
Hembusan nafasnya sangat gusar untuk seharian ini. Rosé gelisah, baru kali ini dirinya memohon pada Tuhan untuk tidak disembuhkan dari sakit. Mengingat lagi perkataan Vee akan niatanya untuk menikah setelah ia sembuh; jujur Rosé takut.
Jika ditanya apakah Rosé bahagia?
Tentu saja, bahkan sangat membuncah kala ranum milik Vee mengatakan secara gamblang lamaran dadakan itu. Namun, belum sampai satu jam setelah kepergian Vee untuk urusan; entahlah Rosé tidak tau kemana orang itu pergi. Rosé meragu akan kemampuan tubuhnya untuk membahagiakan calon suaminya.
Lagi! Masalah peranakan yang menjadi momok utama. Benar jika Vee memang menerima apa adanya, hanya saja, proteksi dalam diri Rosé yang mengatakan untuk aktif di situasi seperti ini.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rosé dari ketidakberdayaan dirinya. Bayangan nyata yang baru saja masuk sontak saja membuat tubuhnya sedikit menegang kaku.
Dalam hatinya bertanya, apakah ajal akan menjemput?
Atau kah akan ada peperangan setelah ini?
Atau mungkin acara jambak-jambakan seperti bayangan yang selalu menari-nari diotaknya sedari dulu akan terlaksana setelah ini?
Oh!
Rosé sungguh masih tidak berdaya dengan kondisi fisiknya. Seluruh badan terasa remuk, ditambah kehadiran wanita molek yang sudah berada didepannya yang seakan ingin memakan dirinya hidup-hidup.
Sena berdehem sebelum ekor matanya melirik sofa yang diatasnya tegeletak tas kerja milik mantan calon suami. Matanya kian memanas walau hanya melihat benda mati itu, bahkan topik awal yang ingin dibicarakan sempat terulur sebentar.
"Kau sangat egois, Rosé."
Sial.
"Kau hanya wanita cacat yang tidak dapat menghasilkan keturunan. Masih berani ingin menjadi menantu keluarga Bellamy!!!"
Seperti dihantam rubuan ton baja tepat diatas dada, Rosé sangat merasa tersiksa dan kesulitan walau untuk bernafas. Katakan ia saat ini sudah termakan oleh perkataan Sena. Hinaan adalah makanan sehari-hari yang mampu diterima dengan baik oleh tubuhnya. Seakan sudah terbiasa, Rosé membuang segala pesakitan yang baru saja didapatkan dari mulut lancang Sena.
"Hentikan, Sen."
"Seharusnya kau yang menghentikan Vee yang bodoh itu, Rosé. Hentikan dia agar tidak membatalkan pertunanganku dengannya."
Rosé menatap tajam ke arah Sena setelah penghinaan wanita itu menguar dengan sangat jelas. Boleh saja jika Rosé yang dihina, karena memang dirinya bukanlah wanita yang sempurna. Namun, jika itu Vee, jangan harap Sena dapat ampun.
"Vee bodoh? Kau mau menikahi pria bodoh?"
"Iya, Vee bodoh. Memilih wanita cacat sepertimu adalah suatu kebodohan. Seharusnya kau juga tau diri, Rosé."
Rosé tersenyum remeh dengan berbagai perkataan kotor yang menghujam talak dalam keadaan sadarnya. Wanita di depannya ini memang sudah sangat sinting sampai taraf akhir.
Cinta boleh!
Tapi, ya jangan yang terlalu buta!
Nafas Sena begitu menderu kuat, dadanya sampai naik turun. Emosinya menguasahi total tubuhnya, begitulah jika cinta yang menjadi alasan utama—apapun akan dilakukan agar mencapai tujuannya. Menekan mental lawan dengan kejam mungkin akan membantu melancarkan aksinya.
"Kak Hana juga sama sepertimu. Apa kau tidak sadar, jika seperti itu apa yang akan dikatakan orang-orang. Kau memalukan asal kau tau saja."
