
Setelah mengantar Alita tadi, Rafa segera menuju ke rumah Hanna. Sesuai dengan perintah yang diberikan sang mama sebelum ia pergi siang tadi. Memarkir mobilnya di halaman rumah, Rafa bergegas turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah. Tak perlu menunggu dipersilahkan duduk, Rafa langsung saja mendaratkan pantatnya di kursi kayu yang berada di teras rumah itu.
Tak berapa lama, Hanna keluar dengan membawa dua kantong plastik yang berukuran cukup besar. "Ini buat tante Salma." ucap Hanna sambil meletakkan kantong itu di hadapan Rafa.
"Isinya apaan sih? Banyak banget, buat mama doang pula!"
Hanna mendengus kesal. "Buat tante Salma sekeluarga. By the way, itu kulit kenapa? Abis dicakar sama kucing?"
Rafa memandangi lengan kanan dan kirinya yang memang nampak merah dengan sedikit luka. Mungkin terkena kuku Alita saat memukulnya dengan membabi buta tadi.
"Sembarangan aja ngatain Alita kucing."
"Eh? Jadi berantem sama kak Alita? Ngeri banget berantemnya sampai lecet gitu, pipinya agak lebam pula."
"Gue yang salah kok."
Hanna malah tertawa seolah mengejek Rafa. "Oohh, kalo kak Rafa penyebab masalahnya sih aku ngerti hahahaha...."
"Anak kecil mana tau urusan percintaan."
Malas menanggapi, Hanna memilih beranjak dari duduknya. Namun Rafa menghentikannya dengan mencekal pergelangan tangannya.
"Mau kemana? Gue baru nyampe juga."
"Mau ambil minum, sama butuh obat enggak buat bekas cakarannya?"
"Tapi lo yang ngobatin."
"Cih, manja!" Hanna melepaskan cekalan tangan Rafa, lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil minuman dan juga obat untuk mengobati bekas cakaran yang tidak seberapa itu.
"Orang rumah pada kemana?" tanya Rafa saat Hanna meletakkan minuman untuknya di meja.
"Pergi. Ayah bunda ke rumah nenek untuk nyiapin kamar aku disana, kak Wildan ada janji sama pacarnya."
__ADS_1
"Lo sendirian dong?"
"Udah biasa." jawab Hanna santai sambil mengulurkan salep antiseptik untuk Rafa, namun ditolak.
"Obatinlah, Han. Lo kan yang tau tempatnya dimana aja."
"Kak Rafa obatin di kamar mandi aja sana, sambil ngaca."
"Males gue, Han. Capek banget gue. Ini kalo mama enggak ngewajibin kesini juga gue pengennya pulang. Sakit semua badan gue."
"Emang diapain sih sama kak Alita?" Hanna beranjak dari kursinya, lalu duduk bersebelahan disamping Rafa. Meskipun malas, Hanna tetap mengoleskan salep tersebut ke kulit Rafa.
"Dipukul, tapi ngasal gitu."
"Makanya, jangan genit sama cewek lain."
Rafa menoleh ke arah Hanna yang terlihat sibuk memeriksa luka dilengannya. Rafa menduga Hanna hanya asal berbicara. Karena tidak mungkin Alita bercerita kepada Hanna.
"Seriusan, kak. Selama ini kan kak Rafa gonta-ganti pacar mulu, wajar dong kalo aku nuduhnya kayak begitu."
"Terserah lo lah."
Tidak ada jawaban dari Hanna. Gadis itu kembali ke kursinya lalu memeriksa ponselnya yang sedari tadi nampak ramai dengan banyaknya notifikasi yang masuk.
"Kapan lo pindah ke rumah nenek lo?"
"Rencananya minggu depan. Mau penyesuaian dulu di rumah nenek."
"Cepet amat, daftaran sekolah aja belum udah mau pindah aja."
Hanna hanya mengendikkan bahunya, pandangannya kembali mengarah pada layar ponselnya.
"Kalo ntar di sekolah lo enggak ada cowok yang ganteng kayak gue, jangan dipaksain buat punya cowok, Han. Lo itu cantik, sayang kalo ntar punya pacar jelek."
__ADS_1
Hanna langsung melotot ke arah Rafa. Merasa kesal kenapa Rafa bisa sampai berbicara demikian.
"Ganteng buat kak Alita ya, enggak buat aku."
Rafa membenarkan posisi duduknya, merasa senang karena kembali bisa menggoda gadis remaja yang tengah beranjak dewasa ini.
"Masa? Terus menurut mata lo yang ganteng itu kayak siapa?"
Saat Hanna akan menjawab pertanyaan Rafa barusan, Rafa langsung menyelanya. "Jangan jawab ayah lo, Wildan, artis atau oppa-oppa Korea ya."
Hanna kembali menutup mulutnya, gagal deh menyebut nama biasnya sebagai cowok terganteng baginya.
"Hmm... Abang Rayyan tuh ganteng!"
"Dih, mau jadi bibit pelakor lo? Orang udah nikah masih lo puja-puja."
"Aku kan cuma bilang kalo abang Rayyan ganteng, bukan mau jadi pelakor."
"Cari yang masih single, contohnya gue nih belum nikah jadi bisa lo puja-puja. Atau jangan-jangan... selama ini lo belum pernah dideketin cowok ya, Han?"
"P-pernah! Pernah kok!" Hanna menjawabnya dengan terbata-bata, namun suaranya cukup lantang. Tentu saja ia harus membela diri. Bisa semakin ditindas dia jika Rafa tahu kalau selama ini dirinya selalu menutup diri karena ingin fokus dengan sekolahnya.
"Siapa? Kok enggak pernah nemenin lo di fotokopian?" Rafa menaik turunkan alisnya sambil tersenyum ke arah Hanna, membuat Hanna semakin kesal saja.
"Udah, kak Rafa pulang aja sana. Mau maghrib ini, ntar digondol wewe gombel aja."
"Hahahaha... lo masih aja percaya gituan. Malu kan lo karena belum pernah dideketin cowok?" Rafa dengan sengaja menyolek lengan Hanna.
"Bodo amatlah pacaran! Kak Rafa liat aja besok kalo aku udah gede, bakal punya suami yang ganteng!"
Hanna memang berniat untuk mengusir Rafa. Gadis itu masuk begitu saja ke dalam rumah dan mengunci pintu rumahnya. Membiarkan Rafa yang masih cekikikan di teras rumahnya.
"Gue balik ya, Han. Bilangin makasih ke tante Widya sama om Taufik." teriak Rafa dari teras rumah sambil mengangkat dua kantong pesanan mamanya itu.
__ADS_1