Back To You

Back To You
Chapter 104


__ADS_3

Rafa dan Hanna tidak memiliki banyak waktu untuk berada di rumah. Meskipun Hanna masih ingin berkumpul dengan ibu dan kakaknya, tapi sayangnya dia harus segera kembali ke Bristol. Waktu tiga minggu untuk pulang terbilang cukup lama bagi keduanya, dan tanpa terasa terlalui dengan begitu singkat.


Siang ini, Hanna berada di rumah orangtua Rafa. Mama Salma sedang sibuk menyiapkan beberapa masakan yang bisa dibawa oleh anak dan menantunya besok pagi. Ibu Hanna datang membantu untuk mempersiapkan segalanya. Beliau tahu jika Hanna belumlah pandai memasak, jadi dengan membawakan bekal makanan yang dapat bertahan lama adalah solusi yang tepat.


"Mama udah minta papa untuk beli alat vakum makanan, jadi nanti enggak kerepotan bawa rendangnya. Terus juga nyimpen difreezernya bakal lebih praktis, jadi rendangnya bisa tahan lebih lama. Nanti mama bungkusin per porsi deh ya biar gampang kalo mau ngangetin." ujar mama Salma yang baru saja selesai memasak rendang daging dalam porsi besar itu.


Hanna sedang memperhatikan kedua ibu-ibu yang tengah sibuk memasak dibantu oleh bi Yanti, sementara Rafa tengah menemani Abby bermain di ruang tengah.


"Itu juga ada cakalang rica sama sambel roa. Karena ini makanan pedes semua, kalian makannya harus dijeda. Mama cuma takut ntar kalian jadi sakit perut." Imbuh mama Salma.


"Hehehehe... iya, Ma."


"Ada lagi enggak yang mau dibawa? Nanti biar mama siapin dulu."


Hanna menggelengkan kepalanya, lalu disusul oleh ibunya yang menjawab pertanyaan mama Salma.


"Udah, Sal. Bawaan mereka udah banyak. Ntar kalo kebanyakan malah enggak bisa dibawa kan sayang. Hanna juga udah minta bawa beberapa bungkus bawang goreng."


"Aku cuma khawatir aja mereka enggak cocok sama makanan yang disana. Rafa aja jadi kelihatan kurus gitu, Hanna apalagi."


"Kalo Hanna emang segini badannya, Ma. Hehehehehe...."


"Pokoknya kalo kalian pengen makan sesuatu yang enggak bisa kalian temuin disana, kabarin mama deh ya. Nanti pokoknya mama usahain biar secepatnya kalian bisa makan makanan yang dipengen."


Hanna kembali menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah ibu mertuanya itu.

__ADS_1


"Dulu padahal mama Salma tuh enggak secerewet ini, Han. Kayaknya sejak punya Rayyan dia jadi cerewet begini." canda Widya yang malah mendapat serangan balik dari Hanna.


"Bunda juga begitu kan? Ayah kan sering bilang kalo sejak jadi ibu-ibu, bunda tuh cerewetnya langsung ke level maksimal."


Ketiganya sempat tertawa bersama beberapa saat, lalu kemudian hening karena teringat akan sosok ayah Hanna yang belum lama ini meninggal. Ibu Hanna bahkan terlihat menyeka air mata diujung matanya.


"Udaaahhh, kita jangan sedih mulu. Besok anak-anak mau berangkat kuliah lagi, jadi perasaannya harus happy ya. Biar besok kita enggak nangis kejer di bandara." Mama Salma memeluk sahabatnya itu dari samping, mencoba untuk kembali menormalkan situasi.


"Eee... Hanna mau main sama Abby aja deh ya."


Hanna beranjak turun dari stool bar yang sedari tadi didudukinya, berpindah ruangan ke ruang tengah, tempat Rafa yang sedang menemani Abby bermain. Lebih tepatnya menemani Abby bermain di ruang tengah karena Rafa malah sibuk bermain game online di ponselnya.


