Back To You

Back To You
Chapter 84


__ADS_3

Tepat beberapa saat setelah Rayyan dan keluarganya meninggalkan rumah mereka untuk pulang, Rafa dengan sigap memindahkan kopernya ke kamar yang ditempati Rayyan sebelumnya. Sejak kedatangan mereka di Bristol, Rafa tidak memindahkan baju-bajunya dari koper. Hanya baju Hanna yang telah tersusun rapi di lemari itu, lemari yang berada di kamar yang akan menjadi hak milik Hanna.


Hanna juga membantu Rafa untuk mengganti seprai dan membersihkan kamar yang akan ditempati oleh Rafa. Bukan karena Rafa yang meminta, tapi Hanna merasa tidak enak hati jika dia harus berdiam diri sementara Rafa sibuk dengan acara pindah kamarnya.


"Besok lo ada acara?" tanya Rafa disela-sela menyusun bajunya dilemari.


"Enggak sih. Tapi aku pengen jalan-jalan aja di kampus sebelum perkuliahan dimulai."


Rafa hanya ber-oh ria dan melanjutkan aktifitasnya. Mungkin, Rafa juga seharusnya ikut Hanna untuk melihat-lihat gedung yang juga akan menjadi tempatnya menimba ilmu. Tentu saja ia juga kesini untuk melanjutkan sekolahnya, itu adalah syarat mutlak dari papa Adit jika Rafa ingin menikahi Hanna.


Rafa pun tidak menolak, karena ia pikir jika ia bekerja maka ia tidak memiliki waktu yang fleksibel untuk bolak-balik ke Glasgow. Sementara untuk biaya hidup mereka? Papa Aditlah yang menyanggupi untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan kuliah selama berada di Bristol.


"Gue mungkin besok mau ke Glasgow, Han."


Ucapan Rafa barusan menghentikan pergerakan tangan Hanna yang sedang memasang sarung bantal. Rafa bahkan tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. Saat Rayyan pulang, Rafa pun bergegas memindahkan barang-barangnya. Dan besok, ia pun berencana untuk langsung ke Glasgow. Guna mencari Alita-nya yang entah dimana karena selama dua bulan ini tidak ada kabar.


"S-secepat itu? Emangnya... kak Rafa udah tau kak Alita dimana?"


Rafa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut. "Gue sama sekali enggak tau, Han. Gue coba ngorek informasi dari temen-temennya pun enggak ada yang tau."

__ADS_1


"Kenapa enggak tanya ke keluarga kak Alita? Atau... kak Theo mungkin."


"Gue enggak punya untuk ketemu keluarganya, Han. Dan Theo? Entah dia emang sibuk atau sengaja ngehindar dari gue. Yang jelas... dia enggak pernah ke kantor dan enggak pernah jawab telpon atau pesan gue."


"Jadi... kak Rafa mau cari sekota Glasgow gitu? Gimana caranya?"


Setelah menyelesaikan mengganti seprai, Hanna kini duduk di pinggiran ranjang yang posisinya dekat dengan Rafa yang berada di depan lemari. Hanna merasa penasaran, tentang bagaimana Rafa akan menemukan pujaan hatinya itu.


Merasa diperhatikan, Rafa menengok ke arah Hanna sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Gue enggak tau harus mulai dari mana, Han." jawab Rafa dengan terkekeh. "Gue bisa sampai di Glasgow aja udah wah banget. Gue belum paham daerah sini, apalagi sama transportasinya."


"Cih, nekat!" Hanna mencemooh, lalu beranjak dari duduknya dan memungut seprai kotor yang teronggok di lantai.


"Sesampainya disini, aku malah ngerasa semakin nyesel. Terutama sama tante Salma dan Om Adit, aku benar-benar kayak numpang hidup sama mereka."


"Maksud lo?"


"Bagi kak Rafa, mungkin ini wajar. Apalagi kak Rafa anak tante Salma dan om Adit, tapi bagi aku enggak. Setelah menikah, seharusnya kita bisa mandiri dan enggak merepotkan orangtua kita lagi. Tapi kita justru benar-benar merepotkan mereka semua. Karena harus nanggung segala biaya kuliah dan kebutuhan kita selama disini."

__ADS_1


Hanna tersenyum miris melihat bagaimana kehidupan rumah tangga yang mereka paksakan ini benar-benar membuar repot orangtua mereka. Bukannya malah meringankan beban orangtua saat anak mereka telah berumah tangga.


"Harusnya aku emang enggak harus ngotot untuk terima beasiswa disini, jadi kita enggak perlu terjebak dalam permainan pernikahan ini hanya untuk kepentingan kita masing-masing." imbuh Hanna.


"Jadi mau lo apa?" Rafa berjalan mendekat ke arah Hanna dengan nada bicara yang sedikit meninggi. Tapi hal itu tidak membuat Hanna takut atau memundurkan posisinya.


"Aku bener kan, kak? Kita udah salah dalam ngambil langkah. Dan sekarang kita berdua sama-sama kesusahan untuk cari jalan keluar agar bisa segera mengakhiri pernikahan ini. Enggak mungkin juga kan kak Rafa ngejadiin kak Alita sebagai istri kedua?"


"Pikiran lo terlalu jauh, Han. Elo-"


"Tapi nantinya akan seperti itu kejadiannya, kak!" Hanna menyela perkataan Rafa dengan suara yang tak kalah keras dari suara Rafa.


"Selamanya yang kak Rafa cintai dan ada dihati kak Rafa itu cuma kak Alita. Semisal dalam waktu dekat ini kak Rafa berhasil menemukan kak Alita dan kalian kembali menjalin hubungan lagi, itu itungannya udah selingkuh. Kak Rafa udah mikirin gimana ngejelasinnya ke orangtua kita nanti?"


Air mata Hanna lolos begitu saja, bercucuran membasahi pipinya. Lagi-lagi pikirannya terlintas bagaimana kecewanya kedua orangtua terhadap mereka. Hanna bahkan selalu membayangkan kondisi ayahnya yang akan menjadi memburuk akibat permasalahan mereka nanti.


"Kita udah salah jalan sedari awal, dan sekarang kita justru memaksakan diri untuk semakin terperosok. Aku enggak tau lagi gimana hubungan ini akan berakhir, kak." Dengan sorot mata yang masih menatap Rafa, Hanna mengucapkan kalimatnya dengan bergetar.


"Lo enggak perlu khawatir, Han. Elo cukup fokus ke kuliah lo aja dab selesaikan semuanya dengan tepat waktu."

__ADS_1


Rafa langsung saja melangkah keluar dari kamar yang akan ia tempati mulai malam ini, meninggalkan Hanna yang langsung terduduk dengan tangisan yang semakin keras.


Ini adalah pertengkaran pertama mereka setelah sebulan lebih menikan, dan mungkin saja... akan ada banyak pertengkaran lainnya nanti, sampai mereka menemukan titik terangnya.


__ADS_2