
"Papa udah minta om Asep buat ngurusin keperluan kamu balik ke Bristol. Semuanya udah beres." Kata papa Adit kepada Rafa.
Sorr itu, keduanya sedang duduk bersama di gazebo belakang rumah. Mama Salma sedang sibuk dengan tanamannya, sedangkan papa Adit sedang memangku dan bermain bersama Zayn.
"Hanna... udah tau itu, Pa?" Tanya Rafa dengan ragu-ragu.
Jika Hanna belum mengetahuinya, ini bisa jadi kesempatan bagi Rafa untuk menghubungi Hanna.
"Udah. Hanna pulang duluan, tiga hari lebih awal dari kamu."
"Hah? Kok gitu, Pa?"
"Hanna yang minta, dia bilang ada urusan kampus yang harus dia selesaikan. Kamu ngapain Hanna lagi?"
Rafa menggelengkan kepalanya. "Rafa enggak ngapa-ngapain dia, Pa. Enggak tau kenapa tiba-tiba aja dia enggak mau balikan sama Rafa, malah nyuruh Rafa buat ngerasa enggak kenal lagi sama dia."
"Kamu nyesel sekarang?"
"Nyesel karena apa, Pa?" Tanya Rafa kebingungan.
"Nyesel karena dulu terlalu seenaknya sendiri gonta-ganti pacar dan enggak dengerin apa kata Papa." Papa Adit menjeda perkataannya sejenak, sembari meletakkan botol susu Zayn yang telah habis itu.
"Papa enggak tau gaya pacaran kamu dulu itu gimana, tapi kebiasaanmu itu pasti akan berimbas dimasa yang akan datang. Dan sekarang inilah kamu sedang menjalani imbas dari kelakuanmu dulu itu. Perasaan wanita itu sensitif, sekali kamu menyakitinya, dia akan selalu ingat sampai kapan pun . Enggak peduli seberapa banyak perlakuan baikmu kepadanya, dia akan selalu ingat kesalahanmu itu. Hanna mungkin tidak hanya sakit hati atas perlakuanmu padanya saat kalian menikah dulu, tapi dia juga enggak mau sakit hati saat menikah denganmu itu terulang lagi."
Rafa melongo untuk beberapa saat. Ia sedikit tidak percaya jika papanya akan berbicara panjang lebar seperti sekarang. Terlebih setelah kemarahan besar papanya setelah mengetahui kebohongannya saat menikahi Hanna, Rafa memang selalu menghindari percakapan dengan papanya.
Rafa merasa takut dan bersalah karena telah membohongi keluarganya, dan juga mempermalukan orangtuanya. Sampai sekarang, hanya mama Salma-lah yang selalu menjadi tempat ternyaman Rafa untuk berkeluh kesah dan berbicara panjang lebar.
Mungkin, ini adalah kali pertama papanya menasihati dirinya dalam kondisi yang santai. Bukan seperti yang sudah-sudah, saat dirinya sedang membuat masalah.
"Tapi kan Rafa udah enggak gitu, Pa."
__ADS_1
"Yakin?" Papa Adot berucap dengan nada sarkasme. "Papa denger kamu ada banyak gandengan waktu kamu masih nikah sama Hanna dan lagi ngejar-ngejar Alita."
"Hah? I-itu kan bukan pacaran, Pa. Rafa sama cewek-cewek itu tuh cuma... cuma deket karena kita ada tugas proyek bareng gitu. Jadi ya, sering keluar bareng buat ngerjain tugas proyeknya. Ya masa mau Rafa ajak ngerjain tugas di rumah." Rafa membela diri.
"Awas kalo sampai kamu bawa perempuan pulang ke rumah!" Ancam papa Adit.
"Termasuk Hanna? Itu kan juga rumah Hanna, Pa."
"Itu pengecualian. Hanna boleh datang dan nginep di rumah itu, tapi kamu harus keluar."
"Terus aku tidur dimana? Papa ada-ada aja nih, sebenernya Rafa anak papa bukan sih?" Rafa berucap dengan nada kesal, yang tentu saja ia buat-buat.
"Kamu dan Hanna tidak dalam hubungan pernikahan lagi, jadi kalian enggak seharusnya tinggal bersama seperti itu."
"Tapi di Inggris kan udah biasa, Pa. Temen Rafa banyak kok yang berbagi apartemen dan rumah gitu meskipun cuma temenan. Yang pacaran terus tinggal bareng juga banyak."
Papa Adit dengan sengaja melemparkan botol susu Zayn yang telah kosong ke arah Rafa dan mengenai dahi anak bungsunya itu.
