Back To You

Back To You
Chapter 62


__ADS_3

"Ma... pulang aja yuk! Rafa laper nih." Rafa berbisik pada mamanya yang tengah asik mengobrol bersama tante Widya dan kakek nenek Hanna.


Kondisi om Taufik telah stabil, namun masih dalam pantauan dokter. Semuanya masih bertahan di ruang inap yang ditempati om Taufik malam itu. Papa Adit terlihat tengah mengobrol dengan Wildan, sedangkan Hanna duduk di pinggir brankar ayahnya.


Mama Salma berdecak kesal. Sudah berulang kali Rafa membisikkan kata-kata itu kepadanya, dan sudah berulang kali pula mama Salma menolaknya.


"Kamu kalo laper pulang aja duluan. Atau makan di luar rumah sakit sana, kan banyak tempat makan. Ajakin Wildan sama Hanna sekalian tuh!


"Mama tega amat ngusir anaknya."


"Bukannya ngusir. Kamu kan udah bukan anak kecil yang kalo mau makan harus disuapin, Fa. Kamu kesini juga bawa mobil sendiri kan? Cari makan di luar sana, Pasti Wildan sama Hanna juga belum pada makan tuh."


Dengan berat hati, akhirnya Rafa menuruti perkataan mamanya. Rafa berjalan menghampiri Wildan yang sedang mengobrol dengan papanya, namun ternyata ditolak oleh Wildan.


"Gue udah makan, Fa. Hanna aja tuh, tadi pas gue telpon dia lagi mau makan. Pasti enggak jadi makan dia karena denger kabar ayah sakit." Wildan lalu menghampiri adiknya yang masih setia duduk dipinggir brankar ayahnya sembari mengerjakan tugasnya.


"Dek, makan dulu gih sama Rafa. Tadi pasti belum sempet makan kan?"


Hanna menggelengkan kepalanya. Meskipun sebenarnya dia lapar, tapi Hanna masih ingin tetap disini untuk menemani ayahnya.


"Makan dulu, Han. Jangan sampai nanti elo ikutan sakit juga. Temenin gue yuk! Udah laper banget ini." Kini giliran Rafa merengek kepada Hanna untuk minta ditemani makan.


Hanna menoleh menatap ayahnya yang tertidur lelap, lalu memberesi buku-bukunya untuk pergi makan bersama Rafa.


Setelah berpamitan dengan semua orang yang berada di dalam ruangan, Rafa dan Hanna berjalan ke luar untuk mencari makan. Sempat bertanya beberapa kali kepada Hanna tentang menu makan apa yang akan mereka santap, akhirnya Rafa memutuskan untuk makan makanan siap saji di depan rumah sakit.


Rafa tahu Hanna sedang tidak memiliki selera makan, tapi setidaknya ia harus memaksa gadis itu makan. Setidaknya Hanna mau makan burger atau kentang goreng yang bisa mengganjal perutnya.


"Rafa!"


Panggilan seseorang itu membuat Rafa yang akan menikmati makanannya langsung teralihkan. Jika tadi Hanna yang tidak berselera, kini giliran Rafa yang menyesali memilih untuk makan disana. Kenapa pula harus bertemu dia disini sih!


Rafa hanya menoleh, tidak berniat untuk membalas sapaan dari seseorang yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Ia malah langsung menyomot kentang goreng yang ia beli untuk Hanna.


"Enggak nyangka banget kita ketemu disini. Udah lama banget, dan gue enggak tau kalo sekarang elo... pacaran sama anak kecil. Gue kira lo masih sama Alita." ucap Jihan dengan tatapan mencibir ke arah Hanna.


Meskipun kesal karena dibilang anak kecil, tapi Hanna enggan berurusan dengan wanita centil ini. Dia memilih menyantap burger yang dibelikan Rafa tadi.

__ADS_1


"Bukan urusan elo." Rafa menjawab dengan nada dingin dan tanpa menatap ke arah Jihan. Lelaki itu malah kini sibuk dengan nasi dan ayam gorengnya.


"Jadi... bener ya selera lo telah berubah? Atau ini semua karena elo saking desperate-nya enggak bisa macarin cewek seksi lagi?"


Ingin rasanya Rafa mengumpati Jihan dengan mengabsen nama-nama hewan yang telah bermunculan dikepalanya, tapi karena ada Hanna disana maka Rafa menahannya.


