
"Aku kemarin liat Abang menjauh saat nerima telpon. Abang juga keliatan mencurigakan karena dia telponan sambil lirik-lirik ke aku."
"Mungkin... itu telpon yang penting."
"Tapi Abang enggak pernah kayak gitu sebelumnya, mencurigakan kan?" Tanya Rafa sambil tersenyum tipis.
Hanna terdiam, entah bagaimana dia harus merespon perkataan Rafa barusan. Kemudian Hanna mengikuti Rafa untuk duduk dimeja dan melipat tangannya di depan dada.
"Kapan Abang Rayyan begitu? Kemarin aku kirim pesan beberapa kali, tapi dibales satu jam kemudian. Abang bilang kalian lagi lihat lokasi untuk pembangunan vila. Mungkin Abang Rayyan sengaja menghindari kak Rafa, karena enggak mau ketahuan kalo abang berkomunikasi denganku."
"Kamu... kirim pesan ke Abang? Aku kemarin sempet pegang hape Abang, tapi aku enggak liat ada kontakmu yang muncul di layarnya."
Rafa mengingat-ingat, apakah ia melewatkan nama Hanna saat mengamati ponsel kakaknya?
"Ada. Abang Rayyang bilang nama kontakku diganti jadi Marketing Hotel Lombok."
Rafa ternganga, tampaknya dugaannya seratus persen benar. Abangnya ternyata berperan besar dalam upaya menyembunyikan Hanna, bahkan sampai tidak terendus olehnya.
Rafa memalingkan wajahnya, menghembuskan nafasnya dengan kesal serta memijit pangkal hidungnya.
"Jadi abang yang nyembunyiin kamu disini?" Rafa berucap lirih, namun Hanna masih bisa mendengarnya.
"Ceritanya panjang. Nanti aku akan ceritakan semuanya kalo ada waktu."
"Kenapa enggak sekarang? Semuanya udah pindah ke ruang sebelah untuk makan." Rafa mencekal pergelangan tangan Hanna yang beranjak dari duduknya.
"Karena ini masih jam kerja, dan aku juga lapar." Hanna melepaskan cekalan tangan Rafa dengan perlahan. "Aku digaji oleh Abang Rayyan untuk bekerja dengan baik, jadi aku enggak akan ngecewain Abang. Terserah kak Rafa mau makan atau enggak, yang jelas aku akan ke ruangan sebelah untuk makan siang sekarang."
Hanna melenggang santai melewati Rafa, dan tanpa berpikir panjang, Rafa segera mengekori Hanna. Tentu saja dia merasa lapar, apalagi sejak semalam dia tidak banyak makan. Begitu pula waktu sarapannya yang terlewat karena bangunnya kesiangannya, sudah pasti sekarang perutnya meronta meminta untuk diisi.
...****************...
__ADS_1
Hanna yang sekarang berbeda jauh dengan Hanna yang Rafa kenal sejak dulu. Hanna yang dilihatnya sekarang terlihat lebih feminim. Gadis itu menggelung rambut panjangnya, mengenakan riasan natural, bahkan mengenakan rok selutut dan heels setinggi lima centimeter.
Sejak kedatangannya yang terlambat di rapat pagi tadi, Rafa tidak bisa memfokuskan pikirannya pada pekerjaan. Semua pikirannya tertuju pada Hanna. Sekarang pikirannya mencoba menerka alur cerita bagaimana Hanna bisa terdampar disini dengan bantuan Abangnya.
Rafa melirik ke arah Tio yang memperhatikan jalannya rapat dengan seksama. Sesekali lelaki itu menunduk dan menggoreskan pulpennya untuk mencatat hal-hal penting. Rafa bernafas lega, ia bersyukur memiliki Tio yang sangat kompeten ini.
Setelah kepulangannya dari Lombok nanti, Rafa akan meminta Tio untuk menjelaskan garis besar pertemuan hari ini. Kejadian pertemuan dirinya dengan Hanna sudah pasti akan membuat abangnya memanggilnya ke ruangan, untuk menanyakan perihal pertemuan hari ini.
Layaknya guru yang bertanya kepada murid yang tidak mendengarkan penjelasannya, Rafa pasti akan tersiksa jika sampai dirinya tidak bisa menjawab segala pertanyaan abangnya. Lagi-lagi Rafa berucap syukur dalam hatinya, merasa beruntung karena ada Tio disampingnya.
Rafa kembali melirik ke arah jam tangannya. Jika sedang tidak berada di Lombok, harusnya sebentar lagi jam kerjanya akan usai. Tapi karena kunjungannya ke Lombok ini sangat singkat, jadi Rayyan memutuskan untuk memadatkan jadwal pertemuannya.
