Back To You

Back To You
Chapter 76


__ADS_3

"Sepi amat." Rafa bergumam saat memasuki rumahnya yang nampak sepi dan tidak ada yang menjawab salamnya. Padahal mobil mama dan papanya ada di rumah.


Rafa mendengus kesal saat menaiki tangga. Ia bahkan sudah berpikiran aneh-aneh mengenai mama papanya yang mungkin sudah 'ngamar' padahal masih sore begini.


Mentang-mentang sekarang Rayyan dan Eowyn sudah pindah ke rumah masing-masing, mama papanya itu jadi semakin gencar saja bermesraan di rumah.


Namun kemudian telinganya menangkap sayup-sayup percakapan dari mama dan papanya yang berasal dari ruang keluarga. Obrolan itu terdengar cukup serius, sehingga akhirnya Rafa memutuskan untuk menguping terlebih dulu.


"Kenapa Taufik enggak setuju kalo Hanna kuliah disana? Dia masuk karena program beasiswa kan? Harusnya Taufik enggak perlu khawatir soal biaya kuliahnya. Kita akan bantu kalo masalah mereka terkait biaya, kasian Hanna. Dia udah bekerja keras untuk dapetin beasiswa itu." ucap papa Adit.


"Bukan karena itu, Mas. Kalo soal uang, Taufik pasti mampu. Mas Adit tau sendiri sekarang bimbel dia cabangnya udah banyak banget."


"Terus?"


"Taufik cuma enggak ingin Hanna disana sendirian. Kejadian masa kecil Hanna itu masih ngebuat Taufik trauma, Widya bilang itu alasannya kenapa Taufik meminta Hanna untuk enggak menerima beasiswa itu."


"Cih, berlebihan." tepat setelah papa Adit selesai mencibir ayah Hanna, Rafa akhirnya menampakkan dirinya di depan pintu ruang kerja papanya yang terbuka lebar itu.


"Kamu udah pulang? Tumben jam segini udah pulang."


"Mama mah aneh. Pulang sore ditumbenin, pulang malem dimarahin." Rafa menggerutu sambil berjalan ke sofa dihadapan tempat mama dan papanya duduk.


"Mama kamu enggak aneh, kamu itu yang aneh." Papa Adit bersuara, merasa tidak terima jika istri tercinta dibilang 'aneh' oleh anak bungsunya itu. Sedangkan Rafa memutar bola matanya malas, papanya ini selalu saja menabuh genderang perang kepadanya.


"Kamu habis ketemu Hanna? Tante Widya bilang tadi kamu ngajak Hanna ke luar."

__ADS_1


Rafa menganggukkan kepalanya. "Iya, cuma ke kafe deket sana. Hanna bilang lagi pusing, jadi Rafa ngajakin dia keluar buat makan."


"Hanna cerita ke kamu?" mama Salma kembali bertanya.


"S-soal apa, Ma?"


Rafa tidak sepenuhnya berbohong, Hanna memang tidak bercerita kepadanya secara detail tentang masalah yang sedang dialaminya. Tapi Rafa mendengar semuanya dari percakapan mama dan papanya.


"Soal beasiswanya."


Rafa menggelengkan kepalanya, berharap mamanya akan menceritakan keseluruhan cerita Hanna kepadanya. Dan harapannya menjadi kenyataan, mamanya bercerita segalanya.


Permasalahan yang membuat Hanna hampir menangis saat di kafe tadi. Permasalahan yang membuat Hanna tidak bisa menceritakan seluruhnya kepadanya tadi. Permasalahan yang entah kenapa membuat Rafa terjaga semalaman, untuk memikirkan cara menyelamatkan Hanna dari persyaratan konyol yang diajukan oleh ayah Hanna.


......................


"Lama banget sih!" Rafa mengomel saat Hanna baru saja datang. Lelaki itu telah duduk disana hampir setengah jam dan Hanna baru saja datang. Padahal dari rumah Hanna ke kafe tersebut hanya beberapa meter saja.


"Kan udah dibilang aku lagi males keluar."


Rafa mengamati Hanna yang nampak kusut siang itu. Bukan hanya terlihat tidak seceria biasanya, mata Hanna juga terlihat sembab. Mungkin gadis itu menangis semalaman karena gagal mewujudkan cita-citanya untuk berkuliah di luar negeri.


"Gue udah denger ceritanya dari mama. Semuanya, cerita versi komplit."


Ucapan Rafa barusan membuat Hanna akhirnya mendongak dan menatap Rafa. "Cerita... soal apa?" tanya Hanna dengan lirih.

__ADS_1


"Cerita soal masalah elo-lah, Han. Soal kenapa bokap lo enggak setuju lo kuliah disana dan soal... persyaratan yang bokap lo ajuin kalo lo mau kuliah disana."


"Ya gitulah, kak. Aku enggak mau bahas soal itu lagi." Dengan lemas Hanna menyandarkan kepalanya dimeja.


"Terus lo nyerah gitu aja, Han? Lo enggak mau memperjuangkan cita-cita lo buat kuliah dan kerja disana?"


"Mau berjuang model gimana lagi, kak? Kak Rafa tau sendiri kan kalo aku mau tetep kuliah disana syarat dari ayah apaan."


Rafa terdiam sejenak. Setelah mengumpulkan keberaniannya, akhirnya ia mengutarakan keputusan yang telah ia ambil.


"Nikah sama gue, Han. Dengan gitu lo bisa ke Inggris untuk ngewujudin cita-cita lo."


Hanna langsung menegakkan duduknya, menatap Rafa dengan tatapan tak percaya. Hanna memang dekat dengan Rafa sejak dia duduk dibangku kelas delapan, Rafa pulalah yang selalu dia andalkan untuk segala permasalahan yang dihadapinya selama ini. Tapi dia tidak menyangka jika Rafa akan mengorbankan dirinya untuk permasalahannya kali ini.


"Kalo bercanda ada batasannya juga kali, Kak." Hanna mencoba menganggap angin lalu tawaran yang Rafa berikan padanya tadi, tapi tampaknya serius dengan keputusannya.


"Gue enggak mungkin ngangkat elo jadi adik gue, Han. Om Taufik enggak akan dengan mudahnya ngelepas lo begitu aja ke gue untuk jagain elo. Jalan satu-satunya cuma nikah, Han. Gue juga akan lanjut kuliah disana, atau... gue bisa cari kerjaan disana."


"Crazy!" Hanna menggumam sambil terus menggelengkan kepalanya.


Dia sungguh tidak berharap ditempatkan pada situasi seperti ini. Masalah penolakan ayahnya saja sudah membuatnya pusing, malah sekarang ditambah dengan ajakan Rafa untuk menikah agar dirinya bisa kuliah di Inggris.


"Ini tawaran yang bagus buat lo, Han. Seenggaknya... lo udah kenal gue sejak kecil, lo tau persis gimana gue. Daripada elo terima syarat perjodohan dari bokap lo, lo enggak takut nikah sama orang yang belum pernah lo kenal sama sekali?"


Hanna memijat pangkal hidungnya, kepalanya benar-benar pusing sekarang. Jika tahu Rafa mengajaknya bertemu untuk membicarakan hal ini, lebih baik tadi dia di rumah saja dan menyibukkan diri dengan belajar ikhlas untuk tidak kuliah di Inggris.

__ADS_1


"Gue bilang gue bisa bantu lo, Han. Cuma ini caranya. Gue akan bilang mama papa sepulang dari sini. Percaya sama gue kalo ini tawaran terbaik, gue... gue keberatan kalo lo harus nikah dengan orang pilihan om Taufik."


__ADS_2