
Perdebatan kecil sedang terjadi di pagi hari yang cerah, ditemani kicauan burung saling bersautan yang singgah di ranting pohon tepat diluar sana menambah kesan betapa ricuhnya keadaan.
"Aku akan menikah dengannya." entah permintaan ataupun pernyataan tidak ada yang tahu pasti, pria bersurai hitam yang masih lengkap dengan jas kerjanya karena belum sempat mandi di pagi hari ditambah tadi malam ketiduran di ranjang bersama sang mantan itu sedang menatap dan menantang lawan bicara.
"Dengan anakku apa dengan tunangannmu, Vee? Yang jelas kalau ngomong," tanya wanita paruh baya dengan santai pun memandang Vee geli.
Sandara, pagi-pagi dikagetkan dengan ulah dua manusia yang tergeletak mesra diatas ranjang dan lebih parahnya mereka berpelukan—seperti suami istri saja. Namun anehnya Sandara tidak marah, hanya saja jemari lentiknya langsung menjewer telinga lebar milik pria kucel itu, lalu menggeretnya keluar kamar untuk meminta penjelasan. Sedangkan Rosé masih terlelap dalam mimpinya.
Belum sempat Sandara mencerca berbagai pertanyaan mengenai serangkaian peristiwa yang baru saja tersuguh hangat bagai sarapan, seakan alam membela Vee dengan apiknya, pemandangan botol-botol kaca maupun kaleng minuman beralkhohol berserakan di lantai kamar putrinya sebagai bukti konkrit, sudah jelas sekali sebagai ibu dari putrinya, dia sangat tahu dengan apa yang terjadi tadi malam.
"Tentu saja Alyne lah, mom." jawab Vee terlewat yakin dan angkuh, sengaja dilakukan karena merasa menang akan perjanjian di jaman lampau dengan wanita tua itu.
Sandara tampak membolakkan matanya, namun sedetik kemudian berdehem mencoba biasa saja, berhadapan dengan Vee itu bukan hal yang sepele menurutnya.
"Ck, kau ini tidak punya pendirian, seorang pria itu jangan suka menyakiti perempuan Vee."
"Tapi anak mommy menyakitiku," timpal Vee langsung.
"Dia punya alasan, Vee."
"Kalau begitu, aku juga punya alasan." Vee kekeh tidak mau kalah.
Sandara kembali terhenyak, memang benar sekali yang dikatakan mantan calon menantunya itu, Rosé telah meninggalkan Vee tanpa jejak sedikitpun. Namun sebagai orang yang dapat merekam segala kejadian demi kejadian yang di alami putrinya, Sandara tak dapat menyalahkan Rosé begitu saja. Menurutnya tetap dirinya lah yang salah karena tidak becus menjaga putri satu-satunya.
Sandara menghela nafas berat, menyesap teh sebagai peralihan sebelum memberi tanggapan. "Lalu bagaimana dengan tunanganmu? Jangan menganggap masalah ini sepele, kau sudah dewasa, pikirkanlah matang-matang setiap keputusanmu." nasehatnya kemudian.
"Aku baru tahu tunanganku itu seorang pengancam, dan parahnya dia mengancam Alyne." seperti seorang anak yang rutin melaporkan daily activity-nya kepada orang tua, begitu lah Vee tanpa beban mencurahkan betapa kecewanya perlakuan Sena terhadap Rosé.
Sebenarnya Sandara sangat penasaran, dalam konteks apakah tunangan Vee sampai mengacam putrinya. "Kau juga harus tau 'kan alasannya kenapa? Mommy tidak mau Alyne di cap sebagai perusak hubungan kalian."
Vee nampak berpikir, menimang-nimang apakah seuntai kalimat yang tergantung di otaknya perlu disampaikan. "Mommy, masih ingat janji kita 'kan?"
Sandara tersenyum tipis. "Masih," jawabnya singkat.
Sebenarnya dalam hati Sandera masih sangat berharap banyak putrinya bisa bersama dengan pria frustasi didepannya ini. "Tapi sudah tidak berlaku karena kau sudah bertunangan dengan orang lain," lanjutnya walaupun dengan berat hati.
Vee tampak menunduk seraya mengusap surainya gusar. "Janji tetap janji, mom. Alyne sudah kembali, itu artinya mommy harus memberi ijin. Aku akan mengejarnya, tidak peduli apapun. Tolong," pintanya memelas, dia masih menjunjung tinggi kehormatan, tanpa ijin dari ibu orang yang dicintainya, bagaikan memikul berat jutaan batu di pundaknya.
