
Seminggu berlalu sejak kejadian yang tidak mengenakkan seperti Hanna. Sesuai perkataannya, Rafa meluangkan waktunya untuk mengantar jemput Hanna. Rafa bahkan rela menggeser waktu istirahatnya dan memakan siang bekal mamanya di mobil demi bisa menjemput Hanna tepat waktu. Tentu saja papanya tidak mengetahui akan hal ini, karena ini hanya rahasianya dengan pak Hans.
Siang ini turun hujan yang cukup deras. Rafa baru saja menyelesaikan makan siangnya saat ponselnya berdering dan menampilkan nama Hanna dilayar.
"Kak Rafa, mobilnya tolong majuan dong. Biar aku enggak kehujanan banget." ucap Hanna saat panggilannya baru saja tersambung.
"Hm, tunggu disitu bentar."
Rafa segera merapikan kotak bekalnya dan menaruhnya dijok belakang. Barulah setelah itu Rafa memajukan mobilnya dan berhenti di depan pagar sekolah Hanna. Dengan tas yang digunakan untuk menutupi kepalanya, Hanna berlari menuju mobil Rafa.
Dengan gerakan sigap, Rafa langsung mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap tangan serta wajah Hanna yang sedikit basah.
"Kasian, anak cantik-cantik keujanan." ucap Rafa sambil mengusap wajah Hanna dengan tisu.
"Iya nih, lupa banget tadi bawa payung lipat."
"Iya nih-iya nih, emangnya kamu cantik?" seloroh Rafa sambil mencubit pipi Hanna dengan gemas.
"Cantiklah, kan kak Rafa sering bilang gitu ke aku." jawab Hanna dengan lidah yang terjulur ke arah Rafa.
"Ada jaket gue tuh dibelakang, lo pakai aja biar enggak dingin."
"Thank you, kakak ganteng!"
Rafa terkekeh, lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Hanna. "Si Wildan beneran jadinya pindah ke Jogja?"
Hanna menganggukkan kepalanya. "Enggak. Cuma sampai bulan depan disana, katanya mau liburan dulu."
"Cih, liburan. Tau-tau kecantol cewek sana aja ntar jadi lupa sama pacarnya."
__ADS_1
"Hahahahaha... emangnya kak Wildan sama kayak kak Rafa?"
"Udah, diem aja lo bocil." Rafa mengusak rambut Hanna. "Temen lo gimana? Masih berani deketin elo?"
Hanna menggelengkan kepalanya. "Emangnya kak Rafa ngapain dia sih? Dia bisa sampai kicep gitu."
"Gue samperinlah dia."
"Eh? Seriusan? Kapan kak?"
"Hm... dua hari setelah kejadian. Gue dateng sama William dan sodaranya William yang polisi. Gue bawain rekaman dari dashboard gue, ternyata dia waktu itu pake mobil mamanya. Kena pukul kan dia sama papanya, yaudah habis itu trus gue suruh tanda tangan surat pernyataan bermaterai. Ada dilaci dashboard tuh."
Hanna langsung membuka laci dashboard itu dan meraih amplop cokelat yang berisi surat pernyataan yang dimaksud oleh Rafa.
"Iihhh... kak Rafa hebat banget dah bisa bikin dia kapok dengan cara begini." Hanna memuji Rafa dengan mengacungkan kedua jempolnya ke arah Rafa.
"Bukan gue yang punya ide itu, tapi Alita. Dia bilang jangan pake kekerasan, kalo dia enggak bilang gitu, udah gue hajar tuh dia."
"Makanya, lain kali lo harus hati-hati kalo nyari temen cowok. Udah gue bilang lo itu cantik, jangan asal aja kalo milih cowok. Tapi, lebih bagusnya ya lo enggak usah pacaran. Belajar aja, fokus buat dapetin beasiswa sekolah di luar."
"Kak Rafa kalo nyeramahin gini udah kayak ayah aja. Enggak usah dicerewetin gini juga aku tau kali kak harus gimana. Aku tau waktuku enggak banyak, sisa setahun lagi untuk bisa ikut test seleksi kuliah di luar. Kak Rafa doain aku ya, biar aku bisa kuliah di luar negeri."
