
Sebelum angan Rosé menggapai jawaban dari James tentang kenapa wajah pria itu seperti orang yang habis dihajar masa, suara gemuruh bak suporter sepakbola tengah memenuhi ruangan, lebih tepatnya suara itu berasal dari empat pria yang tengah berada di depan pintu setelah tubuhnya terlahap habis.
Sebelum sempat mulut ke empat laki-laki itu terbuka untuk menanyakan lebih jauh, Rosé membentangkan jarinya ke depan menandakan stop untuk berbicara.
"Aku masih ingat kalian," ucapnya sembari menunjuk satu persatu wajah tampan depannya. "Aku sehat 'kan, aku baik-baik saja, lihat, tak ada yang salah 'kan dari tubuhku," ucapnya lagi, setelahnya membentangkan ke 10 jarinya ke depan muka. "Dan aku masih sangat ingat bagaimana caranya menghitung, jadi stop bertanya yang aneh-aneh, oke." finalnya di akhir kalimat.
"Tapi nona, kau 'kan belum menyebut nama kita," protes Seno dengan polosnya.
"Please stop, Seno," ucapnya dengan mata memicing.
Kini netra nya beralih pada dua pria bak bodyguard yang berada di barisan paling belakang. "Kakak, Joseph, maaf." ucapnya tulus dipenuhi dengan rasa penyesalan.
Tidak mendapatkan jawaban. Namun kedua pria itu justru semakin mendekat ke arah Rosé, senyuman menyejukkan itu juga muncul mewarnai wajah mereka—sangat tampan.
Mereka ber empat memang tampan, berbeda dengan pria bantet dengan wajah bonyok bekas tonjokan yang sedang duduk di tepian ranjang itu—sungguh mengenaskan bukan.
"Hei!!! Bang, aku duluan," protes Joseph saat dia kalah cepat merebut untuk merengkuh tubuh kurus milik Rosé, tak lupa tangannya itu menarik lengan kekar milik Candra.
"Aku ini kakaknya, mau apa kau!!!" talak Candra membeberkan kenyataan atas hak.
Akhirnya perdebatan tak berguna itu pun berlangsung begitu saja, Namun manik mata Rosé menangkap sesuatu yang sangat mengganggunya dan juga menggelitik hatinya.
Rosé berusaha mendudukkan dirinya dengan kaki yang menggantung dari atas ranjang, James yang tahu itu segera berdiri untuk memberi ruang agar Rosé tidak kesusahan untuk mendapatkan posisi yang nyaman.
"Lucky, ada apa denganmu?" tanya Rosé lembut pada seseorang yang tak bergerak sedikit pun namun kepalanya tertunduk dengan bahu bergetar menandakan dirinya sedang menangis saat ini.
__ADS_1
"Hiks, hiks..." hanya isakan saja yang menjadi jawaban, Rosé tidak tahan dengan keadaan ini, keempat pria itu pun juga menatap lekat seorang Lucky dengan kepribadian yang tak pernah ditunjukkan selama ini—cengeng.
"Sini, kemarilah," Pinta Rosé dengan lembut, sekali lagi dengan lembut.
Tungkai pria itu pun mendekat masih dengan isakan dan jemarinya pun tak tenang untuk saling meremat.
Rosé merentangkan tangannya. "Sini peluk, Nona," sekali lagi perintah Rosé pada Lucky, tanpa ragu pun pria dengan mata sembab itu sedikit membungkuh untuk merengkuh tubuh nona-nya.
"Waaaaaah, drama yang sangat menarik," Pekik Seno tak terima, begitu juga dengan Candra dan Joseph, mereka yang saling berebut, nyatanya Lucky lah yang mendapatkan jackpot—luar biasa.
Sandara yang sedaritadi menonton dari sofa yang sedang di dudukinya hanya mampu mengulum senyum dan terbawa haru, sangat bahagia bahwa putrinya mendapatkan orang-orang baik yang selalu berada disisinya.
Dari balik pintu sana tidak ada yang tahu bahwa sesosok pria tengah berdiri menyaksikan dan sedikit menguping cek cok yang telah terjadi, lega dapat melihat wanita yang paling dicintainya tersenyum begitu lepas dan juga gelisah karena menatap dirinya yang begitu lemah sehingga tidak mampu menentukan hidupnya sendiri.
Ingin sekali saat ini dirinya memeluk erat wanita yang sedang tertawa sampai terbahak-bahak dari balik pintu ini dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja walau dirinya pun sebenarnya tidak begitu yakin.
Malam hari tengah melahap habis warna cerah yang mewarnai bumi, bulan Sabit nampak indah membentang dari balik jendela berlapiskan kaca, kain menjuntai ke bawah bergoyang menandakan angin begitu bersahabat untuk tetap berterbangan.
Rosé sendirian, setelah bangun dari tidurnya selama seminggu penuh, ia berhasil mengusir semua orang untuk pulang dan beristirahat dengan tenang bersama kasur di rumah masing-masing, berkali-kali juga dirinya harus mengatakan bahwa aku baik baik saja, kalian jangan khawatir.
