Back To You

Back To You
Chapter 163


__ADS_3

Pagi ini berjalan seperti biasanya. Sebelum pulang dengan jam penerbangan menjelang sore nanti, mereka masih memiliki beberapa jadwal pertemuan yang harus diselesaikan. Setelah semua masalah di kantor tertangani, kini rombongan itu bergerak menuju lahan yang rencananya akan dibangun vila oleh Rayyan.


Lokasinya memang bagus dan menampilkan pemandangan pantai yang indah. Tapi terik panas matahari siang itu cukup membuat Hanna dan beberapa orang lainnya kewalahan.


Meskipun Rafa bersikap biasa saja, ia memberikan payung yang seharusnya dipakainya untuk menghalau terik panas matahari kepada Hanna. Tidak ada perkataan apapun, Rafa hanya menyerahkan payungnya begitu saja dan tersenyum manis kepada Hanna. Tetapi Hanna masihlah canggung. Sebisa mungkin dia menjauhkan dirinya dari pandangan Rafa dan tidak berinteraksi dengan Rafa sama sekali.


"Bang, Rafa boleh kan baliknya Minggu sore aja? Abang sama yang lain kalo mau balik siang ini enggak apa-apa, Rafa baliknya besok sore, sendirian." Bisik Rafa.


Rayyan yang sedang membalas pesan singkat dari istrinya itu langsung menoleh ke arah Rafa. Rayyan tahu betul mengapa Rafa berkata demikian. Dan kejadian seperti sudah diduganya sebelum mereka berangkat dinas kesini.


"Boleh. Tapi ganti tiket pesawat yang udah dibeli pake uang perusahaan lima kali lipat, begitu pula dengan kamar hotelnya."


"Bang!" Rafa seolah ingin membentak abangnya, namun suaranya tertahan begitu saja karena ada banyak orang di sekitar mereka.


Rayyan memasukkan ponselnya ke saku jasnya, dan mencoba memberikan pencerahan kepada adik bungsunya itu.


"Hanna butuh waktu, Fa."


"Tapi dia udah ngumpet disini setahun, Bang. Harus berapa lama lagi Rafa kasih dia waktu? Bahkan sebelum kita pulang juga Rafa udah kasih dia waktu."


Rayyan tersenyum, lalu menepuk pundak adik bungsunya itu.


"Minggu ini biar dia sendiri dulu. Hanna mungkin masih kaget dengan pertemuan tak terduga kalian, karena sebelum kesini Abang juga enggak ngasih tau dia kalo elo bakal ikut. Mungkin... elo bisa kesini lagi minggu depan."


"Rafa mau tetep stay disini, Bang." Jawab Rafa dengan tegas. "Rafa akan ganti semua biaya disini sesuai syarat abang tadi, asal Rafa tetep disini sampai besok."

__ADS_1


"Terserah." Rayyan menjawab dengan santai sambil mengangkat kedua bahunya. "Usaha lo yang sekarang emang enggak gampang. Meskipun Hanna sadar akan perasaannya, tapi keliatan banget kalo dia juga ragu banget buat nyerah ke elo gitu aja."


"Itu dia masalahnya, Bang." Rafa menghela nafasnya.


Mungkin ini adalah kali pertama Rafa berbagi cerita kepada abangnya perihal kisah percintaannya. Dulu, Rafa tidak pernah membagi kisahnya, meskipun pada sang mama sekalipun.


Rafa merasa mampu menghadapi segalanya. Terlebih lagi, hubungannya yang dulu-dulu selalu berjalan sesuai dengan keinginannya.


"Makanya pelan-pelan. Kasih Hanna waktu buat ngeyakinin dirinya kalo toh emang dia mau balikan lagi sama elo. Ntar gue bilang ke pak Bima kalo elo mau nambah semalam disini, biar disiapin lagi kamarnya." Rayyan menepuk pundak Rafa, lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan adik bungsunya yang masih terdiam dengan ekspresi terkejutnya.


...****************...


Rafa sudah selesai menikmati makan siang di kamarnya. Pandangannya tertuju pada program televisi dengan penuh senyum gembira, tapi pikirannya berkelana kemana-mana. Tadi, saat rombongan yang lain ke bandara untuk mengantar Abangnya, ia memilih untuk kembali ke hotel dengan naik taksi secara diam-diam.