"Aku sudah menahannya sangat lama. Aku sudah menuruti permintaan mommy waktu itu, tolong jangan siksa aku," mata memerah, dadanya terasa sesak, pria itu limbung bagai kapas yang terbang ke sembarang arah tak tahu tujuan karena hanya menuruti kemana angin membawanya.
Sandara merasakan nyeri sekali di dadanya, sangat menyakitkan melihat Vee mengulang adegan lama, sudah bukan pemandangan asing lagi baginya menyaksikan pria tampan didepannya ini selalu dan selalu memohon padanya. Seperti dulu sekali, Vee bisa saja menyusul kekasihnya Rosé yang tanpa kabar itu jika saja sang ibu tidak turun tangan, menolak tak mengijinkan pun dengan janji manis akan menyerahkan putrinya seutuhnya pada Vee setelah suatu saat Rosé bisa kembali lagi ke Indonesia.
__ADS_1
Sandara menyerah, permasalahan cinta anak muda jaman sekarang memanglah sangat rumit. "Baiklah, selesaikan urusan kalian sampai beres," keputusan akhir pun mencetus mulus.
Vee sontak mengangkat kepalanya yang sedari menunduk, berdiri berjingkat dan meloncat lalu mencium ke dua pipi Sandara. "Aku mencintaimu, mom," diakhiri kekehan walau mata masih memendam cairan tertahan.
...****************...
Sepeninggal Sandara dari sini, langsung saja pria penuh harapan itu melenggang untuk menuntaskan masalahnya bersama mantan kekasih atau bisa dibilang masih kekasihnya karena pada kenyataannya tidak pernah ada kata putus dari keduanya, hanya saja hilang tanpa ada kabar. Namun seakan tertimpa kenyataan yang ditunggu sedari tadi masih saja tenggelam menyelami mimpinya.
Vee menghentak-hentakkan punggunnya pelan pada sandaran pintu bagian dalam kamar milik Rosé, memonyongkan bibirnya pun bersendekap melipat tangan sebagai pelengkap untuk menghabiskan waktu menunggu sang empu pemilik kamar.
Sedari tadi ponsel Vee berdering tanpa henti, sudah pasti tahu siapa dalangnya. Seseorang yang baru diketahui memiliki sifat diluar dugaan, teramat sangat kecewa yang dirasakan oleh Vee. Ia tahu, pun sangat kentara dilihat dari mata telanjang bahwa tunangannya itu sudah jatuh yang dalam pada dirinya, namun dengan atas nama cinta tidak seharusnya melakukan adengan memalukan dan murahan hanya untuk mempertahankan prianya.
Menggeliat, Vee berhenti dari drama penghentakan punggung dengan pintu, setelahnya menghampiri Rosé yang masih setengah sedar, mata keduanya pun bertemu sesaat setelah Vee berada tepat di depan Rosé, sedangkan wanita kumel itu hanya mengerjap bingung, memilih antara percaya apa tidak, atau masihkah dia berada di alam mimpi.
"Sudah sadar?" intrupsi Vee menyelonoh masuk bayangan.
Kendati tersadar, wanita itu pun semakin yakin bahwa dirinya masih berada di dalam mimpi. "Kanesh," ucapnya girang bersamaan mendudukkan diri. "Mimpi di pagi bolong, dan kamu datang lagi!!" imbuhnya masih dengan cengiran bodoh dan tawa manis.
Bukan Rosé yang mencium, bukan, melainkan Vee yang berusaha membungkuk untuk penyatuan kedua ranum itu.
"Benarkah hanya mimpi?" tanya Vee datar setelah ciuman sesaat itu dilepas, Rosé masih diam menimang-nimang apa yang baru saja terjadi.
"Yakin hanya mimpi?" tanya Vee untuk kedua kalinya, Rosé sedikit tersentak, seolah ada sepercik kesadaran yang muncul dalam benaknya.
Lagi, tak hanya menempel, Vee lebih berani dari sebelumnya, deretan putih giginya yang rapi itu dengan lancangnya menggigit bibir bawah wanita yang detik ini juga melotot terlampau kaget dan baru sadar ini adalah nyata, bukan mimpi.
Bergerak mundur dengan cepat lalu membalikkan badan, menyibak selimut, berlari kencang turun dari ranjang menuju pintu utama kamar, sampai langkahnya terhenti karena disadari tangannya tak berhasil menggoyangkan knop pintu dengan harapan bisa kabur dari ruangan ini.
