Back To You

Back To You
Chapter 80


__ADS_3

"SAH!" semua orang yang menjadi saksi pernikahan berseru dengan lantang. Mama Salma dan Tante Widya yang duduk berdampingan tak kuasa menahan tangis bahagianya, menyaksikan kini anak bungsu mereka telah resmi menikah.


Kini perasaan lega menyeruak dalam diri Rafa setelah lancar melafalkan kalimat qabul-nya tadi. Tak berapa lama, Hanna digandeng masuk ke dalam ruangan oleh Eowyn dan juga Zahra. Rafa memang selalu terpesona setiap melihat Hanna mengenakan make up.


Dan kini, ia semakin terpesona melihat Hanna dimake up dengan begitu dengan begitu cantik dan terlihat anggun. Gadis yang baru saja lulus Sekolah Menengah Atas yang selalu dipanggilnya dengan sebutan 'bocil' itu telah resmi menjadi istrinya.


Baru saja Rafa merasa lega, debaran jantung Rafa kembali berdetak dengan kencang tatkala ia harus mencium kening Hanna. Ia memang berpengalaman soal ciuman, tapi tidak dengan Hanna. Sejauh ini kontak fisik dengan Hanna mungkin hanya bergandengan tangan dan saat membonceng Hanna dengan sepeda motornya. Tidak ada kontak fisik secara intim diantara mereka, dan hal inilah yang membuat Rafa mencium Hanna dengan begitu kakunya.


Hanna bahkan merasa suhu tubuhnya menurun dengan drastis sesaat setelah bibir Rafa mendarat dikeningnya. Memang terkesan lebay, karena untuk pertama kalinya seorang pria selain ayah dan kakaknya, menciumnya.


Ucapan selamat menempuh hidup baru bagi keduanya memang benar adanya. Karena setelah keduanya kini resmi menjadi suami istri, Hanna dan Rafa akan menjalani kehidupan baru mereka. Meskipun Rafa mengatakan jika ini hanya sebagai status saja, tapi tetap saja mereka harus hidup layaknya pasangan suami istri sesungguhnya dihadapan orang-orang yang mengenal mereka.


......................


"Lo ada selimut lagi enggak, Han? G-gue... tidur dibawah aja deh ya."


Hanna baru saja akan bersiap tidur itu langsung membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Rafa yang kini telah duduk di pinggiran ranjang.

__ADS_1


"Ada. Aku keluar dulu deh ambil di ruang yang buat nyetrika."


"Enggak usah." Rafa menahan pergerakan Hanna yang akan menyingkap selimutnya. "Ntar malah orang rumah lo pada curiga."


Rafa lalu beralih posisi duduk bersandar headboard ranjang. Menghela nafasnya, Rafa merasa jika ia tidak akan bisa tidur semalaman ini.


"Harus dibiasain, kak. Selama sebulan ke depan kan kita bakal tidur bareng terus."


Hanna yang sebenarnya sudah sangat lelah dan mengantuk itu pun mau tidak mau mengikuti Rafa dengan duduk bersandar headboard.


"Bukan gitu maksudku, aku pun juga belum pernah tidur seranjang sama cowok. Makanya jangan mikir yang aneh-aneh, fokusin aja niatnya buat tidur."


"Lo ngomong doang ya enak, Han."


"Lagian kak Rafa kenapa sih? Tidur juga tinggal tidur aja kok, ribet banget sih."


"Gue cowok normal, Han. Deg-degan juga gue tidur seranjang sama cewek gini."

__ADS_1


Tanpa mempedulikan Rafa lagi, Hanna kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sebatas lehernya. Meskipun jantungnya masih berdegup kencang, tapi Hanna memaksakan diri untuk menutup mata. Dia berharap rasa kantuknya akan mengusir segala kecemasannya, karena yang dia inginkan hanya istirahat.


Berbeda dengan Hanna yang telah memutuskan untuk segera pergi ke alam mimpi, lelaki itu masih saja duduk bersandar headboard. Sejak tadi, Rafa sibuk bermain game diponselnya. Game baru yang baru saja didownloadnya, karena ia tidak ingin teman-temannya mengejeknya karena lebih memilih bermain game daripada menikmati malam pertamanya.


Dengkuran halus yang terdengar membuat Rafa melongok ke arah Hanna. Gadis itu telah tidur dengan lelapnya, membuat Rafa kembali teringat saat Hanna tertidur di mobilnya setelah menangis.


Merasa bosan dengan game yang ia mainkan sejak tadi, Rafa memutuskan untuk melihat-lihat kamar Hanna. Ini adalah kali pertama ia masuk ke dalam Hanna, kamar yang didominasi dengan warna pink dan pajangan piala serta piagam yang berhasil diraihnya.


Beberapa foto yang terpanjang hanya foto Hanna bersama keluarga dan teman-temannya. Rafa bahkan mengulas senyumnya saat mendapati meja belajar Hanna yang penuh dengan tempelan catatan-catatan kecil. Tampaknya Hanna memang bersikukuh pada bundanya agar kamarnya tidak dihias layaknya kamar pengantin. Karena jika begitu adanya, mungkin Rafa akan semakin canggung saja berada sekamar berdua dengan Hanna.


Rafa memandangi cincin nikah yang dijari manisnya. Sekarang ia benar-benar memiliki Hanna yang harus ia jaga. Pikirannya langsung melayang pada percakapannya dengan Hanna dua minggu yang lalu. Hanna memang berniat mengabarkan perihal pernikahan mereka pada Alita, tapi sepertinya Alita telah berganti nomor. Sosial medianya bahkan sudah menghilang dan tidak bisa diakses lagi. William juga tidak tahu nomer baru Alita atau sosial medianya.


Rafa benar-benar frustasi. Sepertinya Alita mengetahui perihal pernikahannya dengan Hanna. Rafa menduga mungkin Alita merasa kecewa dengan dirinya, sehingga memutuskan untuk berganti nomer dan menutup akun sosial medianya.


"Sebulan lagi, Lit. Sebulan lagi gue akan cari kamu disana." gumam Rafa sembari memandangi foto Alita yang masih tersimpan rapi digaleri ponselnya.


Rafa bukan hanya terlambat untuk mengejar Alita, tetapi juga telah salah mengambil langkah. Ia memang telah menyelamatkan Hanna dari perjodohan, Hanna juga dapat melanjutkan cita-citanya yang sempat hamir tidak terwujud itu. Tapi Rafa lupa, jika keputusannya untuk menikahi Hanna ini juga membawa konsekuensi untuknya.

__ADS_1


__ADS_2