Rosé mengepalkan tangannya dengan kuat di samping paha. Bukan karena dirinya yang dihina.
Hana.
Wanita itu tidak pantas untuk dihina dan direndahkan. Sena sangat keterlaluan. Mental wanita itu sudah sangat rusak. Biarpun banyak dari orang terdekat Rosé mengatakan mental Rosé yang bermasalah, setidaknya dirinya masih punya hati nurani. Tidak sepeti jelmaan setan di depannya ini, sungguh memalukan hanya demi seorang pria.
"Jaga mulutmu Sena."
"Aku tidak akan berhenti, aku akan mengambil Vee lagi."
Rosé tersenyum, kali ini terlihat sangat manis dan tulus. "Dia sudah jadi pria-ku lagi. Apapun yang ku miliki tidak dapat diambil oleh siapapun. Aku hanya mengingatkan, Sena."
Sena geram. Seolah dirinya sedang ditantang dan diremehkan. Matanya sudah memanas, amarahnya pun kian menjadi-jadi melihat Rosé yang sama sekali tidak terpengaruh dengan usaha yang sudah dilakukan.
__ADS_1
Sebenarnya Rosé juga tidak tega dengan Sena yang sudah kelabakan di depannya. Namun, mulut wanita itu memang perlu dibungkam agar tidak lancang.
"Bukan begitu caranya, Sen. Seharusnya kau tau bagaiman cara memposisikan diri sebagai wanita baik-baik. Kau hanya memperburuk dirimu dihadapanku. Kau lah sebenarnya yang sangat memalukan." Imbuh Rosé lagi.
Seakan tidak cukup. Rosé semakin ingin memperbanyak kosa kata hanya untuk membalikkan keadaan. Sudah cukup hanya untuk bungkam, Rosé bukanlah wanita lemah yang selama ini dipikirkan orang-orang.
"Kau wanita cacat Rosé!" Lagi, seakan tidak cukup mengatai dengan hal yang sama. Sena tanpa bosan mengatakannya.
Rosé memegang perut bekas operasi yang tertutup piyama. Telapaknya menekan sambil mengelus disana. Berharap satu kalimat yang akan dilontarkan setelah ini tidak menimbulkan rasa nyeri di bagian ini.
"Aku bukan wanita cacat." Perut Rosé terasa sangat nyeri secara mendadak. Keringat dingin tiba-tiba keluar dengan cepatnya.
"Aku bukan wanita cacat, Sena." Rasa itu sungguh datang menghujam. Rosé mati-matian menahannya. Tidak tahu jika terus seperti ini, bagaiman jadinya nanti. Ia takut jika harus berakhir dengan keadaan koma lagi.
"Kau wanita cacat, Rosé." Sena tidak mau kalah dan hanya terus menimpali dengan kenyataan yang menurutnya benar.
Rosé semakin tidak kuat dengan keadaan yang perlahan bisa membunuhnya dengan kesakitan yang teramat menyiksa. Rosé menyerah.
"Iya, aku cacat."
Dengan begitu rasa nyeri itu hilang dalam sekejab. Rosé melempar gantungan kunci berbentuk Kuda dengan warna ungu yang saat ini sudah tergeletak tepat di depan kaki Sena yang terbungkus sepatu.
"Bagaiman kau akan bertanggung jawab akan diriku yang cacat ini, Sena," Ucap Rosé dengan nada dingin dan tatapan datar.
Hawa dingin tiba-tiba mengambil alih. Sena termangu dengan kenyataan yang terbuka lebar di depan matanya. Kesalahan yang dulakukan lima tahun yang lalu terungkap sudah. Pencariaanya selama ini ternyata hanya berjarak beberapa senti darinya.
Apakah ini sebuah karma?
Ataukah sisi baik Sena masih bisa menolongnya?
"Jika korban itu adalah kau. Seharusnya mati saja dari dulu." tidak meluruh, Sena justru memperkeruh.
