Back To You

Back To You
Chapter 157


__ADS_3

"Udah selesai packing bajunya?" Tanya mama Salma saat melangkah masuk ke dalam kamar anak bungsunya itu.


Rafa mengangguk, lalu meletakkan ponselnya di nakas. "Kesana kan cuma tiga hari, Ma. Packing-nya enggak kayak Rafa pas mau ke Bristol hehehehe...."


Mama Salma duduk dipinggiran ranjang disebelah Rafa. Lalu mengusap punggung anaknya itu dengan lembut.


"Mama udah bicara sama Papa beberapa hari yang lalu. Papa ngancam kamu begitu bukan karena papa enggak sayang sama kamu, tapi karena papa mencoba untuk ngajarin tanggung jawab sama kamu. Begitu juga dengan Abang, jadi kamu jangan terlalu mikirin yang enggak-enggak ya, Fa."


"Iya, Ma, Rafa ngerti kok. Selama ini kan Rafa hidup terlalu seenaknya sendiri. Rafa tau kalo semuanya sayang sama Rafa. Cuma Papa sama Abang kan copy paste no edit tuh, jadi ya jaim gitu. Enggak bisa kayak Mama sama kak Eowyn." Rafa memeluk mamanya.


"Belum ada kabar soal Hanna?"


"Belum, Ma. Jago banget kan dia main petak umpetnya?"


"Mungkin Hanna lagi butuh waktu untuk sendiri, Fa."


"Tapi ini udah lama banget, Ma." Rafa tersenyum miris. "Hanna kan bisa disini aja. Kalo dia bilang enggak mau ketemu Rafa, Rafa juga enggak akan nemuin dia. Setahun yang lalu pas masih di Bristol kan juga begitu."


"Sabar ya." Mama Salma kembali mengusap punggung Rafa. "Jadi... udah berapa tahun nih kamu jomblo? Wah, rekor ya, Fa. Biasanya belum putus juga kamu udah ada gandengan." Ledek mama Salma.


Rafa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Karma ini kayaknya, Ma. Karena dulu Rafa sering godain Hanna, dan juga nyakitin Hanna. Sekarang malah Rafa enggak bisa lepas dari Hanna."


"Mungkin... sekarang ini kamu lagi ada difase... berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian."


"Maksud Mama, Rafa harus bersusah payah dulu ya?"


"Bukan." Jawab Mama Salma sambil menahan tawa. "Tapi, para mantanmu udah pada ke penghulu, kamunya masih kesepian."

__ADS_1


"Yaaahhh... mama tega banget sih ke Rafa? Lagian sejak kapan juga sih Mama jadi seneng berpantun enggak jelas gini?"


"Hahahaha... bercanda, Fa. Sebenernya Papa juga suka berpantun enggak jelas gitu tau, cuma ya enggak di depan kalian aja."


"Oiya? Kayaknya mama klepek-klepek sama Papa karena dikasih pantun-pantun enggak jelas gitu ya?"


"Enggaklah. Papa juga bisa pantun tuh akhir-akhir ini, enggak tau tuh kesambet apaan. Udah gih tidur, besok Abang bisa ngomel kalo kamu bangun kesiangan. Jadi mau bareng Abang kan?"


"Iya, Abang ngajak barengan. Mama enggak mau liburan ke Lombok lagi? Kayaknya udah lama banget Mama sama Papa enggak kesana."


"Iya, udah setahun ini enggak kesana. Liburannya bareng Abby,Zayn sama kamu terus."


"Nanti kalo kerjaan Rafa udah longgar, kesana yuk, Ma. Nanti Rafa yang beliin tiket pesawatnya buat Papa sama Mama."


Mama Salma menganggukkan kepalanya. "Iyaaaa... udah, buruan tidur ya. Besok mama akan bangunin lebih awal."


...****************...


"Kita makan siang dulu di deket sini, setelah itu baru kita menuju hotel." Ucap Rayyan sambil menggeret kopernya.


"Hah? Kenapa enggak langsung ke hotel dan makan siang disana, Bang?"


