
New York. Rosé membuka mata lebar setelah tiga hari kehilangan efek bius dan obat penenang dari dokter yang meresepkannya. Satu hari setelah operasai di Jakarta, Candra tak segan membawa adiknya kembali ke Amerika untuk penanganan yang lebih intensif, juga menghindari serangan lainnya dari pihak manapun yang belum bisa Candra deteksi.
"Robert, ada apa ini? Aku dimana?"
Rosé lantas terkejut saat pertama kali yang ia lihat justru Robert dan ruangan putih yang biasanya ia tempati selagi sakit di New York. Masih dalam keadaan syok nya, makanya ia bertanya untuk meyakinkan, setelahnya ia paham saat Robert memeriksa seluruh tanda vital miliknya. Gadis itu nampak sehat.
"Aku bersyukur kepalamu tidak bermasalah."
"Maksudnya?" Rosé mencoba untuk duduk, namun tekanan pada perut membuatnya berhenti dan meraba bagian itu. Terdapat kasa yang menempel lebar menutup luka yang baru saja Rosé ingat di dapatkan dari sebuah tusukan.
Robert tersenyum, mengelus surai ungu milik Rosé. "Sweetheart, kau merasa sehat bukan? Ada keluahan?"
"Aku hanya bingung. Tapi fisikku sangat sehat kecuali bagian ini. Aku ingat ini sebuah tusukan, Robert."
Dokter paruh baya berkebangsaan Amerika itu lagi-lagi tersenyum. "Jangan kawatir, seminggu lukanya akan kering. Tidak ada hal yang fatal yang harus ditakutkan.
Terjadi keheningan sejenak saat Robert selesai mengatakan itu. Sedangkan Rosé hanya kebingungan dengan kondisi yang ia alami secara mendadak.
Kanesh.
Apa laki-laki itu tahu kondisinya. Belum sempat raga mereka bertemu untuk melepas rindu, jarak yang begitu jauh sudah saja memisahkan, bahkan tanpa sepengetahuannya.
"Robert. Tapi kenapa aku harus dibawa kesini. Katamu tidak ada hal fatal. Kenapa tidak di Indonesia saja?"
Robert memaklumi kebingungan Rosé. Bahkan dirinya juga sempat kelabakan juga saat mendengar Rosé mendapat tusukan dibagian perut. Hal itu sangat ringan, namun jika menyangkut masalah trauma, resiko hilang ingatan mungkin bisa saja terjadi akibat saraf kejang yang mempengaruhi otaknya.
"Itu tindakan spontan kami untuk antisipasi terjadinya komplikasi di kepalamu. Setelah kau sembuh, kau bisa kembali ke Indonesia, liburmu masih lama bukan?"
Rosé mengangguk paham.
"Tapi, Rosé. Ada satu hal yang harus aku sampaikan langsung padamu."
"Apa itu?"
"Dokter Josep terpaksa memotong tuba falopimu sebelah kanan oleh sebab indung telur yang kau miliki hancur oleh tusukan, tidak bisa diperbaiki."
Saat itu juga dunia bagaikan runtuh menimpa tubuh Rosé. Artinya, ia tidak akan bisa hamil, ia spontan syok dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Ia menangis mengeluarkan air mata tanpa suara, dadanya begitu sesak.
Alyne, aku ingin anak banyak dan membentuk kesebelasan.
Ingatan saat Kanesh mengucapkan itu begitu jelas menekan keterbatasannya. "Hei, Rosé. Kau tidak apa-apa?" Robert mengguncang Rosé untuk kembali tersadar dari segala pemikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.
Rosé menggeleng. "Hanya sedih." Ucapnya tenang.
__ADS_1
"Tak apa, kau masih punya satu dan tidak akan mempengaruhi apapun. Benar-benar tidak masalah."
