Back To You

Back To You
Chapter 133


__ADS_3

Tidak berada dikursi deretan belakang, tidak pula berada baris dikursi paling depan, Rafa hanya berdiri dari kejauhan untuk melihat akad nikah Alita. Rasanya masih ada perasaan tidak ikhlas untuk melihat dan melepaskan Alita berbahagia dengan pria selain dirinya.


Tiba-tiba saja muncul berbagai kata 'andai' dalam pikirannya disepanjang acara. Andai dulu dirinya tidak tergoda oleh rayuan Jihan. Andai dulu dirinya tidak mengambil keputusan bodoh untuk menikahi Hanna, mungkin kini dirinyalah yang bersanding dengan Alita.


Namun itu semua hanya perandaian, bukan kesempatan bagi Rafa untuk mengulang dan memperbaiki semuanya. Kesempatan yang tersedia bagi Rafa sekarang hanyalah untuk memperbaiki dirinya sendiri.


"Sabar, Fa!" Ucap William sembari menepuk-nepuk bahu Rafa. "Liat mantan yang masih kita cintai nikah itu emang berat banget. Padahal dulu kita yang berandai-andai di pelaminan sama dia sebagai pengantin, eh malah kitanya jadi tamu undangan."


Rafa melirik sinis ke arah William, merasa enggan untuk menimpali perkataan temannya itu.


"Lo harus move on, Fa. Alita udah jadi istri orang sekarang. Kalo lo masih kepikiran dia, deketin dia, ceritanya udah beda. Lo bisa dihajar sama suaminya, belum lagi kalo om Adit tau. Habis lagi elo ntar." Imbuh William yang semakin membuat Rafa kesal.


"Kebanyakan ngomong lo!" Rafa menyingkirkan tangan William yang beradaa dibahunya.


"Hahahaha... rasanya emang gini, Fa. Bawaannya pengen marah, sedih, tapi ya enggak bisa apa-apa. Makin lama di tempat acaranya, malah bikin kita ngerasa jadi orang paling sedih sedunia. Tuh, liat aja mantan istri lo! Udah dateng kesini bawa gandengan baru. Enggak kalah cakep pula dari elo. Elo-nya malah masih sendirian. Ya gagal move on dari Alita, dari mantan istri juga."


"Itu kakaknya, b*go!"


"Eh? Masa sih? Jadi dia milih dateng kesini sama kakaknya daripada sama elo? Padahal beberapa hari yang lalu kayaknya nyari kado berdua sama elo ya? Hahahaha...."


Rafa terdiam. Ingin rasanya pergi meninggalkan tempat ini, karena tidak ingin melihat prosesi pernikahan Alita lebih lama lagi dan tentu saja karena ingin segera menghindari William. Tapi apalah daya, Rafa masih bertahan disini karena menghormati Alita yang mengundangnya untuk datang.


"Tenang, bro. Takdir enggak ada yang tau. Lo udah nikah aja, setahun kemudian cerai. Kalo ternyata Alita jodoh lo, mau dia nikah sama orang lain pun nantinya juga balik ke elo lagi." Imbuh William yang tentunya dengan nada meledek.


"Jadi elo ngedoain Alita biar cerai nanti?"


"Emang elo enggak seneng kalo gue berdoa kayak gitu?"


"Ya enggaklah. Kalo Alita cerai, belum tentu dia bakal balik sama gue."


William mengangguk setuju. "Iya juga sih, mending cari cowok lainnya aja. Balik ke elo ribet, banyak pertimbangannya."


Rafa mendengus kesal. Lalu pergi ke luar ruangan tanpa menghiraukan William yang terus mengikutinya.

__ADS_1


...****************...


"Han!" Rafa menghadang Hanna dan Wildan saat hendak pergi menuju parkiran mobilnya.


Sejak tadi, Rafa terus berada di luar ruangan. William-lah yang sibuk keluar masuk membawakannya makanan serta minuman untuknya. Rafa juga menolak saat William mengajaknya untuk berfoto bersama pengantin.


Rafa merasa malas untuk melihat ekspresi kemenangan Theo padanya. Meskipun ia telah merelakan Alita, tapi entah mengapa ia masih begitu kesal terhadap Theo. Belum lagi pasangan yang baru saja mengucap janji sehidup semati itu akan memperlihatkan kemesraannya, yang pasti akan membuat jiwa jomblonya meronta-ronta. Berharap Hanna dapat mengisi kekosongan hatinya, namun kini entah mengapa malah menjauh darinya.


"Mau apa lo?" Wildan maju selangkah, menghentikan Hanna untuk berhenti tepat dibelakangnya.


"Kasih gue waktu untuk ngomong sama Hanna, Dan."


"Enggak ada yang perlu kalian omongin lagi. Bukannya beberapa hari yang lalu kalian udah dapet waktu cukup lama kan untuk ngomong panjang lebar?"


