
Setelah kejadian mengejutkan di kediaman Niko, mereka berakhir untuk menjelaskan bagaimana situasinya bisa kebetulan seperti itu. Dilanjutkan dengan Niko yang menjelaskan kepada istri, ibu dan juga Vee bagaimana Rosé dulu menyelamatkannya dengan mendonorkan sumsum tulang belakang yang dimiliki wanita itu secara cuma-cuma.
Sedangkan Dera dan Vee, keduanya menjelaskan bahwa Rosé adalah mantan kekasih Vee yang sudah hilang bagai ditelan bumi sejak tujuh tahun yang lalu.
Dunia memang agaknya suka mengajak bercanda, mungkin itulah yang dirasakan Rosé saat ini. Niat hati ingin menghindar dari Vee, tapi pembuat skenario justru memutar balikkan keadaan menjadi serumit ini.
Rosé juga merasa sangat bodoh, nama belakang Niko dan Vee adalah Bellamy, kenapa ia tidak pernah berpikir jika keduanya adalah saudara. Namun jika dipikir ulang, banyak sekali nama orang di Indonesia yang memiliki nama belakang yang sama dan bukan saudara.
Saat ini ketiga wanita berbeda usia itu tengah menyibukkan diri untuk membuat makan malam, ketiganya kompak dan siapa sangka Hana dan Rosé sangat cepat akrab, dengan tangan yang sibuk mengelola berbagai macam makanan namun mulut masing-masing saling melemparkan beberapa guyonan yang terkadang tidak lucu sama sekali.
"Alyne, apa kau mau rendang?" Dera datang menawari Rosé dengan senyuman.
Rosé yang sedang memotong buah pun berhenti sejenak, menoleh dan membalassenyum kepada wanita paruh baya itu. "Mommy, apa perlu menawarkannya jika itu soal rendang?" Tanyanya dengan mengerutkan bibir merajuk.
Hana yang melihatpun tidak pernah menyangka bahwa jarak tujuh tahun yang memisahkan mereka sama sekali tidak membuat canggung keadaan antara keduanya.
Sedangkan Dera sedniri yang mendengarkan protes dari Rosé hanya bisa terkikik, ia sangat tahu bahwa wanita mantan kekasih dari putra keduanya itu sangat menyukai rendang, sama persis dengan menantunya, yaitu Hana.
"Ini makan, mommy kasih sedikit nasi." Dera memberikan semangkuk rendang lalu dengan sigap pun Rosé segera memakannya.
"Bagimana? Enak?" Tanya Dera mengusik ketenangan Rosé yang tenggah tenggelam dengan rasa rendang yang pernah menjadi kefavoritannya dulu.
__ADS_1
Rosé mencoba menelan suapan ke tiganya itu dengan tenang. "Enak sekali, Alyne yakin ini buatan nenek Saroja!!"
"Bagaimana kau tau, Rosé?" sekarang giliran Hana yang bertanya bersamaan membawa kuah yang akan di hidangkan di meja.
Rosé sontak saja memandang Hana. "Aku sangat yakin kak, rendang buatan Mommy tidak seenak buatan nenek, dan ini enak banget, aku yakin seratus persen ini buatan nenek Saroja.” jawabnya polos merasa tidak berdosa karena secara tidak langsung menyindir wanita paruh baya yang sedang menata piring disebelah kiri Hana.
"Hwahahhahhaaa.....astaga senang sekali aku hari ini." Hana tertawa histeris dan spontan, saking terbahaknya dia sampai menungging memegang perut yang sudah terasa ngilu akibat respon cepatnya itu.
"Ya Tuhan, hahaha mama lihat, akhirnya aku punya sekutu hahaha, ya Tuhan aku masih ingin tertawa melihat mama terinyimidasi, tapi, oke cukup, Hana nggak mau dosa." Hana masih dalam tertawanya sampai air mata-nya keluar merembes sedikit, ia adalah definisi menantu yang sedikit usil, tapi Dera sangat menyayanginya.
Sedangkan Rosé masih merasa tidak bersalah, menggaruk-nggaruk rambutnya dengan satu jari ditemani cengiran menyebalkan sehingga mempertontonkan gigi rapinya dan itu membuat Dera merajuk.
