
Setahun kemudian....
Tok... tok....
Suara ketukan dari pintu ruang kerja Rafa membuatnya menghentikan sejenak. Tak lama kemudian, Tio masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa map berwarna hitam itu.
"Ini laporan yang bapak minta." Ucap Tio sembari meletakkan map itu dimeja Rafa.
"Udah setahun, masih aja manggilnya 'pak'. Emang gue setua itu?"
"Hehehehe... bukan gitu, pak. Tapi kan ini di kantor, enggak enak aja kalo nanti yang lain ikut-ikutan manggil nama."
"Terserah elo dah!" Rafa membuka map yang baru saja dibawakan oleh Tio.
"Oiya, Pak. Kata pak Rayyan, Anda harus ikut ke pertemuan rapat di Lombok minggu depan."
"Duuhhh... kenapa gue mesti ikut sih, Tio? Elo kan bisa bilang nih banyak kerjaan gue yang belum kelar."
"S-sudah, pak. Tapi kata pak Rayyan kalo rapat sekarang pak Rafa nolak lagi, mending enggak usah kerja aja sekalian."
Rafa mengerutkan keningnya. "Lagi? Emang gue nolak berapa kali?"
"Dua pak, hehehehe.... Yang pertama diawal tahun, dan yang kedua di bulan Agustus lalu."
Rafa mengangguk. "Kan bisa Bang Zach yang berangkat."
"Nah, untuk sekarang ini pak Zach udah enggak bisa pergi, pak. Kan... kakak bapak mau lahiran."
"Eh? Eowyn udah mau lahiran? Hamil mulu tuh orang."
"Ya kan ada suaminya, pak." Tio tersenyum kaku.
"Ya udah gue berangkat, tapi ogah gue kalo sama si Putri. Mending sama elo atau yang lainnya gitu, tapi yang cowok."
"Tapi kan yang paham segala situasi dan kondisinya Putri, pak."
Rafa menutup mapnya dengan keras. "Dia tuh centil, Tio! Berapa kali gue pergi rapat keluar, dia seenak jidat nemplok-nemplok ke gue."
"Ya kan dia naksir sama bapak."
__ADS_1
Rafa menggelengkan kepalanya. "Kalo emang ke Lombok bisanya cuma sama Putri, mending gue pergi sendiri ajalah. Bisa-bisa abang gue diembat juga sama tuh cewek."
"Baik, Pak. Nanti saya coba koordinasikan dengan tim."
Setelah Tio meninggalkan ruangannya, Rafa meraih ponselnya dan menelpon sang Abang. Ia ingin menyampaikan keberatannya mengikuti pertemuan di Lombok minggu depan.
"Hm, Kenapa, Fa?" Sahut abangnya dari saluran telepon.
"Bang, harus banget ya aku ikut ke Lombok? Males tau, Bang. Kerjaan aku disini aja banyak yang belum kelar." Rafa mengeluh dengan suara yang dibuat-buat memelas.
"Gue udah bilang ke Tio kan kalo elo enggak ikut harus gimana?"
"Sama adik sendiri jahat banget sih, Bang."
"Udah ah, gue mau meeting. Enggak ada tawar menawar untuk itu, gue tutup teleponnya."
Sambungan telepon terputus begitu saja, membuat Rafa mengomel kesal. Ia lantas membereskan laptop dan barang bawaannya yang lain, bersiap untuk segera pulang ke rumah.
...****************...
Setelah mengucapkan salam, Rafa memasuki rumah orangtuanya sambil bersiul. Sayup-sayup terdengar suara Abby dan Zayn yang sepertinya sedang bermain di taman belakang bersama papanya.
Mama Salma dan Eowyn yang tengah berada di dapur langsung menoleh ke arah Rafa.
"Kenapa sih, Fa?" Tanya sang Mama yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Duh, legonya si Zayn nih mah kesebar dimana-mana. Bikin kaki Rafa sakit aja."
"Bukan kesebar kemana-mana, tapi kamunya yang jalan enggak liat-liat. Tuh liat, kamu jalan lewat play matt-nya Zayn."
