuka pintu.

__ADS_1


Hanna sangat terkejut dengan kedatangan Rafa di apartemennya. Karena ini adalah kali pertama Rafa kembali kesini sejak perpisahan mereka. Terlebih, lelaki itu datang dengan raut wajah yang tampak... panik.


"Kamu... enggak apa-apa kan, Han?" Tanya Rafa sembari memeriksa tubuh Hanna yang berdiri dihadapannya.


"Maksud kak Rafa apa sih? A-aku enggak ngerti kenapa kak Rafa sepanik ini."


"Barusan Jansen bilang... katanya, siang tadi Gwen ngelabrak kamu."


"Oh, itu. Dia cuma ngomel-ngomel." Jawab Hanna dengan santai.


Hanna memang sengaja tidak memberitahukan jika Gwen berniat memukulnya. Lagian juga hal itu tidak terjadi, dan dirinya juga tidak terluka.


"Hah, syukurlah kalo begitu." Rafa menghela nafas leganya sambil menyenderkan bahunya ditembok.


Hanna menahan senyumnya. Dia sungguh merasa senang karena kini merasa diperhatikan oleh Rafa.


"Aku udah makan, baru aja selesai."


"Oh."


Tiba-tiba saja Rafa menjadi canggung dan tidak tahu lagi harus membicarakan soal apa. Tadi ia langsung meninggalkan teman-temannya yang sedang berkumpul untuk makan malam, karena Jansen memberitahunya perihal Gwen.


Suasana hening itu tiba-tiba buyar saat terdengar suara perut yang pastinya berasal dari perut Rafa. Hanna tidak bisa menyembunyikan senyumannya saat melihat ekspresi malu dari wajah Rafa.


"Kak Rafa mau aku temenin makan di luar?"


Pertanyaan Hanna barusan langsung diangguki oleh Rafa dengan senyum lebarnya. Tidak masalah jika Hanna tidak mempersilahkannya masuk ke dalam unitnya, karena kini dia memiliki kesempatan untuk jalan berdua dengan Hanna.


Setelah Hanna mengambil tas dan mengganti alas kakinya, keduanya segera menuju tempat makan yang dipilih oleh Rafa. Ia tahu Hanna telah makan malam, tapi Rafa tetap membawa Hanna ke San Carlo, sebuah restoran hidangan laut yang tak jauh dari apartemen Hanna.

__ADS_1


Rafa ingat jika Hanna menyukai udang dan lobster. Jadi meskipun sudah makan malam, Hanna tetap tidak bisa menolak menu udang dan lobster yang ia pesankan untuknya. Harusnya dulu Rafa sering mengajak Hanna makan diluar, mungkin saja hubungan mereka bisa berjalan sebagaimana mestinya dan tidak berakhir seperti sekarang.


Rafa tidak salah saat memilih meninggalkan mobilnya di parkiran apartemen Hanna. Karena dengan berjalan kakilah, ia memiliki banyak waktu untuk berada di dekat Hanna. Sejak kedatangan Hanna ke rumah beberapa hari yang lalu, inilah untuk pertama kalinya Rafa menemui Hanna. Dan mungkin nantinya ia harus lebih sering menghabiskan waktunya bersama Hanna, untuk semakin memantapkan hatinya.


"Kak Rafa pulang aja." Ucap Hanna saat keduanya telah sampai di apartemen Hanna.


Rafa menggelengkan kepalanya. Ia menarik tangan Hanna dan menggandengnya masuk ke dalam gedung apartemen itu.


"Aku mau nganter kamu sampai depan pintu." Jawab Rafa sembari menaiki tangga.


"Tadi juga udah sampai depan pintu."


"Maksudnya pintu kamar unit kamu." Rafa menjawab sambil menoleh ke arah Hanna dan tersenyum lebar.


Begitu saja sudah membuat Hanna berbunga-bunga, karena kini dia merasa diperhatikan oleh Rafa. Tidak seperti dulu yang selalu dicari hanya saat butuh untuk bertelepon dengan keluarga.


"Nah, udah sampai. Kak Rafa bisa bisa pulang sekarang." Hanna menarik tangannya dari genggaman Rafa, lalu merogoh kunci di dalam tasnya untuk menghilangkan kecanggungan.


"Aku... udah bilang ke abang kalo kita akan balik bareng, jadi kita tinggal nunggu abang ngirim e-ticketnya."


Hanna menganggukkan kepalanya, dan sesaat kemudian Rafa mengikis jarak diantara keduanya dan mendekap tubuh Hanna dengan eratnya.


"Maaf untuk kejadian siang ini. Aku janji hal ini enggak akan terjadi lagi, dan aku enggak ngecewain kamu lagi, Han." Bisik Rafa dengan pelukannya yang semakin erat, lalu melabuhkan kecupan dipuncak kepala Hanna.


"Kau benar, El. Aku terlalu lemah untuk mengahadapi kak Rafa. Ini hanya sebuah kecupan, bukan ciuman. Tapi hatiku sudah langsung porak poranda." Ucap Hanna dalam hatinya.


...****************...


Tumbenan hari ini dua chapter, berarti besok bisa libur ya? Kan udah mau tamat, jadi chapternya dieman-eman hahahahaha.....

__ADS_1


__ADS_2