"Kalian berdua sangat menyebalkan," Dera memprotes seperti anak kecil, semoga Dera tidak mengalami fase remaja kedua.
Hana tidak menyangka mertuanya itu ternyata punya lawan adu mulut yang setimpal, bahkan kedua anaknya saja kalah apabila harus beradu mulut dengan ibunya, tidak tahunya ada Rosé yang bisa membuat Dera terdiam tanpa melawat depatah kata, mertuanya itu hanya merajuk saja.
"Kamu tu ya, tiga hari lagi nenek Saroja kesini, mampus kamu Lyn. Biar tahu aja hukuman apa yang patut kamu terima saat nenek sampai sini." ancam Dera yang sontak membuat Rosé melotot karena syarafnya mendadak tegang, oh tidak, Nenek Saroja adalah ancaman dan Rosé belum siap menghadapinya.
"Waah, beneran ma?" Berbeda dengan Hana yang merasa senang akibat berita tersebut, wanita itu pun memberi respon dengan antusias.
"Hum, tadi pagi sekali nenek telepon." Jawab Dera ringan sembari melihat Rosé yang masih berkelana dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Tak begitu lama Rosé memincing sebal sembari melirik Dera. "Alyne yakin banget, pasti mommy 'kan yang ngasih tahu nenek!!!" curiganya menuntut penjelasan, sedangkan Hana hanya memincingkan mata tidak tahu maksud dari pertanyaan Rosé.
"Mommy kan udah bilang. Itu termasuk hukuman buat kamu!! Ingat 'kan kemaren mommy bilang apa?" Dera berkata penuh dengan kemenangan, dan tetap saja Hana masih dalam rasa penasarannya, Hana lebih asyik untuk menyimak saja.
Satu lagi kenyataan yang baru saja membuat Hana merasa menjadi orang tidak tahu apa-apa tentang keluarga suaminya itu, memang semenjak Hana kenal dengan keluarga Bellamy, mereka sama sekali tidak pernah membicarakan tentang mantan kekasih Vee—mungkin ada alasan tertentu.
"Sumpah ya, mommy curang, rencananya 'kan Alyne mau ke Bandung nengok nenek." Rosé kecewa karena keduluan oleh nenek dari Vee itu, padahal ia ingin sekali memberi kejutan untuk Saroja yang sudah dianggap neneknya sediri.
Kenyataan Rosé yang sudah tidak memiliki kakek dan nenek membuatnya bisa sangat dekat sekali dengan Ibu dari ayah Vee itu.
"Benaran, Rosé?" Hana kali ini harus ikut campur, karena dia sangat lama tidak mengunjungi nenek dari suaminya.
"Iya kak, tapi mommy menggagalkannya!!" lagi-lagi Rosé kecewa dengan mengerutkan seluruh komposisi wajahnya.
Perdebatanpun berakhir karena waktu makan malam telah tiba, acara makan malam sangat hikmat dan penuh dengan canda tawa, tidak tahu kenapa uforia malam ini begitu menyenangkan untuk semua penghuni di rumah ini, termasuk Rosé yang baru saja pindah siang tadi. Sampai makan malam berakhir, semua pamit untuk beberes karena semua merasa lelah.
Vee memutuskan untuk membawa mobil Rosé kembali ke apartemen sekaligus mengantar Niko ke bandara karena akan melakukan perjalanan ke Jepang untuk lima hari kedepan. Dera sudah berada di kamarnya untuk istirahat, karena putra bugsunya melarangnya untuk tidur terlalu malam.
Di ruang tengah itu tinggal Hana dan Rosé yang baru saja mengantar kepergian Niko dan Vee sampai pintu depan, karena undara malam ini begitu dingin keduanya juga segera menginginkan untuk bergelut manja dengan selimut.
"Kak," panggil Rosé penuh resah kepada Hana yang hampir saja menenggelamkan tubuh mungilnya di balik pintu kamar yang kebetulan bersebelahan dengan kamar milik Rosé.
__ADS_1
"Kau tenang saja Rosé, kau bisa mengandalkanku," ucap Hana menenangkan.