
"Itu.... hadiah untuk pernikahanmu dengan Hanna. Maaf, aku baru mengetahuinya."
Rafa mendengar dengan jelas apa yang baru saja Alita ucapkan. Senyumnya perlahan menghilang, seiring dengan pandangan Alita yang kini mengarah kepadanya. Jika tadi Alita yang merasa gugup, mungkin sekarang rasa gugup itu telah berpindah kepada Rafa.
"D-dari mana kamu tau? William yang bilang?" Tanya Rafa dengan nada terbata.
Alita menggelengkan kepala. "Enggak. William atau siapa pun teman kita enggak ada yang ngasih tau aku soal pernikahanmu dengan Hanna."
"T-terus siapa?"
"Seseorang." Alita menjeda perkataannya, lalu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. "Aku cuma enggak nyangka aja kamu bakal ngerahasiain ini semua dari aku. Bahkan Hanna pun juga diam. Aku kecewa sama kamu."
Tangan Rafa meremas paper bag dari Alita dengan kuat. Ia tidak percaya Alita akan mengetahuinya secepat ini. Bahkan disaat hubungan mereka telah semakin dekat, dan saat Rafa belum memutuskan apa rencana selanjutnya.
"Maaf." Rafa berucap lirih. Hanya kata itulah yang mampu ia ucapkan sekarang.
Dari tempat duduknya, Alita twrsenyum tipis. Dirinya merasa dejavu dengan keadaan seperti ini. Bahkan saat Rafa mengatakan kata 'maaf' dengan pelan tadi, ingatannya langsung tertarik pada kejadian beberapa tahun lalu. Saat Rafa dengan begitu teganya membohongi dirinya dan bermesraan dengan mantan kekasihnya.
"It's okay. Aku enggak mau mempermasalahkan itu. Mungkin emang akunya yang terlalu bodoh sampai-sampai bisa kamu bohongi lagi."
"Lit, aku bisa jelasin semuanya. Pernikahanku sama Hanna enggak seperti yang kamu pikirkan. Pernikahan kami cuma status, Lit. Kami bahkan enggak ngapa-ngapain sampai sekarang, itu cuma status doang."
__ADS_1
"Itu kan bagi kamu! Tapi mungkin bagi Hanna, orangtuamu, dan orangtua Hanna enggak menganggapnya kayak gitu. Pernikahan kalian sah dimata Agama dan juga negara, Fa. Tega banget sih kamu jadiin permainan gitu!"
Alita marah. Tentu saja dia marah karena Rafa kembali membohongi dirinya. Bedanya, dia dapat lebih meredam kemarahannya yang sekarang. Selain karena mereka tengah berada di sebuah restoran yang ramai pengunjung dijam makan siang, Alita juga menyadari dirinya juga melakukan kesalahan.
Salah karena telah menerina kehadiran Rafa kembali dengan tangan terbuka, tanpa menyelidikinya terlwbih dulu. Padahal dulu, dia banyak bertanya kepada William tentang bagaimana Rafa sebenarnya.
"Aku cuma pengen kita balikan, Lit. Aku masih cinta banget sama kamu."
"Itu enggak mungkin, Fa. Banyak orang yang harus kamu pertimbangkan jika saja pernikahanmu sama Hanna berakhir. Ini semua bukan tentang aku, Fa."
"Tapi, Lit-"
"Dan apa yang kamu lakukan selama ini itu bukan cinta." Alita menyela perkataan Rafa. Sebenarnya dia ingin segera pergi dari tempat ini, biarlah perutnya yang lapar itu diisi ketika dirinya sampai di rumah kakaknya. Setidaknya urusannya dengan Rafa akan selesai sekarang juga.
Mata Alita telah berkaca-kaca, tapi dia masih dapat menahannya agar tidak menangis di depan Rafa. Tidak! Dia tidak boleh
"Seriusan, Lit. Aku cuma cinta sama kamu. Ini semua bukan karena aku penasaran atau apalah kayak yang kamu omongin barusan."
Lagi-lagi Alita menggelengkan kepalanya. Sebisa mungkin dia menyangkal semua alasan yang Rafa berikan kepadanya.
"Ini semua enggak benar, Fa. Sekalipun semua alasan yang kamu katakan itu benar, tapi caramu untuk memperjuangkan aku itu salah, Fa. Secinta apapun kamu sama aku, kalo kita bersama nanti... aku bahkan akan dicap sebagai perebut suami orang. Apa kamu mikirin aku sampai ke arah situ?"
__ADS_1
Rafa tertunduk. Ya, caranya memang salah. Dan semua yang dikatakan oleh Alita itu benar. Meskipun Alita tidak menggoda dan berusaha untuk merebut Rafa, tetapi jika dia masih menerima Rafa dalam pelukannya, maka Alita tetap akan mendapat sebutan itu.
"Kita bisa berteman, Fa."
"Enggak, Lit. Bukan hubungan seperti itu yang gue mau."
"Percayalah, Fa. Apa yang kamu rasain sekarang ke aku itu bukan cinta. Coba sesekali kamu pahami perasaanmu sendiri, pasti rasa cinta itu udah enggak sama dengan dulu, saat kamu dengan semangatnya ngejar-ngejar aku untuk dijadiin pacar."
Alita tersenyum, mengenang bagaimana dulu Rafa begitu sabar dan bekerja keras untuk menarik hatinya. Tapi Rafa yang berada dihadapannya sekarang telah berbeda. Bukan lagi Rafa yang mata dan hatinya hanya tertuju padanya.
"Mungkin ada Hanna disana." Sambung Alita dengan senyuman termanisnya. "Kalian memang udah akrab sejak dulu, tapi kini hubungan kalian udah sangat dekat. Meskipun hubungan pernikahan kalian hanya untuk status aja, tapi aku yakin pasti kamu ada rasa sama Hanna. Dulu aku pernah lihat beberapa foto candid Hanna dihapemu."
Rafa mendongakkan kepalanya. Sejenak pandangannya seolah menerawang, mencoba mengingat ada berapa banyak foto Hanna yang ia ambil dengan sengaja dan diam-diam. Bahkan saat liburan ke London kemarin, Rafa masih melakukan hal itu.
"Aku akan pulang sekarang. Sebaiknya... setelah ini kita enggak usah saling ketemu berdua seperti ini. Aku enggak mau menimbulkan spekulasi yang nantinya jadi ramai dikeluarga kalian, dan parahnya membuat pernikahan kalian hancur. Aku harap... setelah ini kamu benar-benar harus mempertimbangkan Hanna. Pernikahan itu bukan main-main, Fa."
"Lit...." Rafa mencoba mencegah kepergian Alita, tetapi usahanya gagal. Alita telah beranjak dari duduknya, dan mengecup pipinya.
Mungkin, ini yang dinamakan kecupan selamat tinggal untuk terakhir kalinya.
"Hati-hati dijalan saat balik ke Bristol, terima kasih untuk oleh-olehnya, dan... salam untuk Hanna." Ucap Alita sebelum akhirnya berjalan keluar restoran, meninggalkan Rafa yang masih mematung pada posisinya.
__ADS_1
Rafa tidak percaya usahanya untuk mendapatkan Alita kembali gagal, dan ia merasa marah. Bukan hanya marah dengan dirinya sendiri, tetapi juga marah kepada seseorang. Seseorang yang telah memberitahukan statusnya kepada Alita, yang belum ia ketahui siapa.