Rafa memilih untuk diam dan mencoba menikmati makanan yang ada dihadapannya. Begitu pula dengan Hanna yang sedari tadi tidak terusik dengan sindiran dari Hanna. Merasa diabaikan, Jihan menjadi murka. Dia bahkan memaki Rafa yang sempat menarik perhatian pengunjung disana, sebelum akhirnya pergi dan diikuti oleh Vera dibelakangnya.


"Bisa-bisanya dulu kak Rafa punya pacar kayak begitu." kini giliran Hanna yang menyindir setelah menyeruput susu dinginnya.


"Khilaf, Han. Mungkin waktu itu gue lagi enggak sadar." jawab Rafa dengan enteng.


Sebenarnya ia pun menyesali keputusannya dulu untuk memacari Jihan, padahal William sudah berulang kali mengingatkannya. Tapi kala itu, Rafa hanya penasaran saja dengan Jihan.


"Cih, giliran udah kejadian begini aja bilangnya khilaf."


"Udah, lo makan aja yang banyak. Anak kecil enggak usah pusing-pusing mikirin percintaan, belajar aja yang pinter biar ntar bisa dapet beasiswa kuliah di luar." Rafa mengusak rambut Hanna yang membuat gadis itu menjadi kesal.


"Kotor tau, kak! Tangan habis buat makan ayam, belum cuci tangan juga tuh!" Hanna mengelap rambutnya dengan tisu, mencoba menyingkirkan kotoran dirambutnya yang mungkin berasal dari tangan Rafa.


Hanna mencebikkan bibirnya, lalu mengambil selembar tisu basah dari tasnya dan kembali mengelap rambutnya.


"Jangan balik ke ruangan dulu ya, Han. Gue butuh temen ngobrol."


Hanna mendongakkan kepalanya, menatap aneh ke arah Rafa yang tidak biasanya terlihat tidak bersemangat seperti ini.


"Kenapa? Tumben banget. Gara-gara cewek yang tadi ya?"


Rafa menggelengkan kepala. "Bukan. Selama ini gue enggak pernah ngegalauin mantan atau siapa pun cewek yang deket sama gue, kecuali Alita."


Hanna melongo. Bukan karena Rafa kini mau berbagi cerita dengannya, tapi karena Alita.


"Eh? Jadi... kak Rafa sama kak Alita putus ya?"


"Belum officially sih, tapi tadi Alita ngomong yang menjurus ke arah situ."


"Tadi? Jadi tadi sebelum jemput aku itu kak Rafa lagi berantem sama kak Alita?" tanya Hanna penasaran dan diangguki oleh Rafa.

__ADS_1


"But, why? Kayaknya adem ayem aja deh selama ini."


Rafa mendesah, lalu menggeser nampan makanan mereka yang telah kosong kesamping dan menyandarkan kepalanya dimeja.


"Hubungan gue sama Alita belakangan ini udah enggak kayak yang elo kira, Han. Makanya gue jadi sering nongkrong sama anak-anak, sering nganterin mama pergi, atau bantuin abang di kantornya. Malah sekarang ada cowok lain yang deket sama Alita."


Hanna menahan senyumnya. Bukan karena dia tidak merasa kasian dengan Rafa yang tampak sedang galau tingkat dewa itu, tapi Hanna malah merasa itu tidak cocok dengan Rafa yang selama ini selalu bersikap tengil.


"Diihhh, enggak usah galau-galau begini kali, kak. Malulah sama mantannya yang buanyak itu." Hanna gantian mengusak rambut Rafa. Tapi saat Hanna akan menarik tangannya, Rafa malah menahannya.


"Agak kencengan, Han. Pusing banget kepala gue, lumayan ini kayak dipijit."


"Yeeee... dikira gue tukang pijit apa!"


Tapi Rafa tidak peduli, ia tetap memaksa dengan menggerak-gerakkan telapak tangan Hanna dikepalanya.


......................


Selipan dikit untuk yang pengen tahu visual cast-nya Rafa, Alita dan juga Hanna ya. Misal enggak sesuai sama ekspektasi kalian, harap dimaafkan ya. Tapi ya mereka bertigalah yang aku pilih karena kupikir cocok gitu 😅


Rafa




Ehh itu Rafa sama siapa? Bocoran nih ya, itu Rafa sama anak pertamanya abang Rayyan. Wajahnya mirip sama abang kan ya? Hahahahaha...


Alita



Hanna



Yang comments untuk menyampaikan pendapat atau komplainannya, sok atuh dipersilahkan hahahahaha.... Sehat selalu ya gaeesssss ❤️

__ADS_1


__ADS_2