Back To You

Back To You
Bersama


__ADS_3

"Tentu saja aku ingin tau, agar aku yakin dan kau bisa mendekat ke sini," jawab wanita itu, Rosé hanya mampu mengikuti alur yang diciptakannya.


Rosé mengabaikan volume orang yang hampir  penuh di atap bagian kiri, ia menampik banyak orang yang menyaksikannya, karena jujur, Rosé tidak dapat merasakan apa-apa sedari tadi, sosok anggunnya sudah diambil alih.


Perlahan Rosé membuka kemeja hitamnya dari bawah, seperti kejadian lampau saat dirinya pertama kali menunjukkan pada Daniel, mantan calon tunangannya, kali ini kedua kalinya Rosé melakukan itu lagi, menunjukkan pada wanita gila di depannya.


Rosé menunjuk bekas operasi pada perut bagian kanan bawahnya. "Kau lihat ini!! Seseorang menusukku lima tahun yang lalu, kau tahu apa yang terjadi, aku tidak bisa hamil ataupun punya anak sepertimu, sangat menyedihkan." Ucap Rosé lancar dan sangat yakin. "Jadi alasanku cukup bagus 'kan untuk ikut bersamamu?" imbuhnya.


"Kau bohong." tampak wanita itu lebih frustasi.


"Aku tidak bohong, apa masih kurang penjelasanku, aku seorang Dokter dan aku sudah tau pasti bagaimana kondisi tubuhku, biarkan aku menjadi wanita gila sepertimu yang menuntaskan segala tekanan dengan mengakhiri hidup." jawab Rose lantang sedikit teriak, Rosé sudah menumpahkan beberapa cairan bening dari manik matanya.


"Kau tidak boleh melakukannya, kau masih berhak hidup," wanita gembil di depannya mulai menenangkan Rosé.


"Kenapa aku tidak boleh sedangkan kau yang lebih sempurna boleh melakukan itu semua." jawab Rosé histeris.


Samar-samar terdengar gemuruh suara yang berasal dari helicopter tepat disisi gedung, terlihat jelas dari jangkauan orang diatap gedung, setidaknya ada dua buah yang terbang disana, oh jangan lupakan diantara burung bermesin yang melayang itu ada sebuah hamparan kain atau bisa dibilang jaring yang sepertinya sudah disiapkan untuk pertolongan pertama.


Mengabaikan suara itu, Rosé masih berisik tegang dengan wanita gembil di depannya, ingatkan Rosé untuk kembali ke kesadarannya, dia sudah keterlaluan, emosi melahapnya habis, seakan lupa dengan tujuan utamanya.


Wanita yang disebut sempurna oleh Rosé itu lambat laun emosi dengan predikat sempurna yang baru saja di dapat kan nya. "Aku wanita hina, tidak ada satupun yang peduli padaku, anak dari ayah ini pun akan menikah dengan orang lain, lalu apa artinya jika aku masih hidup."


"Kau sama sekali tidak dapat mengerti diriku, hentingan omong kosongmu Dokter, iya aku mengakui bahwa diriku gila, jadi biarkan aku mati saja." ucapnya lirih bahwa keputusannya sudah bulat.


Wanita itu memundurkan langkahnya ke belakang perlahan dengan tangan siaga memperingati untuk jangan ada yang mendekat.


"Aku akan mengakhiri hidupku dan calon anakku."


Rosé seakan dihantam ber ton ton baja, kesadarannya kembali seketika mendengar lirihan wanita yang hampir mencapai batas tepi gedung .


"Maafkan aku Dokter, sungguh aku minta maaf, seandainya aku masih kuat aku akan rela melahirkan anakku untukmu, aku juga sangat perihatin atas nasibmu, namun beban ini sungguh sangat berat," ucap wanita itu lagi dengan pilu.

__ADS_1


"Tidak, kumohon jangan," pinta Rosé dengan menggesekkan kedua telapak tangannya seraya memohon, penguluran waktunya sudah habis sepertinya, wanita keras kepala itu tetap pada pendiriannya.


"Kumohon, biarkan aku merawat anakmu, Hm, selamatkan dia, setidaknya ijinkan dia melihat dunia ini," Rosé tidak berhenti untuk memohon.


"Maafkan aku," tolaknya semakin mendekat di penghujung tepian gedung, sedikit saja sudah dipastikan wanita itu akan terjatuh dan bernasib naas.


Banyak pertolongan di lantai bawah sana, namun itu sangat beresiko mengingat wanita itu sendang mengandung, jarak yang terlalu jauh mungkin bisa mengakibatkan benturan yang dapat ber efek buruk pada kandungannya.


Diam-diam tangan Rosé meraih ponsel yang berada di saku belakang celana Jins-nya, menekan lama dial nomer lima—Seno. "Oo, showtime, kid." Ucapnya lancar diakhiri senyum puas, tak lupa matanya yang masih tidak putus memandang wanita di depannya.


Wanita yang masih dianggap gila oleh Rosé itu merentangkan tangannya, mencoba berbicara pada semesta bahwa ini adalah akhir hidupnya, meminta dukungan alam bahwa ini adalah keputusan yang sangat tepat.