"K-kau."
Teriakan Sena sangat mengerikan untuk di dengar. Rosé tidak percaya jika dihadapannya ini adalah seorang manusia. Mungkin lebih tepatnya adalah iblis yang menjelma sebagai manusia. Rosé takut, kondisi fisiknya sangat tidak memungkinkan jika saja Sena mendadak ingin membunuhnya.
Sebenarnya keadaan ini sangat menyedihkan untuk Rosé. Melihat Sena sampai seperti itu membuktikan betapa sakit hatinya Sena karena harus kehilangan Vee. Rosé perlahan turun dari ranjang dan memberanikan diri untuk mendekat ke arah Sena.
Rosé mencoba meraih tangan Sena, berusahan untuk menenangkan walaupun sangat tidak yakin akan keberhasilannya.
"S-Sena. Tenanglah."
Sena menepis tangan Rosé dengan kuat, hingga membuat Rosé sedikit terhuyung. Beruntung Rosé tidak terjatuh karena masih bisa mengimbangi tubuh.
"KAU SENANG? MELIHATKU SEPERTI INI KAU PUAS?"
"A-apa maksudmu, Sen."
"KAU SUDAH TAU AKU YANG SALAH DAN KAU MASIH MENYEMBUNYIKANNYA. KAU MEMPERLAKUKANKU SEBAGAI PENJAHAT, BRENGSEK."
Kenyataan itu sangat memukul hati Sena yang sebenarnya sangat lembut. Dia merasa Rosé sedang mempermainkan dirinya dengan menyembunyikan fakta tentang penyebab penusukan lima tahun yang lalu.
"Sen, dengarkan aku. Kau salah paham."
"Kau wanita buruk, Rosé. Begitukah caramu memandangku? Tidakkah kau berpikir betapa tersiksanya aku mencari korban itu selama ini. Aku menanggung beban rasa bersalah dan kau, kau benar-benar brengsek."
Dengan begitu Sena berlari dan keluar dari ruang rawat inap milik Rosé. Sedangkan Rosé, meluruhkan tubuhnya untuk diambrukkan di lantai. Ia manangis sejadi-jadinya. Perasaan kalut bercampur aduk menjadi satu.
Sungguh Rosé berani bersumpah tidak ada sebersit pun niat untuk mempermalukan Sena dihadapannya. Hanya saja, keadaan yang membuat Rosé melakukan itu semua. Dirinya benar-benar tidak tahan akan Sena dengan berbagai hujatannya, sehingga mendorongnya untuk menguak kenyataan yang ada.
Seperti perkataan Rosé saat tersambung telepon dengan Candra kakaknya tadi pagi. Disana dia mengatakan memang sudah memaafkan penyebab bagaimana ia tertusuk. Yang dikatakan Rosé memang benar, ia sudah memaafkan dan menerima dengan lapang dada. Tapi jika akhirnya begini, Rosé bisa apa. Mungkin lain waktu Rosé harus menjelaskan lagi pada Sena.
...****************...
__ADS_1
Rose bosan, menggiring tubuhnya sendiri untuk sekedar rileksasi di rooftop gedung ini. Menikmati udara sore memanglah pilihan yang tepat yang hanya bisa dia lakukan saat ini.
Menatap luas bentangan langit yang sangat lebar. Rosé teringat akan mimpi-mimpi yang ingin dibangun bersama dengan Vee. Semakin lama Rosé mengingat akan hal manis itu. Semakin pula terasa sangat sulit untuk mewujudkannya.
Katakan jika pria itu sudah berada di genggamannya. Namun, siapa yang bisa menjamin jika bersama dirinya akan membawa kebahagiaan untuk Vee.
"Hei."
Seseorang merengkuh Rosé dari belakang. Jika dipikir-pikir. Kenapa Vee selalu saja tau keberadaan Rosé. Apakah pria itu mengirim mata-mata?
"Hm. Nesh, apa kamu benar-benar bahagia jika bersamaku?"