Rosé mengangguk. Sebagai mahasiswa kedokteran yang tiga tahun kedepan bakalan lulus ia tahu betul dengan keadaannya. Namun, sebagai wanita ia tidak bisa terima oleh kekurangan walau itu hanya sedikit.
"Baguslah, sebaiknya kau istirahat dulu."
Setelah itu Robert bergegas meninggalkan Rosé dalam kamar sakitnya sendirian. Hari berlalu dengan damai tanpa ada orang yang tahu jika Rosé telah menanamkan pemikiran mematikan oleh intuisinya yang ditekan begitu dalam. Bahwa ia hanyalah wanita tidak sempurna yang tidak akan bisa mempunyai keturunan.
"Joseph, jalan-jalan yuk." Suatu malam, Rosé mengajak sahabat karibnya untuk pergi menonton movie di bioskop. Joseph mengiayakan.
Joseph?
Ya, laki-laki itu sekarang tinggal di New York dan mengurus kepindahan semenjak Rosé mengalami penusukan. Memohon dan bersujud pada Candra akan kelalaian yang ia perbuat karena tidak bisa menjaga Rosé dengan benar.
Candra berkata bukan salah Joseph, tapi sahabat adiknya memaksa. Dengan tabungan yang ia kumpulkan dari hasil bekerja paruh waktu, juga menjual desain baju kepada perusahaan besar, uang Joseph cukup untuk mengurus segala ***** bengek kepindahannya. Candra tak tinggal diam berhasil menyelipkan sejumlah bantuan kepada Joseph mengingat niat laki-laki itu selain meneruskan kuliah yaitu menjaga adik perempuan nya.
"Joseph, gue nggak bisa hamil."
"Maksud lo?"
Rosé tersenyum enggan menoleh Joseph yang berada di sebelah kanan sebelum movie terputar. "Penusukan itu ngebuat gue nggak bisa hamil."
Joseph tahu betul kronologinya. Tapi tak sampai membuat Rosé tidak bisa hamil. Otak Joseph berputar kembali mengingat keseharian Rosé yang begitu berbeda. Gadis itu menjadi gila kerja meskipun sembari meneruskan pendidikan kedokteran spesialis setelah menyelesaikan lulus dari kedokteran umum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lo ngomong apa?"
"Gue nggak bisa hamil, gue mau adopsi anak?"
"Lo perlu ke spesialis, gue anter!!" James, sepupu Rosé mengatakan dan mendesak untuk menyeretnya menemui dokter psikolog.
"Gue nggak gila Jam. Kenyataannya gue emang nggak bisa hamil. Gue nggak bisa hamil, buka lebar telinga lo dan mata lo."
James menatap nyalang gadis yang berada di depannya. Semakin ia mendesak, ia merasa Rosé semakin frustasi. Memang ada yang aneh. Kejiwaan Rosé terganggu begitu parah hingga meninggalkan kelogisannya sebagai wanita cerdas yang kesehariannya bergelut dengan nyawa manusia.
Suatu hari Niko menemui James oleh sebab Rosé yang menyetujui dengan membubuhkan tanda tangan bersedia menyumbangkan cairan sumsum tulang belakang kepadanya. James yang tahu jika Rosé tidak bisa diubah keputusannya pun hanya bisa mengangguk paham dan ikut serta menyetujui.
Operasi berhasil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara gebukan membuat Rosé, James maupun Joseph menoleh kebelakang mobil yang mereka kendarai. Bersama-sama turun serempak menyaksikan dua pria yang terkulai dengan muka bonyok mengerikan.
__ADS_1
Satu bodyguard mengambil ponsel dari pria bertubuh tinggi dengan kulit sedikit kecoklatan lalu menyerahkannya kepada James. Ada beberapa photo Rosé yang tertangkap kamera dan bersembunyi di galeri, namun salah satu photo mendapat perhatian lebih dari James, Rosé berambut ungu terbaring di paping dengan darah mengotori perutnya.