Saat tubuh wanita itu hilang dari pandangan, semua orang yang ada di gedung teriak histeris, begitupun dengan Rosé, semua berhampur mendekati tepi, semua tatapan kawatir ada di setiap mata mereka, ada helaan lega sesaat setelah melihat tubuh wanita itu dibawa terbang oleh helicopter menuju atap sebelah kanan dimana disitu adalah tempat landasan helicopter yang sudah di sediakan oleh Rumah Sakit.


"Cepat ambil tindakan." seru salah satu Dokter.


Semua orang berhaburan meninggalkan tempat ini untuk menyiapkan pertolongan pertama, setelah semua menghilang dari pandangan wanita itu, Rosé mulai bersimpu merasa lega dan lelah karena menahan sesuatu yang amat terasa sakit sejak pertama kali mendapat notifikasi pagi tadi.


"ALYNE." teriak seseorang yang sejak sedari tadi memang menyelip diantara kerumunan.


"Aakkhh," ringis Rosé saat lengan kirinya di tarik keras sampai tubuh semampai itu berdiri. "Jam, hiks, sakit," rintihnya pada James yang sedang tersulut emosi, terbukti tatapan mautnya membuat Rosé semakin bergetar, lengannya yang digenggam erat itu terasa ngilu.


"Mana janji lo, Alyne." bentaknya lagi dengan emosi di atas ubun-ubun. "Apa ini yang lo maksud ingin cepat sembuh dan menikah? Sudah cukup lo ngelantur dan terlihat bodoh dengan kata-katamu itu." lanjutnya dengan nada yang teramat dingin.


Rosé semakin ketakutan dan bergetar. "Jam, hiks, ini sakit." rengeknya lagi, tangan kanannya menahan nyeri di perut bagian kanan sedangkan lengan kirinya semakin bertambah ngilu akibat cengkraman James yang semakin kuat.


"Jam, gue butuh pelukan lo, ini sakit," derai air mata pun telah menemaninya semenjak tadi, tak ada respon berarti dari James, seakan tuli dengan permohonan yang diminta oleh Rosé.


James dengan tega menghempas lengan Rosé. "Gue udah muak sama lo, Lyn, lo bener-bener udah keterlaluan dan keras kepala." pria sipit itu meremas kepalanya frustasi, matanya merah berkaca-kaca.


"James, gue mohon jangan kayak gini."

__ADS_1


"Lo diam dan berhenti merengek," bentaknya keras sampai-sampai Rosé terhenyak dengan tubuh bergetar, jangan lupakan wajahnya yang sudah pucat pasi, sedangkan tubuhnya sudah remuk dan semakin hancur.


Bugh.


Bugh.


Bugh.


"Aaaaa," Rosé berteriak bagai melihat adegan film action live depan matanya, James terpental agak jauh berkat bogeman dari seseorang.


"Kanesh, berhenti," Rosé berlari ke arah Vee yang sudah menguasai arena seperti pegulat international.


Tak mengindahkan teriakan dari Rosé, Vee semakin melanjutkan aksinya, pria itu meraih kerah James dengan satu tarikan, membuat pria yang lebih pendek darinya itu berdiri seketika.


Bugh.


Bugh.


Bugh.


Lagi, Vee melayangkan bogeman mentahnya tanpa adanya perlawanan, sedangkan Rosé yang berada di balik punggung itu tak kuasa menyaksikan itu semua, kakinya berlari kencang, tangannya meraih perut Vee untuk di peluk dari belakang.


"Kanesh, tolong berhenti, hiks, kumohon."


Vee lemas, mendengar permohonan lirih dari wanita ini membuat kesadarannya terkontrol lagi, dilepaskanlah James dan dibanting sekali lagi ke lantai, tangan dengan gelang merk Gucci itu lantas mengelus lembut punggung tangan Rosé yang melingkar di perutnya.


Dengan gerakan memutar, pria pemilik senyum box itu lantas memeluk Rose dalam dekapannya, mencium berkali-kali pucuk kepala wanita yang ada di depannya, sedangkan Rosé hanya sesegukan dibalik dada bidang pemberi kehangatan dengan tangan yang melingkar di pinggang semakin erat.


Pria yang menyandang gelar CEO di tempat dirinya berpijak ini begitu menyesal setelah tahu semua yang dialami wanitanya selama ini, terlalu pengecut untuk tidak mencari kebenaran dengan gigih, dalam hatinya bersumpah tidak akan lagi jauh walau hanya sejengkal dengan wanita yang berada dipelukannya.


"Alyne," panggil lirih Vee setelah disadarinya tak ada lagi isakan. "Lyn." panggilnya lagi karena tidak ada respon.

__ADS_1


Tangan yang semula melingkar di pinggang Vee itu melemas dan terlepas, wanita nya tak sadarkan diri, beberapa kali Vee mencoba mengguncang tubuh Rosé. Siapa tahu Rosé ketiduran, namun ia baru sadar, keringat dingin dan bibir pucat Rosé tertangkap di netra matanya.


Rose pingsan.


__ADS_2