
Jalan Rafa untuk kembali bersama Hanna kali ini tidaklah mudah. Wildan bahkan secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada dirinya saat menjemput Hanna beberapa waktu yang lalu. Lelaki itu langsung menggandeng Hanna untuk segera meninggalkan bandara, saat keduanya baru saja keluar pintu kedatangan.
Tak cukup sampai disitu, Rafa bahkan sampai tidak bisa bertemu dengan Hanna lantaran Wildan selalu berada di sekitar Hanna, dan melarang adik satu-satunya itu untuk pergi sendirian. Rafa bisa saja nekat mendatangi rumah Hanna untuk bertemu dengannya, tapi Hanna melarangnya karena tidak ingin menimbulkan keributan.
Hanna bilang kepada dirinya untuk bersabar, karena nanti pasti akan ada celah dimana mereka berdua bisa bertemu di luar. Tapi kapan? Ini bahkan sudah hari kedelapan Rafa menghabiskan waktu liburannya di rumah.
Rayyan bahkan tidak mengijinkannya datang dan membantu di kantor dengan alasan Rafa belum lulus kuliah. Papa Adit yang telah memutuskan untuk pensiun pun tidak membantunya agar Rayyan mau memberikan pekerjaan untuknya. Padahal dulu ia diancam tidak akan dapat uang jajan jika tidak mau membantu bekerja di kantor saat libur kuliahnya. Jadi kegiatannya hanya bermain ponsel, menonton TV, dan bermain bersama kedua keponakan lucunya.
"Mau kemana?" Tanya Mama Salma saat mengetahui anak bungsunya itu telah berpakaian rapi.
"Mau ketemu sama Hanna?" imbuh mama Salma dengan nada setengah berbisik, sambil melirik ke arah suaminya yang tengah menonton TV dengan Abby.
"Enggak, Ma. Cuma mau keluar aja cari udara segar, Hanna belum dibolehin keluar sendiri sama Wildan."
Mama Salma menganggukkan kepalanya. "Sabar aja, Wildan masih butuh waktu untuk maafin kamu."
Kini giliran Rafa yang menganggukkan kepalanya. "Ah, Mama bisa minta tolong?"
"Apaan, Ma?"
"Bisa mampir ke rumah Eowyn sebentar? Kemarin dia bilang pengen makan gepuk daging bikinan Mama, kamu bawa kesana ya? Mungkin mama kesananya agak sorean dulu karena nungguin Rayyan sama Zahra pulang dulu. Enggak apa-apa kan?"
"Ya enggak apa-apalah, Ma. Kan aku juga mau ketemu sama Zayn."
"Oke, kalo gitu mama siapin dulu makanannya."
...****************...
Setelah dari rumah Eowyn dan bermain bersama Zayn, Rafa memutuskan untuk pergi ke sekitar pantai. Entah sudah berapa lama ia tidak pergi kesini, karena terakhir kali Rafa pergi kesini adalah saat dirinya diputuskan oleh Alita. Rafa tersenyum, mengingat bagaimana dulu dirinya 'dihajar' oleh Alita karena ketahuan berselingkuh.
"Rafa?"
__ADS_1
Rafa menoleh ke arah sumber suara yang berada di belakangnya. Itu Alita! Dan Rafa tidak menyangka akan bertemu dengan Alita disini.
"Alita? K-kamu ngapain kesini?" Ucap Rafa dengan sedikit canggung.
"Aku cuma enggak sengaja lewat di sekitar sini, jadi aku mampir. Enggak taunya malah ketemu kamu disini."
"Ah, iya. Cuma pengen cari udara segar." Jawab Rafa sambil menggeser posisi berdirinya.
"Kamu... sendirian?" Rafa kembali bertanya dan diangguki oleh Alita.
"Terus Theo dimana?" Imbuhnya.
"Kerja, dan juga... sibuk dengan persiapan pernikahan kami."
"Kalian belum menikah? Bukannya waktu itu kamu bilang kalo akan menikah bulan depan?"
"Ya, rencananya memang begitu. Tapi ternyata aku masih butuh waktu."
Alita berdiri tepat disamping Rafa. Pandangannya lurus ke depan, menatap hamparan air laut yang cukup tenang siang itu.
Alita menggelengkan kepalanya. "Aku sangat yakin nantinya kami akan begitu bahagia setelah menikah. Theo pasti akan memperlakukanku dengan baik, dan mencintaiku sepenuh hatinya. Hanya saja... aku yang belum bisa memberikan hatiku sepenuhnya pada Theo. Kau tau, Fa, aku merasa seperti orang yang susah move on padahal udah disakitin berulang kali. Harusnya aku bisa mudah ngelupain kamu gitu aja, tapi ternyata enggak semudah itu."