"Siapa kau sebenarnya?" James bertanya tegas kepada dua pria yang sudah terduduk lemas.
Mendapati kedua pria itu hanya diam. James memberi isyarat kepada bodyguard untuk membawa mereka ke rumah pengadilan; rumah untuk orang-orang mencurigakaan. Candra, kakak Rosé semakin waspada tentang keselamatan adikknya hingga memperketat penjagaan. Terbukti, kenapa kedua pria itu mengambil photo Rosé secara diam-diam, mencurigakan bukan.
Mengingat penusukan yang terjadi beberapa tahun lalu, si pelaku mendapat keadilan mendekam di penjara. Usut punya usut, kedua preman utu hanyalah perampok yang tengah merencanakan pembobolan perhiasan. Hanya itu yang mereka akui.
Lantas siapa dan kenapa kedua orang ini muncul sampai tanah Amerika?
Niko setelah mendapat kabar langsung mengudara dari indonesia untuk turun langsung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak, kenapa dua orang itu malah mbuntutin Rosé kemana-mana?"
"Mereka jagain kamu, namanya Lucky dan Seno. Mereka nggak berbahaya."
Rosé mendengus. Merasa risih dengan banyaknya bodyguard yang mengganggu ketenangan hidupnya. Ditambah lagi dengan dua orang pria dari negara asalnya.
"Jaga jarak!"
"Iya, nanti kakak perintain mereka jaga jarak dengan kamu. Tapi jangan main kabur-kaburan."
Candra sangat hafal watak adiknya. Kerap sekali kabur, padahal Candra begitu mengawatirkannya.
James memberitahu Candra perihal psikolog Rosé yang terganggu. Sedikit merasa iba, namun tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti alur saja.
Semakin lama keadaan bertambah semakin parah saat James berusaha meyakinkan Rosé. James mencoba mendoktrin Rosé agar gadis itu percaya bahwa ia masih saja wanita yang sempurna. Bukan hal bagus yang ia dapat, melainkan peluh dingin yang mendadak keluar dari tubuh Rosé, serta rintihan gadis itu yang sembari menekan perut bagian kanannya. Ini trauma, kehilangan kepercayaan diri dan berbahaya.
James tak berhenti sampai di situ saja. Masih berusaha meskipun hasilnya tetap sama. Otak Rosé sudah mengambil alih omong kosong yang gadis itu ciptakan sendiri. Begitu frustasinya mendapati tubuh yang tak sempurna sampai harus membuat dirinya tertimpa trauma. Gadis bodoh, James murka mendapati Rosé yang begitu keras kepala. Namun semua sudah terlanjur dan sangat sulit kembali seperti semula.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rosé memandangi photos Vee bersama dirinya yang terselip di dalam dompet. "Aku kangen kamu, Nesha. Tapi aku harus melupakanmu."
Rosé, setelah lima tahun berlalu, semenjak awal ia kehilangan kesempurnaannya, tak membiarkan siapapun mengatakan satu kata sekalipun kepada Vee. Perasaan bersalah begitu besar. Namun semua demi kebaikan Vee seorang.
Kamu harus dapat pendamping yang sempurna, Kanesh.
Semua yang ia anggap benar akan Rosé lakukan. Meninggalkan Vee adalah satu-satunya jalan. Ia tidak akan menikah seumur hidup sekalipun. Tapi tidak dengan orang tuanya yang tiba-tiba mendesaknya untuk pulang ke Indonesia dengan mengungkit umur juga. Perasaan Rosé sama sekali tidak enak. Ditambah orang-orang terdekat menambahi bumbu seakan mendukung perkatan ayah dan ibunya.
Sarat memohon dengan Vocal halus yang diterima Rosé dari Dara membuat wanita itu luluh. Rosé setuju untuk pulang. Meski resiko bertemu Vee begitu besar. Tapi tak apa, pura-pura biasa saja.
__ADS_1