
Seminggu berlalu sejak kejadian aksi gila Rafa, dan Hanna masih betah untuk mogok bicara pada Rafa. Meskipun sama-sama berada disatu meja yang sama saat sarapan atau makan malam, Hanna seolah tidak menghiraukan Rafa yang berada di hadapannya dan terus mencoba mengajaknya berbicara.
Terus menerus dalam situasi seperti ini membuat Rafa jengah. Ia memang melakukan kesalahan, tapi tidak seharusnya Hanna mendiamkannya seperti ini. Rafa juga termasuk dalam golongan manusia yang memiliki stok kesabaran yang melimpah. Oleh sebab itulah Rafa tidak bisa mengontrol emosinya siang ini.
Terlebih saat Hanna terlihat menggeret koper besarnya dan telah merapikan seluruh barangnya. Rafa tahu pasti Hanna menghindarinya dan ingin memisahkan diri darinya. Tapi entah mengapa Rafa merasa tidak suka dengan sikap Hanna yang akan angkat kaki dari rumahnya.
"Mau kemana?" Tanya Rafa dengan nada dingin sembari menarik koper besar milik Hanna.
Lelaki itu sengaja menduduki koper yang berat itu agar Hanna tidak mudah untuk mengambilnya. Dan hal iti langsung menyulut kemarahan Hanna.
"Siniin koper aku!" Hanna mencoba merebut kembali kopernya, namun tangannya dicekal oleh Rafa.
"Gue tanya elo mau kemana?"
"Bukan urusan, kak Rafa!" Hanna menarik kedua tangannya.
"Ya urusan gue lah! Selama berada disini, elo itu tanggung jawab gue."
__ADS_1
"Aku bisa tanggung jawab sama diri aku sendiri." Jawab Hanna dengan ketus.
"Gue enggak akan kasih elo ijin untuk keluar dari rumah ini."
Sebisa mungkin Rafa menahan emosinya agar tidak meluap. Hanna sedang marah kepadanya, dan Rafa tidak ingin amarahnya semakin membuat Hanna semakin berkeinginan untuk keluar rumah. Jadi, mau tidak mau, ialah yang harus mengalah.
"Terserah, kak Rafa! Aku akan kirim orang untuk ambil koper itu nanti."
Hanna tak mau ambil pusing. Dia segera mencangklong backpack-nya dan melangkah untuk segera keluar rumah. Tapi lagi-lagi usahanya tidak mudah, karena Hanna harus meladeni Rafa yang keras kepala itu.
"You're not going anywhere, Hanna!" Rafa begitu saja menghadang Hanna. "Kita bisa omongin dan selesaiin masalah kemarin dengan baik-baik. Enggak usah pake acara pergi dari rumah kayak gini. Emang elo mau tinggal dimana?"
Rafa terdiam sejenak. Memang benar apa yang dikatakan Hanna barusan. Jika Hanna keluar dari rumah ini, Rafa pasti akan kebingungan saat keluarganya menelpon dan menanyakan keberadaannya. Seminggu didiamkan Hanna sudah membuat Rafa kebingungan mencari alasan, apalagi jika Hanna sampai keluar dari rumah itu?
Belum sempat Rafa mengeluarkan perkataannya, suara klakson mobil terdengar dan membuat keduanya menoleh secara bersamaan ke arah keluar.
"Oh, jadi elo mau keluar dari rumah dan tinggal sama dia?" Rafa menunjuk sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah mereka.
__ADS_1
Itu mobil Arthur. Sosok anak muda yang entah mengapa Rafa tidak menyukai keberadaannya disekitar Hanna oleh.
"Kak Rafa pikir aku serendah itu sampai rela harus tinggal bareng Arthur? Terserah kak Rafa mau bilang apa, yang jelas aku punya tempat tinggal sendiri."
Hanna berbalik badan untuk mengambil kopernya yang tadi ditahan oleh Rafa.
"Elo bakal nyesel begitu keluar dari rumah ini, Han!" Seru Rafa saat tangan Hanna telah meraih kopernya.
"Dengan keluar dari rumah ini berarti elo enggak menghargai gue dan menganggap pernikahan kita udah selesai."
"Aku enggak peduli. Bukankah bagus kalo hubungan kita berakhir sekarang? Jadi kak Rafa bisa kembali untuk ngejar kak Alita, atau bahkan mengejar gadis-gadis kampus lainnya yang selama ini menjadi incaran kak Rafa. Aku baik kan?"
Hanna tidak peduli. Tekatnya untuk keluar dari rumah ini sudah bulat. Bukan hanya karena soal kejadian seminggu yang lalu, tapi juga memberikan jalan bagi Rafa untuk mendapatkan kembali pujaan hatinya. Tidak masalah jika dia yang harus mengalah, toh juga selama ini Rafa tidak pernah menganggapnya sebagai seseorang yang spesial.
Rafa seharusnya dapat melepaskan Hanna pergi dengan mudah. Dengan tidak adanya Hanna di rumahnya dan berakhirnya hubungan pernikahan mereka, itu berarti Rafa memiliki kesempatan untuk memperjuangkan Alita. Rafa masih begitu yakin jika Alita menolaknya statusnya sebagai suami orang. Dan Alita tidak ingin namanya dicap jelek sebagai penggoda atau bahkan perebut suami orang.
"Kak Rafa cukup kasih tau aja alasan yang kak Rafa sampein ke keluarga kak Rafa soal keberadaanku, aku akan bekerja sama soal itu. Bukankah kak Rafa jago bikin alasan? Jadi enggak akan sulit untuk bikin alasan itu. Dan... tenang aja, aku pasti akan rutin untuk telpon mama untuk mengurangi kecurigaannya." Imbuh Hanna yang kemudian berjalan keluar rumah itu.
__ADS_1
Rafa berbalik badan, memandangi Arthur yang sedang membantu Hanna dengan koper besarnya. Ia masih ingin menahan Hanna untuk tetap tinggal, tapi nampaknya pesonan Arthur membuat Hanna begitu keras kepala dan memilih untuk pergi. Perasaan tidak sukanya pada Arthur semakin besar saja, dan membuat dadanya begitu sesak. Rafa menutup pintu rumahnya dengan keras, sungguh ia tidak ingin melihat kedekatan Hanna dan Arthur lagi dan lagi.