"Apa itu sebuah pertanyaan?"
Bukannya menjawab, pria itu memilih untuk bertanya. Rosé membalikkan badan, ingin sekali wanita itu menatap manik indah milik Vee.
"Jawab saja!"
"Sangat."
Rosé megerutkan keningnya tanda tak paham. Ia ingin jawaban lengkap bukan sebuah kiasan belaka.
"Sangat bahagia, Alyne." Jawab Vee akhirnya. Senyum kotak itu juga terbit dari ranum miliknya.
"Meskipun aku tidak bisa ha-"
Taehyung mencium Rosé tepat di belahan bibirnya. Hanya singkat karena memang bertujuan untuk menghentikan Rosé dengan omong kosongnya.
Harus berapa kali Vee mengatakan jika dirinya menerima apapun kondisi Rosé. Wanita itu sungguh keras kepala dan Vee sangat tidak suka.
"Tolong jangan katakan itu, Alyne. Hatiku sakit mendengarnya."
"Berarti kamu tidak bahagia?" Tanya Rosé dengan polosnya.
"Astaga, Alyne. Aku sangat bahagia. Apa perlu aku berteriak kepada semua orang?"
Rosé menggeleng kuat. Sangat tahu betul jika itu bukanlah main-main, jika Vee sudah berkata, tinggal tunggu saja tanggal mainnya.
"Jadi, mulai sekarang jangan ragu lagi."
Rosé menganguk. Perlahan dirinya lebih mendekat ke arah tubuh Vee yang menjulang tinggi di depannya. "Boleh aku menciummu?" tanyanya.
Bahkan tanpa ditanya, Vee dengan sangat senang akan menerimanya. "Tubuh ini milikmu, kau bisa berbuat apa saja padanya."
Maka dengan begitu Rosé memundurkan kakinya untuk sedikit menjauh dari tubuh Vee. Benar-benar diluar dugaan. Sedangkan Vee berpikir dirinya akan mendapat ciuman mesra di sore hari dengan langit senja menemani. Tapi ini apa, Rosé hanya mempermainkannya.
Rosé tersenyum jail. "Lain kali saja aku lakukan. Kenapa wajahmu sangat merah begitu, Nesh?"
Vee sangat malu untuk saat ini. Tidak tahan dipandang sebegitunya dengan ledekan sebagai pengiringnya. Ia dengan gerakan cepatnya melangkah untuk merengkuh tubuh Rosé.
"Kau tidak akan bisa kabur, Alyne."
Tangan kekarnya itu menarik dagu Rosé dengan pelan, jarinya mengusap lembut bibir wanita di depannya. Rosé perlahan menutup mata menerima tanpa tolakan seperti biasanya.
Vee mendaratkan bibirnya tepat diatas bilah bibir Rosé yang merona, hanya menempel tanpa tuntutan berlebih. Vee mulai memejamkan matanya mengikuti apa yang dilakukan wanitanya.
Dengan dentuman tanda cinta yang sangat menggebu atas dasar rindu. Rosé memberanikan diri untuk membalas kecupan itu dan perlahan menyesapi ranum pria yang sedikit dilahapnya. Vee yang mendapat celah tidak mau menyia-nyiakan. Saling beradu dengan decapan yang begitu lembut yang mampu membuai keduanya.
Rosé menyusuri rahang Vee dan mengelus disana secara perlahan, disaat itu juga Vee semakin mengeratkan pelukan tangannya yang berada di pinggang Rosé. Tautan itu semakin kuat dengan sensasi menghanyutkan. Sampai pada akhirnya, kedua saling melepaskan dan membuka mata.
Tatapan saling beradu dan menyiratkan sesuatu; seperti 'jangan pergi lagi dan tetaplah disini'.
Pada akhirnya langit yang mulai meredup dengan sedikit cahaya matahari yang mengintip menjadi saksi akan aksi Vee dan Rosé yang saat ini melakukan hal intim itu lagi.
__ADS_1