Vee menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum dengan kaki melangkah pelan ke arah wanita yang sedang kebingungan diatas kepalang.
"Cari ini?" dengan tatapan inoncent Vee memamerkan benda keramat yang amat dibutuhkan Rosé saat ini. "Tidak akan aku berikan padamu." secepat kilat Vee mengantongi di saku celananya.
"A-apa yang kau lakukan, Nesh? Kenapa kamu ada disini?" tanya Rosé terbata, matanya pun terpendar kemana-mana, tidak berani menatap langsung mata kelam pria di depannya, sangat yakin dirinya saat ini sangat kebingungan, terlebih morning kiss dadakan itu membuat jantung Rosé seakan melompat dan jatuh dari jendela kamarnya.
Vee mengambil sesuatu dari saku celana kirinya. "301292," ucapnya sekaligus mengutak atik sebentar. "Jelaskan padaku?" tanpa ragu dan penuh penekanan dari dua kata gabungan membentuk sebuah kalimat tanya terlebih memeritah.
Benda plasma berwarna merah milik Rosé lah yang saat ini berada di depan kedua mata wanita itu, pesan yang seharusnya dihapus seperti biasanya terlupakan sehingga membuat keadaan mencekam seperti ini, tak menyangka dan terduga, sampai membayangkan pun tidak ada, Rosé sangat tercengang sampai tak bisa berkata-kata.
"Ok, tidak mau jawab?" tanya Vee dengan tatapan tajam menembus jantung.
Rosé kebingungan setengah mati, memberanikan diri merebut ponselnya. "Kenapa kamu membobol privasi ku?" tanyanya lantang menutupi kegugupan.
__ADS_1
"Kamu masih mencintaiku?"
"Tidak."
Pertanyaan spontan dari si pria dan jawaban spontan dari si wanita membuat keduanya diam sementara.
"Jangan bohong."
"Aku tidak bohong, cepat berikan kuncinya, aku mau keluar."
Vee menyondongkan tubuhnya, menyudutkan Rosé yang saat ini terpojok di depan pintu, tangan pria itu tak kalah diam, direbutlah kembali ponsel dari tangan Rosé dan membuangnya asal tanpa belas kasihan.
"Kanesh, apa yang kau lakukan!!!"
"Menciumu," jawab Vee setelah mencium Rosé lagi.
Jemari Rosé saling mengepal, keadaan sudah semakin gawat saja. Takut setengah mati, berusaha menghindari namun kenyataan pahit menghampiri.
"Kanesh, berhenti." pintanya tegas memberanikan diri menatap mata tajam Vee.
"Apa kau masih mencintaiku?"
"Aku bilang tidak."
Lagi, Vee tidak puas mendapatkan jawaban itu. Sedangkan Rosé baru saja meloloskan cairan bening dari pelupuk mata. Vee tidak peduli, pemandangan ini sangat indah, berada sedekat ini sangat menyenangkan terlebih wanitanya dalam keadaan sadar tidak seperti waktu-waktu sebelumnya.
"Apa kamu masih mencintaiku?" Tanpa bosan Vee tetap mencerca pertanyaan yang sama.
Kali ini Rosé hanya diam, tatapannya datar, matanya masih setia meluncurkan bulir-bulir kristal, mungkin itu adalah reaksi otomatis dari mulutnya yang berdusta sedari tadi, hatinya ingin bilang cinta, tapi keadaan tak mengijinkan.
"Rahasia apa yang kamu sembunyikan dariku?" Vee melonggarkan jaraknya, masih tak peduli dengan keadaan Rosé yang tertekan pun menjejalkan pertanyaan yang terambang sedari malam.
"Bagaimana Sena bisa tau sedangkan aku tidak, Alyne, apa rahasiamu sampai kamu mau menuruti kemauan Sena untuk menghindariku?" Tanya Vee melembut.
Rosé stagnam tak mau menjawab, dia masih tetap tidak siap memberi tahu rahasia terbesarnya pada pria yang paling dicintainya.
"Menikahlah denganku, aku akan membatalkan pertunanganku dengan Sena."
"Apa kau gila?" Rosé melotot serta mengupat heboh. "Jangan lakukan itu, menikahlah dengan Sena. Aku tidak mencintaimu, sungguh."
Lagi, Vee melakukan ciuman lagi, entah apa yang ada dalam otaknya saat ini. "Tapi aku mencintaimu, sungguh." ucap Vee di sela ciuman yang lebih menuntut itu.
__ADS_1