
Butuh usaha yang tidak mudah bagi Rafa untuk bisa bertemu dengan Hanna. Pertemuan mereka kali ini pun bisa dibilang sebuah keuntungan bagi Rafa. Pasalnya, Rafa menggunakan senjata undangan pernikahan Alita agar Hanna setuju bertemu dan datang ke pesta pernikahan itu dengannya.
Hari ini, Rafa bahkan berhasil membujuk Hanna untuk pergi keluar dengannya. Alasannya masih berhubungan dengan pernikahan Alita yang akan digelar beberapa hari lagi, dan Rafa membutuhkan pertolongan Hanna untuk memilihkan kado pernikahan yang tepat.
Meskipun mendapat sambutan yang kurang mengenakkan dari Wildan, tapi Rafa tidak mempermasalahkannya. Sepanjang perjalanan ke sebuah pusat perbelanjaan dekat rumah Hanna, Rafa bahkan tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum dan mencuri pandang ke arah Hanna yang sibuk dengan ponselnya.
"Kayaknya Eleanor lagi liburan sama pacar barunya." Ucap Rafa mencoba membuka obrolan diantara mereka.
"Dari mana kak Rafa tau hal itu?"
"Instagram. Beberapa hari sebelum kita balik, El nge-follow aku."
Hanna hanya ber-oh ria, tidak berminat melanjutkan topik pembicaraan yang baru saja digulirkan oleh Rafa. Hanna kembali menyibukkan dirinya dengan ponsel ditangannya, tanpa mempedulikan Rafa yang sejak tadi terus memperhatikan dirinya.
"Kita makan dulu ya, Han. Kamu belum makan siang kan tadi?" Ucap Rafa saat selesai memarkirkan mobilnya.
Hanna mengangguk, menyetujui permintaan Rafa dengan cepat. Kedua berjalan bersisihan masuk ke dalam mall. Canggung tentu saja, Hanna bahkan terlihat jelas menjaga jarak untuk tidak berjalan terlalu dekat dengan Rafa.
"Makan disini aja, Han."
Rafa menarik tangan Hanna dengan tiba-tiba, untuk kemudian masuk ke dalam sebuah restoran yang menyajikan masakan Jepang. Rafa bahkan memaksa Hanna untuk duduk disebelahnya.
"Kenapa sih, Han? Kamu enggak mau makan disini?" Tanya Rafa saat Hanna berulang kali memukul lengannya.
__ADS_1
Hanna mendengus kesal, lalu mengangkat tangan kanannya yang masih digenggam oleh Rafa. "Lepasin, kak. Aku enggak bakal ilang, jadi jangan cari-cari kesempatan!"
"Galak banget sih!" Rafa melepaskan genggaman tangannya. "Lagian udah semingguan kita enggak ketemu, emangnya kamu enggak kangen sama aku? Dari tadi aku dicuekin mulu, sekalinya digandeng malah ngambek."
Hanna tidak merespon, dia memfokuskan pandangan dan pikirannya pada buku menu yang berada dihadapannya. Yang Hanna perlu lakukan sekarang ini hanya duduk manis, menikmati makan siangnya, dan menemani Rafa mencari kado pernikahan untuk Alita. Dia hanya perlu menyelesaikan semuanya, tanpa mempedulilan rayuan Rafa kepadanya.
"Ke acaranya Alita, kamu mau pake baju warna apa? Biar aku cari warna yang senada, atau... kita mau beli baju couple-an aja?" Rafa bertanya usai keduanya selesai memesan makanan.
"Aku belum kepikiran."
"Hmm... yaudah, kita beli baju sekalian aja setelah nyari kado. Gimana?"
Hanna menggelengkan kepalanya. "Aku ijin ke bunda untuk anterin kak Rafa nyari kado."
"Ya kan sekalian, Han. Bunda juga enggak akan marah kalo kita baliknya molor karena cari baju dulu."
Rafa lebih mendekatkan kursinya ke arah Hanna. "Kenapa sih, Han? Kamu dari berangkat tadi jutek banget, lagi PMS?"
"Enggak. Aku biasa aja."
"Enggak mungkin! Ini tuh beda jauh dari yang kita balik bareng kemarin. Sekarang aku baru genggam tanganmu beberapa menit aja, kamunya udah ngomel. Padahal pas balik kemarin, dua puluh jam lebih kita gandengan terus. Dua puluh jam, Han!"
Hanna mencoba untuk menghiraukan Rafa, tapi usahanya gagal karena posisi duduk Rafa yang semakin dekat dengannya.
__ADS_1
"K-kak Rafa mau ngapain?"
"Mau denger alasan kamu, kenapa enggak suka aku gandeng?"
"Itu... enggak ada alasan. Cuma karena...." Hanna berusaha mencari alasan yang pas dan bisa diterima oleh Rafa.
"Karena apa?"
"Eee... karena, kita bukan pasangan. Jadi, enggak seharusnya kita gandengan tangan dan... duduk deketan kayak gini."
Rafa cukup tercengang dengan jawaban Hanna yang ia dengar barusan, tidak menyangka jika Hanna akan memberikan jawaban seperti itu.
"Soon!" Jawab Rafa dengan tegas, sembari menggeser kursinya agak menjadi berjarak dengan Hanna.
"Secepatnya kita akan jadi pasangan, jadi kita bisa duduk deketan sambil bergandengan tangan." Imbuh Rafa dengan melemparkan senyuman termanisnya pada Hanna.
Hanna berusaha sekuat mungkin untuk tidak terpengaruh oleh gombalan Rafa. Berulang kali Hanna meyakinkan dirinya jika ini adalah trik bualan manis Rafa yang selalu dilontarkan pada gadis-gadis incarannya, jadi Hanna tidak ingin terperangkap lagi.
...****************...
Haloooooo... ada yang kangen sama aku? Hahahahaha....
Seriusan enggak berasa kemarin itu magernya ternyata begitu lama, pas buka notif eh taunya udah enggak update 28 hari. Rekor ya, sebulan bertapanya 😂😂 Alasannya tuh cuma 1, puyeng karena PPKM, alhasil otaknya enggak mau diajakin ngelanjutin nulis 🤣
__ADS_1
Jadi dari awal penetapan PPKM itu udah nge-cancel jadwal balik ke rumah, sambil nyari-nyari waktu yang pas buat balik. Ternyata keadaan masih belum kondusif dan PPKM diperpanjang. Parahnya ketika udah pesen tiket kereta buat balik sehari setelah Idhul Adha, tapi ternyata peraturannya berubah. Makin puyeng kan karena waktu untuk kumpul sama suami tertunda lagi, 2 bulan LDM itu berat! Hahahaha... Alhamdulillah sekarang udah kumpul keluarga kecil lagi, Insya Allah bisa lanjutin ceritanya si Rafa ya.
Terima kasih yang udah setia nungguin, padahal sering banget authornya ini mager. Buat yang lupa alur ceritanya, mungkin bisa dibaca ulang deh ya ðŸ¤