Rafa tersenyum sinis, sudah pasti ini akal-akalan abangnya agar dirinya tidak memiliki banyak waktu untuk mencecar Hanna. Bahkan sekarang ia merasa Hanna-lah yang menjadi adik bungsu dari abangnya itu, bukan dirinya.
Ketika jarum jam itu menunjukkan waktu yang ditunggu-tunggunya, Rafa malah menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Pertemuan hari ini belum usai, dan sepertinya akan berakhir di malam hari. Lalu matanya melirik ke arah abangnya, yang ternyata juga melirik ke arahnya, sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
Senyuman yang terlihat jelas sedang mengejek dirinya.
...****************...
Abangnya mengajaknya berbincang, dengan salah seorang direksi. Perbincangan yang sama sekali tidak menarik perhatiannya, bahkan sebenarnya perbincangan itu seharusnya tidak perlu melibatkan dirinya. Tapi kini ia terjebak disana, menjadi penonton dan pendengar yang baik.
"Abang sengaja kan?" Rafa mengomel begitu lawan bicara abangnya meninggalkan ruang rapat.
Rayyan yang sedang mengecek ponselnya menolehkan wajahnya dengan santai.
"Sengaja soal apa?" Rayyan menyimpan ponselnya ke saku celananya. "Sengaja narik lo ke obrolan yang seru tadi atau... sengaja nyembunyiin Hanna disini?"
Rafa melonggarkan dasinya, lalu mengacak rambutnya yang masih tersisir rapi sejak pagi.
"Dua-duanya. Rafa enggak peduli obrolan dengan pak Aryo tadi, tapi soal Hanna... harusnya abang bisa kasih tau Rafa sejak dulu."
__ADS_1
Rafa terdengar frustasi. Hal itu justru membuat Rayyan tertawa, kemudian menepuk lengan adik bungsunya itu.
"Gue udah kasih kesempatan sejak dulu ya, bahkan dibulan pertama lo kerja. Tapi lo sendiri kan yang nolak, sampai Zach yang harus gantiin lo buat hadir disini. Jadi kalo begitu, kira-kira salah siapa?"
"Tapi abang kan bisa bilang kalo Hanna ada disini, dengan begitu kan Rafa enggak akan melimpahkan tugas itu ke Abang Zach."
"Salah lo sendiri". Rayyan mengangkat kedua bahunya, lalu berjalan keluar ruangan diikuti oleh Rafa disebelahnya.
"Lo sendiri yang enggak dengerin perkataan mama." imbuh Rayyan.
"Perkataan mama soal apa?"
"Mama selalu bilang ke elo buat enggak menghindari setiap pertemuan, karena siapa tau jodoh elo ada disalah satu pertemuan itu." Rayyan mencoba mengingatkan adiknya, yang mungkin lupa dengan nasihat dari mamanya selama ini.
Rafa menghela nafasnya. "Mana Rafa ngeh, Bang. Rafa pikir kan itu karena mama nyuruh buat ngikhlasin Hanna."
"Emang... dengan sekarang elo udah bisa nemuin Hanna, kalian pasti berjodoh gitu? Kalian terpisah kurang lebih setahun, bisa jadi Hanna lagi ngejalin hubungan dengan seseorang gitu."
Rafa menghentikan langkahnya, diikuti oleh Rayyan yang juga berhenti dan menengok ke arahnya.
"Bukan abang kan yang ngejalin hubungan dengan Hanna?" Rafa bertanya dengan tatapan membunuh. "Sekali pun itu abang, Rafa enggak segan-segan untuk menghajar abang sampai babak belur."
Baru saja Rafa menyelesaikan kalimat ancamannya, seketika itu pula malah justru dirinya langsung mendapat serangan pukulan lengan dan punggung dari Abangnya.
"Ngomong tuh dijaga! Bisa-bisanya lo mikir gue selingkuh dibelakang Zahra, sama Hanna pula!"
Rayyan masih melayangkan pukulannya, sedangkan Rafa mencoba melindungi dirinya sambil mengucapkan kalimat maaf kepada abangnya.
Hanna yang sedang berjalan menuju lift langsung menghentikan langkahnya. Dilihatnya pemandangan yang mungkin sudah lama tidak pernah dilihatnya. Rayyan dan Rafa tengah saling memukul lengan, layaknya anak kecil yang sedang bertengkar. Hingga akhirnya Rayyan dan Rafa berhenti saat menyadari ada Hanna di dekat mereka.
Rayyan segera merapikan jasnya, lalu berkata akan kembali ke kamar terlebih dulu. Sedangkan Rafa buru-buru mengambil jasnya yang terjatuh ke lantai, kemudian berjalan menghampiri Hanna dan langsung menggandeng jemari Hanna.
__ADS_1
"Ada banyak hal yang harus kita bicarakan, Han."