"Masalahnya bukan gitu, Dan. Gue-"


"Kak, enggak apa-apa." Hanna mencoba menenangkan kakaknya. "Kak Wildan pulang duluan aja. Ada hal yang mesti aku omongin ke kak Rafa."


"Gue tungguin dimobil."


"Gue yang akan anter Hanna pulang." Kini gantian Rafa yang menyela kalimat Hanna.


Wildan mengangguk dengan terpaksa. Setelah berpesan kepada adiknya untuk mengabarinya jika urusannya telah selesai, Wildan berjalan menuju parkiran mobil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


Tanpa menunggu waktu lagi, Rafa segera menggandeng tangan Hanna menuju tempat mobilnya diparkir. Lalu kemudian keluar dari parkiran gedung itu dan mencari lokasi yang santai untuk tempat ngobrol mereka.


"Berhenti disini, kak. Enggak usah jauh-jauh." Pinta Hanna dengan tiba-tiba.


"Hah? Disini?" Rafa sedikit kebingungan. Pasalnya Hanna meminta berhenti di lokasi yang tak jauh dari gedung tempat Alita melangsungkan pernikahannya.


"Aku bilang berhenti, kak!" Hanna menaikkan nada bicaranya, yang kemudian membuat Rafa mau tidak mau menepikan mobilnya.


"Kenapa berhenti disini? Kita bisa cari tempat yang-"

__ADS_1


Belum selesai Rafa mengucapkan kalimatnya, ia dipaksa berhenti seketika saat Hanna menyerahkan kotak perhiasan yang kemarin ia belikan untuknya.


Ah, iya. Rafa baru sadar jika Hanna tidak mengenakan perhiasan itu sesuai keinginannya. Dan sekarang Hanna justru mengembalikannya.


"Itu buat kamu." Rafa mendorong kotak itu kembali ke arah Hanna.


"Aku enggak bisa nerima ini, kak." Hanna menggelengkan kepalanya. "Aku enggak seharusnya menerima apapun dari kak Rafa lagi, dan... enggak seharusnya aku kasih kesempatan kak Rafa untuk kita balikan lagi."


"K-kenapa? Kenapa sekarang kamu jadi berubah pikiran, Han?"


"Aku cuma sadar kalo keputusan yang aku ambil itu salah, dan aku pengen mengakhirinya sebelum semuanya terjadi terlalu jauh."


"Han, kamu kenapa sih?" Rafa melepaskan seatbelt-nya dan memutar posisi duduknya menghadap ke arah Hanna. "Ini semua karena Wildan kan? Sejak perpisahan kita Wildan yang selalu ngehalangin kita, pasti karena dia kan?"


Hanna hanya menjawab dengan gelengan kepala, lalu meletakkan kotak perhiasan itu dipangkuan Rafa.


"Cuma ini yang mau aku omongin ke Rafa, semoga kak Rafa bisa lebih berbahagia ke depannya. Dan... aku harap, kita bisa untuk saling jaga jarak. Atau menjadi orang yang enggak kenal sama sekali itu lebih baik."


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Hanna buru-buru menarik handle pintu dan keluar dari mobil Rafa. Seketika itu pula turut serta turun dari mobil untuk mengejar Hanna.


"Jelasin dulu kenapa, Han? Kalo aku ada salah, ngomong dong. Biar aku minta maaf dan enggak ngulangin kesalahan itu lagi. Enggak kayak gini."


Hanna hanya menggelengkan kepalanya, sembari berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Rafa.


"Kalo kamu khawatir soal kuliahku yang bakal kelar bentar lagi, kamu enggak perlu khawatir soal itu, Han. Aku akan temenin kamu di Inggris sampai kapan pun kamu mau, aku akan cari kerja disana. Ya?"


"Bukan itu masalahnya, kak." Hanna menyentakkan tangannya agar terlepas dari Rafa. "Aku enggak mau sama kak Rafa lagi. Cuma itu alasannya, enggak ada alasan lain. Jadi tolong setelah ini, jangan cari-cari aku lagi. Lupakan aku, dan sebaiknya kak Rafa cari perempuan lain yang layak untuk kak Rafa."


"Hanna!" Teriak Rafa sambil mencegah Hanna yang akan naik ke dalam taksi yang distopnya.


"Tunggu, Han. Kita omongin dulu semuanya baik-baik, kita-"


"Cukup, kak! Enggak ada 'kita' antara aku dan kak Rafa. Semuanya udah selesai, dan aku enggak mau punya hubungan apapun lagi dengan kak Rafa."

__ADS_1


Rafa melepaskan genggamannya pada Hanna. Tubuhnya serasa lemas tak berdaya, hari ini seakan menjadi penyiksaan baginya. Karena harus menyaksikan pernikahan mantan kekasih tercintanya, dan kini dirinya ditolak oleh mantan istrinya.


__ADS_2