"Hahahahaha.... Rafa mana berani, Pa. Rafa cuma bercanda." Jawab Rafa sambil mengusap-usap dahinya.
"Zayn tidur, Pa?" Ucap Eowyn yang baru saja selesai mandi dan menyusul ke gazebo.
"Iya, mau ditidurin di kamar?"
"Iya, kasian Papa nanti pegel kalo gendong-gendong Zayn mulu."
Eowyn segera mengambil alih Zayn dari pangkuan papanya.
"Eh, ada adik kesayangan! Masih galau nih kayaknya, mukanya makin muram aja nih." Ledek Eowyn.
Rafa hanya diam, pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan Eowyn padanya. Mana pula Rafa berani mengomeli anak kesayangan papanya itu dihadapan papanya, bisa-bisa dirinya yang terancam.
__ADS_1
"People talk about the guy that's waiting on a girl, ohh.... There are no holes in his shoes, but a big hole in his world! Hahahahaha.... Pas banget tuh liriknya buat elo." Sindir Eowyn yang dengan sengaja menyanyikan potongan lirik lagu itu sambil mencubit pipi adiknya.
"Berisik lo ah! Udah sana tidurin Zayn di kamar." Rafa menyerahkan botol susu Zayn pada Eowyn, dan mendorong kakaknya itu untuk segera meninggalkan gazebo.
"Jadi Rafa harus gimana, Pa?" Ucap Rafa sembari mendudukkan dirinya berhadapan dengan papanya.
"Rafa udah berusaha untuk enggak jadi Rafa yang dulu, tapi... hasilnya tetep aja nol. Rafa juga enggak ngerti kenapa Hanna tiba-tiba begitu, pasti Hanna begitu juga karena Wildan."
"Jangan nyalahin orang lain." Jawab papa Adit dengan tegas. "Wildan enggak akan berbuat begitu kalo kamu enggak salah. Dulu waktu kamu mau nikahin Hanna juga dia enggak ngelarang kamu kan? Apa yang Wildan lakukan sekarang hanya untuk melindungi Hanna, kalo om Taufik masih hidup pasti beliau juga akan berbuat demikian."
"Jadi Rafa harus nyerah?" Tanya Rafa dengan nada bicara yang terdengar putus asa.
"Itu semua terserah kamu. Tapi mungkin kalian berdua emang harus berpisah dulu untuk meyakinkan perasaan masing-masing. Kalo kalian memang berjodoh, pasti akan balikan. Tapi kalo enggak, kamu enggak punya pilihan lain untuk lepasin Hanna. Mungkin dari sekarang kamu harus bersiap untuk kemungkinan terburuknya, Fa."
Papa Adit beranjak dari duduknya, melihat ke arah taman di dekat gazebo, tempat istri tercintanya sedang sibuk dengan tanamannya.
"Sal? Mau berapa lama kamu disitu?"
"Bentar, mas. Bentar lagi selesai. Lagian jarang-jarang juga kan mas Adit ngobrol santai panjang lebar gitu sama Rafa. Makanya aku enggak mau gangguin."
Mama Salma meletakkan gunting tanamannya, lalu menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
"Jadi mulai sekarang Rafa harus berhenti mencintai Hanna ya, Pa?" Gumam Rafa dengan pandangan seperti sedang melamun.
Papa Adit menghela nafasnya, lalu menoleh ke arah Rafa, mengamati ekspresi muram anak bungsunya. Ini adalah kali kedua papa Adit melihat Rafa dalam kondisi seperti sekarang ini. Pertama karena putus cinta dari Alita, dan sekarang karena ditolak oleh Hanna.
"Ada saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang. Bukan hanya karena orang itu berhenti mencintai kita, tapi juga karena... kita menyadari bahwa orang itu akan lebih bahagia apabila kita melepaskannya. Setiap hubungan pasti mengajarkan kita sesuatu, Fa. Meskipun kamu merasa dunia seakan berakhir, biarin aja itu jadi pelajaran yang telah kamu pelajari. Pengalaman itulah yang membimbing kamu untuk menjalani hubungan lain yang lebih indah di masa mendatang. Pandanglah hal yang menyakitkan ini sebagai langkah awal untuk lebih dekat dan mendapatkan apa yang kamu benar-benar butuhkan dan inginkan dari kehidupan."
Papa Adit menupuk bahu Rafa, seolah menyemangati Rafa untuk menguatkan diri. Lalu menghampiri istrinya dan meninggalkan Rafa duduk termangu di gazebo seorang diri.
...****************...
__ADS_1
Jangan ditumbenin kalo di chapter ini Papa Adit lagi rukun sama Rafa ya ðŸ¤