Rosé tersenyum getir, pria yang sedari pagi menari-nari diangannya tak kunjung muncul dihadapannya. Ooh bukankah ini adalah keinginan Rosé, ditinggalkan Vee bukankah keinginannya dari dulu!! Mungkin iya, namun Rosé membohongi dirinya sendiri bahwa sebenarnya dia sangat membutuhkan pria itu, rasa sesak itu semakin sakit dari hari-hari sebelunya.
Penjelasan yang cukup dimengerti bahwa selama seminggu ini dirinya menjadi perbincangan hangat di dalam maupun di luar rumah sakit, bahkan media sosial pun banyak mengunggah video aksi ikonik yang dilakukannya untuk menolong ibu yang tengah hamil waktu itu—bagaimana Rosé bisa tahu? Tentu saja ke empat pria tadi siang lah yang menjabarkan berbagai rentetan kejadian.
Kenyataan itu mampu membuat dirinya begitu pasrah apabila pria dengan nama tengah Kanesh itu berhenti untuk memperjuangkan dirinya.
__ADS_1
Lalu siapa yang tengah berani membuat video siaran langsung itu? Sungguh keterlaluan, namun tanpa Rosé tahu, pelaku yang sangat sembrono kala itu sekarang tengah kebingungan mencari pekerjaan sebagai perawat di rumah sakit lain, karena CEO utama Rumah sakit ini telah memecatnya hari itu juga.
Seakan angin dingin itu terasa menghipnotis, pandangannya sayu menahan kelopak mata yang enggan untuk terbuka, dirinya begitu terlena oleh kesejukan sehingga tak mampu lagi untuk terjaga—kini Rosé tidur dengan lelapnya.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang rawat inap VVIP itu menyibak lebar, lalu tertutup dengan pelan, menampilkan pribadi gagah dengan setelan jas dan kemeja putih, wajahnya sangat menawan walau hanya sebatas silhouette yang terlihat—bisa dibayangkan betapa tampannya orang ini.
Tentu saja, siapa yang bisa menolak wajah paripurna seorang Vee Kanesh Bellamy yang saat ini menatap lurus punggung wanita yang merengkuh lelap dalam tidurnya. Torsonya dengan pelan mendekat ke arah ranjang, tangannya melepas jas lalu menaruhnya di atas dudukan sofa tanpa menimbulkan suara.
Dengan berani, pria itu ikut limbung membaringkan badan disebelah tubuh ramping milik Rosé, tangan kanannya melingkar di perut wanitanya, lalu tangan kirinya menelusuk dibawah leher sebagai pengganti bantal.
Menghembuskan pelan nafas yang nyatanya mampu menggoyangkan beberapa helaian rambut dipucuk kepala, Rosé merasa terusik dan perlahan membuka matanya, sama seperti biasanya, tanpa terkejut sedikitpun dan hanya satu jawaban yang dapat dipastikan.
"Kau datang di mimpiku lagi, Nesh? Kau memelukku?" Berulang kali pasti seperti itu.
Tangan Rosé pun berpindah untuk menumpukkan ke atas lengan kekar milik Vee, memainkan gelang Gucci yang tak pernah absen dari pergelangan kokoh itu. Sedangkan Vee mengulas senyum geli, gemas sekali melihat wanita dalam rengkuhannya yang masih saja menganggap kehadirannya hanya sebuah mimpi, selalu saja seperti itu.
"Ini bukan mimpi, Alyne sayang." ucapnya serak dan sangat sexy, bersamaan itu jemarinya nakal mencubit pelan perut rata milik Rosé.
Rosé melotot terkejut, benar-benar terkejut sekali lagi, merasa tak terima, tangannya memukul punggung tangan Vee dengan pelan, pipinya sudah merah seperti terbakar. Bisa-bisanya Vee melakukan hal ini padanya—Rosé malu sekali andai pria itu tahu.
Dengan kekuatan super wownya itu, Vee membalikkan badan Rosé dengan hati-hati, memang harus hati-hati, karena tidak bisa dibayangkan jika infus yang tertancap di tangan kiri Rosé itu terlepas begitu saja.
"Masih menganggap ini mimpi?" Tanyanya lagi sembari mempererat rengkuhannya, bersamaan itu pula bibirnya juga tengah lancang mencuri ciuman sampai beberapa kali di pucuk kepala.
Rosé tak mampu berkata-kata, tau-tau kepalanya sekarang sudah mendarat dan mendelik nyaman di dada bidang milik Vee, jantungnya berpacu sangat cepat, iramanya pun sama dengan detak jantung yang tengah menempel bersimpangan dengan daun telinganya—milik Vee.
__ADS_1
Perasaan hangat dan nyaman menyelimuti mereka berdua, kedua ranum itu tanpa disadari masing-masing tengah tersenyum bersamaan. Sepertinya protein Myosin tengah sangat lancar membawa Endorfin menuju otak—terbukti perasaan bahagia menumpah ruah tanpa tau bagaimana hari esok menguji mereka lagi.