
Rafa masih berdiri menghadap ke jendela besar yang berada di kamarnya. Letak kamar yang dipesan oleh mamanya berada di lantai empat, tepat menghadap ke arah pintu keluar hotel dan tidak terlalu tinggi untuk mengamati banyaknya orang dan kendaraan yang berlalu lalang disana.
Rafa tahu jika pembicaraan Hanna dengan kedua orangtuanya telah selesai sejak tadi. Pagi tadi, mamanya berjanji akan membujuk Hanna agar mau menemuinya. Tapi tampaknya Hanna tetaplah Hanna yang keras kepala.
Kini bahkan Rafa dapat melihat dengan jelas, sosok gadis yang ia yakini adalah Hanna, sedang berjalan meninggalkan hotel tempat ia dan keluarganya menginap. Hanna tampak sangat menantikan perpisahan ini dan tidak tergoyahkan.
Rafa tersenyum sinis. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang sejak pagi tadi terus berharap jika Hanna pasti akan menemuinya. Mungkin Hanna akan menangis dan memeluknya dengan erat, lalu mengucapkan kalimat perpisahan untuk hubungan mereka.
Namun semuanya salah, semuanya tidak berjalan seperti apa yang Rafa pikirkan. Memang seharusnya Rafa sadar diri. Menilik banyaknya kesalahan yang diperbuatnya selama pernikahan ini, memang tidak seharusnya Hanna menemuinya. Hanna memang pantas untuk membenci dan menjauhi dirinya.
...****************...
Rafa sedang berada di sebuah kafe dan pandangan yang terfokus pada laptopnya. Banyak tumpukkan buku di sebelahnya, tapi Jansen masih gigih untuk mengajak Rafa datang ke sebuah pesta malam ini.
"Ayolah, Rafa. Ini sudah lebih dari tiga bulan setelah perceraianmu. Mantan istrimu juga sudah bisa move on, aku lihat diakun media sosialnya dia sering berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Kenapa kamu malah masih meratapi perceraian itu?"
"Aku hanya ingin menyelesaikan kuliahku tepat waktu." Jawab Rafa tanpa menatap ke arah Jansen.
__ADS_1
"Yah, kalo itu alasannya aku juga tahu. Tapi pesta ini kan hanya berlangsung beberapa jam saja, Gwen juga sangat mengharapkan kehadiranmu disana. Kau bisa menyelesaikannya besok, itu pun kalo akhirnya untuk tidak minum-minum lagi malam ini hehehehe...."
Rafa menghela nafasnya. Menghadapi Jansen tidaklah mudah. Pria berkebangsaan Belanda ini adalah teman baiknya sekaligus teman baik Gwen. Sejak Jansen tahu jika Mandy mendekati Rafa, Jansen-lah yang mati-matian untuk menyatukan mereka, dan pastilah hal itu disambut baik oleh Gwen.
"Aku sudah tidak minum-minum lagi, Jansen. Dan sekali lagi, aku sama sekali tidak tertarik dengan Gwen. Kalau kamu suka, kau boleh memacarinya sekarang juga." Rafa akhirnya menutup laptopnya dan memasukkan ke dalam tasnya, begitu pula dengan buku-buku yang berada di meja.
"Jangan membohongi diri sendiri, Rafa. Kau selalu merespon setiap pesan yang dikirimkan oleh Gwen, bagaimana bisa kau tidak tertarik dengannya?" Jansen masih bersikukuh dengan pendapatnya.
"Aku hanya mencoba untuk bersikap sopan."
Rafa kembali menghela nafasnya. Entah Jansen ini melakukan semuanya dibayar oleh Gwen atau dengan sukarela, tapi usahanya memaksa benar-benar luar biasa.
"Semua wanita terlahir cantik, Jansen."
"Begitukah?" Jansen kemudian merogoh ponsel disaku celana. Setelah menekan dan men-scroll beberapa saat, Jansen mengarahkan ponselnya pada Rafa.
"Tapi tidak semua wanita dilahirkan untuk menjadi sexy seperti Gwen. See? Tubuhnya benar-benar sempurna, sepertinya dia jelmaan dari bidadari atau dewi kecantikan?"
__ADS_1
Rafa berdecih sembari mengalihkan pandangannya dari ponsel Jansen. Ya, semua yang Jansen katakan memang benar. Gwen tidak hanya cantik tetapi juga seksi, sama seperti kriteria pacar idamannya dulu kala.
Rafa meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak dimeja dan membaca sebuah pesan yang dikirimkan oleh mamanya. Belum sempat ia mengetikkan sebuah balasan untuk mamanya, ponsel itu telah direbut paksa oleh Jansen.
"Ya Tuhan, Rafa! Kau benar-benar belum bisa move on dari mantan istrimu ya? Kamu ini kena sihir atau bagaimana? Bisa-bisanya kamu menjadikan fotonya sebagai wallpaper, bahkan disetiap aplikasi yang aku buka? Apa kamu seputus asa itu?"
"Kembalikan ponselku, Jansen!" Rafa kembali merebut ponselnya dan menyimpannya ke dalam tas. Rafa pun memilih untuk tidak menanggapi pernyataan yang Jansen ucapkan barusan.
"Mantan istrimu memang cantik, tapi... tidak seksi seperti Gwen dan dadanya juga tidak berisi. Tapi bagaimana pun hubungan kalian sebelumnya kan berstatus suami istri, dia mungkin lebih ahli melayanimu di ranjang daripada Gwen. Makanya kamu susah untuk move on dari dia."
"Jaga bicaramu, Jansen!" Ucap Rafa dengan nada marah. "Jangan pernah lagi berbicara tentang apa yang tidak kamu ketahui" Rafa beranjak dari duduknya dan menatap Jansen dengan tatapan tajam.
"Dan aku juga tidak akan pergi ke pesta Gwen malam ini." imbuh Rafa yang kemudian meninggalkan kafe tersebut.
Jansen hanya menggelengkan kepalanya, sambil bergumam mengomentari temannya yang berubah drastis setelah perceraiannya.
"Gadis itu benar-benar membuatnya gila."
__ADS_1