"Hm, kalo berhasil jangan lupa traktir gue." Rafa kembali mengusak rambut Hanna.
"Jangankan traktir makan kak, nanti kalo aku udah kerja dan punya penghasilan banyak, aku bakal sering kasih hadiah deh ke kak Rafa. Karena dari aku SMP kak Rafa setia banget anter jemput aku."
"Awas aja kalo bohong!"
......................
__ADS_1
Dan setelah kejadian yang menimpa Hanna itu, Rafa pun memantapkan diri untuk kembali mendekati Alita. Meskipun ia tahu bahwa perjuangannya kini tidaklah mudah karena ada Theo sebagai saingannya, tapi Rafa telah belajar. Dulu ketika pertama kali mendekati Alita saja ia bisa lolos ujian. Sekarang dengan banyaknya kenangannya bersama Alita, ia yakin akan bisa mengalahkan Theo karena dialah yang lebih mengenal Alita.
Setelah mengantar Hanna dan kembali melanjutkan pekerjaannya di kantor, kini Rafa tengah bersiap untuk bertemu dengan Alita. Semalam, Rafa mengirimkan pesan kepada Alita yang berisi mengajak gadis itu untuk jalan-jalan dan makan malam bersama.
Selesai membereskan meja kerjanya, ia buru-buru menaiki lift menuju ruangan papanya.
"Papa belum pulang kan?" tanya Rafa pada Anita, sekertaris papanya.
"Masih ada di ruangannya bersama pak Hendra."
Rafa mengangguk, lalu berjalan mendekati pintu ruangan papanya dan mengetuknya.
"Ada masalah apa, Fa?" tanya papa Adit yang saat itu terlihat sedang membereskan tas kerjanya.
"Rafa numpang mandi di kamar mandi papa boleh ya?" tanya Rafa dengan senyum tanpa dosa sembari menggoyang-goyangkan tas kecilnya yang berisi pakaian ganti dan peralatan mandinya.
Papa Adit dan pak Hendra tampak melongo dengan apa yang baru saja Rafa ucapkan. Tapi karena Rafa sudah ada disini, dan dia kan juga anaknya yang berhak menggunakan fasilitas pribadi di kantornya, papa Adit pun mengijinkan.
"Kenapa mandi disini? Udah enggak mau pulang ke rumah kamu ya?" ucap papa Adit dengan nada sarkastik. Tapi Rafa tidak terpancing, ia justru menjelaskannya dengan panjang lebar dan senyum yang terus tersungging.
"Papa kok ngomongnya gitu? Kalo aku enggak balik ke rumah, mama bisa heboh nanti Pa karena kangen sama anak bungsunya yang ganteng ini. Rafa itu mau ketemu seseorang, Pa. Hm... ketemu cewek, jadi kan harus rapi, wangi, biar dianya mau nempel gitu sama Rafa. Papa kayak enggak pernah muda aja sih."
Rafa sengaja menyenggol lengan papanya, yang membuat papanya itu refleks melotot ke arahnya. Papa Adit juga tidak mau ambil pusing dengan urusan Rafa, toh juga anaknya hanya menumpang mandi di ruangannya.
"Udah mulai aktif lagi ternyata kamu ya." kini gantian papa Adit yang menyentil kening Rafa. "Pak Hendra enggak usah anterin saya ke bawah, tolong tunggu aja di depan sama Anita sampai Rafa keluar."
"Baik, Pak." jawab pak Hendra.
"Dan kamu harus selalu inget pesen papa, jangan macem-macem dan buat masalah."
__ADS_1
"Siap, Bos!" Rafa memberikan hormat kepada papa Adit yang kini berjalan keluar ruangannya.
Dengan penuh semangat, Rafa memasuki kamar mandi pribadi papanya di kantor. Sepertinya Rafa yang dulu telah kembali. Rafa yang selalu bersemangat dan tersenyum lebar saat akan bertemu dengan Alita.