"Waktu makan siangnya udah lewat, Fa. Kalo mau langsung ke hotel, kasian yang lainnya. Belum tentu semuanya bisa tahan laper kayak elo."


Rafa hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Abangnya. Padahal sebenarnya ia ingin segera merebahkan dirinya di kamar, matanya masih terasa ngantuk karena semalam tidak bisa tidur.


Tapi rencana kemudian berubah, perwakilan hotel yang menjemput mereka malah mengajak untuk mengunjungi sebuah tempat. Lokasi yang katanya akan dibeli Abangnya itu untuk membangun sebuah villa.

__ADS_1


Kunjungan dadakan itu memakan waktu lumayan lama, membuat Rafa merasa semakin jenuh. Belum lagi terik matahari yang lumayan menyengat siang itu. Hingga akhirnya Rafa memilih untuk menunggu mereka di dalam mobil.


Rafa merogoh ponsel disaku celananya untuk mengecek beberapa pesan masuk dan membalasnya. Selanjutnya ia melakukan kegiatan yang bisa dianggap sebagai rutinitasnya setahun belakangan ini, mengamati foto-foto kebersamaannya dengan Hanna.


Tentu saja bukan hanya foto lama, tetapi juga foto terakhir mereka bertemu di Robin Hood's Bay. Baik foto yang diambilnya dengan sengaja bersama Hanna, maupun diam-diam.


Entah kemana perginya Hanna bersembunyi. Dan entah apa yang telah diperbuatnya terakhir kali, hingga Hanna sampai hati menghilang begitu saja bak ditelan bumi.


Usahanya meminta bantuan mamanya agar bertanya kepada tante Widya juga nihil. Ibu Hanna bahkan tidak mau membuka mulut meskipun teman baiknya yang bertanya. Jika ibunya saja tidak mau buka mulut, apalagi Wildan? Lelaki jelas tidak akan mengatakan kepada Rafa dimana adiknya berada sekarang.


"Halo, Pa?" Rafa segera mengangkat panggilan papanya didering pertama panggilan itu masuk.


Jika orang lain yang menelponnya, mungkin Rafa akan malas untuk mengangkatnya. Ia seratus persen akan memilih untuk mengamati layar ponselnya yang menampilkan foto-foto kenangannya bersama Hanna.


"Udah dari tadi sih, Pa. Terus tadi Abang ngajak makan siang deket bandara, dan sekarang lagi di daerah mana ini ya?" Rafa mencoba melihat ke sekeliling untuk mencari tahu, tapi tidak menemukan jawaban.


"Tadi Rafa tidur bentar, Pa. Jadi enggak tau sekarang ada dimana. Tapi yang jelas, Abang lagi ninjau lahan yang katanya mau Abang bangun vila. Jadi, kami belum sampai di hotel sama sekali."


Papa Adit ber-oh-ria, karena mengetahui lokasi yang dimaksudkan oleh anak bungsunya itu. Rafa mendengarkan dengan seksama perkataan papanya, lalu melihat ke jok sebelah tempat abangnya duduk.


"Oh, hapenya Abang dimobil, Pa. Ada dijok tempat duduknya ini, ketutupan sama jaketnya."


Rafa mengambil ponsel milik Abangnya yang menyala, menampilkan beberapa pesan dan panggilan masuk dari papanya yang tak terjawab. Rafa tersenyum saat melihat wallpaper yang dipasang Abangnya, foto bahagia keluarga kecilnya yang entah diambil saat mereka berlibur kemana.


"Iya, Pa. Nanti Rafa sampaiin ke Abang."


Setelah mendengarkan papanya berbicara beberapa saat dan dijawabnya dengan jawaban singkat, panggilan telepon itu berakhir. Rafa menghela nafasnya, entah kenapa rasa penyesalan langsung menyergapnya. Lalu disusul dengan rentetan kalimat pengandaian dalam hatinya.

__ADS_1


Jika dulu hubungan pernikahannya dengan Hanna baik-baik saja dan tanpa sandiwara, akankah sekarang ia hidup berbahagia bersama keluarga kecilnya?


Kira-kira seperti itulah yang Rafa gumamkan dalam hati sembari menatap layar ponsel Abangnya.


__ADS_2