Rafa nyengir, lalu melangkah menuju dapur untuk menghampiri mamanya.
"Yang lain pada kemana, Ma?"
"Abang sama Zahra lagi keluar sebentar, mau beli martabak katanya. Kalo Zach diatas, lagi mandi."
"Beli martabak? Gitu tadi bilang ke Rafa sibuk mau meeting." Rafa menggerutu.
"Iya, emang katanya mau ada meeting. Tapi dibatalin karena anaknya bu Indira kecelakaan, jadi ya ditunda karena enggak ada yang mewakilkan."
__ADS_1
"Lagian lo kenapa sih, Fa? Kayak enggak terima banget kalo Abang balik duluan." Ucap Eowyn yang baru saja selesai mencuci peralatan masak.
"Sebellah, gue enggak pernah balik awal."
"Ya Abang kan bos, elo kan karyawan. Mana bisa seenaknya? Suami gue juga baru pulang juga enggak ngedumel dia." Jawab Eowyn dengan nada bercanda.
"Nah! Suami lo juga tuh, kenapa enggak mau pergi ke Lombok sama Abang? Kenapa mesti gue? Gue kan juga banyak kerjaan disini."
"Ini alasannya!" Eowyn menunjuk ke arah perutnya yang telah membesar itu. "Ntar kalo tiba-tiba gue ngerasa mules mau lahiran, siapa yang bakal stand by?"
"Kan ada Papa, Mama sama gue."
"Elo mau gue cakar-cakar sama jambak-jambak pas gue kontraksi?"
"Udaaaahhh.... lagian kenapa kamu enggak mau sih, Fa?" Mama Salma menengahi. "Kan enak ke Lombok bisa sekalian jalan-jalan, kerjaan disini bisa kamu kasih ke yang lain buat dihandle. Kalo mama jadi kamu, ya mau-mau aja mama disuruh ikut ke Lombok."
"Mama kayak enggak tau Abang aja, dia kan lurus banget tuh, Ma. Kalo kak Zahra sama Abby enggak ikutan, ya judulnya cuma rapat doang. Mana ada acara jalan-jalan santainya."
Mama Salma dan Eowyn hanya tertawa. Kemudian terdengar suara Abby dan Zayn yang baru saja masuk ke dalam rumah dan berteriak memanggil Rafa.
Rafa berbalik, kemudian merentangkan kedua lengannya untuk memeluk kedua keponakan tersayangnya. Tapi kemudian muncul Eowyn dari arah belakang, yang menghadang Abby dan juga Zayn.
"Stop... stop! Om Rafa belum mandi ya, jadi ditunda dulu peluk-pelukannya sama om Rafa." Ucap Eowyn.
Tapi Rafa tidak menerima alasan itu. Ia malah melangkah maju sambil menggerutu kepada Eowyn.
"Kenapa sih? Orang gue juga masih wangi. Ini peletnya mereka tau, makanya mereka mau deket-deket gue." Rafa langsung menghampiri kedua keponakannya itu dan memeluknya.
Sementara Eowyn langsung mengalah dan kembali membantu ibunya menyiapkan makan malam.
"Abang bilang kamu bakal ikut ke Lombok minggu depan." Tanya papa Adit sembari duduk di sofa.
"Rafa belum ngeiyain sih, Pa. Tapi Abang bilang kalo pertemuan kali ini Rafa enggak ikut kesana, Rafa enggak boleh kerja lagi. Padahal kerjaan Rafa di kantor banyak banget."
Papa Adit menganggukkan kepalanya. "Ya, Papa setuju dengan Abang."
"Kok gitu sih, Pa? Kalo pun Abang Zach enggak bisa ikut, kan bisa diganti orang lain. Enggak harus Rafa kan?"
"Tapi itu tanggung jawabmu, mana bisa digantikan orang lain? Jadi kalo kamu enggak mau ikut Abang ke Lombok, mending kamu balik lagi ke Bristol."
__ADS_1
Rafa tercengang. Bukan hanya dia, tapi mama Salma dan Eowyn juga ikut tercengang. Apa papa Adit masih merasa cemburu dengan keberadaan Rafa disekitar mama Salma?