Ia sudah membayangkan bagaimana ekspresi kagetnya Hanna saat mengetahui tidak ada dirinya dalam rombongan itu. Gadis itu pasti akan mencari tahu ke bagian resepsionis dan langsung menyerbu kamarnya untuk memberondongnya dengan banyaknya pertanyaan.


Diraihnya ponsel yang tergelatak tak jauh darinya. Seharusnya Hanna dan rombongannya sudah kembali ke hotel setelah selesai mengantar abangnya. Tetapi, kenapa belum juga ada tanda-tanda Hanna mencarinya Gadis itu bahkan tidak mengirimkan pesan untuk menanyakan dimana keberadaannya sekarang. Hal itu membuat Rafa kesal dan menghilangkan senyuman yang sejak tadi menghiasi wajahnya.


Rafa mematikan televisi, lalu memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan mencari dimana Hanna sekarang. Rafa melangkah dengan langkah lebarnya menuju lift, tujuan pertamanya adalah pergi ke kamar Hanna yang berada satu lantai di atasnya.


Semalam, ia memaksa mengantar Hanna menuju kamarnya. Tujuannya ya untuk mengetahui dimana kamar tempat tinggal Hanna selama ini, daripada bingung bertanya kepada petugas hotel yang belum tentu akan memberinya jawaban.


Rafa langsung menekan bel pintu kamar Hanna berulang-ulang. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Rafa merogoh ponselnya dan menelepon Hanna.


"Dimana?" Ucap Rafa saat panggilannya tersambung dengan Hanna.

__ADS_1


Rafa kembali memutar tubuhnya menuju lift untuk turun ke bawah ke restoran hotel, tempat Hanna sedang menikmati makan siangnya yang terlambat.


...****************...


Tampaknya Rafa memang sedang diuji. Kesabarannya langsung dipaksa bekerja ekstra saat mendapati Hanna sedang makan siang dengan salah seorang staff hotel yang tadi ikut mengantar mereka meninjau lokasi.


"Eh, pak Rafa masih disini? Kami semua bingung tadi, karena kami baru tahu kalau pak Rafa akan stay semalam lagi disini. Harusnya tadi pak Rafa bisa ngomong kesaya, jadi saya bisa minta staff hotel yang lain untuk menjemput." Sambut Reno dengan ramah saat Rafa telah sampai dimeja makan mereka.


"Aku bisa kesini sendiri." Rafa menjawab dengan sedikit ketus sambil menarik kursi yang berada di sebelah Hanna.


"Kamu udah selesai makan kan? Kamu bisa pergi sekarang, ada hal private yang harus aku omongin dengan Hanna." Imbuh Rafa setelah melirik ke arah piring Reno.


Reno tersenyum kaku. Mau tidak mau memang dia harus pergi sekarang. Dia telah mendengar gosip soal kedekatan Hanna dan Rafa sejak kemarin. Tentu saja yang bergosip adalah rekan kerja Hanna sendiri dari tim marketing, karena mereka terlibat dalam rapat penting seharian kemarin.


"Baik, pak. Saya akan pergi sekarang, karena jam istirahat saya juga hampir selesai. Saya permisi dulu, pak." Reno lantas tersenyum kepada Hanna sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan itu.


Rafa menoleh ke arah Hanna yang masih asik menyuap custard ke dalam mulutnya. Gadis itu masih tampak cuek dengan keberadaan Rafa disebelahnya.


"Kamu pasti tau kalo aku masih disini kan, Han?" Tanya Rafa yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Hanna.


"Terus, kenapa kamu enggak nyariin aku? Kamu malah disini makan siang sambil haha-hihi sama cowok lain."


Hanna meletakkan sendoknya, lalu menoleh ke arah Rafa.


"Ini masih jam kerja, Kak. Dan aku enggak akan pergunakan jam kerjaku untuk urusan pribadi. Terus juga kami semua telat makan siang karena perjalanan dari bandara kesini sempet sedikit macet dibeberapa titik. Dan yang terakhir, aku udah tau pasti kalo kak Rafa pasti bakal ada disini. Enggak perlu aku cari pun aku tau kak Rafa ada disini, emang mau dimana lagi?"

__ADS_1


Hanna meraih sendok untuk menyuap custard-nya kembali, tapi gerakannya terhenti karena ada perkataan yang belum diucapkannya.


"Oh, dan lagi, kita tidak dalam satu hubungan yang mengharuskanku untuk menjaga jarak dengan cowok lain."


__ADS_2