"Udah selesai masaknya, Han?" Tanya Rafa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Hm, udah. Tinggal nunggu dingin terus dimasukin plastik dan divakum aja." Jawab Hanna yang kemudian tak direspon lagi oleh Rafa.


Hal inilah yang membuat Rafa ingin segera kembali ke Inggris. Tentu saja karena ia ingin segera menemui Alita-nya dan menjelaskan segala kondisinya. Meskipun Alita belum resmi menjadi kekasihnya kembali, tetapi Rafa yakin jika kedekatan mereka akhir-akhir ini akan membuat mereka kembali bersama.


Senyum dibibir Rafa langsung mengembang saat sebuah panggilan telepon masuk. Itu nomer Alita, dan gadis itu kini menghubunginya terlebih dulu. Mungkin Alita tak bisa lagi menahan kerinduan terhadapnya karena dua mingguan ini mendiamkannya.


Melirik ke arah Hanna yang terlihat asik bermain masak-masakan dengan Abby, Rafa segera bangun dari posisi rebahannya dan pergi menjauh dari Hanna. Tujuannya adalah ayunan di taman belakang, mungkin jika mengangkat telepon dari Alita disini tidak akan terdengar oleh Hanna, mama dan juga ibu mertuanya.


"Hai. Jadi nomerku udah enggak diblok lagi sekarang?" Begitulah sambutan Rafa saat mengangkat telepon dari Alita.


Rafa tahu jika bisa saja Alita tersinggung dan marah akan pertanyaannya barusan. Tapi Rafa tidak akan memaksa Alita untuk menjelaskan alasannya. Karena yang terpenting sekarang adalah Alita tidak mengabaikannya lagi.

__ADS_1


"Maaf. Kamu... masih di rumah?"


"Hm, besok pagi baru mau balik ke Inggris. Udah kangen ya? Hehehehe...."


Terdengar suara helaan nafas dari Alita. Tapi Rafa terlalu percaya akan dirinya sendiri. Tentu saja ia mengira helaan nafas itu karena Alita terlalu malu untuk mengakuinya.


"Setelah balik ke Inggris, kalo kamu ada waktu, ayo kita ketemu. Kamu yang datang ke Glasgow, atau aku yang ke Bristol juga enggak masalah."


Rafa terkekeh, merasa senang karena ternyata Alita sebegitu rindunya pada dirinya. Sehingga tidak sabaran ingin segera mengajaknya bertemu.


"Enggak usah kamu minta begitu aku pasti akan ke Glasgow, Lit. Oiya, mau dibawain oleh-oleh apa? Kamu enggak kangen jajanan sini? Ah, kalo masakan mama? Besok aku bawain ke Glasgow deh ya. Mama bawain aku banyak masakan rumah."


"Eee... enggak usah. Aku udah dapet banyak oleh-oleh dari Indonesia beberapa waktu yang lalu."


Rafa menautkan alisnya. "Dari siapa? Abang kamu habis balik dari Indonesia?"


"Enggak. Dari... temen. Kamu... cukup dateng aja ke Glasgow, ada sesuatu yang mau aku kasih dan aku omongin ke kamu."


"Oh, oke. Nanti setelah aku sampai di Bristol, aku akan usahain untuk segera ke Glasgow. I miss youuuu...."


Sesaat setelah Rafa menyelesaikan perkataannya, Alita menutup panggilannya. Bahkan tanpa menjawab sepatah kata pun, dan membuat Rafa merasa kecewa.


"Kak...."


Rafa menoleh ke arah belakang, tempat Hanna tengah berdiri sekarang. "K-kenapa?"

__ADS_1


"Dipanggil mama buat gantiin tabung gas." Ucap Hanna yang kemudian kembali masuk ke dalam rumah.


Rafa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal itu. Sejak kapan Hanna berdiri disana? Apakah Hanna mendengar percakapannya dengan Alita barusan?


__ADS_2