"Sorry." Ucap Rafa dengan lirih. "Aku tau ini enggak akan berguna, tapi... nantinya pasti akan bisa mendepakku pelan-pelan dan mengisi seluruh ruang dihatimu dengan Theo."
"Sebenernya, aku enggak menyesal sama sekali pernah berhubungan denganmu selama beberapa tahun. Aku cuma nyesel aja, kenapa perpisahan kita enggak berakhir dengan kenangan yang manis? Jadi kita enggak akan merasa canggung kalo ketemu kayak gini."
"Kalo kenangannya manis, mana mungkin kita pisah sih?" Jawab Rafa dengan santai sambil menahan tawanya.
"Hahahaha... maksudku, pisah ya pisah aja. Enggak usah pake drama kamu selingkuh dan sebagainya. Kesalahan terakhirmu beneran fatal, Fa. Kamu bahkan dengan pedenya ngejar-ngejar aku padahal statusnya udah jadi suaminya Hanna. Meskipun waktu itu aku juga berharap kita bisa balikan lagi, tapi dengan merebutmu dari wanita lain, aku enggak akan pernah ngelakuin itu. Karena aku pun juga enggak akan mau kalo pacar atau suamiku direbut wanita lain, jadi aku enggak akan ngelakuin hal semacam itu. That's why saat itu aku akhirnya mengiyakan ajakan Theo untuk menikah."
"Karena Theo single."
__ADS_1
"Of course! Karena Theo single dan dia bersedia untuk membahagiakanku."
"Ya, dia pria yang baik."
Alita mengangguk, membenarkan perkataan Rafa barusan. "Kamu dan Hanna disini sampai kapan?"
"Akhir bulan depan."
"Karena aku masih ngeblokir semua akses komunikasi untukmu, jadi... aku akan kirim undangannya ke Hanna ya. Kalian berdua harus datang, wajib hukumnya!"
"Yah, doakan aja semoga Wildan segera kasih ijin Hanna untuk keluar tanpa pengawasannya."
"Kamulah yang berusaha. Kalo aku disuruh doain, tentu aku akan berdoa biar kamu dikasih kesulitan untuk ngedapetin Hanna. Biar sadar!"
Tentu Alita mengucapkan itu dengan nada bercanda. Alita tidak sejahat itu untuk mendoakan hal terburuk untuk Rafa, meskipun dirinya disakiti oleh Rafa.
"Mau peluk?" Rafa merentangkan kedua tangannya ke hadapan Alita. "Mungkin ini bisa jadi akhir dari hubungan kita yang baik, jadi ke depannya kalo ketemu kita bisa akrab kayak dulu lagi."
"Semudah itu? Apa kamu pikir aku ingin memelukmu sekarang?"
"Oh, Ayolah, Lit. Ini hanya pelukan antar teman, aku akan menghajar Theo kalo dia sampai cemburu. Itu berarti Theo masih menganggapku sebagai saingan." Rafa berucap dengan begitu pedenya dan kedua tangannya yang masing terentang.
"Hahahahaha... tidak, Theo-ku yang terbaik." Jawab Alita dengan senyum lebarnya dan melangkah maju untuk memeluk Rafa. "Berjanjilah untuk tidak menyakiti perasaan wanitamu nanti, Fa. Entah itu Hanna atau siapa pun itu."
"Siap, nyonya Adyaksa."
Dan kini akhirnya Rafa bisa melepaskan perasaannya kepada Alita. Perasaan yang selama ini dipertahankan dan diperjuangkannya, tapi tidak berjalan sesuai rencananya. Begitu pula dengan Alita, mungkin dengan pertemuannya dengan Rafa yang tidak disengaja ini bisa membuat hatinya kini terisi sepenuhnya oleh Theo, yang akan menjadi suaminya dalam hitungan belasan hari lagi.
...****************...
Halo gaeeessss.... bagaimana kabar kalian? Duuuhhh, maapkeun dua mingguan ini menghilang tanpa kabar 😅🙏🏻 Jadi ceritanya kemarin tuh pikiran lagi semrawut dan harus fokus ke suami yg sempet positif covid. Begitu suami sembuh dan selesai isoman, eh gantian anaknya yg demam karena radang. Alhamdulillah sekarang udah sehat semua, insyaa Allah bisa fokus ke naskahnya si Rafa lagi.
__ADS_1
Kalian semua sehat-sehat ya 🤗 Kalo enggak penting-penting amat enggak usah kemana-mana, karena dimana-mana kasus covid lagi pada meningkat. Misal harus keluar ya tetep patuhi prokes, masker didouble kalo perlu 😷
Sebagai pemanasan, hari ini satu chapter dulu ya hehehehe